
Sudut bibir Julliane berkedut menahan amarahnya. Ia bisa merasakan ucapan Beckett bukanlah bualan saja. Kondisi militer Kerajaan Yuvinere sekarang sangat memprihatinkan, jumlah kesatria yang sedikit tidak sebanding dengan musuh.
Mengumpulkan uang dalam waktu singkat juga tidak mungkin, tidak ada pesta pernikahan atau pesta ulang tahun dalam waktu dekat. Mengajari semua pelayan bangsawan untuk merias tidak dapat mencukupi kebutuhan peperangan. Menikahi Beckett adalah jalan satu-satunya, tetapi Julliane tetap tidak mau memilihnya.
"Beri aku waktu, untuk memikirkan hal ini, Pangeran Beckett."
"Selama kuberi waktu, umumkan pertunangan kita. Aku tidak mau kamu menipu atau lari dariku, Putri Julliane," tekan Beckett.
Julliane memejamkan mata menyetujuinya. Ia kembali ke kamar menggeram kesal.
"Dasar Pangeran licik!"
Tersisa satu penghalang, paling Julliane benci di sini. Kekuasaan dan uang yang Beckett punya menjadi masalah besar.
"Ada satu cara mudah untuk mengatasi hal ini," saran Letta yang masih berada di alam manusia, daritadi ia mengikuti Julliane yang kesusahan.
"Apa?" tanya Julliane bersemangat.
"Minta saja Ian menikahimu. Kerajaan Constain akan membantu Kerajaan Yuvinere melawan Kerajaan Lortamort, mudah bukan? Ditambah kutukanmu akan hilang, sambil menyelam minum air."
Kukira apa...
Semangat Julliane luntur seketika. "Raja dan Ratu Kerajaan Constain tidak akan mengizinkannya. Mereka masih marah pada Kerajaan Yuvinere yang menuduh mereka sembarangan."
"Ian pasti akan mengusahakannya."
"Tidak semudah itu, di surat terakhir dia tidak bisa ke sini karena ditentang orang tuanya."
Julliane menghela napas panjang bersamaan dengan Letta. Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan adalah menguak semua keburukan Beckett pada Kerajaan Lortamort. Ini bagian tersulitnya, ia tidak punya informasi memadai tentang Kerajaan Lortamort ataupun sifat buruk Beckett lain selain manja, malas dan licik. Tetapi, itu sifat manusiawi, ia butuh rahasia kelam yang bisa membuat Beckett hancur.
Besok aku harus mencari informasi di ibu kota, sekalian memberi kabar pertunanganku dengan Beckett di kantor surat kabar.
***
Tumpukan dokumen yang sudah dikerjakan terlihat di meja kerja Ian. Jari Ian terus menerus mengetuk-ngetuk meja seraya kepalanya menatap jendela. Menunggu adalah hal yang paling sulit, apalagi balasan surat pujaan hati.
__ADS_1
Seorang pelayan masuk sambil mengantarkan kotak kecil. "Saya mengantar barang yang Anda pesan, Yang Mulia."
"Terima kasih, keluarlah." Ian mengelus-elus kotak itu sambil tersenyum-senyum sendiri.
Akhirnya datang juga.
Mikael membanting pintu, menghampiri tuannya dengan panik. "Yang Mulia, Yang Mulia! Gawat! Gawat! Putri Julliane!"
"Bicara yang jelas." Ian pun ikut merasa panik mendengar nama Julliane.
"Putri Julliane bertunangan dengan Pangeran Beckett!"
Suara gebrakan meja terdengar. Ian bangkit berdiri dengan tangan terkepal erat di meja yang barusan ia pukul. Giginya gemertak menyuarakan amarahnya.
"Kenapa Julliane menerimanya?!" teriak Ian.
"I-itu karena Putri Ellaine membuang gelar putrinya. Mau tidak mau, Putri Julliane harus menggantikannya agar hubungan kedua kerajaan tidak hancur." Mikael sedikit ketakutan melihat Tuannya semurka itu.
Helaan napas Ian terdengar, ia bersyukur Julliane menerima Beckett dengan terpaksa. Dirinya masih punya kesempatan. Tinggal cari cara untuk menggagalkan pertunangan Julliane. Namun, ia teringat sesuatu.
"Dari mana kamu tahu tentang ini? Jangan bilang kamu ke kerajaan Yuvinere lagi."
Mikael meminta teman-temannya membantu Ian untuk mendapatkan hati Julliane. Anggota pasukan khusus tersebar di ibu kota Yuvinere untuk mengetahui gosip terbaru tentang Julliane. Mereka tidak mengawasi Julliane di istana karena malah mengakibatkan hubungan kedua kerajaan yang memburuk apabila ketahuan. Bila mendengar kabar buruk, mereka bisa langsung memacu kuda ke Kerajaan Constain. Tentunya ini lebih cepat daripada surat yang diantarkan menggunakan merpati.
"Mikael, kamu..." Ian melotot ke arah bawahannya ini.
Sadar bahwa tindakannya seenaknya sendiri, Mikael meminta maaf sembari menundukkan kepala.
Namun, bukannya marah Ian malah menepuk-nepuk pundaknya. "Pintar sekali, kerja bagus."
Keputusan Mikael sangat tepat. Andai menunggu merpati, bisa-bisa Julliane sudah direbut oleh Beckett sebelum Ian dapat bertindak.
Mikael mendongak, lantas meringis. "Anda bisa mengandalkanku Yang Mulia."
"Tetapi, aku belum memaafkanmu atas kelancanganmu. Gantikan aku, baru itu akan kumaafkan." Ian membuka kotak kecil yang diserahkan pelayan tadi. Lalu memberikan isinya pada Mikael.
__ADS_1
Mikael menatap batu di tangannya dengan kebingungan. Ini pertama kalinya ia melihat batu berwarna cerah seperti itu.
"Batu apa ini, Yang Mulia?"
"Batu sihir, aku memesannya dari Kekaisaran lain. Ini bisa merubah penampilan." Ian menekan tombol yang berada di bawa batu itu.
Mikael masih tidak mengerti, wajah Ian sama sekali tidak berubah. Ian segera mengambil cermin memperlihatkan wajah Mikael. Mikael mundur seketika. Ia menatap Ian dan menyentuh wajahnya.
Ian tersenyum melihat keterkejutan Mikael. "Lihat bukan? Sekarang wajahmu sama denganku."
"Jadi untuk apa semua ini, Yang Mulia?" Mikael menatap pantulan wajah Ian yang seharusnya wajahnya di cermin.
Ian menggeleng-gelengkan kepala, mengira Mikael bisa menebaknya. Kebingungan dan kekagetan membuat kepintaran Mikael hilang.
"Aku ingin kamu berpura-pura menjadi diriku selama aku berada di Kerajaan Yuvinere."
"Baiklah akan saya laksanakan. Bagaimana cara kerja batu ini Yang Mulia?"
"Bayangkan saja wajahku seketika wajahmu akan berubah. Wajahmu akan kembali jika menekan tombol yang sama lagi. Lalu, jangan sampai ketahuan Ayah dan Ibuku." Ian mengacungkan jari telunjuknya memperingatkan Mikael.
Mikael terus mengangguk-angguk, mematri tiap perkataan Tuannya dalam otaknya.
Tak sabar menemui Julliane, Ian mengemasi barang-barangnya. Berlama-lama di sini, tidak akan membantu Julliane.
Mikael menatap punggung Tuannya yang tertutup pintu. Menjadi Ian tidaklah sulit, ia sudah tahu kebiasaan-kebiasaan Tuannya. Ia berharap Ian kembali dengan memperkenalkan Julliane sebagai kekasih.
***
Julliane pulang dari salah satu kediaman gadis bangsawan dengan kekecewaan. Mengorek informasi dari gadis bangsawan yang tahu kabar burung terkini sama sekali tidak membantu. Mereka tak tahu gosip buruk di Kerajaan Lortamort tentang Beckett.
Mencari informasi di ibu kota pun tidak menambah apa pun, informasi yang tersedia hanya kedudukan Beckett yang tidak baik di kerajaan Lortamort hingga harus mencari putri kerajaan lain sebagai pasangan. Sudah beberapa hari ini ia berkeliling di ibu kota ke pusat informasi tetapi tidak mendapat sesuatu. Ia pun meminta bantuan Ellaine dan Edgar, tetapi mereka pun sama, tidak ada hal buruk tentang Beckett.
Ngomong-ngomong soal Ellaine, sekarang ia belajar melakukan pekerjaan rumah dibantu Carlos. Walau sulit karena terbiasa dikerjakan oleh pelayan, Ellaine merasa senang karena bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Carlos. Mereka berniat menikah gereja di dekat kampung halaman Carlos.
Julliane tiba di ibu kota melanjutkan pencarian informasi.
__ADS_1
Aku harus semangat.
Julliane menepuk-nepuk pipinya, lalu turun dari kereta kuda. Kepalanya terasa pening, keseimbangannya goyah. Kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Tiba-tiba ada orang bertudung menangkapnya.