
Cukup menyenangkan berbincang-bincang dengan Jeny. Gadis berusia 18 tahun itu memiliki banyak hal untuk dibicarakan. Mulai dari gosip artis yang sengaja menjual kisah palsu sampai gebetannya yang merupakan seorang pelatih bela diri di Sekolahnya.
Adik perempuan Jonas satu-satunya itu terlahir dari keluarga beruntung. Kedua orangtuanya begitu menyayangi Jeny. Namun begitu, Jeny tetap tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati dan menyenangkan.
Drrt Drrt
Ponsel Quenby bergetar. Dan nama yang tertera di layar 6,7 inci itu membuat Quenby tersenyum. Nama kontak 'My Husband' melakukan panggilan video. Tumben sekali pikir Qeunby.
"Hai, Kak?'' sapa Qeunby mengawali tatap muka mereka dimalam itu.
Jonas menampilkan senyum rupawannya, itu terlihat dari dua lesung pipi yang tercetak jelas diwajah segar pria itu yang terlihat baru selesai mandi.
|"Maaf aku baru sempat menghubungimu"|
Quenby melihat suaminya yang sedang bersandar di headboard ranjang.
"Kakak menginap di Hotel?" tanya Quenby.
Jonas mengangguk dalam layar itu. |"Iya. Hotel dekat kantor,"|
Qeunby pun mengangguk mendengar jawaban suaminya.
|"Jeny dimana?"| tanya Jonas yang tidak melihat keberadaan adiknya.
"Di kamar bawah, sudah tidur," sahut Quenby. "Kakak yang suruh Jeny menginap?" Quenby memastikan perkataan adik iparnya tadi siang.
|"Biar kamu nggak kesepian. Aku baru akan pulang lusa."| beritahu Jonas.
Quenby merasa senang Jonas perhatian padanya sampai mengirim sang adik untuk menemaninya. Tapi sungguh, jika harus memilih, Quenby pun tidak masalah sendirian.
|"Apa Jeny merepotkan?"|
Quenby lekas menggeleng. "Justru keberadaan Jeny bikin suasana ramai. Dia banyak bercerita,"
__ADS_1
Baru kali ini Quenby merasakan memiliki adik. Bersama Kirey--adik tirinya yang hanya berbeda beberapa bulan itu, Quenby tak pernah bicara. Bahkan Kirey terkesan menghindarinya.
|"Jeny memang bawel. Tapi aku senang kalian akrab. Apa saja yang Jeny bicarakan?"|
Haruskah Quenby menyinggung nama 'Briana' dihadapan Jonas?
"Gebetannya Jeny, Kak,"
|"Hah? Gebetan?"|
Quenby merasa sudah salah bicara. Sepertinya Jonas tidak senang mendengar kabar itu.
"Bagaimana, Kak, pertemuan dengan warga disana?," buru-buru saja Quenby melontarkan pertanyaan itu. Dia tidak mau dianggap tukang adu oleh adik iparnya.
|"Semua berjalan baik, sudah ada kesepakatan. Besok pengesahannya. Dan lusa aku pulang."|
...----------------...
Hari ini adalah jadwal rutin keluarga besar Sagala berkumpul. Malam itu Villa pribadi milik Keluarga Sagala dipenuhi sanak saudara dari keluarga Nonya dan Tuan Besar.
"Gimana? Udah ada tanda-tanda belum?" tanya Luisa sambil menata meja. Disana hanya ada dirinya, Qeunby dan juga beberapa asisten rumah tangga yang sengaja Luisa bawa.
Qeunby tersenyum untuk menanggapi pertanyaan mertuanya. Dia tahu bahwa hal ini akan selalu ditanyakan tiap kali mereka bertemu. Karena sudah jelas dari awal bahwa Luisa sangat menginginkan penerus bagi putra satu-satunya.
"Belum, Mom. Tapi Qeunby akan usaha lebih keras lagi," sahut Qeunby.
Luisa menepuk lengan menantunya. "Tidak apa-apa, kalian juga baru satu bulan menikah. Yang penting kalian sering melakukannya 'kan?" kata Luisa tanpa segan.
Luisa sadar bahwa dia terlihat terburu-buru. Wanita paruh baya itu hanya ingin mengingatkan Quenby akan salah satu tugasnya.
"Mom," Suara Jonas yang menegur Luisa membuat wanita itu melipat senyumnya.
"Mommy cuma tanya kok. Ya sudah Mommy mau panggil semuanya buat makan malam."
__ADS_1
Setelah itu Luisa pun pergi meninggalkan Quenby dan Jonas di ruang makan.
"Nggak usah kamu pikirin ucapan Mommy. Dia emang ngebet banget mau punya cucu," kata Jonas yang memandang istrinya.
Wajah Qeunby begitu sejuk dipandang. Tatapan dari mata sayu istrinya membuat Jonas betah berlama-lama menyelaminya. Dan satu lagi, senyum Quenby sangatlah manis. Benar-benar membuat Jonas terperdaya dalam artian sesungguhnya.
"Memangnya Kakak nggak mau punya anak?"
Pertanyaan yang dilontarkan istrinya dengan wajah polos membuat Jonas menahan senyum. Lalu pria itu mengusap pipi Quenby yang terlihat semakin berisi.
Benar. Quenby mantan adik kelasnya yang baru dia temui beberapa bulan lalu di acara Reuni sekolah benar-benar terlihat berbeda. Dulu wajah wanita itu terlihat begitu tirus dan seperti orang sakit. Namun kini lihatlah, Quenby terlihat lebih segar dengan pipinya yang chuby disertai wajah wanita itu yang semakin cerah karena perawatan khusus tentunya.
Jonas kemudian sedikit menunduk untuk berbisik ditelinga istrinya, lalu dia berkata, "Setiap kita melakukannya aku nggak pernah pakai pengaman. Menurut kamu aku udah siap atau belum punya anak?"
Wajah Qeunby terasa panas setelah mendapatkan bisikan itu. Dia benar-benar dibuat malu dengan ucapan suaminya. Untung saja disana hanya ada mereka berdua.
Acara makan malam bersama begitu hangat terasa. Quenby duduk tepat disebelah Jonas, sedangkan Nyonya pemilik pesta duduk didekat suaminya sambil sesekali mengambil lauk jika suaminya ingin tambah.
Hal romantis yang dilakukan Mertuanya membuat perasaan Quenby iri. Dia juga diam-diam berharap bisa seromantis itu saat tua nanti bersama Jonas. Itu pun jika Jonas masih menginginkannya.
"Maaf Nyonya, diluar ada tamu," suara seorang ART mendekat ke arah Luisa sambil menunduk.
Luisa mengerutkan keningnya. Semua tamu dari keluarga besarnya telah hadir. Lantas siapa tamu tak diundang itu?
"Siapa?" tanya Luisa akhirnya.
"Tamu dari Tuan muda, Nyonya,"
Luisa langsung tahu siapa gerangan orang itu. Seketika tatapan wanita itu mengarah pada putranya. Dan disaat yang bersamaan Jonas menatap ibunya dengan mengangkat bahunya acuh.
"Mommy sudah bilang 'kan bahwa jangan mengundang orang lain kesini?!" Luisa menegaskan kalimatnya. Dia benar-benar tak habis pikir dengan orang itu. Tidak tahu malu pikir Luisa.
Acara khusus keluarga yang dia buat malah selalu kedatangan tamu tak diundang yang sangat mengganggu beberapa tahun ini.
__ADS_1
"Saya bukan orang lain, Tante!"
TBC