
Mata Julliane berkedut melihat hadiah yang ia kembalikan malah kembali ke ruang tengah.
Haruskah kubuang atau kubakar saja hadiah-hadiah ini di depan mata Lionel?
"Jadi ini hadiah dari Lionel Crowley? Pantas saja kamu sampai mengembalikannya." Ian muncul tiba-tiba di samping Julliane.
Julliane memaksakan senyum kepadanya sambil memperlihatkan kalung yang diberikan Ian. Ian membalasnya dengan anggukan. Barang pemberian Ian dijaga dengan baik.
Julliane mendengus kesal. "Hadiah yang kukembalikan malah berada di sini lagi."
"Apa dibuang saja?"
Julliane menggeleng. "Kalau dibuang tetap saja dia akan mengirimkannya."
Benar Lioney tidak akan tahu kalau hadiahnya dibuang atau dibakar. Ia mengira Julliane sudah menerima hadiah. Satu-satunya cara adalah memperlihatkan hadiah Lioney dibuang oleh Julliane, dengan mata kepalanya sendiri.
Namun, meski diminta untuk datang ke istana, Lionel tetap berada di rumahnya. Julliane berdecak kesal, memegang kedua pelipisnya.
Bagaimana caranya aku memperlihatkannya kalau dia sendiri tidak berada di sini? Sepertinya aku harus ke kediamannya.
Usaha Julliane sia-sia. Lionel tidak berada di kediamannya malah berlibur di tempat lain. Pulang dengan kekalahan membuat Julliane semakin kesal.
Tanpa sadar hari acara minun teh Ellaine sudah tiba. Julliane mempersiapkan diri pagi-pagi untuk berdandan. Ia memperhatikan tatonya.
Sepertinya tambah melebar atau cuma perasaanku saja ya?
Tangan Julliane meraba tato di bawah matanya yang hampir setengahnya memenuhi pipi. Ia segera menggeleng-geleng, menganggap pikiran tadi hanyalah perasaannya saja. Ia segera menutupi tatonya dengan cepat karena acara minum teh segera dimulai.
__ADS_1
Julliane melangkahkan kaki menuju taman istana utama. Ellaine yang menunggu sendirian tersenyum ke arah kakaknya. Julliane segera menempatkan diri, bernapas lega karena dirinya tidak terlambat.
Tak lama gadis-gadis bangsawan berdatangan. Julliane bersemangat karena teman manusianya bukan cuma Ian saja. Mereka segera memulai acara minum teh dengan berbincang-bincang dan sesekali menyesap teh.
"Pangeran Beckett dan Duke Orsin tidak punya malu," celetuk gadis berambut merah.
"Benar sekali, mereka berani mendekati Putri Julliane padahal menyembunyikan niat buruk," timpal gadis berambut cokelat.
Julliane dan Ellaine tidak membalas mereka. Ellaine tersenyum karena teman-temannya berusaha mendapatkan hati kakaknya. Berbeda dengan Ellaine, alasan Julliane diam adalah mempelajari sifat mereka. Hidup lebih lama membuatnya tahu sifat-sifat manusia. Manusia yang menjilat kaki orang lain untuk mendapat kesuksesan, manusia yang bersikap buurk karena menyimpan banyak luka, dan manusia-manusia lain yang tidak dapat disebutkan.
Entah mengapa aku tidak suka pembicaraan ini. Mereka menjelek-jelekkan orang lain demi mendapat dukungan dariku.
"Mereka sama sekali tidak pantas bersanding dengan Putri Julliane. Ngomong-ngomong siapa yang mendekati Anda sekarang, Putri Julliane?" ujar gadis berambut hitam.
"Terlalu banyak sampai tidak bisa disebutkan," balas Julliane datar. Ia sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan ini.
"Terutama anak dari Count Crowley. Dia mempunyai banyak uang," balas gadis berambut hitam.
Julliane tidak ingin menanggapi mereka. Yang dipikirkan oleh gadis-gadis bangsawan itu hanyalah uang, ketenaran, dan lelaki. Ini membuatnya ingin segera beranjak dari sini.
"Tapi Tuan Muda Crowley hanya memberikan hadiah tidak pernah bertemu dengan orang yang didekatinya," balas Ellaine sambil melirik Julliane. Ia merasa kakaknya mulai tidak nyaman dengan pembicaraan mereka.
"Mungkin dia terlalu pemalu, Ellaine. Itulah cara Tuan Muda Crowley menunjukkan peduliannya," ujar gadis berambut merah.
Memang cara menunjukkan cinta setiap orang berbeda-beda. Ada yang dengan ucapan, memberi hadiah, sering membantu, menghabiskan waktu bersama, dan sentuhan. Tetapi hadiah Lionel berikan tidak menyiratkan rasa peduli.
"Sayang sekali, lelaki seperti itu bukan orang yang kita cari, benar Elle?" Julliane meletakkan cangkir tehnya menatap adiknya. Ellaine mengangguk. "Benar Kak Juli."
__ADS_1
Teman-teman Ellaine mulai mengeluarkan tawa yang terdengar memaksa. Mereka sama sekali tidak tulus. Berteman dengan orang-orang seperti mereka bukanlah pilihan tepat. Julliane akan memberitahu Ellaine untuk segera menjauhi mereka dan mencari teman lain
***
Merasa tidak punya pilihan lain lagi, Julliane membuka hadiah-hadiah Lionel. Ia berada di ruang tengah seharian. Kedatangan Ian sampai tidak ia sadari.
Ian mengernyitkan dahi melihat Julliane membuka hadiah-hadiah yang bukan darinya. Ia berusaha meredam kekesalannya dengan menghampiri Julliane tanpa berkata-kata hanya mengamatinya. Ia takut jika mulai mengucapkan sesuatu, yang ada malah kata-kata yang tidak seharusnya terucap malah terucap membuat keadaan semakin runyam.
"Ternyata kamu di sini Ian. Pilihlah salah satu dari hadiah ini yang kamu suka," kata Julliane begitu menyadari Ian berdiri di sampingnya
Alis Ian bertaut bukan karena marah melainkan kebingungan dengan sikap Julliane. "Tidak ada yang aku sukai."
Tangan Julliane menarik Ian hingga berjongkok di hadapannya. Tangan lain mengambil salah satu bros lalu memakaikannya pada baju Ian. Tak menyangka hal ini, Ian terkesiap dengan sentuhan dari Julliane. Ia hanya memperhatikan jari Julliane yang lentik, memasukkan jarum bros itu ke bajunya.
"Aku pilihkan ini saja." Julliane menepuk-nepuk dada Ian sekalian merapikan baju.
Ian masih bergeming. Seluruh perbuatan Julliane tadi terpatri di kepalanya. Ia masih merasakan tangan Julliane yang menyentuhnya walau terhalang oleh kain.
Setelah sadar Ian menanyakan maksud perbuatan Julliane. "Kenapa kamu melakukan ini, Juli?"
"Lionel akan pulang besok. Dia akan datang ke istana. Aku ingin menunjukkan hadiah-hadiahnya kuberikan pada orang lain," ucap Julliane yang masih sibuk berkutat dengan hadiah-hadiah itu.
Kekhawatiran Ian hilang begitu mendengar penjelasan Julliane. Ia sebelumnya takut kalau Julliane menaruh hati pada Lionel. Dugaannya salah.
"Aku akan membantumu membuka hadiah-hadiah dari Lionel."
Ian duduk di samping Julliane mengambil hadiah-hadiah yang masih terbungkus rapi. Ia sesekali melirik pada kalung yang melingkar di leher Julliane. Matanya kembali menoleh pada hadiah yang berada di tangannya ketika Julliane mulai menyadari tatapannya. Ia tersenyum bisa menghabiskan waktu dengan Julliane. Senyumnya perlahan sirna, ia ingat kalau waktunya tinggal sedikit. Ia harus kembali ke kerajaannya, menepati janji pada orang tuanya.
__ADS_1