
Meja Leroy dipenuhi oleh uang yang diberikan Julliane. Koin-koin emas itu dihitungnya. Ia tidak menyangka bahwa putrinya akan membawa uang sebanyak ini. Satu kotak kecil dapat memuat 100 koin emas.
Julliane pun ikut membantu memasukkan uang yang didapatnya ke dalam kotak. Ia tersenyum karena tidak ada yang perlu pengorbanan antara dirinya dan Ellaine.
Tiga kotak sudah terisi penuh. Leroy menatap putrinya yang hebat. Ia tidak menyangka bahwa putri yang dulu terkena kutukan dan terus mendekam di istana selir sekarang menjadi orang yang bisa diandalkan. Keuangan kerajaan Yuvinere akan membaik berkat putri pertamanya.
"Dari mana kamu mendapat semua uang ini, Julliane?" tanya Leroy tersenyum bangga kepada anaknya.
"Aku mendapatkan uang ini dari mengajari pelayan-pelayan gadis bangsawan dan merias bangsawan itu sendiri," jawab Julliane penuh percaya diri.
"Baguslah, lanjutkanlah."
"Kalau begitu aku dan Ellaine tidak perlu menikah, bukan Ayah?"
Wajah Leroy mengeras, mulutnya tak mampu berkata-kata. Ia sudah mengingkari janjinya dengan Julliane. Jika ia tidak terburu-buru, Ellaine tidak perlu dikorbankan.
"Benar, Julliane." Leroy mengangguk pelan sambil tersenyum paksa.
Pertunangan Ellaine dan Beckett akan dibatalkan tetapi tidak sekarang. Baru beberapa minggu mereka bertunangan bila dibatalkan, Beckett akan marah, hubungan persahabatan dengan Kerajaan Lortamort akan hancur. Lebih parahnya lagi Kerajaan Yuvinere akan diserang. Leroy akan merencanakan pembatalan pertunangan ini secara alami, tanpa sepengetahuan siapa pun.
"Terima kasih, Ayah."
Julliane berpamitan. Ia meregangkan badan sambil kegirangan.
Akhirnya, aku bisa mencari cinta sejati lagi dengan tenang.
DUAR...
Leroy keluar dari ruangannya menengok ke sana kemari, memanggil kesatria. Ia mendapati Julliane belum beranjak di depan ruangannya.
"Julliane, tetaplah di dalam. Jangan keluar sampai keadaannya aman," ujar Leroy sambil memegang kedua lengan Julliane.
"Memangnya ada apa, Ayah?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Sepertinya tembok runtuh. Aku akan melihat keadaannya. Kamu tetap di sini."
Leroy berlarian keluar. Julliane pun mengingat-ingat kejadian di dalam novel.
Jangan-jangan.
Suara sepatu bergema di lorong. Ia keluar menuju lapangan. Matanya terbelalak menyaksikan kejadian di depannya. Para monster menjatuhkan kesatria istana satu per satu. Istana diserang.
***
Novel Bunga Istana Part Serangan Monster
Setelah perburuan yang dimenangkan oleh Beckett walau dikacaukan oleh Putri Terkutuk, Ellaine terus didekati oleh banyak lelaki. Merasa kelelahan, ia hanya mau ditemui oleh Beckett dan Kyler. Ia merasa tidak enak pada Beckett, dan berutang budi pada Kyler. Momen mesra Ellaine yang ditemui dua lelaki tampan membuat pelayan-pelayan membandingkan keberuntungan putri kedua dengan putri pertama.
Putri Terkutuk yang dibicarakan keluar menebar kesialan. Ia merayu Beckett dan Kyler, tetapi keduanya merasa jijik menjauhi Julliane. Julliane pun berusaha mendekati lelaki lain yang ditolak oleh Ellaine, tetapi tindakannya sia-sia saja.
Suatu hari, saat Julliane hendak mengganggu Ellaine sekumpulan monster menyerang istana. Ia kembali ke istana selir dilindungi oleh Letta.
Beckett dan Kyler melindungi Ellaine. Mereka membantu kesatria istana untuk mengalahkan para monster. Lionel yang mendengar istana diserang ikut membantu dengan membawa kesatria keluarganya.
Leroy menyalahkan Julliane lagi atas kemalangan yang menimpa keluarga kerajaan karena keluar dari istana selir. Monster-monster itu pun takut akan kutukan sampai tidak berani menyentuh Julliane. Buktinya istana selir masih berdiri kokoh tanpa kerusakan sedikit pun, berbeda dengan istana utama yang hampir rata dengan tanah.
Julliane hanya bisa memendam kebencian pada Ayahnya dan Ellaine. Gara-gara mereka dirinya terus menderita. Ia hanya ingin melepas kutukan, tetapi selalu disalahpahami. Masalah-masalah yang menimpa keluarganya tidak ada sangkut pautnya dengan kutukannya. Julliane terus membenci dan membenci hingga kutukannya mulai melebar dan terasa sakit.
Berbanding terbalik dengan kakaknya, Ellaine yang syok karena penyerangan monster dikunjungi oleh Beckett, Kyler dan Lionel. Lionel mengeluarkan uangnya dalam pembangunan istana. Tak ingin terus dikasihani, Ellaine ikut membantu dengan memberi makanan dan minuman pada pekerja. Namun, Lionel telah memberi pekerja-pekerja itu makan dan minum. Putri kedua ini pun mulai membuka hatinya pada Lionel. Mereka berdua saling menyemangati satu sama lain dalam pembangunan istana.
***
Masa Kini
Bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting ini? Tidak ada Beckett, Kyler atau pun Lionel yang akan membantu di sini. Aku harus mengatasi semuanya sendirian.
"Letta," panggil Julliane.
__ADS_1
Roh satu ini muncul dengan wajah penuh kengerian. Ia pun tidak percaya dengan kejadian yang ada di depannya.
"Aku akan membagi kekuatanku padamu. Akan kuurus di bagian kanan. Sedangkan kamu di bagian kiri, Julliane," kata Letta sambil menyalurkan sihirnya pada Julliane.
"Terima kasih Letta."
Mereka berdua berpencar menuju daerahnya masing-masing. Mulut monster terbuka siap menyantap salah satu kesatria. Air mencegah mulut monster itu menutup. Kesatria itu lari ketakutan tanpa berterima kasih pada roh yang menyelematkannya. Letta membunuh monster dengan cepat. Ia mengalahkan monster-monster lain sambil menyelamatkan orang-orang yang ada di istana.
Air membawa orang-orang tak berdaya ini ke dalam istana. Letta tak ingin diganggu dalam membasmi para monster. Ia memang membenci manusia tetapi tidak tega melihat mereka dibantai. Monster-monster kembali berjatuhan. Letta menunjukkan aksinya di daerah buruannya. Ia menatal ke arah Julliane berlari, berharap temannya baik-baik saja.
Ellaine yang semula berjalan-jalan di istana dikejutkan oleh monster yang berusaha menerkamnya. Ia terjatuh karena ketakutan. Carlos menghunuskan pedang ke mosnter itu dengan cepat. Ia menyuruh tuannya melarikan diri. Naas kaki Ellaine terkilir. Ia tidak bisa berlari dengan cepat. Pengawalnya mulai kewalahan melindungi tuannya. Bagian belakang Carlos terbuka lebar. Monster mendatangi titik buta Carlos dan menyerangnya.
Monster itu malah terpelanting. Carlos dan Ellaine menoleh ke orang yang menyelamatkan mereka. Julliane berdiri dikelilingi air menyerang monster-monster itu. Setelah semuanya mati, ia menghampiri adiknya.
"Kamu tidak apa-apa, Elle?" tanya Julliane.
"Aku tidak apa-apa hanya terkilir, Kak Juli," kata Ellaine sambil memegangi pergelangan kakinya.
Julliane menoleh ke arah Carlos. "Cepat bawa Ellaine masuk ke istana. Aku akan mengalahkan monster-monster yang tersisa."
"Baik, Putri Julliane."
Carlos menggendong Ellaine. Putri kedua ini terkejut karena wajah mereka berdua sangat berdekatan. Jantungnya berdebar keras. Ellaine mengalihkan perhatian dengan berbicara pada Julliane.
"Berhati-hatilah, Kak Juli."
"Pasti," jawab Julliane mantap.
Carlos berlarian tanpa mengeluh ke istana. Julliane segera melanjutkan tugasnya membunuh monster-monster itu.
"AAA..." teriak Ellaine.
Carlos dan Ellaine terjatuh. Julliane menoleh ke arah mereka. Monster terbesar di sana, mungkin pemimpinnya semakin mendekati putri kedua dan pengawalnya.
__ADS_1
Ini gila. Apa aku bisa mengalahkan monster sebesar itu?