Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu

Pura-pura Lugu Padahal Pemuas Nafsu
36


__ADS_3

|"Temui Mama di Butik siang nanti!"|


Mendengar seruan dari Mamanya, Qeunby seketika melepas pelukan suaminya yang mulai merenggang, Jonas masih terlelap. Saat ingin duduk, tiba-tiba saja kepalanya nyeri. Spontan dia memijat pelan dahinya.


"Maaf, Ma. Kayanya Quenby nggak bisa kesana hari ini," sahutnya sedikit meringis akibat denyutan kepala yang semakin kuat.


|"Alah! Jangan alasan kamu. Mentang-mentang sudah menikah dan ada yang sudah menjamin hidupmu, sekarang mulai berani nolak, ya? Gitu?"|


Ya ampun, Quenby benar-benar bersyukur dengan sakit kepalanya ini. Karena dengan begitu dia tidak akan bertemu Mama tirinya yang kerjaannya hanya marah-marah dan curiga terus padanya.


Sudah terlalu banyak masalah yang tiba-tiba timbul dalam semalam. Quenby tidak ingin menambah beban pikirannya lagi dengan mendengar ocehan Mamanya yang selalu saja menekan dan menyalahkannya.


"Nggak gitu, Ma. Quenby bener-bener pusing--"


Setelah Mamanya menutup sambungan telpon secara sepihak. Quenby segera bangkit menuju kamar mandi.


Quenby berjalan tertaih, langkahnya sedikit goyang karena denyutan kepala yang semakin berputar-putar. Bahkan kini penglihatannya mulai berkunang-kunang seiring tubuhnya yang semakin ringan, disusul suara dengungan yang melengking memenuhi pendengarannya, dan tak lama kemudian pandangannya pun menjadi kabur. Namun sebelum tubuhnya ambruk, dia sempat mendengar seseorang meneriakkan namanya.


...----------------...


Dalam suasana gelap gulita, Quenby yang saat itu masih berusia 11 tahun terkapar sendirian dilantai kamarnya yang tak lebih bagus dari tempat penyimpanan barang-barang tak terpakai.


Creeaak!


Pintu kamarnya terbuka perlahan, sepasang sandal rumah dengan sepasang kaki jenjang menghampirinya perlahan.


"Bisa nggak sih, kamu nggak ngerepotin saya?!" desisan suara penuh geram terdengar dari pemilik kaki jenjang itu.


Perlahan Quenby membuka matanya, lalu dengan susah payah dia menengadah ke arah sosok wanita yang masih berdiri menjulang tinggi didepannya dengan tangan terlipat di dada.


"Minimal ya ... kalau mau saya rawat, kamu jangan ngerepotin saya! Jangan bikin saya susah! Jangan mengeluh dan terima saja semuanya seolah adalah anugerah! Sudah beruntung kamu tidak saya buang!"


Sejak kalimat itu dimuntahkan dari mulut wanita itu, Quenby sadar, bahwa dia bukanlah putri yang terlahir dari wanita yang selama ini dia panggil Mama.


"Jangan buang Quenby, Ma ... Quen janji nggak akan bikin Mama susah ...,"

__ADS_1


"Qeunby ... Quenby ...,"


Telapak tangan yang hangat terasa mengelus keningnya yang berkeringat. Suara berat yang begitu dia kenal memanggil lembut saat menyebut namanya.


Qeunby perlahan membuka kedua matanya. Dilihatnya sosok pria dengan wajah khawatir tepat didepan wajahnya.


"Kak Jonas ...," gumam Quenby dengan mata sayu.


Jonas menghela napas lega ketika melihat kedua mata istrinya terbuka.


"I-ini?" tanya Quenby saat melihat sebuah selang tertancanp di punggung tangannya.


"Aku memanggil Dokter saat kamu pingsan. Sekarang lebih baik kamu makan dulu. Bisa duduk?" Quenby mengangguk, lalu Jonas membantu istrinya duduk bersandar diranjang.


"Bu, tolong bawakan makanan untuk istri saya, ya?" kata Jonas pada sosok wanita yang berusia 40 tahunan yang berdiri didekat pintu kamar.


Quenby mengerutkan keningnya. "Siapa?" tanya Quenby pada Jonas saat melihat seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar mereka.


"Namanya Ibu Sara, mulai sekarang dia yang akan menemani kamu saat aku ke Kantor,"


...----------------...


Siang tadi Jonas pamit keluar karena ada urusan mendadak. Lelaki itu pergi setelah melihat kondisi istrinya yang sudah semakin membaik.


Suaminya hanya berpesan untuk tidak khawatir tentang apapun. Dan seperti biasa, Quenby hanya mengangguk menuruti, walau kepalanya sesekali merasa sakit saat mengingat hal-hal yang belum dia temukan ujungnya. Salah satunya adalah permintaan Mamanya yang menyuruh Quenby datang ke Butik milik wanita itu.


Ada apalagi pikir Quenby?


Pukul 1 siang Jonas sudah sampai dipelataran sebuah Butik yang biasa Dewita--Tantenya datangi. Pria itu masih duduk dibelakang kemudi setelah memarkirkan kendaraan mewahnya.


Memandangi sebuah plang besar bertuliskan 'Agatha's Studio', Jonas mengulum senyum. Tempat inilah awal pertemuan yang tidak disengaja dengan mantan adik kelasnya beberapa bulan lalu.


Dari arah pintu utama dengan kaca lebar yang dibingkai alumunium putih, muncul lah sosok wanita yang beberapa minggu lalu menerobos masuk ke Perusahannya dan mengaku-ngaku sebagai istrinya. Dialah Kirey Agatha, adik tiri dari istrinya.


Jonas menghela napas kesal saat wanita dengan pakaian minim bahan yang cukup terbuka itu berjalan menghampiri mobilnya yang sedang terparkir.

__ADS_1


Tuk Tuk Tuk


Wanita itu dengan tidak sopannya mengetuk jendela kaca mobil Jonas sebanyak 3 kali dengan senyum lebar.


"Kok nggak langsung masuk sih, Kak?" tanya Wanita itu saat Jonas sudah menurunkan jendela kaca mobilnya. Sebenarnya enggan dia melakukan ini, tapi ada yang harus dia tanyakan.


Jonas mengernyit tak suka saat wanita bernama Kirey itu memanggilnya dengan sebutan 'Kakak'. Hanya Quenby yang terdengar manis saat memanggil sebutan itu padanya, bahkan saat istrinya melenguh dibawah kuasa Jonas, sebutan 'Kakak' yang digaungkan sang istri semakin terdengar seksi. Sedangkan saat mendengar perempuan gatal ini memanggil dengan sebutan yang sama, Jonas merasa merinding dibuatnya.


"Nyonya Kirana sudah datang?" tanya Jonas tak menyahuti pertanyaan Kirey.


Seketika wajah wanita itu mencebik, Jonas semakin mual melihatnya. "Kok sama Mama sendiri panggil Nyonya, sih, Kak?" rajuk Kirey dengan mimik wajah manja yang dibuat-buat.


Jonas hanya mendengkus kesal menanggapi sikap wanita yang sok akrab ini sedari tadi padanya.


Melihat lelaki tampan dengan wajah dingin tak menangapinya, Kirey hanya bisa merutuk dalam hati. Sombong sekali pria ini, pikir Kirey.


"Mama sudah menunggu kedatangan Kakak, yuk ...," ajak Kirey. Dia tetap mencoba menampilkan senyumnya dihadapan pria itu.


Setelah menutup jendela dan keluar dari mobilnya, Jonas langsung berjalan dengan langkah lebar meninggalkan Kirey dibelakang yang kesulitan mengejarnya karena memakai sepatu tinggi nan lancip. Jika ada besi lubang penutup aliran air, sudah dipastikan kaki wanita itu akan tersangkut.


"Halo, Nak Jonas," sapa Kirana--Mama tiri Quenby. Wanita itu terlihat sumringah menyambut kedatangannya. "Silahkan duduk ...," Jonas pun tanpa basa-basi langsung duduk di sofa panjang yang didominasi nuansa putih itu.


Sekilas Jonas melihat desain interior yang masih sama saat dulu dia masuk ke ruangan ini. Yang dia tau, ruangan ini dulunya adalah tempat Quenby menghabiskan sisa harinya.


"Mama senang sekali saat kamu menghubungi Mama. Ada keperluan apa kiranya, Nak Jonas datang kemari?" tanya Kirana dengan senyum sopan yang tidak cocok sekali dengan kepribadian wanita itu.


Berbeda dengan awal pertemuan mereka dulu saat Jonas hanya membawa motor yang dipandang sebelah mata oleh Mama tiri istrinya--wajah asam dan ketuslah yang Jonas dapati.


Tadi pagi saat istrinya mengangkat telpon, sebenarnya Jonas sudah bangun. Samar-samar dia juga mendengar pekikan Mama tiri istrinya diseberang telpon yang menyuruh Quenby untuk datang ke Butik siang ini.


Dan saat dia melihat istrinya hampir terkapar didepan kamar mandi, Jonas langsung meneriakkan nama Quenby. Melihat istrinya tak sadarkan diri, dia pun langsung memanggil Dion untuk datang memeriksakan kondisi istrinya itu sekaligus meminta rekomendasi wanita yang bisa berjaga mendampingi istrinya.


Mengingat kalimat yang diracaukan istrinya saat wanita itu belum tersadar, Jonas pun segera menghubungi Mama tiri Quenby untuk bertemu siang ini.


"Saya ingin membuat perjanjian."

__ADS_1


TBC


__ADS_2