
Mikael menguyah lobster itu sambil tersenyum. Raja dan Ratu balas tersenyum karena putra mereka sudah menyantap makanannya. Mereka pun melanjutkan santapan.
Mikael meraih serbet menyeka mulutnya, dengan cepat ia meludahkan kunyahan yang ada di mulutnya. Itu dilakukan berulang kali sampai lobster itu habis tanpa ketahuan Raja dan Ratu. Makan bersama telah selesai, anggota pasukan khusus itu pun keluar sambil menyembunyikan serbet yang berisi makanan sisanya. Ia membakar serbet itu diam-diam. Lantas menuju ke dapur bertemu kepala juru masak.
"Mulai sekarang jangan sajikan makanan laut," perintah Mikael.
Kepala juru masak sedikit kebingungan karena makanan itu merupakan makanan favorit keluarga kerajaan, terutama Ian. Namun, perintah adalah perintah.
"Baik, Yang Mulia."
Mikael menghela napas panjang menatap jendela.
Cepat pulang, Yang Mulia. Menjadi dirimu tidak semudah yang kukira.
***
Bunyi decit alat makan memenuhi ruangan tanpa suara manusia. Edgar menatap kedua orang tuanya dan Julliane secara bergantian. Perang dingin di antara mereka meresahkan Edgar. Keluarganya jadi kacau balau sejak kepergian kakak keduanya. Edgar tidak menyalahkan siapa pun atas kejadian itu, ketiganya punya alasan sendiri untuk mempertahankan atau melepas kakak keduanya. Meskipun begitu, semua keputusan ada di tangan Ellaine dan Edgar menghargai tiap keputusan yang diambil kakak keduanya.
Ingin mencairkan suasana Edgar membuka suara. "Apa yang Kak Juli lakukan beberapa hari ini?"
"Mencari informasi yang bisa kumanfaatkan membatalkan pertunanganku dengan Pangeran Beckett." Julliane menatap tajam kedua orang tuanya sambil menusukkan garpu ke dagingnya.
"Itu akibatnya sendiri karena membatalkan membatalkan pertunangan Ellaine dengan seenaknya," balas Leroy menyantap makanannya tanpa melirik sedikit pun pada Julliane
"Jadi tidak masalah kalau Ellaine menderita bertunangan dengan Pangeran Beckett?" tantang Julliane menatap tajam Ayahnya.
"Pertunangannya hanya sementara, berbeda denganmu yang benar-benar harus sampai menikah dengan Pangeran Beckett. Berkatmu, Ellaine pergi dari istana selamanya," gerutu Leroy.
"Itu lebih baik daripada harus tinggal di istana seperti panggung boneka ini."
Harus menuruti semua perintah dari kedua orang tua yang salah tanpa boleh memberontak seperti boneka, membuat Julliane muak. Dulu sebagai Olivia, ia dibebaskan melakukan hal apa pun tetapi tetap diawasi kedua orang tuanya untuk membatasinya dari hal-hal buruk. Ada larangan tetapi masih masuk akal, tidak sampai membuatnya merasa tertekan atau pun sampai mengorbankan diri seperti di istana.
Leroy menggebrak meja makan. Ophelia berusaha menenangkan suaminya agar tidak sampai memarahi atau lebih parah memukul Julliane.
"Kak Elle, menikah dua hari lagi. Apa kalian akan datang?" Edgar mengalihkan pembicaraan untuk mencairkan suasana. Namun, bukannya membaik, udara di meja makan semakin mencekam, akibat pemilihan topik Edgar yang buruk. Pangeran satu itu hanya mengatakan yang terlintas di pikirannya.
"Tentu aku akan datang, Ed," balas Julliane tersenyum pada adiknya.
"Tidak perlu kujawab." Leroy menyudahi makanannya keluar dari ruang makan dengan membanting pintu. Menyelamati orang yang sudah merebut Ellaine, tidak pernah terlintas di pikirannya.
__ADS_1
"Sebaiknya, kamu minta maaf pada Ayahmu, Julliane," kata Ophelia sebelum mengikuti jejak suaminya.
Julliane menghela napas panjang meninggalkan Edgar sendirian. Edgar melanjutkan sarapannya sendirian walau di mulutnya terasa hambar.
Julliane kembali ke kamarnya mendapati surat berlambang kerajaan Lortamort. Cepat-cepat ia membukanya. Beckett akan melaksanakan pernikahannya dalam waktu seminggu lagi. Julliane harus bersiap-siap, bila tidak mau, maka pasukan Beckett siap menyerbu Kerajaan Yuvinere.
Julliane membuang kertas itu ke perapian. Tangannya mengacak-acak rambut telah yang tertata rapi.
"Argh," gerutu Julliane.
Aku harus cepat, tetapi bagaimana caranya?
***
Berulang kali Julliane menghembuskan napas panjang, tak sadar dari tadi Ian terus memperhatikannya. Tak ingin Julliane berlarut-larut dalam kesedihan, Ian membuka mulutnya.
"Aku punya informasi tentang Beckett."
"Informasi apa?" tanya Julliane bersemangat. Sercecah harapan mulai terlihat dalam membatalkan pertunangannya dengan Beckett.
"Beckett punya ratusan prajurit di kediaman keluarga ibunya yang siap bertempur-"
"Cukup, jangan diteruskan."
"Tapi-"
"Bukan itu yang ingin kudengar, Ian," keluh Julliane.
Julliane menekan kepalanya berharap kepeningan itu segera hilang. Ia butuh membebaskan diri sejenak dari segala kepenatan yang disebabkan oleh Beckett, tetapi bila melakukannya waktunya akan terbuang sia-sia.
"Akan kubawakan sesuatu," balas Ian merasa sedikit bersalah.
Julliane mengangguk pelan sambil menata pikirannya. Ian pergi ke toko kue membeli sepotong kue stoberi. Ia pun menyuguhkan kue stoberi itu pada Julliane.
"Terima kasih."
Julliane segera menyantap kue itu tanpa memikirkan hal lain. Makan manis-manis seperti ini akan meningkatkan suasana hatinya.
Krim putih menempel di pipi Julliane. Ian menunjuk pipi kirinya agar Julliane sadar. Namun, Julliane terlalu sibuk sendiri hingga tidak memerhatikan Ian. Ian mencodongkan wajahnya ke Julliane, ingin membersihkan krim itu dengan mulutnya.
__ADS_1
Merasa ada napas yang mendekati pipinya, Julliane melirik sekilas ke arah Ian. Wajah Ian yang semakin dekat, membuat jantungnya tidak karuan.
Belum sempat Ian merasakan manis krim itu, Julliane berpaling ke arah yang lain.
Apa Ian barusan ingin menciumku? Ini terlalu cepat.
Merasa Julliane mulai salah tingkah, Ian mengarahkan wajah Julliane menghadapnya lalu menyeka krim yang mengganggu itu dengan tangannya.
"Ada krim di pipimu." Ian menunjukkan krim itu pada Julliane.
Julliane pun mengangguk. Seringaian muncul di bibir Ian. "Memangnya apa yang kamu pikirkan?"
Wajah Julliane semakin memanas. Ia menggeleng-geleng cepat. "Tidak ada, wajahmu terlalu dekat. Aku hanya kepanasan." Julliane mengibas-ibaskan tangannya.
Ian terkekeh. "Juli, ada yang ingin kusampaikan."
Darah Julliane semakin mendesir.
Tolong jantungku.
Sebelum tidak bisa berpikir lagi dan jantungnya meledak, Julliane bangkit dari tempat duduknya.
"Aku lupa, Ellaine butuh bantuanku untuk pernikahannya besok. Aku undur diri dulu," pamit Julliane.
Ian hendak menghalanginya tetapi Julliane terlanjur keluar dari ruang rahasia itu. Kepalanya dijatuhkan ke meja.
'Kenapa sulit sekali untuk mengatakannya? Besok harus berhasil,' batin Ian.
***
Ellaine dan Carlos saling bertatapan. Terpancar kegembiraan Ellaine yang tak pernah diperlihatkan sebelumnya. Carlos pun terus tersenyum melihat pasangan seumur hidupnya.
Ucapan pastur sama sekali tidak terdengar di telinga mereka. Seluruh dunia serasa milik mereka sendiri.
"Jadi apa kalian bersedia?" tanya pastur yang mulai kesal karena tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab.
Ellaine dan Carlos terkekeh menjawab bersamaan, "Saya bersedia."
Pastur pun pergi karena tidak dianggap sama sekali. Ellaine dan Carlos segera melangsungkan ciuman pernikahan diiringi tepuk tangan tamu undangan.
__ADS_1
Julliane terus berusaha menahan air matanya agar riasannya tidak luntur. Pandangannya teralihkan pada lelaki yang datang terlambat.
Edgar segera menghampiri lelaki itu menyerangnya dengan tatapan tidak bersahabat. "Mau apa kamu di sini, Pangeran Ian?"