Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
37


__ADS_3

Rintik hujan yang turun di siang itu ikut membasahi jendela kaca mobil pada sebuah taksi yang Quenby naiki. Berselang beberapa waktu setelah kepergian Jonas, Quenby pun langsung pergi. Tujuannya hanya satu, yaitu ketempat dimana Butik Mama nya berada.


Sesampainya diseberang jalan dimana Butik yang dulu menjadi tempat dia menghabiskan harinya, Quenby melihat kendaraan suaminya terparkir disebelah mobil yang Quenby tau adalah milik Kirey.


Mau apa Jonas kesana, pikir Quenby.


Menarik langkahnya untuk mendekat dan masuk kedalamnya, Quenby disambut oleh seorang wanita yang lebih muda darinya, dia adalah Asisten Quenby saat dia masih mengelola Butik itu beberpa bulan lalu.


"Nona Quen--" kata Dena.


"Ssst! Jangan berisik!" bisik Quenby yang diangguki oleh mantan Asistennya.


Langkah Quenby mengarah pada sebuah ruangan yang dulu menjadi basecamp-nya. Beruntung pintu itu sedikit terbuka, sehingga menyisakan cela untuk wanita itu melihat bahkan mendengar dengan jelas apa yang terjadi didalamnya.


"Apa kamu mengancamku?!"


Pekikan itu adalah suara dari Mamanya, Quenby hapal betul dengan tone suara berisik itu. Bahkan Quenby bisa dengan baik melukis bagaimana tampang Mama tirinya saat ini.


"Benar. Saya sedang mengancam Anda Nyonya Kirana. Jika Anda beserta keluarga Agatha masih mengusik Quenby, saya tidak segan-segan mengambil tindakan lebih. Ingat! Apa yang saya katakan bukanlah permintaan. Tetapi adalah peringatan! Permisi."


Quenby yang masih dalam proses mengolah kata masih terdiam didekat celah pintu, sampai akhirnya pintu itu terbuka lebar dan menampilkan sosok yang dia kenal.


"Quenby?!"


"Kakak?


Kalimat itu dikatakan secara bersamaan oleh sepasang suami istri yang sama-sama terperangah.


Jonas berdecak saat melihat rambut, wajah bahkan sebagian tubuh istrinya setengah basah.


"Kita pulang," ajak Jonas sambil menggandeng lengan Quenby untuk mengikutinya keluar dari Butik itu.


Sejak kedatangan mereka di Apartemen, Jonas meminta Quenby untuk mandi air hangat terlebih dulu. Dan Quenby menuruti. Namun, sudah satu jam sejak dia selesai dari aktivitas mandinya, sang suami belum juga masuk ke kamarnya seperti yang dijanjikan pria itu.

__ADS_1


Quenby memilih duduk di sofa sambil memeluk kedua lututnya. Pemandangan diluar yang menampilkan gedung-gedung bertingkat yang sedang diguyur hujan lebih menarik perhatiannya sekarang.


Sudah lama pikirannya tidak setenang ini. Kehadiran hujan bagi sebagain orang adalah anugerah. Akan tetapi tidak sedikit juga yang menganggapnya sebagai musibah.


Mengingat hal itu, secara otomatis Quenby menyamakan nasib hidupnya yang lebih sering dianggap musibah. Dia merasa kelahirannya ke dunia ini hanyalah membawa bencana. Terutama untuk sang Mama tirinya.


Dia sadar, Mama tirinya membalas sakit hati atas pengkhianatan suami dan Ibu kandungnya pada Quenby. Sebab Quenby adalah objek yang tepat untuk dijadikan alat balas dendam yang bahkan tidak ada puasnya hingga kini.


Terlatih untuk disakiti membuat Quenby menganggap perlakuan itu adalah hal biasa. Sehingga kini dia menjadi pribadi yang sulit untuk berempati walau hanya pada nasibnya sendiri. Tidak ada tempat mengadu membuat Quenby mau tidak mau harus menangani kesakitan itu sendirian.


Seandainya bunuh diri bukanlah dosa yang paling dibenci Tuhan, mungkin Quenby akan melakukannya sedari dulu. Tapi bagaimana pun kerasnya hidup yang dia terima, Quenby harus terus menjalani sampai Tuhan sendiri yang mengambil nyawanya.


Perlakuan buruk yang dia terima dari keluarga Istri pertama Ayahnya sudah membuat Quenby bagai di neraka. Tahun demi tahun berlalu tanpa ketenangan. Mentalnya sudah terasah, dan telinganya sudah tak asing mendengar muntahan yang menghujam itu. Apalagi tubuhnya yang kerap menerima hantaman, bukan apa-apa lagi baginya sekarang.


Anak Haram.


Lagi-lagi sebutan itu yang mengganggu pikiran Quenby. Dia ingin marah pada orangtuanya. Mengapa meninggalkan jejak benih yang tumbuh menjadi dirinya. Sehingga semua kesalahan itu dilemparkan begitu saja padanya yang tidak tau apa-apa.


Dan ketika Tuhan mengirimkan sesosok pria yang bisa melepaskannya dari belenggu keluarga tirinya, Quenby kira semua akan membaik. Namun nyatanya, kebebasan itu belum bisa dia rasakan sepenuhnya, sebab sebutan 'anak haram' tak akan pernah bisa lepas dari diri seorang Quenby Agatha.


Sebuah tangan terasa mengelus lembut bahunya. Quenby menoleh dan tersenyum hangat menyambutnya.


"Maaf ya, lama ...," kata Jonas. "Aku siapin ini dulu tadi," beritahu pria itu sambil memperlihatkan sebuah baki yang tadi dibawanya.


Ada sepasang mug berisikan coklat panas serta 1 piring dengan 4 croffle dengan toping buah diatasnya.


Quenby terperangah dan langsung mengubah duduknya menghadap pria itu. "Kakak yang buat?" tanya Quenby antusias.


Jonas tersenyum kikuk sambil mengelus tengkuknya canggung. "Pesan online ...," kata Jonas diakhiri tawa garing.


Quenby mengulum senyumnya. "Makasih ya, Kak. Pas banget ini dimakan hujan-hujan begini," ucap wanita itu yang langsung meraih satu mug berisikan coklat panas itu. Namun, "Wife?" tanya Quenby saat dia baru menyadari ada tulisan itu pada mug yang diraihnya.


Jonas tertawa canggung saat melihat reaksi Quenby dengan wajah yang hendak menggodanya. Lalu Quenby menaruh kembali mug itu tanpa sempat meminumnya. "Sweet banget sih, Kak," ucap wanita itu seraya memeluk tubuh Jonas.

__ADS_1


"Hadiah dari Jeny," beritahu Jonas. Quenby melepas pelukan itu.


"Kapan ngasihnya? Kok Quenby nggak tau?" protes wanita itu.


"Saat acara makan malam di Villa." Quenby mengangguk mendengar itu.


"Emang ada acara tukar kado ya?" tanya Quenby yang memang belum hapal tradisi makan malam rutin itu.


"Enggak sih ...," jawab Jonas.


"Terus?"


"Cuma acara ulangtahunku aja kok. Jeny memang berlebihan."


Quenby tertegun mendengar itu, bagaimana dia bisa lupa dengan ulang tahun suaminya?


Ya Tuhan.


Apa Quenby tidak secinta itu pada Jonas?


Buktinya dia melupakan hari lahir dari pria itu.


"Se-sebenernya, Quenby juga punya hadiah buat Kakak ...,"


Tidak mungkin Quenby jujur kalau dia lupa akan hari ulangtahun suaminya 'kan?


Makanya, wanita itu langsung putar otak agar dianggap tak lalai. Padahal kesehariannya selama menjadi Istri Jonas hanyalah leyeh-leyeh saja. Benar-benar tidak tahu malu jika hal se-sepele ini saja lupa.


"Hadiah?" tanya Jonas dengan wajah melongo.


Mendengar kata hadiah dari mulut istrinya, entah mengapa seperti deja vu bagi pria itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2