Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
47


__ADS_3

Qeunby duduk bersandar pada kepala ranjang sambil menjulurkan kedua kakinya. Wanita yang tengah hamil itu masih merasakan lemas pada sekujur tubuhnya. Sudah dua hari Qeunby tinggal di rumah Tente Dewita, dan selama itu juga Quenby tidak bertemu dengan suaminya.


'Kemana, dia?'


Walau merasa kecewa pada sikap suaminya, akan tetapi di hati terdalam, Quenby merindukan lelaki itu.


Kriieeet!


Suara pintu kamar terbuka disusul langkah dari suara sendal rumahan menuju arah Quenby terduduk. Wanita yang sedang melamun itu segera menoleh dan mendapati Ibu Mertuanya yang datang bersama seorang Pelayan yang membawa susu serta buah di atas baki.


"Tinggal disini dulu sampai urusan Mommy selesai." Ibu Mertuanya itu menyodorkan segelas susu kehadapan Quenby. "Lagipula dirumah Tante Dewita kamu nggak akan kesepian. Disini banyak anak kecil," katanya lagi. "Habiskan," pinta Luisa saat gelas susu yang dipegang menantunya hanya tinggal sepertiga.


Qeunby akui, tinggal dirumah Tante Dewita memang tidak pernah sepi seperti di Kediaman Mertuanya. Sejak menetap disana, sudah beberapa kali terlihat bocah-bocah kecil keluar masuk ke dalam kamar itu hanya untuk memberitahu gambar yang mereka warnai atau sekedar ikut main dikamar itu. Qeunby cukup terhibur.


"Mom ...,"


Luisa menunggu menantunya berbicara.


"Apa Mommy akan kasih tau Kak Jonas tentang kehamilan Quenby?" tanya Qeunby ragu.

__ADS_1


Luisa tersenyum kecut. Sejak Dion mengatakan pada Quenby bahwa kehamilan wanita itu sudah diketahui olehnya, Menantunya itu memohon agar Jonas tidak usah diberitahu.


Saat Luisa menanyakan alasan kenapa Quenby ingin menutupi kabar itu, sungguh Luisa dibuat meradang, bagaimana bisa Jonas mengiyakan saja rencana gila dari mantan kekasih putranya itu. Namun demikian, Luisa percaya bahwa Jonas memiliki rencana lain. Dan tentang hal inipun Luisa masih menunggu penjelasan.


"Kamu juga tau 'kan Qeun, hal semacam ini tidak bisa disembunyikan?" kata Luisa.


Qeunby hanya menghela napas kecewa. Benar yang dikatakan Ibu Mertuanya, bahwa suatu saat nanti, janin yang sebesar kacang polong itu akan semakin besar dan bertumbuh untuk memberitahukan keberadaannya.


"Tapi kamu nggak usah khawatir, kalau Jonas tidak becus menyelesaikan masalah yang ditimbulkannya, Mommy akan pecat Jonas jadi anak Mommy. Tapi dia harus tetep mengurus perusahaan dulu sampai cucu Mommy bisa menggantikan dia. Bagaimana, rencana bagus 'kan?" ujar Luisa dengan jenaka.


Quenby cukup terhibur dengan sikap Ibu Mertuanya itu. Dia tidak menyangka bahwa Luisa adalah sosok yang begitu hangat. Dia jadi membayangkan bagaimana sosok Ibu kandungnya jika masih ada.


"Tapi, Qeun ... kamu masih bisa 'kan kasih Jonas kesempatan? Beri dia kepercayaan sekali ini saja. Mommy dan Papi yang akan jadi tameng kalau anak itu berkhianat!" tandas Luisa penuh permohonan.


"Mommy mau kembali ke Surabaya?" tanya Qeunby.


Dia tidak mau membahas Jonas lebih jauh lagi. Hatinya kembali sakit jika mengingat eksistensi Briana yang terpatri dan sengaja diabadikan, didalam kamar Apartemen milik lelaki itu. Selamanya Qeunby tidak akan lupa.


"Iya. Mommy masih harus kembali, kasihan Papi kamu, pasti penat menghadapi pekerjaan sendirian. Minimal keberadaan Mommy bisa jadi penghibur 'kan?" sahut Luisa dengan tawa jenaka.

__ADS_1


...----------------...


Malam hari setelah bercengkerama dengan keluarga dari adik Ibu Mertuanya itu, Quenby kembali ke Kamar. Ternyata bermain dengan para bocah dari keponakan Jonas itu sangat menyenangkan. Walau berisik dan terlihat tidak pernah diam, tapi jika sudah waktunya tidur, mereka secara otomatis akan minta masuk kamar untuk minta dininabobokan.


'Tumbuh sehat ya, Sayangnya Mama. Biar bisa main sama Nico, Chila, Angel dan Luis,' batin Quenby sambil mengelus perutnya yang masih rata. Dia sudah tidak sabar menantikan hari itu.


Dan dari balik lemari pajangan, ada sosok lelaki yang berdiri sambil mengintip dibalik celah yang sengaja di sediakan. Dia adalah Jonas Hermawan Sagala, Suami Qeunby yang belum berani bertatap muka dengan istrinya.


Sejak kemarin malam sebenarnya Jonas sudah ada di rumah Tantenya. Namun pria itu datang secara diam-diam dan atas seijin Dewita tentunya.


Beruntung bagian kamar yang Qeunby tempati ada lorong pintu rahasia yang menghubungkan dengan ruangan lain. Dari sanalah Jonas masuk dan menyelinap untuk melihat kondisi istrinya langsung.


Cukup lama dia disana sampai menunggu Qeunby tertidur. Saat sudah mastikan wanita itu terlelap, barulah Jonas keluar dari dalam lemari pajangan yang berfungsi juga sebagai pintu menuju ruang rahasia. Tidak banyak orang yang tau keberadaan tempat itu.


Tepat pukul 11 malam lewat 35 menit, lelaki itu berjalan mengendap mendekati istrinya yang tertidur lelap. Perlahan dia berjongkok untuk memandangi wajah Qeunby yang semakin tirus. Ini salahnya, Qeunby semakin terlihat kurus.


'Maafkan Kakak, Quen,' Batin Jonas.


Dengan gerakan amat hati-hati, Jonas menaiki ranjang dimana istrinya terlelap. Tanpa menyibak selimut sang Istri, Jonas pun ikut berbaring dibelakang punggung wanita itu tanpa menyentuh, dia takut istrinya terbangun.

__ADS_1


Jonas hanya bisa menghidu dalam-dalam aroma mawar pada surai hitam istrinya yang sudah seperti candu. Dan tak lama kemudian Jonas pun langsung ikut terlelap.


TBC


__ADS_2