Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 52 Pertemuan


__ADS_3

"Kamu baik-baik saja, Juli?" tanya orang bertudung hitam itu.


Suara Ian.


"Kenapa kamu bisa ada di sini I-"


Sengatan di kepala Julliane kembali. Pandangannya berputar-putar. Tubuhnya hampir limbung kembali. Ian memegangi Julliane dengan erat.


Khawatir akan keadaan Julliane, Ian celingukan mencari-cari bawahannya. Ada satu yang tertangkap di mata Ian. Tanpa suara Ian mengucap kata "payung". Bawahan itu mengangkat bahu tak tahu apa yang dikatakan sang tuan, jarak mereka terlalu jauh untuk membaca mulut Ian. Ian pun mengayunkan tangan yang bebas ke atas memeragakan kain peneduh lalu memegang udara seolah-olah sedang memegang gagang payung. Bawahannya pun mengangguk segera membeli payung.


Ian menuntun Julliane ke tempat duduk terdekat di sana. "Tunggu di sini sebentar, Juli."


Julliane mengangguk tak mengeluarkan suara, tubuhnya sangat letih. Perlahan Ian menghilang dibalik kerumunan orang yang berlalu lalang. 


Julliane berjengit, tiba-tiba ada orang berdiri di sampingnya memayunginya. 


"Ini perintah, Putra Mahkota Ian. Maaf atas kelancangan saya, Putri Julliane," kata orang itu sebelum Julliane bertanya lebih lanjut.


Selama ini Julliane tidak membawa pelayan atau pun pengawal ke mana pun karena ia tidak ingin merasa sedang diawasi. Namun, ternyata ada gunanya membawa bawahan.


Tak lama, Ian datang dengan roti panjang yang muncul malu-malu dari kantong kertas. Ia menyodorkan roti baguette dan sebotol susu pada Julliane. 


"Makanlah, Juli." 


Julliane sedikit kebingungan. Kelelahannya dikarenakan tidak bisa tidur beberapa hari akibat memikirkan pertunangannya dengan Beckett, yang dibutuhkannya adalah istirahat bukan makanan.


"Aku tidak lapar, Ian."


Bawahan Ian tertawa kecil, mendengar tuannya ditolak. Ian menatap tajam dan mengusir dirinya. Tentu saja, payung yang dibelinya tadi diberikan kepada Ian.


Melihat kekecewaan di wajah Ian, pada akhirnya Julliane meraih roti dan susu itu. "Tidak boleh menyia-nyiakan makanan."


Julliane melahap roti itu. Padahal tidak ada rasanya, tetapi sangat nikmat. Sakit kepalanya mulai hilang. Ia teringat bahwa hari ini makan siangnya terlewatkan. Sarapan pun tidak Julliane habiskan karena tidak betah akan kecanggungan terjadi di meja makan. Leroy dan Ophelia menyalahkan Julliane atas kepergian Ellaine, sebagai balasannya mereka tidak membantu Julliane. Yah, Julliane tidak terlalu memikirkannya karena ia tidak berharap apa pun pada mereka.


Ian mengamati Julliane yang menyantap makanannya sambil senyum-senyum sendiri. Terlihat titik hitam di pelipis gadis itu menganggu penglihatan Ian. Ia mendekatkan tangannya hendak menghapus noda itu. 

__ADS_1


"Jangan bergerak ada noda hitam di pelipismu, Juli."


Takut Ian menyadari tatonya di wajahnya yang mungkin terlihat karena tadi pagi ia merias diri dengan terburu-buru, Julliane berpaling dengan cepat. Tangannya secara reflek menepis tangan Ian. 


Sontak Ian terkejut tangannya ditepis, ia hanya ingin membantu Julliane. Wajahnya dikerutkan karena kesal dan kecewa.


"M-maaf, bukan maksudku menepis tanganmu. Ini cuma tahi lalat," jelas Julliane kelagapan.


"Aku tidak pernah melihat tahi lalat di wajahmu," balas Ian memicingkan mata penuh kecurigaan. Selama ini ia sering mengamati wajah Julliane dan tidak terlihat titik satu pun yang terlihat seperti tahi lalat di kulit mulus putri itu.


"Tahi lalat bisa muncul dengan sendirinya, bukan?" Julliane terus meyakinkan Ian dengan jawabannya yang asal-asalannya.


Ian terdiam masih mencari kebohongan dari mulut Julliane. Di dalam hati, Julliane berdoa Ian mempercayai kebohongannya tadi. Ian menjauhkan tubuhnya,  bersendekap masih memegang payung.


"Baiklah, akan kumaafkan, asal kamu memaafkanku." Ian menyeringai penuh kemenangan.


Aku terjebak.


Julliane menghela napas panjang, mengakui kekalahannya. "Baik, kamu kumaafkan. Bagaimana kamu tahu kalau aku kelaparan?"


Jantung Julliane melompat-melompat seakan mau keluar dari tenggorokannya, gara-gara sikap Ian yang mendekatinya terang-terangan.


"Dulu ibuku sering diet, kepalanya sampai pusing seperti dirimu," jelas Ian.


"Aku tidak diet. Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa ke sini Ian? Bukannya dilarang oleh kedua orang tuamu?"


"Ada orang yang menggantikanku di istana. Kami menggunakan batu sihir untuk merubah wajahnya sama denganku, jadi ayah dan ibuku tidak akan sadar."


Julliane membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka Ian sampai mengelabui orang tuanya untuk datang ke sini.


"Kudengar kamu bertunangan dengan Beckett," lanjut Ian karena Julliane terdiam.


"Benar, tetapi aku ingin membatalkannya. Sudah kucari rahasia Beckett yang bisa kumanfaatkan tetapi sia-sia."


Wajah ceria dan penuh percaya diri Julliane yang selalu dilihat Ian sekarang terlihat sangat lelah. Ian tidak tega melihat Julliane terus memaksakan diri.

__ADS_1


"Kamu istirahat saja di istana, akan kuurus Beckett."


"Tapi-"


Ian memotong sebelum Julliane beralasan lebih banyak. "Tidak ada tapi-tapian. Besok datanglah ke sini lagi, Juli. Akan ada informasi baru."


Pada akhirnya Julliane menuruti Ian kembali ke kereta kudanya. Ian menuju ke salah satu bar. Langkahnya terhenti di ruang rahasia, tempat berkumpulnya para lelaki yang memakai pakaian serba hitam.


Dua hari yang lalu begitu Ian sampai di Kerjaan Yuvinere, Ian mengumpulkan anggota pasukan khusus untuk mencari informasi kapan Jullianne keluar dari istana. Dan waktunya adalah hari ini. Ian menunggu Julliane di jalur yang bisa dilewati kereta kuda dari arah kediaman bangsawan yang dikunjungi gadis itu. Tidak mungkin Ian menemuinya di istana karena bisa saja ia bertemu dengan Beckett. Bisa terjadi skandal buruk karena Ian menemui Julliane yang sudah mempunyai tunangan. Lebih parahnya kabar itu bisa tersebar ke kerajaan Constain. Ia akan diminta pulang, pertunangan Julliane dan Beckett hingga berlanjut ke pernikahan, Ian akan merana. 


"Menyusuplah ke Kerajaan Lortamort. Cari informasi tentang Pangeran Beckett, masa lalunya, kegiatannya di kerajaan Lortamort, terutama rahasia kelamnya. Cepatlah!" perintah Ian.


Semua anggota pasukan khusus bersujud. "Baik, Yang Mulia."


Mereka segera melaksanakan tugas.


Terasa ada yang mengganjal di hati Ian. Sesuatu yang penting. Tangannya menepuk dahi.


Bagaimana bisa aku melupakan mengatakan kalimat yang sudah kulatih selama berhari-hari?


***


"Kenapa kamu tidak memakan lobstermu, Ian?" tanya Ratu yang merasa khawatir. Dari tadi putranya tidak menyentuh makanan sedikit pun.


"Aku tidak selera, Ibu," balas Mikael berusaha tersenyum.


Sebenarnya, Mikael tidak ingin menyia-nyiakan makanan, terutama makanan mahal seperti lobster. Tetapi, apalah daya ia alergi pada hewan laut.


"Bukannya itu makanan kesukaanmu?" tanya Raja.


Raja dan Ratu merasa orang yang duduk di hadapan mereka terasa sangat asing. Tatapan terus tertuju pada Mikael yang masih melihat lobster itu dengan ngeri.


'Anda tidak pernah bilang kalau suka hewan terkutuk ini, Yang Mulia,' gerutu Mikael dalam hati.


Tak ingin dicurigai lebih lanjut, Mikael mencuil daging lobster itu dengan garpu lalu memasukkannya ke dalam mulut. 

__ADS_1


__ADS_2