
Perlahan kedua mata Qeunby terbuka, samar-samar dia melihat beberapa orang yang sedang mengerubunginya. Salah satunya adalah sosok lelaki dengan balutan jas putih dengan stetoskop yang menggantung di leher pria itu. Qeunby mengenalnya, dia adalah Ryan mantan kekasihnya.
Tapi sedang apa pria itu?
Tak lama terdengar derap langkah dari sepatu pantofel yang semakin mendekat kearahnya. "Dia sudah sadar?" Quenby mengenal pemilik suara itu.
"Hai, Qeun?" senyum sumringah dengan lesung pipi dikanan-kiri itu terpampang jelas dalam penglihatan Quenby.
Mengapa suaminya ada disana bersama Ryan?
"Kamu sengaja menutupi hal ini dariku, hm?" tanya Jonas dengan suara datar.
"Me--nutupi a-apa?" lirih Quenby dengan lemah. Dia tidak mengerti situasi ini.
"Tentu saja kehamilanmu!" Suara wanita yang belakangan ini mengganggu pikiran Qeunby tiba-tiba memasuki gendang telinganya. Dia adalah Briana.
Qeunby masih belum bisa menebak kehadiran tiga orang itu disana. Quenby juga tidak tau dia ada dimana.
"A-apa m-maksudmu?" Qeunby kembali bertanya dengan suara lemah. Entah apa yang terjadi padanya.
Tubuhnya terasa lelah seperti habis berlari mengitari lapangan bola sebanyak 15 kali.
"Aku butuh anak kita. Aku berjanji akan memberikan kompensasi besar untuk menunjang hidupmu selamanya. Tapi biarkan Briana yang menjadi Ibunya," tukas Jonas dengan senyum tipis yang terpatri di wajah pria itu.
Qeunby ingin sekali bangun dari baringnya, tapi untuk menggerakkan jari-jarinya saja wanita itu kesulitan. Dia merasa seperti dipasung.
"Enggak! Aku nggak mau! Jangan ambil anakku, Kak! Jangan!" Quenby meronta sekuat tenaga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sekarang terlihat Briana yang mendekati Qeunby, kemudian berbisik, "Kamu masih bisa hamil lagi 'kan? Tapi bukan sama Jo-ku. Karena Jonas tidak menginginkanmu lagi. Sekarang waktunya Jonas kembali padaku!"
Quenby merasakan sesak pada dadanya. Air matanya terus mengalir sedari tadi. Dia sungguh tidak mengerti bagaimana bisa dia ada disana bersama orang-orang yang sangat ingin dia hindari. Kecuali Ryan. Ada apa dengan lelaki itu, mengapa hanya diam saja dan tak membantu Quenby.
"Mas Ryan! Tolong Quenby, Mas! Tolong, Mas!"
__ADS_1
Dengan sisa tenaga yang ada, Quenby memohon pada pria berkacamata itu untuk membantunya, tapi pria itu hanya berdiri tanpa ekspresi.
"Quenby! Sadarlah! Ini Mommy, Sayang!" sontak mata Quenby terbuka. Napas wanita itu terengah-engah dengan keringat dingin sebesar biji jagung memenuhi wajahnya yang kuyu.
"M-mommy?!"
Luisa langsung memeluk menantunya. "Puji Tuhan! Akhirnya kamu sadar, Sayang," kata Luisa.
"T-tapi ... dimana Kak Jonas dan wanita itu, Mom?"
Luisa langsung melepaskan pelukannya. Lalu dia menatap heran wajah Quenby. "Hanya ada Mommy, Ibu Sara dan Dion saja sedari tadi, Sayang," terang Luisa.
Jadi, tadi adalah mimpi?
Qeunby menghela napas lega. Tadi terlalu nyata untuk disebut mimpi. Quenby bisa gila jika hal itu benar-benar terjadi. Tapi Quenby masih belum bisa mencerna keadaannya.
"Ini dimana, Mom?" tanya Quenby, wanita itu mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang didominasi warna biru muda.
"Ini dirumah Tante Dewita," sahut Luisa.
"Apa yang terjadi sama Qeunby, Mom? Kenapa Qeunby bisa ada disini. Dan ... bukannya Mommy harusnya ada di Surabaya?" bertubi-tubi pertanyaan itu di lontarkan Qeunby. Dia butuh penjelasan.
"Kamu pingsan seharian ini."
...----------------...
"Kau yakin data ini valid?"
"Saya sudah memastikannya, Tuan Muda," sahut pria berkemeja hitam menjawab dengan penuh hormat.
Sedangkan sosok yang dipanggil Tuan Muda itu masih menggulir bola matanya untuk membaca setiap kata pada catatan panjang tentang profil seseorang yang selama ini sudah dia nantikan.
"Kerja Bagus! Kau boleh kembali!" seru sang Tuan Muda yang kini mematri tatapannya pada selembar foto ditangannya.
__ADS_1
"Terimakasih Tuan Jonas."
Blam!
Tepat setelah kepergian orang suruhannya, Jonas meraih ponselnya. Dia mulai menekan nomor yang tidak asing untuknya.
"Bagaimana kondisinya, Mom?"
|"..."|
Jonas bersandar pasrah pada punggung kursi. Namun begitu, ada kelegaan yang terpancar dari raut wajah pria itu.
"Jonas titip Quenby, Mom. Jonas akan segera menyelesaikan semuanya"
|"..."|
"Iya, Mom. Jonas janji. Terimakasih, Mom."
Mengakhiri pembicaraannya dengan sang Ibu, Jonas langsung memijat keningnya karena denyutan hebat pada kepalanya.
Dia mengingat kembali kejadian pagi tadi saat Sara berteriak histeris menyebut nama istrinya. Dengan panik Jonas langsung berlari mendatangi suara teriakan Sara. Dan yang membuat dia semakin terkejut lagi saat mendapati sang istri tergeletak tak sadarkan diri tepat di pintu Unit Apartemennya.
Tanpa basa-basi Jonas langsung membopong Quenby menuju basemen dimana mobilnya terparkir. Namun lagi-lagi lelaki itu terkejut, saat mendapati sahabatnya--Dion bersama sang Ibu yang baru turun dari mobil berjalan dengan wajah murka tertuju pada dirinya.
"Selesaikan urusanmu, Jo! Biar Mommy yang menangani Qeunby!"
Lagi-lagi Jonas tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sadar bahwa ini adalah ulahnya yang terlalu lamban menangani masalah. Maka saat sang Ibu membawa Quenby pergi dari sana, lelaki itu hanya bisa pasrah saja.
"Brengsek!" maki Jonas dengan tangan terkepal menggebrak meja kerjanya.
Lelaki itu masih berada di Kantornya. Dia masih belum kembali ke Unit Apartemennya setelah kepergian Ibunya yang turut serta membawa sang Istri.
Tatapan Jonas kembali beralih menatap lembaran yang tergeletak di depannya. Kali ini dia yakin akan membungkam mulut Briana atas semua ancaman wanita itu. Perihal Heru Wijaya, Jonas akan mencari cara lain agar lelaki itu tidak terpengaruh dengan provokasi mantan Kekasihnya.
__ADS_1
"Apa reaksimu saat aku sudah menemukan kartu As ini, Bri?!" gumam Jonas dengan seulas senyum tipis.
TBC