
Langkah Julliane terhenti. Ia berbalik ke arah Ian yang menatapnya penuh kemarahan dan kepedihan secara bersamaan. Tangan Julliane terkepal dan kepalanya menggeleng pelan.
"Kamu mengancamku, Ian?" tanya Julliane seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Aku hanya ingin kamu menepati janjimu," kata Ian dengan nada berat.
"Baiklah aku salah karena mengingkari janjiku, tetapi bukan berarti kamu bersikap seperti ini Ian."
"Bersikap seperti apa?"
"Seolah-olah kamu bisa mengaturku melakukan hal ini dan itu semaumu. Aku punya masalahku tersendiri yang lebih mendesak," protes Julliane
'Seorang teman seharusnya saling membantu bukan mengekang satu sama lain,' ringis Julliane dalam hati.
"Bagiku ini juga mendesak Julliane."
"Kalau begitu kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal kedatanganku ke kerajaan ini? Kenapa menunggu hingga sekarang? Dan kenapa kamu tidak mengatakan kata ingin kamu ucapkan saat itu juga?" Suara Julliane mulai meninggi.
Ian sangat-sangat ingin mengucapkan kata-kata itu, tetapi ia takut bila Julliane menolak. Ia belum siap. Beberapa hari ini dia terus menghabiskan waktu bersama Julliane untuk menyakinkan diri bahwa perasaan mereka sama.
"Soal pertemuan dengan ayah dan ibuku aku memang mengulurnya. Tetapi tentang kata-kata yang ingin kuucapkan aku butuh waktu yang tepat."
"Baiklah aku akan memaklumi hal terakhir. Namun, untuk hal pertama kamu sendiri yang mengulurnya. Aku juga berhak mengulurnya."
Ian terdiam memikirkan cara agar Julliane tetap berada di Kerajaannya. Ia hanya ingin Julliane berlama-lama di sampingnya. Waktu yang mereka ia habiskan di sini terasa belum cukup. Ia bisa berkunjung ke Kerajaan Yuvinere selama sebulan seharusnya Julliane harus membalasnya dengan berada di Kerajaan Constain selama sebulan pula.
Julliane melangkah kembali ke pintu.
"Aku tidak akan menemuimu lagi, Julliane. Jika kamu beranjak dari tempat ini," ancam Ian.
Julliane meringis kemudian tertawa keras. Bukan tawa karena lucu, tetapi tidak percaya penilaiannya terhadap Ian salah. Julliane mendekati Ian menatap tajam mata merah itu. Kalung yang semula terlingkar di lehernya kini diberikannya kepada Ian.
__ADS_1
"Kalau begitu tidak usah temui aku lagi. Aku akan mengembalikan ini. Anggap saja kita tidak pernah berteman. Dan satu lagi kurasa Kerajaan Yuvinere dan Kerajaan Constain benar-benar tidak bisa akrab," ucap Julliane dengan sinis.
Ian menatap kalung pemberiannya yang berada di genggamannya sambil menatap Julliane.
"Kamulah yang pertama kali mengganggap kita berteman Julliane. Tak pernah sekali pun aku menganggapmu sebagai teman."
Di matanya Julliane lebih dari teman. Julliane adalah penyelamatnya. Meskipun kata-katanya bisa disalah artikan, Ian tidak membenarkannya. Ia sudah terlalu kesal pada Julliane.
Wajah Julliane mengeras. Ia menghela napas panjang untuk menenangkan diri lantas menatap Ian lekat-lekat. "Begitu ya, aku benar-benar telah salah menilaimu Ian Constain. Kuharap kita tidak pernah bertemu lagi."
Julliane membalikkan tubuhnya, berusaha tetap tegar meski sebenarnya perasaannya campur aduk. Ini pertama kalinya sakit luar biasa menyerang hati Julliane. Kakinya terhenti di depan pintu. Jika melangkah keluar pertemanannya dengan Ian benar-benar berakhir. Tidak pantas disebut pertemanan apabila kedua belah pihak tidak merasakan hal yang sama. Ia memantapkan hati untuk keluar.
"Jika seandainya tadi kamu memintaku untuk menemui orang tuamu sebelum kembali ke kerajaanku, mungkin aku akan menyempatkannya. Tetapi semuanya sudah terlambat."
Ian melihat punggung Julliane menghilang disusul oleh Edgar. Ian menggertakkan gigi mengerang kesal. Kedua tangannya terangkat lalu tersentak ke bawah. Ia mengepalkannya dengan kuat. Kalung Julliane terayun-ayun di tangan Ian. Ketika hendak membuangnya ia menggenggamnya kembali.
"Mikael," panggil Ian.
"Berhentilah mengawasi Julliane lagi."
"Baik, Yang Mulia."
Penyesalan terus menerpa Ian karena tidak bisa menahan amarah. Ia tidak bisa mengambil kembali semua kata-katanya yang telah terucap. Benar kata Julliane semuanya sudah terlambat. Ia tidak bisa mendapatkan hati Julliane lagi.
Mikael keluar dari restoran itu. Ia menoleh ke arah istana dan ke jalan yang dilalui Julliane tadi. Hembusan napas panjang terdengar keras. Mikael melanggar perintah tuannya.
***
Kaki Julliane terus berderap di istana ia mencari Ellaine. Edgar mengikuti kakaknya dari belakang. Entah datang dari mana tenaga kakaknya.
Mereka berkuda terus menerus dan beristarahat hanya sebentar. Mereka menggunakan kuda karena lebih cepat dibandingkan kereta kuda Julliane. Tentunya Julliane sudah memberitahu kusir kereta kuda itu untuk kembali ke istana.
__ADS_1
Julliane mempercepat langkahnya begitu melihat Ellaine dihampiri tiga lelaki. Sudah bisa ditebak siapa ketiga lelaki itu.
Julliane berdiri di antara adiknya dan ketiga kandidat tokoh utama. Ia menatap ketiganya dengan geram.
"Kuperingatkan pada kalian jangan dekati adikku lagi." Julliane mengedarkan pandangannya pada mereka bertiga.
"Kamu tidak berhak melarang kami, Putri Julliane. Putri Ellaine pun dengan senang hati bertemu kami," balas Beckett.
Julliane menatap Ellaine sebentar lalu berpaling ke arah mereka lagi.
"Sepertinya aku kurang menakutkan ya?" Seringai Julliane tersungging di bibirnya. Letta muncul dipanggil Julliane. Matanya melihat semua orang di sana secara bergantian.
"Jika kalian tidak pergi dari sini dan berani menemui adikku lagi. Aku akan mengutuk kalian bertiga dengan bantuan rohku," ancam Julliane sambil menuding ketiga lelaki itu.
Ketiga lelaki itu tersentak. Mereka mulai ketakutan melihat Letta yang duduk di bahu Julliane. Letta mencerna situasi yang terjadi, ia bergumam seolah-olah merapalkan mantra untuk menakut-nakuti mereka. Ketakutan merayapi hati mereka, Ketiga kandidat tokoh utama lari terbirit-birit meninggalkan istana. Edgar tersenyum penuh kemenangan melihat kejadian ini. Ia mendekati kakak-kakaknya.
Letta menghela napas panjang di telinga Julliane. Ia muak melihat lelaki yang dengan mudahnya mengatakan cinta.
Julliane mengernyitkan dahinya. Kepalanya terus berdenyut-denyut. Kedua tangannya menekan kepalanya dengan kuat. Napasnya terasa sesak.
Ellaine menghampiri kakaknya penuh kekhawatiran. "Kak Juli, kenapa? Maafkan aku karena tidak jujur pada Kak Juli."
"Jangan terlalu memaksakan diri, Kak Juli," ucap Edgar sambil memegang lengan Julliane.
Julliane tidak mampu menjawab Ellaine dan Edgar karena menahan rasa sakit. Rasa sakit di kepalanya ini bukan karena kelelahan atau pun kepanasan. Bukan pula karena tubuh Julliane yang lemah. Ini karena kutukan. Dia tadi sekelebat membenci ketiga lelaki itu.
Letta menyadari alasan dibalik Julliane kesakitan membawanya ke kamar dengan sihir. "Biarkan Julliane beristirahat terlebih dahulu. Aku akan menyembuhkannya kalian tidak perlu khawatir."
Edgar dan Ellaine mengangguk. Mereka masih khawatir tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Letta yang sudah sampai di kamar Julliane merebahkan Julliane di kasur. Keringat mulai mengucur dari wajah Julliane. Julliane tahu Letta berbohong. Letta tidak mempunyai sihir penyembuh. Di dalam novel pun Letta hanya bisa menatap penuh kesedihan pada rasa sakit yang dialami temannya. Sama seperti sekarang.
__ADS_1