
Jonas memperhatikan dalam diam sang istri yang sedang mengancingkan kemeja kerjanya. Wajah menekuk wanita itu masih terlampir jelas dari semalam selesai mereka bercinta.
Mulut Jonas belakangan ini memang sulit dikendalikan jika menyangkut soal Ryan. Dokter anak yang ternyata adalah mantan kekasih istrinya yang pernah berniat menikahi Quenby, tentu saja membuat hati Jonas sedikit terusik.
Kenyataan itu baru Jonas dapati saat Ryan sendiri yang mengatakannya. Sepertinya memang dilakukan secara tidak sadar oleh Dokter itu saat keduanya mulai akrab. Dan semenjak Jonas mengetahui fakta itu, suami dari Qeunby pun mulai kembali menjaga jarak.
"Quenby ini sudah menikah, punya suami dan lagi bunting pula. Badan Qeunby aja segembrot ini sekarang! Jadi nggak ada alasan pantas buat lelaki seperti Dokter Ryan atau siapapun itu mendekati Qeunby, terlebih selama hamil Qeunby cuma dirumah. Satu-satunya orang yang harus cemburu disini ya, Qeunby. Di Kantor Kakak aja banyak banget Karyawan perempuan Bawera yang body-nya seksi-seksi. Cantik. Wangi. Single lagi," cerocos Qeunby sambil memakaikan dasi suaminya. Jonas hanya mampu merutuki dirinya yang sudah menyulut sang istri yang sekarang terlihat lebih sensitif.
Padahal pagi itu Jonas tidak ada membahas apapun. Bagaimana kalau dia membahasnya saat sedang bertatap muka seperti ini. Bisa jadi cerocosan istrinya itu berubah menjadi naskah yang siap dicetak dalam sebuah buku novel.
"Lain kali kalo bahas-bahas lagi kaya semalam, Kakak puasa aja deh sampe aku selesai nifas," ancam Quenby.
...----------------...
Siang itu seperti biasa, Qeunby duduk sambil membaca majalah. Belakangan ini dia lebih senang mendapatkan informasi melalui sebuah buku, bukan ponsel. Entah mengapa sejak dia hamil, Qeunby sangat malas memegang benda persegi yang meraup semua informasi Dunia dalam satu genggaman itu. Rasanya malas saja. Jadilah ponsel itu hanya dia pegang saat ada panggilan atau pesan yang masuk.
Ting Tong
Bel pintu terdengar berbunyi. Qeunby yang memang sedang santai di ruang tengah melihat Bu Lasri berjalan cepat untuk membukanya. Sudah dipastikan tamu itu adalah orang yang empat bulan ini mondar-mandir datang ke rumah Qeunby tanpa henti.
"Halo, Sayang ...," sapa Wanita tua yang masih anggun dan elegan diusianya yang sudah menginjak 63 tahun.
Qeunby tersenyum menyambut wanita itu. "Bawa apa itu, Bi?" tanya Qeunby.
Dia langsung menutup majalahnya dan memfokuskan dirinya pada sebuah rantang makan yang wanita itu bawa.
"Puding Jagung, Sayang," beritahu Artanti, Istri dari Pamannya yang bernama Heru Wijaya.
Beberapa minggu setelah Qeunby berseteru dengan sang Paman. Akhirnya lelaki sepuh arogan itu datang mengunjungi Quenby di Kediaman Mertuanya.
Heru datang bersama sang Istri dengan niat meminta maaf. tak semudah membalikkan tangan. Luisa yang saat itu merasa di atas angin mulai percaya diri untuk menekan pria yang lebih tua 13 tahun darinya.
__ADS_1
Ketegangan itu tak berlangsung lama, berkat Hermawan sang Ayah mertua, semuanya diselesaikan dengan kekeluargaan, dengan Heru yang berakhir meminta maaf pada Qeunby dan juga Keluarga suaminya.
Dan yang mengejutkan adalah, tak lama Qeunby pindah, Artanti pun ikut pindah dengan membeli Townhose disebelah unit milik Quenby berada. Sejak saat itu, sang Bibi tidak henti-hentinya datang dengan membawa apapun untuk dirinya.
Keberadaan sang Bibi tentu saja membuat Qeunby senang dengan harinya yang terasa bosan karena selalu berada didalam Kediamannya. Artanti tak pernah berhenti bercerita tentang almarhum Ibu Qeunby saat masih remaja.
Dari cerita itulah, Qeunby merasa mulai dekat dan kenal dengan sosok Ibunya yang sudah tenang di alam baka.
"Kita ke Mall, yuk?" ajak Artanti.
Seketika wajah Quenby cerah, matanya berbinar dan senyumnya pun merekah. Bagai gayung bersambut, Quenby pun mengiyakan dengan antusias.
"Quenby, ijin sama Kakak dulu, ya Bi,"
...----------------...
Kondisi Mall Elit dan termegah dibilangan Jakarta Selatan siang itu yang didatangi oleh Qeunby dan Artanti tidak begitu ramai. Bahkan keduanya terlihat berjalan dengan santai. Dibelakang mereka ada Ibu Sara dan seorang lelaki berusia 40an yang baru Qeunby tau adalah bodyguard yang bekerja untuk keluarga Wijaya.
"Qeun ...,"
"Bibi mau menunjukkan sesuatu, tapi nanti jangan bertindak dulu. Cukup amati saja dari kejauhan,"
Perkataan Artanti membuat Qeunby mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti yang dimaksudkan wanita itu.
Namun, belum selesai dengan rasa penasarannya, tak berapa lama kemudian Qeunby melihat sosok Adik tirinya, Kirey. Wanita yang biasanya bersolek heboh dengan pakaian branded yang tak lepas membalut tubuh sintalnya terlihat berbeda kali ini. Terlebih Kirey memakai seragam pekerja yang Qeunby yakin milik dari Butik pakaian biasa. Bukan merek ternama.
"Sedang apa dia? Kenapa tidak tidak pergi ke Butik," gumam Qeunby saat melihat keberadaan Kirey yang tengah sibuk melayani pembeli.
"Butik milik Kirana sudah diambil alih, Sayang."
Perkataan sang Bibi membuat Qeunby menoleh.
__ADS_1
"Maksud, Bibi?"
"Pamanmu. Dia menarik semua fasilitas yang dinikmati keluarga tirimu. Beberapa Butik dengan label Agatha sudah di alihkan," jelas Artanti.
"Dialihkan?"
Artanti mengangguk, lalu menjawab, "Atas namamu. Mantan asistenmu, Dena yang mengurus Butik-butik itu sekarang."
Hal yang tak terduga. Uang memang bisa melakukan apapun. Bahkan para Penguasa saja bisa tunduk pada lembaran-lembaran bercetak angka tersebut.
"Dan suami dari Kakak pertamamu Kinanti, dia dipecat dari Perusahaan," ungkap Artanti lagi dengan wajah datar.
Quenby semakin terngaga tak percaya. Bagaimana bisa Pamannya berbuat seenaknya, terlebih suami dari Kinanti--Kakak kandung Kirey juga ikut terkena imbasnya. Padahal lelaki itu tak pernah berbuat jahat pada Qeunby.
Belum sempat Quenby mengajukan pertanyaan, Artanti yang seolah mampu menebak isi pikiran Keponakannya itu pun berkata lagi,
"Suami dari Kinanti bekerja di salahsatu anak perusahaan Wijaya Group. Pamanmu langsung memecatnya. Dan dia tidak bisa melamar pekerjaan di sektor yang sama, karena Mas Heru sudah mem-blacklist lelaki itu dari daftar perusahaan yang berada dinaungan Wijaya,"
"Tapi, Bi ... i-ini terlalu--"
"Kejam?" tanya Artanti tanpa ekspresi.
Quenby tak mampu berkata-kata. Pamannya sungguh mengerikan. Inikah balasan yang lelaki sepuh itu maksud?
Memberantas habis sampai ke akarnya dan merebut kembali hak dari adik kandungnya yang telah dizalimi?
"Quenby akan diliputi rasa bersalah sepanjang hidup, Bi," ucap Qeunby putus asa.
Benar dia membenci perlakuan Mama tiri dan dua anak kandung wanita itu yang telah jahat padanya. Tapi, jika dia diam saja atas apa yang Pamannya lakukan, bukankah artinya Quenby tidak ada bedanya dengan orang-orang yang telah berbuat jahat padanya selama ini?
Quenby memang bukan pemaaf yang baik. Dia juga pernah memiliki keinginan membalas semua perbuatan mereka. Tapi bukan begini caranya.
__ADS_1
"Ini bukan tentang dirimu, Sayang. Tapi ini pembalasan dari seorang Kakak yang adiknya telah disakiti tanpa bisa membela diri. Kamu tidak perlu merasa terbebani."
TBC