
Tawa ketiga gadis bangsawan ini lenyap seketika. Mereka saling berpandangan, lantas menyunggingkan senyum pada Julliane. Ketakutan mereka berusaha ditutupi. Terutama Rebecca ia menyembunyikan tangannya yang gemetar.
"Aku dengar Ellaine kurang sehat, jadi aku tidak mengundangnya, Putri Julliane," dalih Rebecca.
"Kamu bisa memastikan atau menanyakan keadaan Ellaine padaku dan jangan panggil adikku tanpa embel-embel Putri," ujar Julliane sinis.
Claire membela Rebecca. "Sebenarnya Rebecca tidak terlalu dekat dengan Putri Ellaine, Putri Julliane."
"Benar, kami tidak terlalu menyukainya. Dia terlalu baik sehingga kami tidak terlalu cocok dengannya. Tolong jangan katakan ini pada Putri Ellaine, Putri Julliane," tambah Violet.
Rebecca mengangguk. "Kami berteman dengannya karena kasihan dan statusnya sebagai putri saja. Kami lebih menyukai Putri Julliane yang lebih hebat."
Orang-orang ini berani-beraninya!
Mata Julliane berkedut. Ia menahan diri agar tidak menampar ketiga gadis ini. Mendengar adiknya dikucilkan membuat telinganya panas. Setelah ada orang yang kedudukannya lebih tinggi, mereka meninggalkan teman lama. Memang Ellaine terlalu baik hingga mau berteman dengan gadis-gadis seperti rubah ini. Berpura-pura menjadi teman tetapi di belakang membicarakannya.
Julliane berdiri sambil mengibas-ngibaskan roknya. "Begitu ya, kurasa aku tidak perlu dukungan kalian. Masalah aku akan bilang ini pada Ellaine atau tidak, itu urusanku. Kalian tidak punya hak apa pun untuk melarangku."
"Tunggu Putri Julliane, maafkan kami. Kami telah lancang," pinta Rebecca sambil memegangi tangan Julliane.
Julliane menyentakkan tangan Rebecca, sambil menatap ketiga gadis itu bergantian.
"Baguslah kalian menyadari sifat kalian sendiri. Kalian menyedihkan. Ellaine tidak pantas berteman dengan kalian."
Julliane pun pergi dari pesta itu. Ketiga gadis itu hanya menatap punggung Julliane tanpa berusaha menghentikannya. Dalam hati mereka merasa geram. Tak punya dukungan kuat lagi.
Julliane naik ke kereta kudanya. "Cepat kita kembali ke istana. Aku sudah selesai," katanya kepada kusir.
Kereta kuda pun melaju. Tangan Julliane terus memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut.
Jangan benci mereka. Jangan benci mereka. Jangan benci mereka.
Kata-kata itu terus diucapkan Julliane dalam hati untuk mengurangi rasa sakitnya. Tetapi sia-sia saja, denyutan itu malah semakin kuat. Teriakan kesakitan ia tahan dalam hati. Ia hanya bisa meringis sambil terus menekan kepalanya.
"Kamu kenapa Julliane?" tanya Letta yang muncul di udara.
__ADS_1
Julliane hanya mengeleng-gelengkan kepalanya. Letta terbang mendekati Julliane mengelus-elus dahinya, meski tahu tidak dapat meredakan rasa sakit dari temannya. Wajahnya terlihat terluka karena merasa tidak berdaya.
Denyutan itu terus berlangsung hingga mereka sampai di istana. Keringat yang membasahi wajah Julliane diseka oleh sapu tangan. Tekanan tangannya terlepas dari kepala. Helaan napas lega terdengar.
"Bagaimana rupaku?" tanya Julliane pada Letta.
"Tatomu mulai terlihat," jawab Letta singkat. Syal milik Julliane melayang ke arahnya.
Julliane meraih syal itu untuk menutupi kepalanya. Sebenarnya syal itu dibawa untuk menghangatkan diri dari angin malam, tetapi malah digunakan untuk hal lain. Bagian tato yang mulai terlihat terhalang oleh syal. Ia pun turun bergegas menuju kamarnya. Begitu sampai di kamar ia segera merebahkan diri ke kasur.
Letta yang dari tadi belum kembali ke dunianya melayang-layang di depan wajah Julliane.
"Kamu harus segera mencari cinta sejatimu, jangan main-main lagi," tegas Letta.
"Aku sedang mencarinya. Hanya saja tidak ada yang sesuai dengan seleraku."
"Turunkan kriteria dan egomu sedikit. Jika tidak, kamu akan seperti ini selamanya." Letta mulai meninggikan suaranya merasa kesal.
"Ucapanmu mirip ibuku saja."
"Sebenarnya kapan Juli meninggal di novel yang kamu baca?" tanya Letta.
"Setelah ulang tahun Ellaine, tepatnya tidak tahu. Julliane berusaha melukai Ellaine tetapi digagalkan oleh Beckett. Raja mengusirnya. Julliane membenci semua orang hingga tatonya terasa sakit luar biasa lalu meninggal," jelas Julliane.
"Sekitar satu setengah bulan lagi. Kamu harus cepat-cepat mencari cinta sejati, entah itu Beckett, Kyler, Lionel, Ian, atau siapa pun!"
"Baik-baik aku mengerti," jawab Julliane ogah-ogahan.
Julliane menutup matanya merasa lelah. Satu-satunya orang yang dipikirkannya adalah Ian, tetapi ia segera menghilangkan pemikiran itu. Ia masih belum memaafkannya.
***
Mikael bersandar di atas pohon. Ia mengamati Julliane yang bertemu dengan lelaki bangsawan. Senyum paksa terus terpampang di mulut Julliane. Mikael pun kesal karena orang yang berada di kejauhan dapat melihat ketidaktertarikan yang sejelas itu, tetapi tamu yang berhadapan langsung tidak menyadarinya.
Begitu lelaki itu menuju kereta kudanya. Seperti biasa Mikael melancarkan aksinya untuk menakut-nakuti lelaki bangsawan yang mendekati calon putri mahkota kerajaan Constain. Begitu tugasnya sudah selesai dan hendak membeli bunga untuk Julliane, langkahnya terhenti.
__ADS_1
Aura di sekitarnya terasa mencekam. Bulu kuduknya berdiri dan hawa terasa dingin. Ia pun mencari pohon tertinggi. Matanya mencari-cari firasat buruk yang dirasakannya.
Matanya melebar melihat sesuatu di balik hutan. Wajahnya menegang. Ia segera menuliskan surat. Lantas bersiul untuk memanggil burung pembawa pesan. Surat itu diikatkan pada kaki burung itu.
"Kamu harus cepat sampaikan kabar ini pada Putra Mahkota. Putri Julliane dalam bahaya."
Burung itu pun terbang dengan cepat seolah-olah mengerti keadaan genting yang terjadi. Mikael berharap Ian segera datang. Ia tidak bisa menangani ini sendirian.
***
Makan bersama keluarga kerajaan Cosntain berlangsung sunyi. Raja dan Ratu sudah lelah memberitahu Ian untuk melupakan Julliane. Mengenalkan gadis bangsawan sama sekali tidak membantu. Mereka bahkan hampir menyerah untuk memiliki cucu.
"Jadi, bagaimana kabar Julliane, Ian?" tanya Ratu.
"Dia baik-baik saja Ibu." Ian memasukkan daging ke mulutnya.
"Kalau begitu kapan dia datang ke sini lagi, Ian?" Raja menatap putranya.
Tangan Ian yang mengiris daging berhenti. Ia lantas menatap kedua orang tuanya bergantian. "Aku tahu apa yang hendak Ayah dan Ibu bicarakan. Aku tidak akan melupakan Julliane."
Raja menghela napas panjang. "Masih banyak gadis yang pantas bagimu, Ian. Dia sama sekali tidak membuka hati untukmu, kenapa kamu terus-terusan mengejarnya?"
"Aku pasti bisa membuat Julliane membuka hatinya. Berikanlah aku kesempatan sekali lagi untuk membuktikannya. Jika aku ditolak, maka aku benar-benar akan menyerah, Ayah," tegas Ian.
"Bukannya kamu sudah ditolak?" Ratu ikut menimpali.
"Julliane belum menolakku. Kami hanya bertengkar, Ibu."
Percakapan seperti ini membuatnya bosan, Ian menyudahi makannya. Ia menuju ruang kerjanya. Ketika sampai burung merpati mengetuk-ngetuk jendela ruang kerjanya.
Ian segera menghampiri burung itu dengan penuh semangat. Kabar Julliane selalu dinanti-nantikan. Ia mendapat kabar bahwa Julliane mulai mendekatkan diri dengan gadis-gadis bangsawan. Ian ikut senang karena Julliane mulai mendapat teman.
Tangannya melepas surat itu. Sambil tersenyum Ian membaca surat itu. Senyumnya memudar. Kengerian terpancar di matanya. Ia segera meraih mantel, berkemas-kemas seperlunya. Lalu berpamitan pada orang tuanya tanpa menjelaskan lebih rinci.
Ian menaiki kuda segera melaju ke kerajan Yuvinere.
__ADS_1
Semoga aku belum terlambat. Bertahanlah Juli.