
Edgar yang sibuk berlatih, tidak pernah berpapasan dengan salah satu kandidat karakter utama. Ketiga kandidat ini memang menyembunyikan pertemuan mereka dengan Ellaine dari adiknya.
Saat istirahat dari latihannya, Edgar melihat seorang pelayan membawa banyak surat. Ia segera mendekati pelayan itu.
"Apa ada surat untukku dari Kak Juli?" tanya Edgar.
"Ada, Pangeran." Pelayan itu segera mengambil salah satu surat berwarna kuning lantas memberikannya pada Edgar.
"Bagaimana dengan Kak Elle? Apa ada surat untuknya juga? Aku akan menyerahkannya pada Kak Elle."
Pelayan itu mengiyakan. Surat lain berwarna kuning yang tertuju untuk Ellaine diserahkan pada Edgar.
Edgar menyudahi latihannya lebih cepat. Ia tidak sabar membuka surat dari Julliane. Sebelum itu, ia akan menyampaikan surat pada Ellaine terlebih dahulu. Mereka akan membukanya bersamaan untuk mengetahui kabar dari Julliane.
Langkah Edgar semakin cepat melihat Ellaine sedang berduaan dengan Kyler. Edgar menyambar tangan Ellaine.
"Kak Elle, aku mencarimu ke mana-mana. Apa kamu lupa akan bertemu dengan Ayah dan Ibu?"
Ellaine terkesiap. Tidak ada pertemuan dengan Ayah dan Ibunya. Edgar berbohong agar Ellaine terbebas dari Kyler.
"Maafkan saya Duke Orsin. Karena terlalu lama menghabiskan waktu dengan Anda, saya sampai lupa ada pertemuan dengan Raja dan Ratu. Saya permisi." Ellaine menunduk hendak pergi tetapi dicegah oleh Kyler
"Tunggu apa Anda ingin meninggalkan saya sendirian, Putri Ellaine?"
"Maaf Duke Orsin. Pertemuan dengan Raja dan Ratu lebih penting daripada dengan Anda. Lagipula Anda bisa menemui Kak Elle esok hari," balas Edgar sambil menepis tangan Kyler.
Edgar dan Julliane melangkah dari taman istana utama. Suara geraman Kyler terdengar sampai di telinga mereka berdua, tetapi tak dipedulikan.
Kakak beradik ini sampai di kamar Edgar. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Edgar.
"Sejak kapan lelaki mulai berdatangan kemari? Apa Kak Elle sudah membicarakan hal ini dengan Kak Juli? Kenapa Kak Elle tidak memberitahuku?"
Perlakuan Edgar kepada saudarinya dengan orang lain sangat berbeda. Sikapnya dingin apabila bertemu dengan orang lain. Bila menyangkut saudarinya ia akan melindunginya dengan segenap tenaga walau tanpa permintaan dari Julliane.
__ADS_1
"Setelah Kak Juli pergi mereka mulai ke sini lagi. Aku belum membicarakannya dengan Kak Juli karena tidak ingin mengganggunya, Ed. Aku tidak ingin membuatmu khawatir juga."
Edgar mendesah berat. Ia tidak habis pikir dengan kakak keduanya. Membagi beban dengan saudara bukanlah hal yang sulit.
"Kita harus mengabari Kak Juli."
"Jangan Kak Juli pasti akan langsung datang ke sini."
Ellaine tidak ingin kesenangan kakaknya berakhir karena dirinya. Ia akan menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Tentu saja. Para lelaki itu tidak ada yang pantas dengan keluarga kita. Kenapa Kak Elle tidak bisa melihatnya?" Edgar sedikit meninggikan suaranya.
"Ini bukan masalah mereka pantas atau tidak Edgar." suara pria terdengar.
Edgar dan Ellaine menoleh ke suara itu. Leroy berada di pintu kamar Ellaine mendengar semua percakapan anak-anaknya.
"Mereka mempunyai sifat yang buruk, Ayah." Edgar menatap Ayahnya yang menutup pintu.
"Memang tetapi yang terpenting mereka dapat berguna bagi kita. Kamu harus mengetahui bahwa kesejahteraan Kerajaan didahulukan terlebih dahulu sebelum perasaan pribadi," ucap Leroy sambil melangkah mendekati anak-anaknya.
Leroy menjelaskan kondisi kerajaan Yuvinere yang kritis. Edgar tercengang mendengar hal ini.
"Aku harap kamu mengerti. Suatu hari mungkin kamu akan dihadapkan pada pilihan yang seperti ini saat menjadi Raja, Edgar." Leroy menepuk bahu putranya.
Edgar tidak mampu mengangguk. Baginya mengorbankan perasaan adalah hal yang salah, terlebih yang dikorbankan perasaan saudarinya sendiri. Ia mulai mengerti alasan Ellaine diam saja disebabkan oleh Ayahnya.
Edgar berpura-pura menuruti Leroy. Sebelum meninggalkan kamar Ellaine, tidak lupa ia menyerahkan surat dari Julliane.
Di malam hari tanpa ada seorang pun yang tahun, Edgar menuju kandang kuda. Ia menaiki kuda kesayangannya melaju menemui Julliane.
***
Jantung Julliane mencelus setiap Ian membuka mulutnya. Ia telah mempersiapkan diri mendengar pernyataan cinta Ian, tetapi yang didengarnya hanyalah obrolan lain. Beberapa hari ini mereka menghabiskan waktu bersama, momen yang dibangun sudah pas tetapi Ian tak kunjung menyatakan cintanya.
__ADS_1
Julliane disambut dengan baik di perbatasan. Ian telah menunggunya meminta Julliane beristirahat terlebih dahulu. Pernyataan cinta hari pertama gagal. Julliane tidak mempermasalahkannya karena momennya tidak pas.
Tetapi, ia tidak dapat mentolerir hari kedua dan seterusnya. Mereka sudah berada di restoran yang indah, tempat wisata yang indah, suasana yang bagus, Ian malah membicarakan hal tidak penting.
Ian berniat mengenalkan Julliane pada kedua orang tuanya. Namun, ia masih takut akan tanggapan orang tuanya kepada Julliane. Ia tidak bisa mengucapkan yang dikehendakinya dengan baik.
Ian meletakkan pisau dan garpunya. "Juli besok apakah kamu mau- ehm." Ia menggaruk-garuk pipi.
"Katakan saja, Ian." Julliane ikut meletakkan peralatan makannya. Lagi pula restoran ini sangat sepi, Ian pasti sudah menyewa tempat ini.
Ian memantapkan hati untuk mengatakannya. "Apakah kamu mau ke istana untuk bertemu Ayah dan Ibuku?"
Alasan yang dibuat-buat Julliane pada Ayah dan Ibunya menjadi kenyataan.
Tidak ada salahnya menemui mereka. Kebohonganku tidak akan menjadi kebohongan lagi.
"Baiklah, Ian."
Ian tersenyum cerah. Senyumnya memudar melihat Edgar tergesa-gesa menghampiri Julliane. Firasat buruk menghampiri Ian.
"Kak Juli. Kak Juli harus kembali. Para lelaki mulai mendekati Kak Elle lagi," ucap Edgar dengan terburu-buru.
Julliane segera berdiri hendak kembali ke Kerajaan Yuvinere. Ian mencengkeram tangan Julliane. "Kamu mau ke mana Juli?"
"Tentu saja ke Yuvinere, Ian."
"Bukannya kamu berjanji menemui orang tuaku?"
Memang benar tetapi masalah Ellaine lebih penting bagi Julliane. Ia tidak ingin Ellaine menderita karena harus hidup bersama salah satu kandidat tokoh utama. Bertemu dengan Raja dan Ratu Kerajaan Constain, bisa diundur.
"Maaf, aku harus membatalkannya. Aku berjanji setelah masalah Ellaine selesai, aku akan segera ke sini untuk menemui kedua orang tuamu."
Ian terdiam mendengar ucapan Julliane. Ia perlahan melepas cengkeramannya. Julliane menganggap ini sebagai persetujuan. Julliane melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Kalau kamu kembali ke Kerajaanmu, maka kata-kata yang ingin kusampaikan padamu tidak akan terucap dari mulutku selamanya, Julliane."