
Ceklek !
Jonas membuka perlahan pintu kamar yang sudah bertahun-tahun sengaja dia tutup. Walaupun begitu, kamar itu masihlah nampak terawat. Jonas menyewa pegawai kebersihan untuk selalu menjaganya.
Kedua netra Jonas kini beralih pada beberapa bingkai foto yang terpajang rapih di atas bufet kayu dengan bentuk modern berwarna putih.
Diambilnya bingkai foto yang tak terlalu besar itu. Terlihat gambar seorang wanita dengan rambut sebahu yang tengah memeluk pria yang tidak lain adalah dirinya.
Sosok wanita dalam foto itu sudah lama Jonas kenal, saat keduanya masih menjadi Mahasiswa di salah satu Universitas yang ada di Australia.
Hubungan pertemanan yang terjalin lebih dari 4 tahun itu pun berlanjut menjadi hubungan yang lebih serius. Saat itu Jonas menerima pernyataan cinta dari wanita itu yang memang satu fakultas dengannya. Dan akhirnya mereka resmi berpacaran.
Menjalani hubungan kekasih selama 4 tahun tidaklah selalu berjalan mulus, percekcokan pun kerap mewarnai hubungan keduanya. Namun begitu, mereka masih bisa bertahan dan menjalani masa pacaran itu dengan dewasa.
Jonas yang memang pernah merasakan bagaiamana rasanya meniduri wanita, tentu saja melakukan hal serupa dengan sang kekasih, malah bisa dikatakan sering. dan itu dilakukan atas dasar suka sama suka dan dalam kondisi waras.
Sampai pada suatu ketika, saat usia hubungan mereka baru memasuki 5 tahun, kekasih Jonas mengadu bahwa dirinya tengah mengandung. Saat itu Jonas diserang panik, karena dia baru saja dipercaya ayahnya untuk mulai mengambil alih tanggung jawab perusahaan tambang dan properti yang ada di Jakarta sebagai cabang utamanya.
Jonas sadar. Cara berpacaran yang sudah melampaui batas itu pada akhirnya membuat kedua orangtuanya murka dan juga kecewa. Terlebih saat kekasihnya mendatangi orangtua Jonas tanpa sepengetahuannya untuk meminta pertanggungjawaban. Disaat itulah Jonas marah. Dia pun membawa kekasihnya pergi dalam emosi berapi-api, sampai pada kejadian dimana kecelakaan tragis itu menimpa keduanya. Dan sampai kini, Jonas tidak pernah lagi bertemu kekasihnya yang bernama Marsa Briana.
"Kak Jonas?"
Suara lembut yang memanggil namanya menarik kembali ingatan Jonas dari masalalu yang menyakitkan. Laki-laki itu pun perlahan membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
Kedua mata Jonas terbelalak saat dia menyadari bahwa pintu kamar itu terbuka.
"Boleh Quenby masuk?" tanya wanita itu yang masih berdiri di ambang pintu.
Jonas berdiri, dia melangkah keluar mendekati istrinya.
"Kok bangun?" Seulas senyum terpatri diwajah Jonas yang terlihat lelah.
Quenby mundur selangkah saat Jonas berbalik badan untuk menutup pintu kamar itu dan menguncinya.
"Kaget aja, soalnya tadi Kakak nggak ada. Quenby khawatir Kakak kenapa-napa. Soalnya kondisi Kakak kaya lagi lemes," ujar Quenby.
Jonas merangkul istrinya lalu menggiringnya untuk jalan. "Udah mendingan sih setelah kamu pijat. Sampe nggak sadar ketiduran. Makasih ya ..." Jonas tersenyum ke arah Quenby yang dalam rangkulannya.
Pagi ini Quenby membantu Jonas berkemas. Pria itu niatnya akan ke Kalimantan selama dua hari. Walau tubuh dan pikirannya tengah lelah, Jonas tetap harus pergi. Semua itu dia lakukan karena ayah dan ibunya tidak bisa mewakili.
Biasanya Hermawan lah yang mengambil alih pekerjaan di luar Kota. Namun beberapa waktu lalu orangtua Jonas sedang sibuk mengurus pembukaan cabang baru di Singapura. Sehingga mau tidak mau Jonas harus menyelesaikannya sendiri.
"Kondisi Kakak masih terlihat lemas. Kakak yakin bisa?" Quenby terlihat khawatir, dia juga tahu bahwa posisi Jonas tidak bisa memungkinkan pria itu untuk diwakili apalagi mengundurkan jadwal kepergiannya.
"Sudah agak mendingan. Terimakasih kasih sudah mengkhawatirkanku," Jonas mengelus lembut pipi istrinya.
Mendengar suaminya yang selalu mengucapkan terimakasih sedari malam. Quenby merasa hubungan mereka kembali menjauh.
__ADS_1
Apalagi saat Qeunby mengingat kejadian jam 2 pagi tadi. Dimana dirinya mendapati sang suami yang berdiri lama disebelah bufet yang membelakangi pintu dimana Quenby berdiri.
Wanita itu awalnya tidak berani mengganggu dan malah berniat ingin kembali saja ke kamar. Namun rasa penasarannya akan isi kamar itu dan keberadaan suaminya dengan sikap yang tidak biasa, membuat Quenby berani mendorong pintu itu sedikit lebih lebar.
Qeunby ingat betul bagaimana raut wajah suaminya saat melihat keberadaannya disana. Mirip seperti maling yang tertangkap basah. Namun dengan baik lelaki itu menguasai kembali dirinya, sehingga raut wajah lembut pria itu kembali terlihat.
Cup!
Sebuah kecupan pada kening Quenby membuat wanita itu terkesiap. Jonas menciumnya sekilas.
"Aku pergi dulu, kalau kamu bosan, menginap saja di rumah Mommy. Atau ajak Jeny menginap."
Quenby mengangguk. "Iya Kak. Nanti kabari Quenby kalau sudah sampai, hm?"
Jonas mengelus pipi istrinya. "Iya. Aku kabari sesampainya disana."
Setelah itu Jonas keluar dari Apartemen dengan membawa tas kecil berisi keperluan pria itu yang sudah Quenby siapkan.
Dan tinggal lah dirinya sendiri di Apartemen suaminya. Tubuh Quenby berbalik untuk masuk setelah dia menekan kunci otomatis. Langkahnya kembali mendekati kamar yang meninggalkan banyak tanya.
Quenby berpikir ingin sekali masuk kedalamnya. Semalam dia sempat melihat dimana suaminya meletakkan kunci itu. Akan tetapi satu pertanyaan yang membuatnya ragu.
Akankah Quenby siap menerima jika sesuatu yang berada didalam kamar itu mengusik pikirannya dan merusak hatinya.
__ADS_1
TBC