Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 26 Orang Terkasih


__ADS_3

Kenapa tidak menyerah juga.


Julliane segera menghampiri Beckett yang celingukan di istana.


"Ada keperluan apa Anda ke sini, Pangeran? Bukannya sudah jelas bahwa saya menolak Anda," ucap Julliane ketus.


Beckett tersenyum miring. "Maaf bukan Anda yang ingin saya temui, Putri Julliane."


Kalau begitu siapa?


Beckett mengalihkan pandangan pada seseorang yang berada di belakang Julliane. Julliane pun mengikuti arah pandang dari Beckett. Di sana berdiri Ellaine yang menyapa Beckett.


"Maaf membuat Anda menunggu, Pangeran Beckett."


Julliane bertanya-tanya alasan adiknya mau menemui Pangeran satu ini. Sifat asli Beckett sangat buruk, tetapi kenapa adiknya masih tertarik kepada Beckett?


"Bukan masalah. Saya tidak menunggu lama, Putri Ellaine." Beckett melirik pada Julliane tersenyum penuh kemenangan.


Beckett menyodorkan lengannya pada Ellaine. Ellaine merangkulnya meninggalkan kakaknya yang masih mematung.


Orang ini setelah kutolak malah mendekati adikku. Ini tidak bisa kubiarkan.


***


Beberapa hari sebelumnya


Ellaine pergi ke ibu kota bersama kakaknya. Kakaknya sering melamun di toko perhiasan. Sebenarnya ia tahu alasannya. Ada hubungannya dengan Ian Constain. Kakaknya seperti itu semenjak kepergian Pangeran Constain. Meskipun begitu, di depannya dan Edgar, Jullaine masih sering tersenyum menyembunyikan perasaannya.


"Kak Juli sedikit aneh," ucap Ellaine yang sudah berada di kamar pada pengawalnya.


"Benarkah? Menurut saya Putri Julliane baik-baik saja," balas Carlos yang menemani Ellaine minum teh.


Ellaine mendengus kesal karena Carlos tidak memedulikan kakaknya. "Percuma aku membicarakan ini denganmu Carlos. Yang ada dipikiranmu sekarang hanya latihan."

__ADS_1


Carlos tertegun karena ucapan majikannya. Terkadang ia tidak punya waktu untuk memperhatikan yang disukai oleh majikannya.


"Maafkan saya, Tuan Putri." Carlos tertunduk.


Ellaine merasa bersalah melihat Carlos yang sedih. Ia ikut merasakan kesedihan Carlos. Orang yang dicintainya.


Sudah lama Ellaine menyukai Carlos. Carlos pun sama. Ini terjadi saat Carlos menangkap orang yang mencuri gelang Ellaine sewaktu kecil.


***


Ellaine menghabiskan waktu di ibu kota ditemani oleh pengawal-pengawalnya. Adiknya ingin mencoba kue stoberi di restoran baru. Adiknya selalu membandingkan rasa kue stoberi di setiap restoran untuk mencari yang terbaik.


Ketika hendak pulang ada pencuri yang menabrak Ellaine mengambil gelangnya. Gelang itu sama sekali tidak berharga. Ellaine hendak merelakannya saja, tetapi ada seorang anak lelaki yang mengejar pencuri itu. Padahal perbedaan tubuh mereka cukup jauh. Bisa saja anak lelaki itu terluka. Namun, anak lelaki itu berhasil menangkap pencuri itu dan mengembalikan gelang Ellaine. Ellaine yang tersanjung pada perbuatan anak lelaki itu, memberikan imbalan kepadanya.


Anak lelaki itu menolak. Ia merasa tidak pantas mendapat hadiah. Ia hanya membantu orang lain. Terlebih sekarang dirinya bau, ia tidak ingin bangsawan yang ada di depannya merasa risih.


"Kamu berani menolak pemberian dari Tuan Putri?" tanya salah satu pengawal yang kesal pada kelancangan anak lelaki itu.


Ellaime segera menghampirinya, menyuruh anak lelaki itu bangkit berdiri. "Sudahlah tidak apa-apa. Siapa namamu?"


Anak lelaki itu meski sudah berdiri masih menundukkan kepala. "Saya Carlos, Tuan Putri."


"Kekuatanmu melebihi anak laki-laki pada umumnya. Apakah kamu mau menjadi kesatria?" tawar Ellaine.


Carlos segera mendongak kepada Ellaine. Sebelum Carlos menjawab, pengawal yang tadi menyela. "Tuan Putri jangan memberi harapan pada anak ini. Pasti tadi hanyalah kebetulan saja. Dia akan bermalas-malasan jadi kesatria."


"Kita masih belum tahu, Sir. Aku ingin memberi kesempatan pada anak ini. Bagaimana Carlos?" Ellaine menatap pengawal dan Carlos secara bergantian.


"Saya mau, Tuan Putri. Saya pasti akan menjadi orang kuat untuk melindungi Anda dan seluruh kerajaan," ucap Carlos bersemangat.


Ellaine terenyuh mendengar seseorang ingin melindunginya. Ia terkekeh karena Carlos terlalu melebih-lebihkan perkataannya. Selama ini pengawal-pengawalnya menjaganya penuh kesombongan. Hanya karena mengawal Putri Kerajaan, mereka merasa menjadi orang kuat dan disegani. Tidak ada niat untuk melindunginya dengan sungguh-sungguh. Ia berharap suatu hari nanti Carlos akan menjadi pengawal pribadinya.


Carlos terus berterima kasih pada Ellaine karena telah membawanya dari tempat ini. Kehidupan mengemis di jalanan tidak perlu ia lakukan lagi. Tempat kumuh yang ditinggalinya tidak perlu ia datangi lagi. Ia berjanji akan membalas seluruh perbuatan Ellaine dengan mengabdi padanya. Bahkan nyawanya sekali pun ia rela korbankan.

__ADS_1


***


Ellaine tersadar dari lamunannya karena ketukan pintu. Ternyata ayahnya yang datang. Carlos segera berdiri sambil menunduk, mempersilakan Raja duduk.


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Ellaine," ujar Raja dengan tegas.


Ellaine menyadari maksud ayahnya, meminta Carlos meninggalkan mereka berdua sendirian. Setelah pengawal Ellaine keluar, Raja menatap sambil menggengam erat tangan anaknya.


"Ini adalah masa-masa sulit bagi Kerajaan, Ellaine. Aku ingin kamu segera menikah dengan seorang bangsawan. Awalnya aku berharap pada Julliane. Namun, karena dia jarang berbaur dengan orang lain, Julliane menolak orang-orang yang menguntungkan bagi kita. Hanya kamu yang bisa kuandalkan Ellaine."


Inilah alasan Ellaine terus mengubur perasaannya pada Carlos. Mereka tidak akan pernah bersatu. Perbedaan status di antara mereka terlalu besar. Ayahnya tidak akan mengizinkan Ellaine menikahi Carlos yang berasal dari rakyat biasa.


Ellaine mengangguk pelan. "Baik, Ayah."


Leroy berterima kasih pada putrinya. Ia pergi melanjutkan pekerjaannya. Alasan Leroy tidak menelusur lebih lanjut tentang penculikan Ellaine karena akan membebani keuangan kerajaan. Terlebih orang yang menculik putrinya sudah tertangkap dan mendapat balasan yang setimpal. Mencari dalang yang pintar bersembunyi hanya membuang waktu dan uang.


Di dalam kamar, sebulir air mata menetes dari mata Ellaine. Meski ia tidak akan bahagia, setidaknya keluarganya akan berbahagia.


"Ada apa Tuan Putri?" Carlos yang baru saja masuk terkejut dengan kesedihan tuannya. Ia segera menghampirinya hendak menghapus air mata Ellaine


Ellaine membelakangi Carlos, menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Mataku hanya kelilipan, Carlos."


Carlos tahu bahwa tuannya berbohong. Tidak mungkin ada debu di kamar seorang putri, tetapi ia tidak berniat bertanya lebih lanjut. Sekali Ellaine menutupi sesuatu, ia tidak akan membuka mulutnya bahkan pada Carlos sekali pun.


***


Ellaine terus mengangguk selama Beckett berbicara. Tak ada yang masuk ke telinganya. Namun, begitu Beckett minta disuapi, Ellaine tertegun. Ia melirik ke arah Carlos yang terus memandang ke depan.


'Baginya, aku hanyalah seorang putri yang perlu dilindungi, tidak lebih,' batin Ellaine.


Tangan Ellaine meraih camilan. Ia segera mendekatkan tangannya ke mulut Beckett. Tangannya berhenti melihat adiknya berlarian ke arahnya.


"Kak Elle cepat, Kak Juli terluka," ucap Edgar tergesa-gesa.

__ADS_1


__ADS_2