Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
41


__ADS_3

"Mommy baru pulang lusa ...," sahut Jonas dengan suara lembut saat istrinya meminta untuk bertemu dengan Ibu mertuanya.


Quenby mengangguk. Lalu dia menatap wajah Jonas lamat-lamat. Dia perhatikan dengan seksama garis wajah rupawan lelaki didepannya. Pria inilah yang sudah membebaskan Quenby dari jerat toxic keluarga tirinya. Pria ini juga yang berjanji tidak akan mempermainkan hubungan pernikahan mereka.


"Beri aku waktu, tidak mudah membuat segalanya terlihat natural, aku tidak ingin menyakitinya."


Akan tetapi saat mengingat kembali rekaman suara yang diperdengarkan Endrew padanya, Qeunby jadi tidak yakin dengan janji yang suaminya ucapkan padanya.


Apakah benar suaminya akan menceraikan Qeunby, dan memutuskan kembali menjalin hubungan dengan kekasihnya yang bernama Briana?


Benar. Qeunby baru tau fakta lain dari mulut Endrew, bahwasanya suara wanita yang ada dalam rekaman itu adalah Briana, kekasih Jonas yang sudah kembali.


Quenby langsung memutuskan percaya dengan apa yang Endrew ucapkan, karena dari jawaban yang Jonas berikan perihal keinginan kekasihnya itu dalam rekaman suara, Jonas terdengar menyanggupi.


Tapi yang menjadi pertanyaan Qeunby adalah, mengapa mereka harus mengambil anak yang Qeunby lahirkan nanti?


Padahal jika memang Jonas ingin kembali pada kekasihnya dan memutuskan menceraikan Qeunby, hal itu bisa dia lakukan sekarang juga 'kan?


Inilah sebabnya Qeunby masih menahan untuk tidak mengatakan kedatangan Endrew sore lalu pada Jonas. Quenby hanya tidak ingin gegabah. Sebab dia yakin, jika dia mengatakan isi rekaman itu pada Jonas. Maka bisa saja suaminya itu akan berkilah.


Inilah mengapa Qeunby ingin bertemu dengan Ibu mertuanya lebih dulu. Sebab wanita itu lah yang selalu menekankan Quenby untuk segera memberinya cucu.


"Kamu melamun lagi," kata Jonas dengan mengusap lembut pipi Qeunby.


Tentu saja hal itu membuat Qeunby tersentak. Belakangan ini dia menjadi wanita yang terlalu banyak berpikir.


"Ya sudah, lusa saja Qeunby ke rumah Mommy," kata Qeunby sambil bangkit dari tidurnya.


"Mau kemana?" tanya Jonas saat melihat pergerakan istrinya.


"Bantu Kakak pakai baju."


Jonas tersenyum mendengar jawaban itu. "Memang sudah nggak pusing lagi?" tanya Jonas.


Quenby menggeleng dan melemparkan senyumnya. Lalu wanita itu bangkit berdiri dan berjalan menuju ruangan dimana baju mereka berada.

__ADS_1


...----------------...


Jonas memandangi sosok wanita yang mengenakan setelan kerja dengan rambut sebatas leher yang kini duduk di ruangan kerjanya. Dialah Briana, wanita yang akhir-akhir ini membuat pikirannya berantakan.


"Apakah kedatanganmu ada kaitannya dengan Wijaya Group?" tanya Jonas dengan tatapan dingin.


Wanita bernama Briana itu berdiri, lalu berjalan mendekati Jonas dengan tersenyum menawan. Dulu Jonas pernah terpikat dengan senyuman itu. Tetapi kini senyuman yang ditampilkan Briana hanya membuat Jonas muak.


"Kenapa sekarang kamu begitu dingin, Jo? Dulu kamu selalu hangat menyambutku saat aku menunggumu selesai kelas," kata Briana mengingatkan masalalu mereka saat masih berstatus Mahasiswa. Wanita itu kini berdiri di tepat di belakang kursi yang Jonas duduki.


Jonas melirik tak suka dengan gerakan tangan Briana yang sedang mengelus bahunya. "Bersikaplah profesional, Briana. Kita sedang berada di Kantorku," tegas Jonas.


Briana tertawa. Lalu dia berjalan melewati Jonas dan duduk tepat didepan meja kebesaran pria itu. "Jadi ... jika diluar Kantor, kita bisa melakukan apapun?" tanya Briana dengan sarkas serta senyum yang mengejek.


Dari kemarin, Jonas dibuat geram dengan sikap wanita didepannya ini. Briana benar-benar menunjukkan sifat aslinya. Akan tetapi Jonas harus menahan rasa tidak sukanya pada sosok wanita ular didepannya sekarang. Dia harus bertindak penuh perhitungan.


"Ingat Jo ... nasib Perusahaanmu dan nama baik Sagala yang kalian banggakan, kini berada ditanganku."


...----------------...


Setelah kedatangan Ibu Sara--wanita yang dipekerjakan oleh Jonas untuk menjaganya, Quenby meminta tolong untuk dicarikan seorang Dokter yang tidak ada kaitannya atau bahkan tidak mengenal silsilah keluarga besar Sagala.


"Apa ibu yakin, doker yang Ibu sarankan tidak mengenal keluarga suami saya?" tanya Qeunby dengan wajah panik.


"Saya yakin, Nyonya Quen. Sebab saya sangat mengenal keluarga mereka. Dari dulu mereka memang tidak suka berhubungan dengan orang-orang penting. Maka dari itu mereka lebih memilih bekerja di Rumah Sakit kecil," tukas Sara. Wanita paruh baya itu terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Sebelum Sara merekomandasikan kenalannya, Qeunby telah merekayasa kalimatnya untuk mengelabui Sara perihal permintaanya untuk dikenalkan dengan dokter kandungan yang tidak mengenal silsilah keluarga Sagala.


Quenby beralibi, bahwa dia akan memberikan kejutan pada suami dan keluarga besar lelaki itu jika memang dirinya hamil nanti. Dan Sara percaya begitu saja.


Akhirnya kendaraan Qeunby sampai di sebuah Rumah Sakit yang Sara beritahukan. Kemudian Kedua wanita itu berjalan memasuki Rumah Sakit yang tak terlalu ramai siang itu.


Sara langsung mengajak Quenby menuju ruangan dokter yang wanita itu maksud. Sepertinya Sara sudah lebih dulu menghubungi kenalannya itu.


Memasuki Ruangan serba putih didalamnya, Qeunby langsung mencium aroma obat-obatan. Dan ini adalah kali pertamanya dia mengunjungi Ruangan dokter kandungan.

__ADS_1


Terlihat berbagai macam bingkai poster yang tertempel didinding. Ada gambar wanita hamil dengan berbagai usia kandungan yang ditunjukkan. Ada juga gambar bentuk janin dari usia 0 sampai 9 bulan. Quenby merasa senang melihatnya.


"Maaf, Tante Sara, Ibu tadi ada panggilan sebentar ke ruangan Pasien,"


Suara lembut seorang pria yang sedang berbincang dengan Sara, mengalihkan atensi Quenby dari poster-poster kehamilan yang membuatnya kagum sedari tadi.


Dia melangkah mendekati meja dokter dimana Sara sedang berbincang dengan sosok lelaki muda yang mengenakan jas putih.


"Oh iya, Nak Ryan, kenalkan, ini Nyonya Quenby, yang akan melakukan pemeriksaan," ujar Sara pada Dokter muda itu.


Quenby tersenyum, lalu mengulurkan tangannya ke arah dokter yang bernama Ryan.


"Queny?"


Seketika tangan Qeunby membeku, tatapan wanita itu pun tak kalah terkejut saat mendapati sosok lelaki yang memanggilnya dengan sebutan 'Queny'.


Hanya ada satu dari sekian banyak pria yang memanggilnya dengan sebutan itu. Dia adalah Ryan Surya Pratama, pria yang pernah ditolak mentah-mentah oleh Mama tirinya karena dianggap sebagai dokter miskin.


"Mas Ryan ...," ujar Qeunby dengan tersenyum canggung.


Ternyata Dunia ini begitu sempit. Mengapa dari banyaknya dokter kandungan di Jakarta, dia malah dipertemukan dengan mantan kekasihnya yang hanya berpacaran tidak lebih dari dua bulan.


"Loh, Nak Ryan, kenal dengan Nyonya Qeunby?" tanya Sara yang ikut terperangah melihat keduanya.


Kontan saja Ryan dan Qeunby terlihat salah tingkah.


"Iya, Ibu Sara, Mas Ryan ini dulu pernah satu kampus sama saya," sela Qeunby menjawab pertanyaan Sara yang ditujukan pada dokter itu. "Iya 'kan, Mas Ryan?" Ryan hanya mengangguk saat Qeunby meminta persetujuannya.


"Kalau begitu bagus jika sudah saling kenal, jadi tidak canggung lagi," kata Sara. "Nyonya Quenby juga kenal dengan Ibunya Nak Ryan?" tanya Sara.


Jelas Qeunby kenal. Ryan adalah sosok lelaki yang benar-benar serius berhubungan dengannya. Dari pertama mereka memutuskan untuk pacaran, Ryan sudah mengenalkan Quenby keseluruh keluarga pria itu, tak terkecuali Ibunya.


Yang Qeunby harapkan sekarang adalah: semoga saja Ibu dari Ryan tidak membenci Qeunby karena lamaran anaknya yang telah ditolak mentah-mentah oleh Mama tirinya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2