Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 31 Menuju Kerajaan Constain


__ADS_3

Julliane berkeliling istana untuk mencari tamu Ellaine. Namun, ia tak menemukan satu orang pun. Sudah beberapa hari ini Julliane tidak bertemu dengan ketiga kandidat karakter utama.


Apa mereka sudah menyerah?


Salah satu pelayan memberikan surat pada Jullinae. Dari lambang yang tertera di amplop itu sepertinya dari Ian. Julliane menuju ke kamarnya untuk membukanya.


Ian menanyakan apakah urusan Julliane sudah selesai dan bisa bisa menuju ke kerajaan Constain atau tidak. Apabila Julliane tidak bisa datang, Ian akan ke Kerajaan Yuvinere untuk membantu Julliane menyelesaikan urusannya.


Julliane tidak ingin mengulur-ulur waktu lagi. Adiknya sudah tidak didekati, sehingga Julliane bisa bebas melakukan apa pun, termasuk bersenang-senang. Ia tidak sabar melihat keindahan dari kerajaan lain.


Tak ingin membuang waktu, Julliane menemui ayah dan ibunya yang berada di ruang kerja Raja. Begitu sampai, Julliane langsung menyampaikan maksud kedatangannya.


"Ayah, Ibu aku ingin berkunjung ke Kerajaan Constain," ucap Julliane dengan mantap.


Kedua orang tuanya terkesiap. Terutama Leroy wajahnya mengeras. "Kerajaan kita dengan Kerajaan Constain tidak berhubungan dengan baik Julianne. Apa kamu lupa?”


"Aku tidak lupa, Ayah. Aku berusaha memperbaiki hubungan kedua Kerajaan. Caranya berteman baik dengan Pangeran Ian," balas Julliane.


Julliane sudah mempersiapkan jawaban ketika bertemu dengan kedua orang tuanya. Kemungkinan mereka melarangnya sangat besar. Satu-satunya jalan agar menyakinkan keduanya adalah dengan memperbaiki hubungan Kerajaan Constain dan Yuvinere.


Leroy memegangi dahinya. Usulan Julliane sangat bagus. Bila hubungan kedua Kerajaan membaik maka Kerajaan Constain dapat membantu masalah Kerajan Yuvinere.


Ratu pun setuju dengan pendapat putrinya. Namun, kekhawatiran masih melandanya karena mungkin saja Raja dan Ratu Kerajaan Constain tidak menerima dengan baik Julliane.


"Aku setuju."


"Ibu tidak setuju."


Kedua pasangan itu tidak sependapat. Mereka saling bertatapan. Ratu segera menghampiri Leroy. Keduanya saling berbisik agar tidak terdengar oleh Julliane.

__ADS_1


"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Julliane, Sayang?" Ratulah yang pertama kali menyampaikan kekhawatirannya.


"Itu tidak mungkin, Kerajaan Constain tidak akan berani mendeklarasikan perang dengan kita."


"Tetap saja, aku tidak tenang, Sayang."


"Kita kerahkan pengawal untuk melindungi Julliane."


Ratu pun menggangguk. Ophelia dan Leroy menatap putri mereka.


"Kami akan mengizinkanmu pergi dengan syarat, bawalah pengawal dan beberapa pelayan. Kami tidak mau terjadi sesuatu padamu di Kerajaan lain," kata Leroy.


Julliane tersenyum lebar sambil menunduk. "Terima kasih, Ayah, Ibu."


Julliane bergegas kembali ke kamarnya, menuliskan surat balasan untuk Ian. Tak sabar bertemu dengan temannya itu.


***


Jika tidak segera bertemu dengan Julliane, ia bisa gila. Untuk memenuhi rasa rindunya, Ian akan datang ke Kerajaan Yuvinere dan mengatakan perasannya pada Julliane.


Padahal saat bertunangan dulu ia tidak pernah merasakan seperti ini. Ia seharusnya membenci Julliane karena pernah meninggalkannya. Ataukah sebenarnya dari dulu Ian selalu menyukai mantan tunangannya itu?


Ian mulai membayangkan hidupnya dengan Julliane. Menghabiskan waktu bersama, jalan-jalan ke tempat yang indah, saling bercanda tawa pasti kehidupannya akan menyenangkan.


Seandainya Julliane menolaknya. Ian tetap akan berteman dengannya. Meski menyakitkan, ia akan melupakannya mencari pasangan lain seperti kata Ibunya.


Lamunan Ian teralihkan pada ketukan pintu. Pelayan masuk mengantar surat dengan lambang Kerajaan Yuvinere. Ian membacanya sambil tersenyum-senyum. Harapannya terwujud. Julliane akan ke kerajaan Constain selama beberapa hari.


"Siapkan kereta kuda dan pakaianku. Aku akan menginap di perbatasan selama beberapa hari," perintah Ian.

__ADS_1


Pelayan segera menunduk melaksanakan perintah Ian. Sebuah sambutan hangat yang tidak mungkin terlupakan akan diberikan pada Julliane.


***


Tiba saat kepergian Julliane. Keluarga Kerajaan melepas Jullaine. Terutama Ellaine, ia akan kesepian bila kakaknya tidak ada di istana. Meski dulu mereka tidak pernah bertemu saat Julliane terkena kutukan, keberadaan kakaknya berpengaruh besar pada dirinya sekarang. Ellaine terus menatap Julliane seraya menahan air mata.


Julliane menghampiri Ellaine. "Jika ada yang mengganggumu lagi segera hubungi aku, Elle."


Ellaine mengangguk. "Tentu, Kak Juli."


Meski Ellaine bilang seperti itu, hati Julliane tidak tenang. Sifat Ellaine yang tidak ingin menyusahkan orang lain, malah akan menyusahkan dirinya sendiri. Setelah mengucapkan salam perpisahan pada Ellaine, Julliane mendekati adik laki-lakinya.


Tangan Julliane terentang memeluk Edgar. "Jaga Elle, Ed. Bila ada lelaki mendekati Elle lagi pastikan kamu segera memberitahuku," bisik Julliane di telinga Edgar.


Hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Edgar memberi tanda persetujuan dengan mengangguk.


Julliane memberi pelukan kepada kedua orang tuanya. Perpisahan dengan keluarganya telah selesai. Ia naik ke kereta kuda menuju Kerajaan Constain.


***


Beckett berada di penginapannya sedang bersantai. Sudah berbulan-bulan ia berada di Kerajaan Yuvinere. Ada perasaan rindu pada Kerajaannya tetapi rencananya untuk melamar salah satu putri Kerajaan haruslah berhasil. Ia memerlukan dukungan yang kuat untuk bersaing dengan saudara-saudaranya menjadi Putra Mahkota.


Awalnya Beckett menargetkan Julliane, tetapi putri yang satu itu sulit didekati. Bahkan ia dipermalukan olehnya. Ia akan membalas perbuatan Julliane dengan menikahi dan membuat Ellaine menderita.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Beckett bangkit dari tempat tidurnya, menatap pengawalnya yang masuk sambil menunduk.


"Putri Julliane telah meninggalkan istana, Pangeran. Putri pergi ke Kerajaan Constain selama beberapa hari."


Seringai Beckett muncul. "Laporanmu diterima. Bawakan aku makanan."

__ADS_1


Pengawal Beckett keluar melaksanakan perintah majikannya. Beckett mulai tertawa keras.


"Ha... Ha... Ha... keputusanmu salah, Julliane. Begitu kembali, adikmu akan berada di genggamanku."


__ADS_2