
Julliane menghembuskan napas panjang. Terlihat sosok Ian yang berjalan ke arahnya. Julliane segera menyembunyikan hancurnya kalung pemberian Ian.
"Di mana Lionel, Juli?" tanya Ian yang sudah berada di dekatnya.
"Dia sedang meratapi hadiah-hadiahnya yang kubakar di luar dapur." Julliane segera berbalik menunjuk ke tempat Lionel untuk menutupi lehernya yang kosong.
"Kalau begitu bagaimana dengan hadiahnya yang ini." Ian menunjuk bros miliknya.
Ian datang ke sini untuk menunjukkan bros itu pada Lionel. Ia ingin membuat Lionel kesal, tetapi Julliane sudah bertindak lebih cepat.
"Kamu bisa menjualnya lalu memberikan pada rakyat kecil atau pada siapa pun," ucap Julliane yang masih membelakangi Ian.
Gelagat Julliane yang aneh membuat Ian curiga. Ian segera mendekatinya, tetapi Julliane terus menghindarinya tidak mau menatapnya. Ian menarik lengan Julliane hingga tubuh putri pertama itu berhadapan dengannya.
Julliane melirik ke arah yang lain tidak berani menatap mata Ian. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menyimpan hadiah Ian dengan baik. Ian menyadari alasan dibalik tingkah Julliane begitu melihat kalung pemberiannya tidak ada. Sebelum Ian mengeluarkan suara, Julliane bersuara terlebih dahulu.
"Aku minta maaf, Ian. Kalungmu tadi dihancurkan Lionel. Maaf karena tidak bisa menepati janjiku."
Bukannya marah, Ian malah tersenyum kepada Julliane. Ini membuat Julliane kebingungan.
Kenapa dia tidak marah?
"Sudahlah tidak apa-apa, aku bisa membelikannya lagi. Lagipula lelaki itu sudah menerima ganjarannya," ucap Ian menenangkan Julliane.
Ian mengganti nama Lionel dengan lelaki itu. Sudah jelas dia marah.
"Apa kamu marah? Akan kutebus dengan cara apa pun."
"Aku tidak marah, Juli, kamu tidak perlu menebusnya. Yang kuinginkan adalah memilih kalung denganmu dua hari lagi." Ian terus tersenyum ke arah Julliane.
"Kenapa tidak besok?" ucap Julliane penuh kecurigaan.
"Besok aku sibuk, Juli."
Julliane terus menatap mata Ian yang disipitkan. Ia tidak bisa mengetahui apa yang ada dipikiran orang yang di depannya sekarang. Jika bertanya lebih lanjut, Ian malah merasa terganggu. Pada akhirnya ia menyerah.
"Baiklah aku setuju, Ian. Jika kamu marah bilang saja padaku."
__ADS_1
"Tentu saja."
Ian mengarahkan Julliane pada kursi di taman. Ia meminta Julliane menceritakan pertemuan dengan Lionel tadi. Ian mendengarnya dengan saksama sambil memikirkan sesuatu.
***
Lionel berada di kamarnya masih menyayangkan uangnya yang terbakar habis karena Julliane. Sebenarnya Ia ingin menuntutnya tetapi putra Count tidak bisa menuntut seorang Putri Kerajaan. Ia akan kalah di pengadilan. Masih beruntung ia tidak dihukum Raja karena melukai putrinya. Leher Julliane pasti memerah karena kalungnya ditarik keras.
Terdengar suara ketukan pintu. Seorang pelayan masuk memberi kabar. "Ada orang yang menunggu Anda di ruang tamu, Tuan Muda."
"Siapa?"
"Pangeran dari Kerajaan Constain."
Lionel segera bangkit dari tidurnya menemui Ian. Meski ia membenci Ian, sangat lancang membuat seorang pangeran menunggu lama.
'Mau apa dia ke sini?' batin Lionel.
Lionel segera duduk di hadapan Ian. Ia terus memperhatikan bros yang dipakai Ian.
"Kenapa? Kamu suka pada bros ini, Lionel?" tanya Ian sambil menunjuk brosnya.
"Ah, bukan begitu Pangeran. Saya hanya penasaran dari mana Anda mendapatkan bros itu," ucap Lionel sambil tersenyum palsu.
"Aku mendapatkan ini dari seseorang. Orang itu memintaku menjual atau memberikan ini pada orang lain. Menurutmu bagaimana?"
Lionel menelan ludahnya, merasa terintimidasi. Ian tidak meninggikan suara atau pun terlihat marah tetapi entah mengapa kata-katanya menyiratkan ancaman.
"Itu terserah saja pada Pangeran," ucap Lionel gemetaran.
"Kalau begitu kuhancurkan saja tidak apa-apa bukan?" Ian tersenyum sambil meremukkan bros miliknya. Permata itu hancur berkeping-keping. Darah mengalir dari tangan Ian menetes ke lantai.
Ian menjatuhkan bros yang hancur itu. Suara bros yang jatuh berdentingan di lantai. Kakinya mengusap bros, memberi tekanan lebih hingga tersisa serpihan-serpihan kecil dan noda darah. Lionel berusaha untuk tidak berteriak melihat barangnya dihancurkan. Kemarin dirinya sudah diinjak-injak sekarang malah lebih parah lagi. Ia takut dirinya tidak akan selamat.
Ian menepuk-nepuk bahu Lionel dengan tangannya yang tidak terluka. "Urusanku sudah selesai. Jangan pernah dekati Julliane lagi."
Lionel tak mampu berkata apa pun hingga Ian keluar dari ruang tamu. Ia baru bisa bernapas lega. Ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan berurusan dengan Putri Julliane dan Pangeran Ian.
__ADS_1
***
Julliane menghabiskan waktu dengan Ellaine dan Edgar. Ia sudah menyampaikan kejadian Lionel pada mereka. Begini tanggapan adik-adiknya.
"Kak Juli keren," ucap Ellaine.
"Lionel pasti tidak akan berani menemui Kak Juli lagi," timpal Edgar.
Julliane tersenyum ke arah mereka. Sekarang ia punya adik-adik yang mendukungnya dan bisa berbagi keluh kesah pada mereka. Di kehidupan sebelumnya, ia anak tunggal jadi tempat berkeluh kesah miliknya adalah teman-teman dan orang tuanya. Namun, ia lebih suka bercerita pada teman-temannya karena pendapat mereka yang tidak menggurui.
Jadi seperti ini rasanya punya adik. Tidak punya teman pun tidak apa-apa.
Julliane mulai menyerah mencari teman. Sekarang surat undangan untuk datang ke acara minum teh membanjirinya. Kebanyakan dari mereka memiliki niat terselubung. Ia tidak mau memperluas pertemannya dengan dengan orang-orang seperti itu. Novel Bunga Istana tidak menceritakan teman-teman Ellaine. Novel itu hanya fokus pada Ellaine, ketiga kandidat tokoh utama, dan Julliane. Ceritanya pun sudah berubah akibat kedatangan Julliane. Jadi, Julliane semakin berhati-hati pada teman-teman Ellaine.
"Elle, ini hanya saran. Jauhilah teman-temanmu itu," ujar Julliane tiba-tiba.
Ellaine kebingungan dengan kakaknya. Ia tidak mungkin menjauhi teman-temannya secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. "Kenapa, Kak Juli?"
"Mereka baik kepadamu karena ingin mendapat keuntungan. Mereka sama sekali tidak tulus."
"Dari mana Kak Juli tahu?"
"Ini firasatku."
Tidak mungkin aku berkata pernah bertemu orang sejenis mereka. Padahal aku bergaul baru-baru ini.
Ellaine menunduk memikirkan ucapan Julliane. Pikirannya berkecambuk. Sebenarnya ia juga merasa sikap baik teman-temannya karena dirinya seorang putri. Namun, jika menjauhi mereka ia tidak akan punya pengaruh di pergaulan kaum bangsawan.
"Baiklah, akan kucoba pikirkan. Terima kasih, Kak Juli."
Kedua adiknya kembali menjalankan kegiatannya masing-masing. Julliane membuka laci, mengambil daftar cinta sejatinya. Ia mencoret nama Lionel. Kini nama ketiga kandidat tokoh utama sudah tercoret semua.
Sayang sekali mereka bukanlah cinta sejatiku.
Mata Julliane menatap nama Ian cukup lama sambil menyentuh lehernya yang terasa sakit.
Haruskah aku dengan Ian saja?
__ADS_1