
"Bagaimana keadaan keuangan kerajaan sebenarnya, Sayang?" tanya Ophelia.
Ophelia pun menyadari alasan Leroy membela Beckett yang hampir mencelakai keluarga kerajaan. Bila Leroy sampai mengorbankan keluarganya artinya ada sesuatu yang lebih penting yaitu kondisi kerajaan. Prioritas utama Leroy sebagai Raja adalah kerajaannya sendiri, Ophelia tidak mempermasalahkan hal ini. Dari awal bertunangan dan menikah dengan Leroy, ia rela dinomor duakan dengan urusan kerajaan. Baginya yang terpenting adalah bisa bersama dengan Leroy, ia sudah cukup.
"Sebelumnya sudah membaik karena pemberian uang dari Julliane, tetapi penyerangan istana ini membuat keadaannya semakin memburuk lagi," keluh Leroy.
"Pangeran Beckett akan membantu kita bukan?"
Ophelia terus menaruh harapan pada pangeran satu itu untuk membantu keluarga kerajaan Yuvinere.
"Dia harus membantu kita, aku akan memeras Beckett dengan menyebarkan rumor di Kerajaan Lortamort tentang sikap buruk Pangeran satu itu."
Bagi Pangeran itu, mengeluarkan uang bukanlah masalah besar, dibandingkan kedudukannya yang terancam.
"Bagaimana dengan pertunangan Ellaine, Sayang?"
Leroy terus menimbang-nimbang hal ini. Namun, keputusannya sudah bulat.
"Tetap lanjutkan saja. Akan kumanfaatkan Pangeran itu, setelah itu membuangnya. Dia tidak pantas bagi Ellaine, tetapi sekarang kita sangat membutuhkan bantuannya."
"Jangan sampai dia menikah dengan putri kita. Ellaine tidak akan bahagia bersamanya."
Mereka terus membicarakan rencana menguras uang dari Pangeran Lortamort itu. Dan melupakan permintaan maaf pada Kerajaan Constain yang dituduh.
***
Pengawal Beckett mencari-cari tuannya yang menghilang dari kemarin. Seluruh ibu kota ditelusurinya untuk mencari pangeran satu itu. Hanya karena ia lengah sebentar tuannya diculik. Atau malah sebenarnya tuannya sudah kembali ke kerajaan Lortamort dan membuang dirinya.
Namun, pikiran buruknya segera luntur. Tuannya telah kembali dengan selamat.
__ADS_1
"Anda ke mana saja, Pangeran?"
Beckett melayangkan tangannya pada wajah pengawal itu. Tak memperkirakan dirinya akan dipukul sang pengawal tersungkur di lantai. Kepalanya menunduk tak berani menatap wajah tuannya.
"Gara-gara kelengahanmu aku sampai diculik. Untung saja aku bisa lolos, jika tidak, aku bisa diusir dari sini apabila Raja tidak membelaku," gerutu Beckett.
"Maafkan saya, Pangeran."
"Sudahlah, bawakan aku sesuatu yang enak," perintah Beckett.
Pengawalnya pun pergi membelikan pangeran ini makanan dan camilan. Di dalam kamarnya Beckett mengetuk-ngetukkan jari di meja, mengingat kejadian di hutan.
Beckett berniat membantu Kerajaan Yuvinere untuk melawan monster, tetapi sebenarnya ia bisa menghabisi monster-monster itu saat memergoki Kyler. Beckett malah mengancam Kyler, tetapi pandangannya teralihkan pada seorang pemuda yang tergeletak penuh luka di sekitar sana. Beckett mencari-cari tanda pengenal pemuda itu. Yang ia temukan hanyalah surat, tetapi bukan surat biasa. Dengan membacanya, ia mengetahui bahwa pemuda itu adalah bawahan dari Ian Constain.
Pemuda itu terus melaporkan keadaan Putri Julliane pada Ian. Beckett mengambil kesempatan ini dengan mengkambing hitamkan Kerajaan Constain dan menutupi perbuatan Kyler dan Lionel asalkan mereka menuruti semua perintahnya. Mereka setuju, tetapi kebohongan tak bisa ditutupi selamanya. Julliane menguak semuanya. Namun, keberuntungan masih berpihak pada Beckett.
Tak lama pengawalnya kembali dengan membawa makanan dan surat. Beckett membuka surat itu sambil memakan makanannya.
Beckett mengira Raja Yuvinere membelanya karena ia adalah tunangan Ellaine. Alasan lain adalah karena tidak ingin hubungan antara dua kerajaan membunuh, tetapi dugaannya salah. Mau tidak mau Beckett menurutinya karena keinginannya menjadi Raja.
Lalu ia membuka surat lain. Isinya adalah permintaan ibunya untuk segera mengumumkan pertunangannya dengan seorang putri. Jalan menuju takhta terbuka lebar karena Putra Mahkota yang sekarang sakit-sakitan.
Beckett menuju jendela menatap istana. "Sepertinya aku akan melawanmu terang-terangan, Putri Julliane."
Beckett membuang kedua surat itu, meneruskan waktu makan yang diganggu. Ia akan memenangkan pertarungan ini, karena ia akan memaksa Ellaine menikahinya.
***
Cahaya bulan menyinari istana tanpa penghalang awan. Pandangan Ellaine berubah ke arah orang yang menemuinya di balkon kamar. Beckett datang membawa bunga untuk tunangannya. Perlakuan lembut Beckett sama sekali tidak membuat Ellaine jatuh hati.
__ADS_1
Saat kakinya masih sakit, Beckett terus menemuinya setiap malam. Namun, tak terasa ketulusan dari lelaki itu. Dalam hati Ellaine terus memikirkan orang lain.
"Aku minta maaf, Putri Ellaine soal kemarin. Seharusnya dari awal aku bicara jujur pada Raja tentang penyerangan monster. Aku terus merasa bersalah karena menyembunyikan ini darimu," ucap Beckett memecah keheningan.
"Tidak apa-apa, Pangeran Beckett. Aku juga minta maaf karena tindakan kakakku yang sedikit berlebihan." Ellaine menyunggingkan senyum palsu.
"Ini tidak sepenuhnya salahnya, Putri Julliane hanya ingin membela kebenaran."
Mulut Beckett terus memuji Julliane dan meminta maaf, meski hatinya berkata lain. Ia ingin mengutuk Julliane karena terus menganggunya. Berpura-pura baik pada tunangannya untuk mendapatkan hati adalah hal yang lumrah.
Keheningan terjadi di antara mereka lagi. Ellaine tidak tahu harus memulai percakapan seperti apa karena ia tidak nyaman bersama dengan Beckett.
Karena tidak mendengar balasan Ellaine, Beckett melanjutkan, "Aku sudah membicarakan ini dengan Ayah Anda, Putri. Bagaimana kalau mengumumkan kita pertunangan di hadapan publik? Ibuku terus mendesakku. Setelah itu aku akan mengajakmu ke kerajaanku. Jadi apa Anda setuju?"
Ellaine menundukkan kepalanya berpikir. Mungkin dengan ke kerajaan Lortamort ia bisa mengenal Beckett lebih dekat dan bisa mencintainya. Perasaannya pada Carlos pun akan menghilang dengan sendirinya.
"Baiklah, aku setuju, Pangeran." jawab Ellaine sambil menatap Beckett.
"Kapan kita akan mengumumkannya, Putri?"
Tangan Ellaine digenggam oleh tunangannya. Ia berusaha menyakinkan diri bahwa ia merasakan sesuatu, tetapi sia-sia. Kehangatan tangan Carlos yang menyentuhnya tidak bisa dirasakannya dengan orang lain.
"Saat ulang tahunku saja Pangeran."
"Ide bagus, akan banyak orang yang datang, kita tidak perlu menyebarkan berita."
Ceklek...
Pintu terbuka perlahan. Kedua pasangan ini menatap sosok di pintu itu. Ellaine tidak menyangka ada orang yang kamarnya malam-malam. Terutama...
__ADS_1
"Kenapa Anda bisa bersama dengan Tuan Putri malam-malam, Pangeran Beckett." Carlos menatap tajam Beckett seolah-olah akan membunuhnya.