
Leroy menjauhi Julliane tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya terhenti karena mendengar ucapan Julliane.
"Jadi, Ayah akan mengucilkanku lagi?" tanya Julliane sinis.
"Ini semua demi kerajaan, Julliane," balas Leroy tak mau menatap wajah putrinya.
"Tato ini tidak menular, Ayah. Saat aku menyentuh orang lain buktinya tidak ada yang terkena kutukan."
"Tetapi kesialan tetap menimpa keluarga kita. Penculikan Ellaine, penyerangan monster, dan kepergian Ellaine, pasti karena kutukanmu itu."
"Itu tidak ada hubungannya! Ayah hanya butuh kambing hitam untuk merasa lebih baik!" Julliane mulai meninggikan suaranya.
Leroy tak mengindahkan putrinya melanjutkan langkahnya seraya membawa Edgar ke kamar. Sekarang putrinya bagaikan orang asing. Bahkan, kemarin begitu menyaksikan tato kutukan Julliane yang bertambah parah, Leroy memerintahkan bawahannya memindahkan Julliane ke istana selir. Edgar menawarkan diri menggendong kakak pertamanya tetapi dilarang oleh Leroy yang takut putranya akan tertimpa kemalangan.
Kemarahan Letta memuncak. Raja Yuvinere dari generasi ke generasi sama sekali tidak berubah. Ia bersiap memporak-porandakan istana utama tetapi teralihkan oleh Julliane yang memegangi kepala.
"Julliane, kamu tidak apa-apa?"
Julliane menggeleng, kepalanya berdenyut-denyut. Suaranya tak mampu keluar karena menahan rasa sakit.
Air membopong tubuh Julliane ke kamar. Letta segera membaringkan Julliane di kasur. Lantas ia menuliskan surat untuk Ian. Bila bisa, ia ingin mengantarkan surat itu sendiri tetapi karena keterbatasan roh yang tidak bisa jauh-jauh dari pemanggilnya, Letta memanggil merpati pembawa pesan dan mengikatkan surat di kaki burung itu. Merpati itu terbang, sayapnya dikepakkan dengan cepat tanpa kelelahan sedikit pun sebab telah diberi sihir penguat.
Letta menggenggam jari Julliane seraya terus memberikan semangat walau hatinya sangat ketakutan bila keadaan terburuk akan terjadi.
"Bertahanlah, Olivia."
***
Bayangan-bayangan buruk terus memenuhi Ian selama perjalanan menuju Kerajaan Constain, pertunangan Julliane tetap berlanjut, Beckett yang memaksa Julliane dan masih banyak lagi. Namun, ia yakin bahwa orang yang dicintainya sangat kuat, Julliane dapat mengatasinya sendiri. Hanya saja hatinya tidak bisa tenang.
Ia sampai di istana bersama Ayah dan Ibunya disambut oleh Mikael yang gusar. Perkiraan Ian, Mikael takut akan dihukum karena gagal menjalankan perintah. Tetapi Ian tidak sejahat itu menghukum bawahannya, Mikael sudah berjasa membantunya untuk mendekati Julliane. Ditambah sebenarnya ia yakin cepat atau lambat ayah dan ibunya akan menyadari bahwa putra yang dilihat mereka adalah orang lain.
"Yang Mulia, cepat baca ini." Mikael menyodorkan kertas pada Ian.
Ian membaca kertas itu sambil bertanya-tanya kenapa Mikael sampai setakut itu. Mata Ian melebar menatap surat itu lalu berpaling ke arah Mikael.
"Apa itu benar?!" teriak Ian.
"Benar, saya juga mendengar dari anggota pasukan khusus di kerajaan Yuvinere bahwa kutukan Putri Julliane belum hilang."
Ian memegangi kepalanya tak percaya dengan apa yang terjadi. Noda hitam yang dilihatnya adalah kutukan, Julliane yang sering merasa pusing dan hampir limbung penyebabnya adalah kutukan. Ia berada di dekat Julliane beberapa hari yang lalu, tetapi tidak menyadari tanda-tanda sejelas itu.
Aku bodoh sekali.
__ADS_1
Ian menuju kandang kuda tetapi ditarik ibunya. "Mau ke mana Ian?"
"Sudah jelas menemui Julliane, Ibu," balas Ian resah.
"Kita baru saja kembali ke sini, dan kamu malah ke sana lagi. Memangnya sepenting apa Ian?" tanya Raja sedikit kesal.
"Ini menyangkut nyawa Julliane, Ayah. Kumohon izinkan aku ke sana." Ian menatap nanar kedua orang tuanya hampir menangis.
Raja mengepalkan tangannya dengan erat. Baru pertama kali, ia melihat Ian memohon kepadanya. Ia memejamkan mata dengan erat merelakan putranya pergi.
Ratu menggantikan suaminya yang tidak bisa berkata-kata. Nyawa orang lain lebih penting dibandingkan keegoisan mereka meski masih tersisa rasa benci pada orang itu. Ia memeluk putranya, mengelus-elus kepala Ian dengan lembut. "Pergilah, Ian selamatkanlah cintamu."
Ian melepas pelukan ibunya sembari mengangguk pelan. "Terima kasih, Ayah, Ibu."
Ian memacu kudanya dengan cepat, berharap dirinya belum terlambat.
***
Letta membawa makanan Julliane dari perbatasan antara istana selir dan istana utama. Memang sudah ditutupi oleh batu bata tetapi terdapat lubang di bawahnya meski tidak bisa dilewati orang. Lubang itu untuk memberi makanan dan persediaan Julliane.
Julliane bangkit, sambil mengernyit kesakitan. Makanan sudah tersaji di depannya tetapi tidak disentuh sama sekali.
"Makanlah, Julliane," pinta Letta lirih.
"Jangan menyerah, Ian pasti datang. Kutukanmu akan segera terlepas," kata Letta memberi semangat.
"Sebenarnya kenapa kutukan ini terus terasa sakit padahal aku tidak membenci siapa pun?"
Wajah Letta mengeras. Ia tertunduk pelan. Dengan ragu-ragu ia membuka mulut.
"Pemicunya bukan rasa benci. Anak yang terkena kutukan akan mati dalam usia muda Julliane. Bila sudah dekat ajal, tato mereka akan terasa sakit, tandanya adalah mimpi awal mula kutukan. Maaf aku tidak mengatakannya lebih awal."
Selama ini, ia berbohong pada Julliane yang asli karena tak ingin putri terkutuk itu berlarut dalam kesedihan. Penderitaannya sudah banyak, bila ditambah mengetahui umurnya tidak panjang, Letta takut mental Julliane tidak akan kuat.
"Sekali pun mengatakannya mungkin hubunganku dengan Ian akan sama saja. Sudahlah." Julliane berbaring. Matanya terasa berat.
"Membaca novel membuatku berangan-angan memiliki lelaki yang selalu mengerti, perhatian, dan memanjakan diriku. Tetapi, aku tidak bisa menunjukkan perasaanku dengan benar, sehingga banyak lelaki yang tidak tertarik. Aku terus menunda-nunda mencari pasangan hingga teman-temanku sudah menikah semua. Mungkin, itu terbawa hingga ke dunia ini, aku menolak banyak lelaki karena bagiku mereka sangat aneh," jelas Julliane tentang kehidupannya sebagai Olivia.
Mata Letta sembab mendengarkan cerita Julliane. Ia terdiam, mengenang masa-masanya bersama temannya itu.
Julliane menunjuk laci mejanya. "Jika Ian datang sampaikan suratku padanya."
Letta mengangguk-angguk, pipinya basah oleh air mata.
__ADS_1
"Terima kasih, Letta. Kamu adalah teman pertamaku di dunia ini. Ingatlah aku, tidak, lupakan aku kalau perlu. Jangan bersedih karena aku..." suara Julliane semakin lirih hingga tidak terdengar.
Rasa sakitnya berubah menjadi ketenangan. Pandangan Julline mulai kabur. Matanya tertutup rapat. Tidak mendengar teriakan Letta yang terus memanggil namanya.
***
Novel Bunga Istana Part Ending
Keluarga Kerajaan Lortamort berkunjung ke Kerajaan Yuvinere untuk membicarakan pernikahan Ellaine dan Beckett. Mereka berbincang-bincang di meja makan mengenai dekorasi, jamuan dan tamu di pesta pernikahan Ellaine dan Beckett.
Ada satu orang tidak terlihat, Julliane. Raja melarang putri pertamanya ini mengacau di sini.
Tak disangka-sangka Putri Terkutuk itu datang. Julliane menggenggam erat sebuah pisau. Matanya tertuju pada Ellaine. Wajah cantik yang tidak bisa didapatkannya. Kasih sayang yang direbut oleh wajah itu. Penderitaan yang harus ia alami, membuat Julliane murka.
Ia berlari mengayunkan pisau itu di wajah Ellaine. Namun, bukan wajah Ellaine yang terluka melainkan tangan Beckett. Pangeran Lortamort itu mendorong Julliane hingga tersungkur.
"Apa kau sudah gila Putri Julliane?!" teriak Beckett.
Ellaine menggeleng-gelengkan kepala tak percaya kakaknya hendak melukainya. Leroy tak mampu menahan rasa malu di depan keluarga Kerajaan Lortamort segera mengusir Julliane.
"Keluar dari istana dan jangan kembali lagi!"
Tawa kegilaan memenuhi ruangan. Julliane tersenyum penuh kepedihan, wajahnya berderai air mata. Tak ada yang melihatnya karena tertutup oleh topeng.
"Memangnya apa bedanya aku dengan Ellaine?! Aku juga anakmu!"
"Kamu adalah anak yang tidak diinginkan! Pergilah! Pengawal cepet seret anak ini!"
Julliane menatap tajam seluruh orang yang ada di ruang makan. Pandangan jijik, kecewa, takut bercampur menjadi satu menusuk hatinya.
Ia diseret hingga keluar gerbang istana. Mulutnya terus berteriak-teriak mengumpati Ellaine dan keluarganya. Ia membenci mereka. Tidak yang peduli kepadanya.
Kepalanya terasa sakit hingga mau pecah. Ia mengerang kesakitan tanpa ada satu pun yang menolong. Hembusan napas terakhir keluar dari hidung Julliane. Putri Terkutuk itu telah mati.
Pernikahan Ellaine dan Beckett tetap berlangsung melupakan kematian Putri Terkutuk. Ellaine bahagia menikah dengan orang yang mencintainya meski banyak cobaan dari kakaknya.
***
???
Julliane mengerjapkan matanya. Seingatnya tadi ia berteriak-teriak di luar gerbang istana. Sekaranh tubuhnya seolah-olah melayang di ruang hitam dihiasi banyak bintang. Bukan cuma ia saja yang ada di sana tetapi wanita berambut biru panjang seperti di mimpinya.
Wanita itu menatap sendu Julliane.
__ADS_1
"Apa kamu mau mengubah takdirmu?"