Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 59 Kerelaan


__ADS_3

Seharusnya belum terlambat, aku masih ada di sini. Julliane masih hidup, batin Letta.


Letta terus memikirkan apa yang kurang. Ian mencintai Julliane dengan tulus, bahkan saat tahu kutukan Julliane masih ada, ia tetap mencintainya. Tak mungkin orang yang hanya mencintai fisik Julliane rela menempuh perjalanan jauh walau ditentang oleh kedua orang tuanya.


Surat itu, Ian belum tahu identitas Julliane sebenarnya.


Letta meraih surat Julliane. Ia memberikannya pada Ian yang berduka.


"Ini adalah surat terakhir Julliane, kamu harus membacanya."


Ian membuka surat itu. Matanya terbelalak menatap surat dan Letta bergantian.


"Jangan bercanda! Ini tidak mungkin!"


"Memang itu kebenarannya Ian."


"Jadi selama ini yang bersamaku bukan Julliane tetapi orang lain?"


Ian membaca sekali lagi suratnya. Ia tidak ingin salah menangkap arti dari surat itu.


Teruntuk


Ian Constain


Jika suatu saat kamu merasa Julliane berubah, tetap cintailah dia. Tidak pernah sekali pun Julliane jijik pada wajahmu saat membatalkan pertunangan. Dia merasa bersalah hingga tak mampu menatap atau menemui lagi. 


Kamu pasti merasa aneh kenapa aku selalu menyebut diriku sebagai orang ketiga, karena aku bukanlah Julliane. Aku adalah orang dari dunia lain yang tiba-tiba berada di tubuh Julliane. Maaf karena aku membohongimu selama ini. Aku hanya ingin kembali ke duniaku. Kuharap kamu bisa bahagia dengan Julliane.


^^^Olivia^^^


Ada surat lain yang tidak bertuliskan nama pengirim atau penerimanya. Namun, Ian tahu surat itu ditulis oleh orang yang sama.


Aku berbohong bila ingin melihatmu bahagia bersama Julliane. Sebenarnya aku ingin melihat tawamu, sifat kekanakanmu, dan terus menghabiskan waktu berdua denganmu. Tetapi aku ingin hidup. Julliane juga harus hidup. Aku tidak tega mengorbankan nyawa orang lain demi keegoisanku sendiri.


Maafkan aku karena telah meninggalkanmu Ian. Kamu boleh membenciku sepuasnya, tetapi janganlah membenci Julliane. Dia tidak salah apapun. Yang salah adalah aku, karena telah membuatmu jatuh cinta padaku.

__ADS_1


Aku mencintamu, Ian. Dan aku bahagia selama berada di dunia novel ini. Terima kasih karena telah membuatku merasakan cinta.


Air mata Ian membasahi surat itu. Ia membuangnya, lalu mengerang sekeras-kerasnya. Erangannya semakin lirih. Matanya tanpa harapan menatap Letta.


"Jadi meskipun selamat, orang yang akan ada di sisiku bukanlah orang yang kucintai. Ini tidak lucu."


"Olivia harus hidup, Ian. Meski sulit kamu harus merelakannya."


"Mana pun yang harus kupilih tetap saja aku kehilangan orang yang kusayangi. Aku tidak tahu harus berbuat apa."


Mata Ian melebar melihat, tubuh Letta menghilang perlahan, ia tidak bisa mempertahankan diri tanpa pemanggil roh. Kematian Julliane semakin dekat.


"Kamu tahu apa yang terbaik bagi Olivia. Kuserahkan nasibnya padamu," ujar Letta yang telah menghilang.


Ian menutupi wajahnya yang marah dengan kedua tangan. Air matanya terus mengalir. Mengingat kebersamaan mereka yang singkat itu. Tidak semuanya kenangan baik, mereka pernah salah paham dan bertengkar. Namun, ia senang bersama Julliane.


Perubahan sifat Julliane yang drastis bukan karena kutukan melainkan tubuhnya dihuni jiwa lain. Ian terus menyesal tidak menyadarinya lebih awal. Selama ini, orang yang dicintainya adalah Olivia bukanlah Julliane.


Ian menggenggam tangan Julliane dengan erat.


Lantas sekali lagi ia mengecup bibir Julliane dengan lembut. "Aku mencintaimu, Olivia. Berbahagialah di duniamu."


***


???


Olivia membuka mata perlahan sembari mengingat kejadian terakhir kali. Ia berada di kamar Julliane lantas tertidur.


Ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Tubuhnya seolah-olah melayang-layang di alam semesta. Ada sosok yang tak asing menghampirinya. Gadis itu mempunyai tato di seluruh wajahnya.


"Julliane?" tanya Olivia.


"Senang bertemu denganmu, Olivia," sapa Julliane sambil tersenyum.


"Ini di mana?"

__ADS_1


"Alam antara hidup dan mati."


Bintang-bintang di sekitar mereka berubah menjadi serentetan video kilas balik hidup Julliane. Olivia memerhatikan semua video-video itu. Ada kejadian yang tidak dikenalinya baik kehidupannya sebagai Julliane atau di novel Bunga Istana.


"Itu adalah saat aku mengulang kehidupanku kedua," kata Julliane seolah-olah tahu apa yang Olivia pikirkan. Ia menatap kilas balik pernikahannya dengan Beckett.


"Kehidupan kedua?" tanya Olivia tak mengerti.


"Setelah kematianku di novel yang kamu baca, aku bertemu dengan Raja Roh. Dia memberiku kesempatan untuk mengulang waktu."


Video pernikahan Julliane dan Beckett berubah menjadi pertumpahan darah. Keluarga Yuvinere tewas mengenaskan bersama dengan kesatria-kesatria yang melindungi mereka. Olivia menunjuk video itu.


"Itu..."


"Itulah akhir kehidupanku yang kedua. Aku terus mendekati Beckett berharap dia mencintaiku. Aku menjelek-jelekkan Ellaine hingga berhasil menjadi kekasih Beckett. Tetapi ternyata dia hanya memanfaatkanku demi melakukan pemberontakan. Dia tidak mencintaiku dengan tulus." 


Video berganti dengan kehidupan Julliane di kediaman yang mewah. Ia memeluk Kyler yang telah kembali dari perjalanan panjang. Duke muda itu mendorong Julliane hingga tersungkur meski keduanya memakai cincin pernikahan yang sama. Julliane menitikkan air mata memegangi kepalanya yan terasa sakit.


"Itu kehidupanku yang ketiga. Masih ada lagi." Julliane menggeser video itu.


Kali ini Julliane menunggu di kamarnya selama siang dan malam, tetapi tidak ada yang datang. Ia keluar melihat lukisan miliknya dan Lionel yang tersenyum. Ternyata semua itu hanyalah kepalsuan belaka. Julliane mendekam di kamar hingga ajalnya tanpa dijenguk oleh Lionel sekali pun.


"Tidak ada cinta sejati, yang ada hanyalah cinta bersyarat. Mereka menikahiku hanya demi keuntungan belaka. Demi pasukan, ketenaran dan uang," kata Julliane lirih.


"Bagaimana dengan Ian? Apa kamu pernah mencoba mendekatinya?" Olivia menatap sendu Julliane.


"Di kehidupanku yang kelima, aku menikah dengan Ian, tetapi tak ada cinta di antara kami. Dia hanya kasihan padaku, dan aku masih merasa bersalah padanya. Kutukanku tidak bisa terlepas. Dan akhirnya sama seperti kehidupanku yang lain."


Olivia tak dapat berkata apa-apa melihat kehidupan Julliane yang tragis. Ia menangis seraya memeluk Julliane, berusaha menghilangkan kepedihan Putri Terkutuk itu.


"Terima kasih Olivia, maaf karena aku memilihmu."


Olivia melepas pelukannya, tak mengerti dengan apa yang dikatakan Julliane. "Apa maksudmu?"


"Aku lelah untuk mengulang waktu. Di kehidupanku yang terakhir, aku meminta Raja Roh agar menukar diriku dengan orang yang iba mengetahui nasibku ini. Aku harap orang itu bisa mengubah nasibku. Dan dia adalah kamu, Olivia."

__ADS_1


__ADS_2