
"Menurutmu apa itu cinta sejati, Letta?" tanya Julliane.
Julliane telah melewati masa-masa menyakitkan tadi. Akibat keringat dan tangan yang terus menekan wajahnya dari tadi, riasannya mulai luntur. Tatonya mulai menampakkan diri samar-samar. Ia belum beranjak dari kasurnya karena merasa lelah. Letta sudah mengunci kamar Julliane berjaga-jaga bila ada yang masuk.
Letta duduk di samping kepala Julliane. Mencari jawaban dengan menerawang tetapi tidak ketemu. "Aku tidak tahu."
"Apakah sepasang kekasih yang saling mencintai disebut cinta sejati? Ataukah orang yang mencintai orang lain apa adanya disebut cinta sejati? Meskipun orang yang menerima cintanya tidak merasakan hal yang sama? Atau orang yang mengorbankan segala sesuatu yang ia miliki demi kekasihnya yang disebut cinta sejati? Bagaimana dengan orang yang rela melepas orang yang dicintai bahagia bersama lain, apakah itu disebut cinta sejati?" pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Julliane.
Mencari cinta sejati yang sangat banyak artinya membuatnya bingung. Tetapi ia yakin lelaki yang mendekatinya bukanlah cinta sejatinya. Dari sekian banyak lelaki, Julliane berpikir bahwa Ian adalah kandidat hampir mendekati sempurna menjadi cinta sejati. Mereka berteman. Ia merasa nyaman berada di dekat Ian. Mereka terikat masa lalu dan bertemu lagi seperti jodoh. Tidak, itu tidak sepenuhnya benar, di novel Ian tidak pernah bertemu Julliane sekali pun sampai akhir.
Memang benar, ada orang yang hanya singgah saja dan tidak menetap, contohnya Ian.
"Kalau bagiku cinta sejati itu tidak lekang oleh waktu. Sepasang kekasih saling mencintai sampai mati apa pun keadaannya," ujar Letta.
Julliane menyadari bahwa Letta membicarakan Raja dan Ratu pertama. Raut muka sedih bercampur marah terlihat di wajahnya. Raja Roh pasti menceritakan kisah mereka berulang-ulang pada Letta, hingga Letta pun merasakan kebencian dan kekecewaan yang dirasakan Raja Roh.
"Apa aku boleh tahu alasan Raja Roh mengutuk keturunan Raja dan selir bukannya mereka saja?" tanya Julliane penasaran.
"Raja Roh hanya ingin tahu apa yang akan Raja dan selir lakukan bila melihat anak mereka yang terkena kutukan. Apakah mereka bisa mencintai anaknya sendiri walau pun mempunyai kutukan?"
Julliane bisa menebak jawabannya. Mengucilkan anak yang terkena kutukan sudah seperti menjadi tradisi. Ini pasti karena Raja pertama tidak peduli pada anaknya.
Letta menarik napas untuk melanjutkan.
"Manusia benar-benar mengerikan bahkan pada darah dagingnya sendiri. Mereka membenci anak terkutuk itu. Perbedaan kasih sayang anak terkutuk dan anak yang lain sangat berbeda, seperti Juli. Mereka membiarkannya berjuang sendiri untuk melepas kutukan, meski sudah diberitahu caranya. Cara melepas kutukan sebenarnya sudah dikatakan saat mengutuk Raja dan selir, tetapi mereka melupakannya karena ketakutan. Nasib anak terkutuk berikutnya tidak jauh berbeda, bahkan lebih parah. Ada yang dibuang ke desa dan yang paling mengerikan dibunuh."
__ADS_1
Julliane tercengang pada apa yang didengarnya. Meski orang tua Julliane termasuk orang tua yang buruk ada yang lebih buruk dari mereka.
"Apakah Raja Roh pernah menyesali tindakannya?"
"Terkadang. Raja Roh merasa kasihan pada anak-anak terkutuk. Mereka menanggung dosa yang bukan hasil tindakan mereka sendiri."
Melihat perbuatannya membuat orang tak bersalah menderita membuat Raja Roh merasa bersalah.
"Aku tidak akan menyalahkan Raja Roh. Jika temanku dikhianati seperti itu aku pun akan marah."
Letta membeku karena ucapan Julliane. Julliane bangkit menuju meja rias. Ia membersihkan mukanya. Ia memperhatikan tatonya semakin melebar. Tidak punya waktu menyesali kebenciannya tadi, ia meraih peralatan kecantikan merias diri. Setelah ini, ia akan menemui Ellaine dan Edgar. Mereka pasti khawatir.
Letta memperhatikannya dari tadi. "Terima kasih, Olivia," ucap Letta lirih, hanya dirinya sendiri yang mendengarnya. Ia tersenyum lalu menghilang.
Setelah selesai merias, Julliane menoleh ke belakang. Teman rohnya sudah kembali ke alamnya. Suara ketukan pintu terdengar. Julliane membukanya, mendapati Ellaine dan Edgar berdiri penuh kekhawatiran.
Kedua adiknya bernapas lega. Mereka memeluknya tanpa tahu apa yang disembunyikan sang kakak.
"Terima kasih telah menyelamatkanku tadi, Kak Juli," ujar Ellaine sambil menyeka air matanya. Ketakutan dan rasa bersalah terus memenuhi hatinya dari tadi. Apabila terjadi sesuatu yang parah pada kakaknya ia tidak bisa memaafkan diri sendiri.
"Tidak perlu berterima kasih, Elle. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan seorang kakak." Julliane menepuk-nepuk punggung Ellaine untuk menenangkannya.
Kebersamaan mereka terganggu oleh kedatangan Leroy. Sorot mata Leroy menjukkan kemarahan.
"Ellaine, Edgar pergilah. Ada yang harus kubicarakan dengan Julliane," kata Leroy dingin.
__ADS_1
"Biarkan Kak Juli beristirahat sebentar, Ayah. Dia terlalu kelelahan tadi," saran Edgar.
"Apa kalian tidak mendengarku?!" teriak Leroy.
Ketiga bersaudara itu terkesiap. Mereka tidak tahu penyebab Leroy semarah itu. Ellaine dan Edgar saling berpandangan lalu berpamitan.
Julliane mempersilakan ayahnya masuk. Mereka duduk saling berhadapan. Tanpa basa-basi Leroy menumpahkan kekesalannya.
"Apa kamu tahu dampak tindakanmu Julliane?" tanya Leroy dengan nada sedikit tinggi.
Mengusir Pangeran, Duke dan bangsawan tanpa alasan jelas dapat menyebabkan reputasi Julliane memburuk. Namun, ia tidak menyesal karena perbuatannya sudah benar.
"Aku tahu Ayah, tetapi mereka tidak pantas untuk Elliane," balas Julliane tanpa rasa takut.
"Ini bukan masalah pantas atau tidak Julliane. Ini tentang Kerajaan kita."
Leroy menceritakan masalah Kerajaan Yuvinere pada putrinya. Julliane tidak pernah menduga Kerajaannya menutupi masalah keuangan dengan kemewahan. Berpura-pura kuat tetapi sangat rapuh.
Novel Bunga Istana tidak pernah menceritakan masalah Kerajaan Yuvinere. Jangan-jangan alasan Ellaine menerima Beckett di novel karena ini, ia tidak pernah mencintai Pangeran itu.
"Satu-satunya cara mengatasi masalah ini dengan pernikahan politik." Leroy menatap Julliane penuh dengan ancaman.
Julliane tahu apa yang dimaksud ayahnya. "Aku tidak mau menikah, Ayah."
"Kalau begitu Ellaine-lah yang akan menggantikanmu menikah, Julliane," ancam Leroy.
__ADS_1
Julliane mengepalkan tangannya dengan erat sambil memejamkan matanya. Melawan Ian dan Leroy adalah kedua hal yang berbeda. Dengan percaya diri Julliane menentang Ian yang mengatur-ngaturnya. Ia sungguh ingin membangkan pada Leroy tetapi sekarang Jullaine adalah anaknya. Ia tidak punya pilihan lain selain setuju, tetapi bagaimana dengan kutukan dan cinta sejatinya?
Haruskah aku mengorbankan Ellaine?