
"Saya bukan orang lain, Tante!"
Kontan saja suara itu membuat semua orang yang baru saja menikmati makan malam menoleh.
Sosok pria bertampang cantik itu terlihat lebih menarik dibandingkan hidangan mewah yang tersaji diatas meja makan.
Semua anggota keluarga yang hadir tentu mengenal sosok itu. Sebab beberapa tahun ini lelaki yang selalu bersama Jonas itu tak pernah absen setiap bulannya untuk ikut bergabung. Padahal lelaki itu bukan kerabat dekat keluarga Sagala.
Kalau kata Nyonya Besar, sosok lelaki itu lebih cocok disebut Benalu.
"Boleh saya ikut bergabung?" tanya Endrew dengan sulas senyum tipis yang menyebalkan.
Luisa memegang erat alat makannya dengan perasaan marah tertahan. Sebab sang suami yang tidak lain adalah Tuan Besar Hermawan itu sedari tadi mengelus pergelangan tangan istrinya yang ada diatas meja.
"Yudi, tolong siapkan satu kursi lagi untuk tamu kita," perintah Hermawan pada pria paruh baya yang menjadi pengatur para pekerja disana. Pria bernama Yudi itu pun langsung mengangguk dan segera melaksanakan perintah Tuannya.
Beberapa saat kemudian kursi yang diminta Hermawan pun telah disiapkan. "Silahkan, Tuan Endrew," kata Hermawan sambil mengarahkan tangannya pada kursi yang telah siap untuk diduduki lelaki itu.
Endrew tersenyum lebar saat Kepala keluarga yang berkuasa itu menunjuk pada sebuah kursi di bagian paling ujung--tepat berhadapan dimana Tuan Besar duduk.
"Terimakasih," Endrew pun duduk tanpa segan.
__ADS_1
"Mari kita nikmati makan malam ini, semoga Tuhan memberkati setiap hidangan yang masuk kedalam tubuh kita, Ameen." ucap Hermawan kembali memimpin doa untuk ke dua kalinya.
Semua pun kembali melanjutkan acara makan mereka yang tadi sempat terhenti karena kedatangan tamu tak diundang.
"Aku tidak mengerti, Sayang ... mengapa belakangan ini banyak orang-orang yang tidak tau malu," ceketuk Luisa, wanita anggun itu berbicara sambil memotong daging steak-nya dengan tenang.
"Papi, ingat 'kan kasus di Kalimantan yang ditangani Jonas waktu itu?" tanya Luisa lagi yang kini menatap teduh netra suaminya. "Sudah kita beri KOMPENSASI jauh lebih BESAR dari yang diberi pemerintah, tapi mereka masih saja dengan tidak TAU MALUNYA kembali datang dan bilang, 'Tuan! Kompensasi yang anda beri tidak bisa menukar kenangan kami pada tanah yang sudah lama kami tempati, bahkan sebelum nenek moyang kami lahir!'," Luisa berkata sarkas sambil menirukan cara bicara warga yang sempat protes.
"Tapi anehnya, semua kompensasi yang kita beri malah sudah LUDES! Lagipula bagaimana caranya sebuah kenangan bisa membiayai makan atau sekolah anak-anak mereka! Kecuali, mereka menjual kesedihan dari kenangan yang mereka lebih-lebihkan, mungkin baru bisa." Luisa tertawa garing diakhir kalimatnya.
Jonas hanya mendengarkan dalam diam. Dia tau apa yang dibahas ibunya bukanlah benar-benar perkara pada kejadian di Kalimantan, akan tetapi pada permasalahan dari masalalunya yang sudah bertahun-tahun belum terselesaikan.
Bukan Jonas saja yang berpikiran seperti itu, akan tetapi anggota keluarga yang sedang menikmati hidangan mewah diruang makan itu juga sepemikiran dengan anak sulung dari Keluarga Hermawan.
Hanya wanita itu yang tidak tau apa makna dibalik kalimat panjang yang tadi mertuanya katakan.
Luisa tersenyum hangat pada menantunya yang duduk didepannya. "Iya, Sayang, semua sudah terselesaikan. Hanya saja ...," Luisa melirik sinis pada Endrew yang masih makan dengan tak tau malu. "Masih ada 1-2 orang yang masih tidak puas. Tapi tenang ... Mommy yakin Jonas BISA MENYELESAIKAN dengan baik. Bukan begitu, Jo?" Luisa menatap tajam pada putranya yang sedari tadi tak menanggapi.
Tiba-tiba suara kekehan terdengar dari ujung meja. Seketika itu, suasana ruang makan terlihat mencekam. Endrew berdiri dari duduknya dan berdiri di ujung sana tepat menghadap Tuan Besar.
"Sepertinya anda sudah lupa Nyonya, apa perlu saya ingatkan kembali agar bisa mengakhiri kesombongan keluarga kalian?"
__ADS_1
Endrew yang sejak tadi memilih diam, akhirnya mengeluarkan suara yang sudah pasti akan membekap mulut pedas wanita bernama Luisa itu.
Brak!
Luisa berdiri dengan menggebrak meja secara kasar. Sikap anggun yang sedari tadi dia pertahankan tidak dapat lagi ditahan.
"Kalianlah yang tidak tau malu! Memangnya kau pikir aku tidak tau fakta yang sesungguhnya, hah?! Berani kau buka mulut, maka kupastikan wanita--"
"Mom!" Jonas langsung memotong ucapan sang Ibu yang sudah dipenuhi angkara murka. Jonas tidak ingin sang Ibu berkata lebih dari sebelumnya.
Hermawan langsung berdiri. "Urus dengan benar!" tukasnya pada Jonas. Setelah itu Hermawan memapah sang istri yang sedang memijat pelipisnya untuk keluar dari ruang makan yang masih diselimuti hawa panas.
Tak lama setelah itu, semua anggota keluarga yang lain pun membubarkan diri dan merelakkan hidangan penutup yang belum sempat tersaji.
Hanya Qeunby yang masih duduk ditempatnya. Wanita itu masih belum sadar dari rasa keterkejutannya setelah apa yang terjadi, sampai tangan Jonas mengelusnya dan berkata, "Kita pulang saja," ajak Jonas. Namun Quenby bergeming.
"Kakak tidak dengar? Papi bilang Kakak harus menyelesaikan urusan ini dengan benar 'kan?" ujar Quenby dengan mempertahankan senyum teduhnya.
Wanita itu penasaran pada kalimat Ibu mertuanya yang belum selesai diucapkan.
Endrew yang melihat interaksi palsu didepannya hanya berdecih. "Benar kata istri sewaanmu, kamu harus menyelesaikannya sesuai dengan yang Papi mu bilang, Jonas." ejek Endrew.
__ADS_1
Jonas terlihat mengepalkan kedua tangannya. Lelaki itu sudah berdiri sedari tadi dan ingin sekali menghajar mulut Endrew yang lancang. Namun dia belum bisa melakukannya. Pria itu butuh waktu sedikit lagi untuk menyelesaikan segala urusannya yang berkaitan dengan Endrew dan juga ... wanita bernama Briana.
TBC