
Tiba-tiba semuanya berubah, sinyya seperti tengah berdiri di dua dimensi yang berbeda.
Ia melihat ke samping kiri dan kanan nya terdapat dua bayi yang berada di dua tempat yang berbeda,satu bayi berada di tempat yang terlihat kuno dan satu bayi lagi berada di tempat yang modern dengan banyak orang berbaju putih seperti dokter yang tengah mengelilinginya.
Sinyya menutup mulutnya ketika melihat kedua bayi itu di nyatakan meninggal,tak lama sebuah cahaya muncul di antara ke duanya. dua bayi itu dengan secara ajaib hidup kembali dan menangis seperti bayi-bayi pada umumnya.
"Syukurlah bayi talia telah kembali hidup,tuhan begitu menyayanginya hingga membuat hal yang mustahil bisa menjadi nyata,ini adalah sebuah keajaiban"ucap dokter itu takjub setelah mengecek sang bayi dengan alat dek stetoskop nya.sang ayah dan ibu menangis terharu melihat itu.
Sinyya menangis dengan tangan menutup mulutnya melihat kedua wanita dan pria itu,dia mengenalnya itu adalah ayah dan ibunya di dunia modern,dia bisa melihat nya kembali, terlihat kedua orang tuanya menangis terharu ketika bayi yang ia yakini adalah dirinya di nyatakan hidup kembali.dulu kedua orang tuanya telah meninggal di usianya yang ke tujuh tahun dalam perjalanan pulang menggunakan pesawat.
Namun satu hal yang sinyya pikirkan mengapa ia bisa di perlihatkan rekaan ulang kejadian ini?,apa yang sebenarnya terjadi di sini.
Tak lama ia merasakan tubuhnya di tarik kembali pada tempat asing,dia melihat bayi tadi yang sempat sama-sama di nyatakan meninggal seperti dirinya namun ternyata telah hidup kembali.
"Selamat nyonya atas berkah dewi,nona sinyya telah kembali bernafas,dan menangis mengeluarkan suaranya"
Seorang wanita yang terlihat sangat cantik mengambil alih gendongan sang putri dari tabib perempuan yang sudah membantunya melahirkan sang putri ke dunia.
Tanpa terasa sinyya menjatuhkan air matanya ketika melihat wanita cantik itu mengecup wajah sang bayi sayang dengan seorang pria yang duduk di kasur mengusap wanita itu dan bayinya.terlihat mereka tengah menangis haru menatap sang putri dengan berbinar dan bahagia,entah perasaan sinyya saja atau memang dia hanya sedang emosional dirinya merasa sangat dekat dengan kedua orang itu, hingga bisa merasakan kebahagiaan terpancar dari mata mereka.
Tak lama semuanya berubah, sinyya di perlihatkan sebuah tempat terbuka yang di penuhi dengan orang-orang berpakaian hitam.
Sinyya menatap seorang anak perempuan yang terlihat sedih menatap gundukan tanah di hadapannya.
"Ibu,hiks"isaknya dengan tangan menggengam sebuah bunga lavender kesukaan sang ibunda pada tangannya.
Setelah menyimpan bunga itu di atas gundukan tanah,sang anak terlihat berlari menghampiri seorang pria yang terlihat masih berkisaran 30tahunan.
"Ayahh!"panggil gadis itu,namun pria yang di panggil ayah itu seperti tak mendengar nya,pria itu terus saja berjalan meninggalkan gadis kecil itu yang masih berlari mengejarnya.
Sinyya mengamati wajah pria itu,itu adalah pria yang ia lihat tengah memeluk wanita yang ia yakini istri nya dan seorang bayi beberapa saat lalu, sinyya melirik ke arah gadis yang masih mengejar pria itu.gadis itu pasti adalah bayi yang berada dalam gendongan istri pria itu,melihat dirinya yang memanggil pria itu dengan sebutan ayah.
Sinyya melirik gundukan tadi,melihat nama itu, sinyya kembali melirik kepada satu pria dan satu gadis tadi yang mengejarnya.
Sesuatu yang ia lihat ini adalah rekaan jejak kehidupan 'sinyya',namun bedanya tidak seperti tadi saat ini ia seperti di perlihatkan dari awal hadirnya wanita itu di dunia ini.
Sinyya tertarik kembali ke suatu tempat,kali ini ia di perlihatkan pada seorang gadis yang ia yakini adalah 'sinyya'.gadis itu terlihat tengah meringkuk di atas ranjang dengan tubuh yang menggigil kedinginan.
"Ayah!"
"Ayah!"
"Ayah!"
Sinyya menatap iba pada gadis kecil itu yang terus bergumam memanggil-manggil ayah nya.gadis itu tengah demam terlihat dari dirinya yang mengigau dengan wajah bercucuran keringat.
Dimana sang ayah gadis ini?,dimana perdana mentri berada mengapa dia meninggalkan anaknya yang tengah demam menderita sendiri di dalam kamar yang terlihat gelap ini.
Gadis itu terlihat bangun dari tidur nya,ia merangkak turun dari atas kasur hingga terjatuh ke atas lantai saking lemas nya tubuh ringkih itu.
__ADS_1
Dengan tegar nya gadis itu berjalan terseok-seok menuju pintu, sinyya terus memperhatikan gadis itu yang berjalan dengan gontai menyusuri ruangan-ruangan di rumah itu.anehnya sinyya seperti sangat hafal akan setiap sudut yang berada di rumah besar itu,ia yakin gadis itu tengah berjalan menuju kamar perdana menteri.
Gadis itu terlihat mengetuk ketuk sebuah pintu yang merupakan kamar perdana mentri. Tangannya terlihat lemas dalam mengetuk pintu itu,bahkan sinyya yakin suaranya tak akan bisa terdengar oleh orang yang berada di balik pintu itu saking kecilnya suara yang ia hasilkan.
Namun perkiraan sinyya salah pintu itu terlihat terbuka memperlihatkan perdana menteri yang menatap gadis itu datar.
"Mengapa kau menggangguku tengah malam begini?"
"A-ayah"
"Sssakit"
"Di-dingin,ayah"
Gadis itu berjongkok dengan tangan yang memeluk tubuhnya sendiri wajahnya terlihat pucat pasi.ia kira pria itu akan menggendong dan membawanya masuk kedalam, mengingat gadis kecil itu yang merupakan anak kandungnya sendiri.
Namun hal selanjutnya yang sinyya liat membuat dirinya menggeram marah pria itu malah memanggil salah satu pengawal,lalu menutup pintu kamarnya kembali,tanpa melihat wajah sang anak.
Sinyya mengutuk betapa dinginnya hati lelaki itu, apalagi saat melihat gadis yang pingsan di pelukan penjaga itu.
"Sial dasar ayah bajingan,tak salah aku memberimu cap sebagai ayah yang terburuk" maki sinyya menatap pintu kamar perdana menteri, hatinya terasa sakit melihat gadis kecil itu di abayakan oleh sang ayah,dia seperti melihat dirinya yang tengah berada dalam kehidupan gadis itu.padahal sinyya tak pernah merasakan itu selama hidupnya menjadi talia, sesudah kedua orang tua nya meninggal dia tinggal bersama kakek dan nenek nya,dia di ajari cara meracik racun dan juga bela diri . Ke dua kakek dan neneknya ingin dirinya menjadi wanita yang kuat bila mereka telah tak ada nanti mengingat umur mereka yang sudah tak muda lagi.jadi mereka ingin talia tumbuh menjadi wanita yang mandiri dan bisa melindungi dirinya sendiri.
Ia sedikit tak mengerti pada jalan fikir perdana menteri bukankah pria itu dulu terlihat menyayangi 'sinyya' ketika bayi kecil itu lahir.numun mengapa ketika bayi itu sudah mulai beranjak remaja,pria itu terlihat tak memperdulikan nya,sangat keterlaluan!.
Tubuh sinyya di tarik kembali ke sebuah ruangan,ia melirik pada sekitar, ternyata dirinya berada di kuil dewi.matanya menatap ke arah depan,di sana tengah di gelar sebuah pernikahan.banyak orang yang menghadiri acara ini,mata sinyya mengerjap ketika ia melihat wanita yang berdiri di atas altar itu adalah 'sinyya' yang sudah dewasa dan juga ke empat pangeran,lu xianyi,lu tian,lu tinyu dan juga lu chenyu.
"Sangat hebat melihat acara pernikahan seorang gadis menikah dengan empat pria tampan sekaligus"gumam sinyya berdecak kagum.
Ini adalah awal mula 'sinyya' terikat dengan para pria itu.tak lama sinyya kembali tertarik
Ke sebuah ruangan, sinyya meneliti pada sekitar ruangan ini,ia mengenalnya ini adalah kamarnya ketika menempati tubuh 'sinyya'.
Matanya menatap ke arah depan memperhatikan seorang wanita yang merupakan 'sinyya' tengah meringkuk di atas sofa dengan pandangan kosong,sinyya yakin ini adalah malam pertamanya di lihat dari gaun pernikahan yang masih melekat pada tubuh wanita itu,namun lihatlah tidak ada satupun suaminya yang datang ke kamar wanita itu.ia yakin ke keesokan harinya sinyya akan menjadi bahan cemoh para pekerja di kediaman ini.
Sinyya terus di perlihatkan rekaan-rekaan kehidupan yang di jalani 'sinyya' di dunia ini, semuanya tetap sama seperti sebelumnya dirinya tetap di tindas dan di perlakukan buruk di istana Pangeran padahal 'sinyya' merupakan istri pangeran di kediaman ini tapi posisinya terlihat lebih rendah dari para pelayan, terlihat para bawahan ke empat Pangeran pun dengan terang terangan merundung,mencemoh dan memakinya.
Apalagi kedatangan xin luo dan juga ye Sunly kian menambah derita 'sinyya' seperti yang sinyya lihat saat ini.
"Apa lagi yang kau mau dengan mendatangiku?"tanya sinyya dengan menatap datar xin luo
Xin luo tersenyum manis menatap sinyya "bukankah kau sudah tau alasannya,aku hanya ingin bermain-main dengamu,bukankah kau harusnya merasa bahagia memiliki teman seperti ku di antara orang-orang yang tak memperdulikan mu di sini?" Bisik wanita itu di akhir kalimat
Sinyya mengepal kan tangan nya lalu mendorong mundur xin luo menjauh dari dirinya "cuih,jangan harap aku sudih berteman dengan ular seperti mu" sarkas sinyya menatap wanita itu tajam
Sinyya menutup mulutnya ketika melihat 'sinyya' di depannya ini sedikit berbeda dengan 'sinyya-sinyya' yang ia lihat di dua rekaan kehidupan lainnya tadi, wanita ini terlihat sedikit berani saat ini.
Xin luo menatap marah pada sinyya tangannya terangkat hendak menampar pipi sinyya,namun gerakan tangannya terhenti oleh tangan sinyya yang tiba-tiba menahan tangannya.
Sinyya melirik pada lu tinyu yang terlihat berjalan ke arah nya, lalu kembali melirik xin luo, "kau selalu ingin bermain peran kan,maka saat ini aku akan bermain untuk mu.wanita ular" bisik sinyya di telinga xin luo,membuat wanita itu terbawa emosi dan menampar pipi sinyya dengan keras setelah dengan sengaja sinyya melepaskan cekalan tangannya pada tangan wanita itu.
__ADS_1
Xin luo terlihat mengernyitkan dahinya bingung melihat sinyya yang malah tersenyum ketika mendapatkan tamparan keras darinya.
"XIN LUO!"wanita itu tersentak kaget ketika mendengar suara yang ia kenal meneriaki namanya., Dengan nada emosi.
"Apa yang telah kau lakukan padanya?" Tanya lu tinyu ketika sudah berada di hadapan sinyya dan juga xin luo
Xin luo bergetar takut melihat tatapan datar lu tinyu padanya "a,aku hanya memberikannya pelajaran karena sudah berbicara kurang ngajar padaku" ujarnya dengan memandang takut pada lu tinyu
Lu tinyu beralih menatap sinyya yang hanya menatap dirinya dengan datar,membuat lu tinyu sedikit tersentak melihat tatapan berbeda dari wanita itu "ajarkan kekasihmu dengan benar,jika dia tak ingin mendengar sebuah fakta yang aku ucapkan"ujar sinyya dingin lalu berbalik pergi meninggalkan keduanya dalam keterdiaman,memang apa yang ia harapkan pada lelaki itu,kembali menampar xin luo setelah wanita itu terlihat menamparnya?,cih pemikiran nya terlalu baik ternyata akan pria itu.
Sinyya bertepuk tangan ketika melihat 'sinyya' di hadapannya terlihat lebih berani dalam mengutarakan perkataannya.
Tak lama dirinya kembali tertarik ke tempat lain,ketika membuka mata sinyya kembali di hadapkan dengan dirinya yang lain.wanita itu yang terngah berdiri di depan pintu adalah 'sinyya' ia berdiri dengan hanfunya yang terlihat basah dan juga rambutnya yang banyak terdapat tumpahan makanan.
Ia yakin seperti biasa 'sinyya' baru saja mendapatkan panindasan dari orang-orang di istana ini,dan dengan brengsek nya ke empat pangeran ralat tiga pangeran karena lu xianyi tengah berperang di perbatasan setelah pernikahan nya di gelar.mereka hanya diam saja melihat 'sinyya' yang di perlakukan seperti sampah di kediaman suaminya sendiri.
Sinyya terlihat berjalan menuju ranjangnya dia terduduk di lantai bersandar pada sisi ranjang,air matanya kembali mengalir, "aku lelah,harus sampai kapan aku seperti ini?"
"Dewi bisakah aku menyerah saja,hidup disini rasanya begitu menyesakan" lirih wanita itu dengan sedikit terisak.
sinyya yang melihat nya berdenyut sakit.bagaimana bisa ia seperti tengah melihat dirinya lah yang tengah merasakan rasa sakit itu,entahlah padahal ia adalah talia bukannya 'sinyya' mengapa ia bisa merasakan semua ini?.
Ceklek!
Sinyya menghapus sisa airmata di pipinya ketika melihat ada seseorang yang memasuki kamarnya. "Obati lukamu dengan benar" sinyya menatap mangkok yang berisikan cairan kental berwarna hijau yang tersodor di depan wajahnya,tak lama wajahnya mendongak manatap seorang pria yang berdiri di hadapannya.
Lu chenyu menunduk ketika melihat obat yang ia sodorkan tak kunjung wanita itu gapai,ia meletakan obat itu tepat di hadapan sinyya.
"Jangan menangis" ucapnya datar lalu berlalu pergi meninggalkan sinyya seorang diri di dalam kamarnya.
Sinyya sedikit menyunggingkan senyum tipisnya ketika melihat 'sinyya' tengah bergerak mengambil obat yang lu chenyu berikan.
Tubuh sinyya kembali tertarik,kini ia tengah berdiri di sebuah koridor.matanya menatap ke arah 'sinyya' yang tengah berjalan di dalam koridor istana,tak lama matanya menangkap sosok pria yang berjalan berlawanan arah dengan 'sinyya',pria itu terlihat menatap datar ke arah 'sinyya' yang sepertinya tak menyadari keberadaan dirinya,karena terlalu asik dalam lamunannya.sinyya menyipitkan matanya ketika melihat lu tian berjalan dengan cepat dan dengan sengaja menabrak 'sinyya' hingga terjatuh.
"Apa kau tak punya mata hah?.apa otak mu selalu di penuhi dengan adegan membunuh hingga untuk berjalan saja otakmu sudah tak berguna?,dasar sampah!.ayah dan anak sama saja, bisa nya hanya merugikan orang lain" sarkas lu tian dengan menendang pergelangan kaki sinyya kencang hingga membuat wanita itu menjerit tertahan
Lu tian kembali melanjutkan perjalanan nya tak memperdulikan sinyya yang terlihat merintih kesakitan di dalam koridor istana.
Sinyya melirik punggung lu tian tajam "dasar sinting" umpatnya andai saja ia tak tembus pandang sudah sedari tadi dia memukul orang-orang yang sudah dengan berani mencelakai 'sinyya'.Mata sinyya kembali beralih melirik ke arah 'sinyya' wanita itu terlihat berdiri dengan kesusahan,dan mulut yang sesekali merintih sakit,pergelangan kakinya terlihat membiru akibat tendangan lu tian yang keras pada kakinya.
Wanita itu kambali berjalan melanjutkan langkahnya dengan sinyya yang terus mengikutinya dari belakang.tak lama ia dan 'sinyya' sampai di sebuah kolam di dekat taman. Sinyya ingat tempat ini bukankah ini tempat 'sinyya' meninggal akibat di dorong oleh ye sunly?.tak lama orang yang tengah ia pikirkan kini sudah berada tepat di belakangnya dan juga 'sinyya'. "Sial apakah kejadian itu akan terjadi saat ini?" Ucap sinyya pelan memperhatikan ye Sunly yang terlihat terus berjalan mendekat ke arah 'sinyya'
"Kau harusnya mati sinyya,tak seharusnya kau merebut lu tian dari ku!" Gumam wanita itu menatap tajam punggung sinyya dari belakang.
Sinyya berbalik ketika mendengar suara seseorang di belakangnya,namun belum juga ia melihat orang itu, tubuhnya sudah lebih dulu terdorong ke dalam kolam, kakinya yang tadi terkilir dan membiru kini terasa keram,ia tak bisa berenang dengan keadaan seperti ini, nafasnya sudah terasa sesak, matanya tertutup dan dengan perlahan ia kehilangan kesadarannya ketika merasakan pasokan udara sudah tak bisa masuk kedalam paru-parunya.
Sinyya menjerit syok ketika melihat 'sinyya' sudah terjatuh kedalam kolam,ia makin panik ketika melihat wanita itu tak kunjung keluar dari dalam air.tak lama dirinya tersentak ketika melihat siluet seorang pria berlari melewatinya dan ye Sunly dan melompat ke dalam air.
Yang sinyya lihat selanjutnya adalah lu tinyu yang keluar dari dalam air dengan 'sinyya' yang berada dalam gendongan nya.
__ADS_1