
Putar balik waktu
Hari itu setelah kejadian yang hampir merenggut nyawanya di antara indahnya hamparan bunga di padang lavender.
Sinyya selalu termenung memikirkan segala kemungkinan yang akan merenggut rasa ketenangan bahkan nyawanya sendiri di dunia ini,jika dirinya akan tetap berakhir mati terbunuh di tempat ini bukankah mati lebih cepat dengan bunuh diri akan lebih baik?, setidaknya dia akan meninggal karena keinginan dirinya sendiri bukan paksaan orang lain.
"Putri sebaiknya anda segera tidur,hari sudah semakin malam,dan udara sudah semakin dingin,ada baiknya anda segera beranjak dari jendela lalu pejamkan mata anda di tempat tidur untuk bertemu dengan hari esok"
Sinyya berbalik mengambil segelas air yang di berikan oleh liu su "entahlah,aku masih bingung haruskah aku bertemu hari esok ataukah tidak?!" Sinyya meneguk segelas air itu lalu kembali menatap ke luar jendela.
Liu su berdecak pinggang "apa magsud putri?,anda harus selalu bertemu hari esok dan memulainya dengan bahagia, karena itu---" liu su menarik siku dan tubuh sinyya lalu menuntunnya ke arah ranjang,setelah melihat sinyya duduk di atas ranjang liu su kembali berkata "anda harus cepat tidur dengan nyenyak agar dapat bangun dengan segar di keesokan hari"
Sinyya menghembuskan nafasnya pelan dengan cemberut ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang,"dia sama saja seperti lu xianyi mengganggu ketenanganku dalam berfikir di depan jendela" cibir sinyya pelan membuat liu su menggelengkan kepalanya, lalu menarik selimut sinyya sebatas dada wanita itu.
Sudah selesai liu su berjalan ke arah jendela menutup jendela itu dengan rapat di susul dengan gorden ia tarik menutupi jendela,lalu beranjak memadamkan obor-obor pada mangkok dan hanya menyisakan satu obor yang menyala di atas nakas samping tempat tidur sinyya sebagai penerang temaram di kamar itu.
Liu su tersenyum menatap sinyya sebelum menutup pintu kamar sang putri "selamat tidur tuan putri" ujarnya lalu menutup pintu kamar sinyya dengan rapat.
Sinyya melirik kosong pintu kamarnya yang sudah tertutup,menatap kelambu yang menutupi ranjangnya, sinyya kembali menghela nafas,lalu dia beralih memejamkan matanya untuk tertidur dan mulai menjemput alam mimpi.
"Lihatlah anak pembunuh ini berlaga seperti seorang putri di sini"ucap xin luo,menyadarkan sinyya dari lamunannya
"Akhhh panas" sinyya tersentak ketika merasakan kulit tangannya terasa sakit seperti terbakar,setelah tertimpa sesuatu
Pelayan yang entah dengan sengaja atau tidak menumpahkan teh panas pada tangan sinyya hanya terdiam tak berniat meminta maaf,atau mengatakan sepatah katapun.pelayan itu hanya mengelap sisa tumpahan air pada meja di hadapan sinyya,lalu menuangkan kembali teh panas itu ke dalam gelas,setelahnya berlalu pergi meninggalkan sinyya,setelah memberi hormat pada xin luo.
__ADS_1
Para pelayan dan prajurit tidak tak ada yang menolong sinyya ataupun menegur pelayan yang sudah dengan kurang ngajar menumpahkan teh panas ke tangan sinyya.mereka hanya melirik sebentar kearah sinyya ketika wanita itu menjerit kesakitan, setelah itu tanpa ada rasa simpati sedikit pun mereka kembali melanjutkan tugasnya masing-masing menghiraukan keberadaan sinyya.
Xin luo tersenyum culas melihat keberadaan sinyya yang terlihat tak penting di mata para bawahan pangeran.wanita itu berjalan menghampiri sinyya yang tengah duduk di kursi gajebo yang di bangun di atas air.tangannya dengan tiba-tiba menarik rambut sinyya dengan kuat hingga membuat wajah sinyya mendongak ke atas dengan ringisan kecil keluar dari mulutnya.
Xin luo tersenyum menatap wajah sinyya yang terlihat memerah menahan sakit,dengan tubuh yang terlihat bergetar ketakutan "bukankah menyenangkan berperan menjadi putri terlantar di kediaman suamimu sendiri?!" Tanya wanita itu dengan bibir tersenyum miring
"Le_lepas,sakittt,hiks"isak sinyya ketika merasakan kepalanya semakin berdenyut karena tarikan keras xin luo pada kulit kepalanya.
Xin luo tersenyum manis menatap sinyya "dasar wanita lemah!" tukasnya lalu beralih membenturkan kepala sinyya hingga terpentok mengenai ujung meja dengan keras.
Sinyya terisak pelan ketika merasakan kepalanya semakin berdenyut sakit,tak sampai di sana xin luo kembali mengangkat wajah sinyya dan menamparnya satu kali,membuat mata sinyya terpejam merasakan rasa panas yang menjalar di pipinya.
Rambutnya di tarik ke atas oleh xin luo membuat sinyya reflek ikut berdiri dari duduknya.tubuh sinyya tersentak ketika merasakan tangannya sudah di genggam oleh xin luo, yang berarti tarikan pada rambutnya sudah terlepas dari tangan wanita itu.matanya melirik wajah xin luo yang terlihat menyeringai ke arahnya.
Tak lama mata sinyya membola ketika melihat xin luo menjatuhkan dirinya dari atas gajebo ke dalam kolam,setelah tangan sinyya di tuntun untuk menyentuh dadanya.
Plak!
Satu lagi tamparan keras yang sinyya terima pada bekas tamparan yang xin luo berikan,hingga membuat wajahnya tertoleh saking kerasnya.tak lama tubuhnya di dorong hingga terhuyung ke belakang membentur pada kursi di belakangnya.matanya menatap kosong pada lu tinyu yang sudah melompat ke dalam kolam untuk menyelamatkan xin luo.
"Aku akan memberimu pelajaran.karena sudah dengan berani mencelakai sahabat ku!." tekan pria itu menatap sinyya dingin lalu berjalan menjauh dengan xin luo dalam gendongannya.
Sinyya berjalan menuju kamarnya dengan keadaan berantakan,di jalan ia berpapasan dengan lu chenyu yang hanya menatap nya sekilas lalu berjalan melewatinya begitu saja.
Sepanjang jalan sinyya hanya menunduk menutupi wajahnya yang memerah sakit dan terasa membengkak.
__ADS_1
Dugh!
"Kalau jalan tuh pake mata sialan!" maki seorang pelayan lalu mendorongnya hingga tersungkur.setelah itu meninggalkannya dengan mulut yang masih mencaci maki sinyya
Sinyya menghapus lelehan air mata pada pipinya lalu segera berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Brakk!
Sinyya meluruhkan tubuhnya ke bawah,terisak di balik pintu setelah menutupnya dengan rapat, wajahnya ia tenggelamkan di antara lipatan tangan yang memeluk kakinya yang ia tekuk.
"Hikss,aku lelah!,mengapa dewi begitu tega padaku memberikan kehidupan yang sekejam ini" isaknya dengan pilu dan tubuh bergetar.
"Aku sudah tak punya siapapun di dunia ini,mengapa kau menghukum ku,dengan hal yang begitu menyakitkan seperti ini,apa salahku sebenarnya?!" Tanyanya seorang diri mengadahkan kepalanya ke atas
"Aku sudah tak kuat,aku ingin pergi berasa ibu saja,semuanya membenciku di sini!,hiks!hiks!"
Sinyya berdiri dari duduknya dengan gontai ia berjalan mendekat ke arah nakas mengambil sebuah pisau yang berfungsi untuk memotong buah.
Sinyya menggenggam pisau itu dengan erat, matanya melirik pada sebuah surat yang berada di atas kasurnya,itu adalah surat yang ia kirimkan pada sang ayah,menceritakan segala keluh kesahnya selama dua minggu ini ia menikah dan berada di istana pangeran.sudah banyak luka yang ia dapatkan akibat penindasan para pekerja di rumah ini dan para suaminya hanya diam dan melontarkan banyak makian padanya bila ia mengadu,ia kira sang ayah akan mengerti dirinya dan sedikit memberinya semangat namun ia salah,balasan sang ayah setelah ia mengirim surat sangat lah singkat dan membuat hatinya seperti tertusuk duri tak kasat mata 'jangan manja,aku tak punya waktu untuk mengurusi hidup mu itu'
Sinyya memejamkan matanya,menghalau lelehan air mata yang akan kembali terjatuh membasahi pelupuk matanya.dengan tekad yang kuat sinyya mengarahkan pisau yang ia genggam pada pergelangan tangan nya "ibu,biarkan aku ikut bersamamu,aku sudah lelah hidup di dunia ini.dunia begitu kejam setelah kepergian dirimu,biarkan aku ikut ibu!" Monolog nya dengan pisau yang sudah mulai menyayat pergelangan tangannya,darah keluar berceceran pada lantai dan hanfu yang ia pakai.
Sinyya terjatuh tergeletak di atas lantai ketika tubuhnya terasa lemas tak bertenaga,di sisa kesadarannya tangan sinyya menggapai pisau itu kembali,dan mengarahkannya tepat ke arah jantung.
Bibirnya tersenyum samar "kita akan segera berjumpa kembali ibu!"
__ADS_1
Jlebb!