
Endrew menatap wajah Jonas yang terlihat bersemangat pagi ini. Sejak acara partynya dirusuh oleh istri dari sahabatnya, Endrew hanya bisa diam saja. Karena aksi rusuh yang dilakukan perempuan bernama Quenby itu nyatanya mampu membuat sang sahabat sembuh. Dan terbukti dengan senyum cerah yang ditampilkan pada wajah lelaki didepannya.
"Aku tidak menyangka, menikahi mantan adik kelas bisa membuat raut wajahmu terlihat cerah, Jo," ujar Endrew dengan wajah sarkastik.
Jonas tersenyum masam mendengar penuturan itu. Quenby bukanlah mantan adik kelas biasa baginya. Walau dulu hanya mengenal wanita itu kurang dari satu tahun, akan tetapi nyatanya hanya Quenby lah yang mampu dia ingat dari pada sekian banyak mantan pacarnya.
Tiba-tiba Jonas tersenyum geli. Dia masih ingat bagaimana raut wajah Qeunby saat mengatakan bakat lain yang dimilikinya saat mereka sarapan bersama tadi pagi
"Jadi istri kesayangan!"
Mengingat kembali kalimat itu membuat Jonas tak habis pikir pada bakat yang dikatakan Quenby. Bagaimana bisa jadi 'istri kesayangan' dikatakan sebuah bakat. Jonas sangat terhibur dengan tingkah mantan adik kelasnya.
"Dia sangat menghiburku, Ndrew. Tiap saat ada saja perkataannya yang nyeleneh," Jonas tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saat terlintas setiap ucapan maupun prilaku mantan adik kelasnya yang kini telah menjelma menjadi Istrinya.
"Wanita itu beruntung mendapatkan kegagahanmu hanya dalam waktu beberapa hari setelah kalian menikah"
Perkataan Endrew yang kembali terdengar sarkas ditelinga Jonas, melunturkan senyumnya. Kemudian Jonas tersenyum miring. Lalu dia berkata, "Tidak, Ndrew. Kamu salah. Justru aku yang mendapatkan keberuntungan karena sudah menikahi wanita seperti Qeunby," ungkapnya dengan senyum yang sengaja dia kembangkan.
Endrew menaikkan kedua alisnya. "Kau terlihat memujamya." tukas Endrew.
"Aku hanya mengatakan fakta," pungkas Jonas.
"Kalau begitu dia benar-benar berguna. Apa dia bersedia untuk mengandung benihmu, saat mengetahui tujuanmu yang sebenarnya? Ah! Itu juga jika kualitas sp*rma-mu benar-benar mampu untuk menghasilkan keturunan,"
Jonas menatap dingin ke arah Endrew yang duduk bersandar didepannya dengan kaki tersilang. Dari dulu cara bicara lelaki itu memang selalu terang-terangan dengan gaya bahasa dan mimik wajah yang menyebalkan.
"Biar itu menjadi urusanku," tukas Jonas dengan raut wajah tak terbaca.
"Apa obat dari Dion masih kamu konsumsi?" tanya Endrew.
__ADS_1
Jonas yang sedang menyesap teh hijaunya melirik Endrew sekilas, lalu dia mengangguk sekali setelah menaruh kembali cangkir teh-nya. "Dion masih memantauku untuk terus mengkonsumsi obatnya. Dia mengatakan tidak menutup kemungkianan disfungsi ereksi yang kualami dapat kambuh sewaktu-waktu. Dan aku masih harus melakukan pemeriksaan ulang yang dia jadwalkan."
Endrew mengangguk mendengarkan perkataan Jonas. "Apa wanita itu tau kenyataan yang baru saja kamu katakan?" tanya Endrew menyelidik.
Jonas menghela napas. "Aku belum sempat mengatakannya. Dion pun baru memberitahuku semalam. Dan kami juga baru pindah ke Apartemen,"
Mendengar perkataan Jonas, kontan saja Endrew mencondongkan tubuhnya. "Ke Apartemenmu?" tanya Endrew dengan wajah tak suka.
Jonas mengangguk. "Memang kemana lagi? Hanya itu tempat sementara yang membuat kami bisa menjaga privasi. Dan jarak kantorku lebih dekat jika tinggal disana dari pada tempat tinggal orangtuaku," ungkap Jonas.
"Bagaimana bisa kamu membawanya ke tempat itu. Jika Briana tau--"
Jonas sudah menduga dengan respon yang diberikan Endrew. "Apartemen itu milikku, Ndrew. Aku bebas melakukan apapun. Termasuk mengijinkan atau melarang siapa yang akan ada didalamnya," pungkasnya santai namun penuh tekanan.
Endrew meremat kedua tangannya mendengar pernyataan lelaki yang pernah menjalin hubungan dengan sepupunya--Briana.
"Kamu tidak bisa menggantikan posisi Briana dengan siapapun, Jo. Apalagi memasukan wanita lain tanpa sepengetahuannya," tekan Endrew.
Endrew berdecih, lalu tertawa sumbang. "Jangan terlalu mendalami peranmu, Jo. Kamu hanya sedang memanfaatkan wanita itu,"
Jonas mengangguk membenarkan, dan Endrew tersenyum senang melihat reaksi pria didepannya. "Dia tau aku memanfaatkan dirinya dalam pernikahan ini. Dan dia menerimanya, bahkan dia dengan baik menjalankan perannya menjadi seorang istri sekaligus menantu keluarga Sagala." jelas Jonas kemudian.
Endrew membuang muka ke lantai. Keningnya berkerut dengan gigi yang mengerat. Sesaat kemudian, tatapan Endrew mengarah pada Jonas dengan tajam sambil berkata, "Apa dia tau tentang Briana?" tanya Endrew. Dan Jonas terlihat tak menanggapi. "Ingat Jo! Briana sudah menanti kedatanganmu. Jangan bahagia diatas penderitaannya!" desis Endrew menahan amarah.
Endrew langsung berdiri. "Selesaikan saja apa yang menjadi misimu. Setelah itu jemputlah Briana. Dia lebih berhak menyandang status sebagai istrimu, daripada mantan adik kelasmu yang menjadi Istri dadakan itu. Aku pergi."
Setelah mengatakan itu, Endrew pergi meninggalkan Jonas yang diam terpaku.
...----------------...
__ADS_1
Menjelang pukul 5 sore, Quenby terlihat sibuk menata meja makan. Hidangan sederhana yang dia buat sudah tersedia. Tidak banyak. Tapi menu ini cukup mengenyangkan dan sehat.
"Waktunya mandi ...." Quenby berkata riang dan langsung naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
Seharian ini Quenby hanya berkutat pada hal-hal ringan saja, seperti membereskan kamar, menata baju-bajunya di ruangan yang telah disediakan suaminya. Tidak lupa membaca artikel online sambil minum secangkir teh dan ditemani kue kering. Ah, itu akan menjadi kegiatan yang Quenby sukai sekarang.
Menjadi Istri Direktur ternyata se-asik ini. Apalagi sang Mertua melarangnya bekerja dan cukup melayani kebutuhan Jonas saja. Jika ingin mengambil kegiatan pun hanya diseputar mengasah keahlian masak atau mengikuti kelas kebugaran.
Tubuh Quenby menjadi lebih segar setelah dia mandi. Kini dia melihat isi lemari pakaiannya, memilih pakaian mana yang akan dia kenakan untuk menyambut suaminya pulang.
Menyadari dirinya memiliki suami, membuat Quenby mengulum senyum. Terlebih suaminya adalah lelaki yang Quenby harapkan. Hal ini melebihi dari rasa senang ketika seseorang mencapai cita-cita yang telah diimpikan sejak lama. Dan cita-cita Qeunby adalah menjadi Istri Jonas. Tuhan mengabulkan keinginannya. Selain itu tidak ada lagi yang terlalu dia harapkan.
Menatap cermin meja rias didepannya, Quenby sudah puas. Jonas tidak terlalu suka wajah yang dihias berlebihan.
"Ngapain sih cewe pada pake warna-warna aneh di kelopak matanya? Kaya Sun Go Kong aja!"
Perkataan Jonas saat mereka sekolah dulu masih terus terngiang ditelinga Quenby, saat itu mereka sedang jalan-jalan di Mall dan melihat banyak Gerai yang dijaga oleh wanita berparas cantik dengan maka up paripurna. Dan Jonas malah menyamakan make up dari para penjaga itu dengan tokoh Kera Sakti bernama Sun Go Kong. Tajam sekali perkataan Jonas.
Melihat ke arah jam dan sudah hampir mendekati pukul 6 sore, Quenby pun bergegas turun. Biasanya Jonas pulang dari Kantornya di jam-jam itu.
Dan benar saja, tak lama setelah dia turun, suara mesin kunci otomatis--terdengar dan pintu siap terbuka.
Quenby berdiri tak jauh dari pintu itu berada. Tentu saja senyum gadis desa adalah senyum terbaik yang akan Quenby tampilkan untuk menyambut kedatangan suaminya sore itu.
Creak!
Pintu pun akhirnya terbuka perlahan ...
"Selamat datang, Kakak,"
__ADS_1
TBC