
Beberapa hari sebelumnya
Tak terdengar apa pun di ruang kerja Leroy, hanya suara denting jam. Kepala Leroy disangga dengan salah satu tangannya. Tangan lain menggenggam secarik kertas. Tertulis di kertas itu pengeluaran kerajaan melebihi pendapatannya. Ia menggertakan gigi lantas membuang kertas itu.
"Argh!" erangnya sambil menggebrak meja.
'Utang kerajaan sudah menggunung. Kita tidak bisa hidup bermewah-mewahan lagi. Aku harus menghemat tetapi bila ada bangsawan yang curiga keadaan keuangan kerajaan mengenaskan, bisa jadi akan terjadi pemberontakan. Keluargaku akan terkena imbasnya,' batin Leroy.
Leroy terus memutar otaknya. Menikahkan anaknya adalah satu-satunya jalan keluar. Tidak boleh terburu-buru menikah, pertama-tama bertunangan terlebih dahulu agar terlihat alami. Julliane sudah setuju akan menikah dan mulai mau bertemu lagi dengan lelaki, tetapi ia sedang sibuk berteman dengan gadis bangsawan lain. Ditambah sifat putri pertamanya yang sulit diatur akan menyulitkan untuk bertunangan dengan bangsawan lain dalam waktu dekat.
Ellaine yang lebih penurut menjadi pilihan Leroy. Ia akan menikahkan putri keduanya dengan Beckett. Mereka akan saling menguntungkan. Kerajaan Yuvinere akan menjalin kerja sama dengan Kerajaan Lortamort, sedangkan Beckett akan memperoleh kekuatan dalam perebutan kursi tahta di kerajaannya.
Bila Beckett menjadi Raja, Ellaine akan menjadi Ratu. Kerjasama kedua kerajaan akan semakin erat. Masalah keuangan Kerajaan Yuvinere dapat teratasi cepat atau lambat. Sikap Beckett yang curang di pesta berburu bukan masalah besar. Beckett adalah pilihan terbaik di antara ketiga orang yang mendekati Ellaine.
Menikahkan Edgar akan membawa petaka. Leroy tidak dapat mempercayai gadis bangsawan dapat menjaga mulutnya. Ditambah menikahi pangeran malah akan membuat mereka semakin berfoya-foya. Bukan malah memperbaiki keuangan, kehancuran yang akan menimpa Kerajaan Yuvinere. Edgar tidak mau menikah dengan putri dari kerajaan lain karena pernah dipermalukan. Karena sakit hati, putranya hanya mau menikah dengan gadis bangsawan di dalam negeri untuk mempertahankan harga diri.
Leroy meraih kertas menuliskan surat kepada Beckett. Ia akan memintanya bertemu diam-diam tanpa sepengetahuan Julliane, Edgar dan pengawal Ellaine. Mereka bisa menggagalkan rencana yang dibuat Leroy.
***
"Sampai berjumpa nanti besok malam, Putri Ellaine," salam Beckett.
Ellaine meninggalkan ruang kerja Raja sambil menghela napas panjang. Kepalanya terus memikirkan tentang pertunangan. Ditambah pernikahan akan dijalaninya entah kapan. Ia belum siap tetapi harus siap.
"Ada apa, Tuan Putri?" tanya Carlos tiba-tiba.
"Bukan masalah penting, Carlos," elak Ellaine.
"Apa Tuan Putri ingin kabur lagi?"
"Apa kamu tidak takut dimarahi oleh Ayahku lagi, Carlos?"
Sebenarnya Carlos takut, tetapi ia ingin tuannya melepas kepenatan. Berada di istana terus-terusan membuat tuannya murung. Dimarahi atau dipukul sekali pun tidak masalah apabila tuannya senang.
"Tidak, Tuan Putri."
Ellaine tersenyum simpul. "Terima kasih, Carlos. Tetapi aku tidak mau melihatmu dimarahi lagi demi diriku. Lebih baik kita di istana saja."
__ADS_1
Ellaine melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Tangannya terasa ditarik, ia pun berhenti, lantas menoleh ke arah Carlos.
"Kenapa, Carlos?"
"Aku tahu tempat yang nyaman di istana, mungkin Tuan Putri akan menyukainya," kata Carlos ragu-ragu.
"Boleh saja kita ke sana."
Carlos pun melangkah di depan Ellaine. Ini kebalikan dari kegiatan mereka sehari-hari, rasanya Ellaine seperti yang mengawal Carlos. Ellaine terkekeh pelan mengamati punggung Carlos. Mungkin inilah pemandangan yang sering dilihat Carlos.
Mereka tiba di sebuah pohon area istana selir. Carlos memilih tempat ini karena hawanya sejuk dan sangat sepi. Lagipula Ellaine pasti senang berada di tempat dekat Julliane.
Dulu Carlos sering memerhatikan Ellaine yang menambahkan barang-barangnya di dalam kotak kebutuhan Julliane saat menderita kutukan. Mengamati kasih sayang tuannya pada sang kakak secara diam-diam membuat hati Carlos terenyuh.
Carlos bertekad menjadi lebih kuat agar menjadi pengawal pribadi dari Ellaine. Ia ingin berada di dekatnya. Penantiannya terbayarkan setelah penculikan Ellaine berlangsung. Seandainya Carlos menjadi pengawal pribadi Ellaine lebih cepat, ia tidak akan membiarkan penculikan itu terjadi.
"Jadi ini tempatnya?" Ellaine mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Benar Tuan Putri. Duduklah." Carlos meletakkan alas, tak ingin gaun tuannya kotor.
Ellaine pun duduk bersandar pada pohon itu menatap taman. Angin dengan lembut menerpa wajahnya. Rasanya damai, ia pun memejamkan mata untuk merasakan kedamaian ini.
Ellaine mengangguk. "Aku menyukainya, sangat menenangkan," jawabnya pelan.
"Saya sering beristirahat di bawah pohon setelah latihan. Saya pun merasa tenang, jadi saya rasa Tu-" kata-kata Carlos terhenti.
Kepala Ellaine bersandar di bahunya. Tubuhnya kaku, takut membangunkan tuannya. Ia melirik ke wajah tuannya. Sangat dekat sekali. Bulu mata Ellaine ternyata sangat lentik. Tangannya ingin menyentuh kulit yang mulus dan putih itu. Namun, ia tidak ingin lancang. Jari telunjuknya dikaitkan pada jari kelingking Ellaine.
'Begini saja cukup,' batin Carlos.
***
Pelayan mondar-mandir di kediaman yang didatangi Julliane. Julliane sampai menyingkir agar tidak tertabrak oleh pelayan-pelayan itu. Gadis bangsawan mondar-mandir di ruang tengah kediamannya. Begitu melihat Julliane ia langsung mendekatinya.
"Aku sudah menunggu Anda, Tuan Putri. Anda bilang bahwa akan turun tangan sendiri kali ini," ucap Rebecca dengan cepat. Pikiran-pikiran tentang kacaunya pesta terus memenuhi kepalanya.
"Benar, aku takut pelayan tidak mampu meniru riasan yang kulakukan dengan sempurna. Aku datang ke sini langsung untuk membuatmu cantik sekaligus menikmati pestamu. Rebecca, sebelumnya selamat ulang tahun." Bibir Julliane pun melengkung.
__ADS_1
Rebecca berterima kasih sambil meminta cepat-cepat dirias. Ia belum tenang sebelum melihat wajahnya menjadi cantik.
Mereka tiba di kamar Rebecca. Julliane mengamati wajah Rebecca. Yang menjadi masalah adalah mata yang sipit, selain itu wajahnya cukup cantik.
Seperti biasa, Julliane mengoleskan dasar terlebih dahulu secara menyuluruh. Ia membubuhkan perona mata berwarna terang. Warna gelap malah membuat mata terlihat sipit. Lalu ia memulas sudut mata bagian dalam dengan highlighter.
Tangannya mengambil eyeliner lalu dibubuhkan pada bulu mata bagian atas. Ia menoreskan garis melampaui sudut-sudut luar mata. Ujung garis itu dibuat meruncing agar bulu mata terlihat lebih panjang dan mata terlihat lebih lebar. Bagian tersulitnya adalah menyamakan garis ini pada mata kiri dan kanan, tetapi bukan masalah bagi Julliane karena ia sudah terbiasa.
Bulu mata Rebecca dijepit dan langkah terakhir maskara dipakaikan mata bulu matanya. Ia mengulangi semua langkah-langkah itu pada mata yang lain.
Masalah sudah selesai. Julliane memastikan riasan di kedua mata Rebecca terlihat sama. Setelah itu ia merias Rebecca dengan perona pipi, pewarna bibir dan taburan bedak. Selesai.
Rebecca mengamati riasan di wajahnya. Hasilnya menakjubkan. Ia terlihat seperti orang yang berbeda, sangat cantik. Senyum merekah di bibirnya.
"Terima kasih, Putri Julliane," kata-kata itu terus terlontar dari bibirnya.
Julliane menyerahkan urusan rambut dan aksesoris lain pada pelayan. Ia ingin beristirahat sebentar.
Setelah uang ini kudapatkan, akan kutemui ayahku. Uang yang sudah kukumpulkan pasti dapat membantu keuangan kerajaan.
***
Semua orang bertepuk tangan melihat kedatangan Rebecca. Mereka terkagum-kagum melihat kecantikan gadis bangsawan satu ini. Setelah mengucapkan salam pada tamu-tamunya, Rebecca pun mendatangi Julliane dan teman-temannya yang duduk di mengelilingi sebuah meja.
"Wah, kamu cantik sekali," puji Violet yang berada di samping kiri Julliane.
Claire yang duduk di samping kiri Violet menimpali, "Setelah ini pasti banyak lelaki mendekatimu."
"Terima kasih, ini berkat bantuan Putri Julliane," Rebecca tersenyum sambil duduk di kursi kosong sebelah kanan Julliane.
Julliane tidak memperhatikan mereka. Kepalanya menoleh ke arah kerumunan tamu, mencari-cari seseorang.
"Aku juga ingin dirias Putri Julliane seperti ini di pesta ulang tahunku juga. Akan kubayar lebih banyak daripada Rebecca," ujar Claire.
"Aku akan membayar lebih banyak dibandingkan kalian berdua," tambah Violet yang tidak mau kalah.
Ketiga gadis bangsawan ini tertawa pelan. Julliane menatap mereka dengan sinis.
__ADS_1
"Di mana Ellaine?" kata Julliane dingin.
Batang hidung adiknya tidak terlihat dari tadi. Ellaine tidak diundang ke pesta ini. Tidak diundang ke pesta orang yang disebut teman.