
Seorang wanita dengan kulit putih dan berparas cantik berjalan-jalan di hutan. Rambut birunya menjuntai ke bawah hingga menyapu tanah. Tubuhnya tidak terlalu tinggi ataupun rendah, sesuai dengan tinggi wanita pada umumnya. Ia kesepian. Seluruh temannya telah bertemu dengan teman-teman baru, hanya dirinya yang berada di hutan ini.
Tiba-tiba ada seorang wanita lain berambut cokelat muda menabrak wanita berambut biru itu. Wanita berambut cokelat itu tersesat di hutan. Ia menanyakan arah pada wanita berambut biru itu lantas berterima kasih. Ia melanjutkan perjalanannya lagi.
Wanita berambut biru itu ingin berteman tetapi tidak tahu caranya. Ia sangat kikuk, tidak tahu cara memulai pembicaraan yang menarik. Sebenarnya ia bisa berteman dengan wanita berambut cokelat itu, hanya saja tidak terpikirkan olehnya.
Tak disangka-sangka wanita berambut cokelat itu kembali ke hutan keesokan harinya. Ia ingin berterima kasih dengan memberikan makanan bagi wanita berambut biru. Dan mereka berteman. Tentu saja wanita berambut cokelatlah yang menyampaikan hal itu pertama kali. Wanita berambut biru itu sangat senang hingga menantikan setiap pertemuan mereka.
Wanita berambut cokelat itu sering bercerita kesehariannya kepada wanita berambut biru. Tentang cinta, teman, orang tua, tempat-tempat indah, cara memasak, hampir semua ia ceritakan. Hanya dengan mendengar wanita berambut cokelat membuat wanita berambut biru sangat senang karena dapat membayangkan keindahan dunia luar, selain hutannya. Sebelumnya wanita berambut biru tidak pernah ke dunia luar karena takut tidak diterima di sana. Berkat wanita berambut cokelat yang mengajaknya, wanita berambut biru kini sering menjelajahi tempat-tempat baru.
Wanita berambut cokelat mengenalkan wanita berambut biru dengan kekasihnya. Kekasih yang yang akan menjadi teman seumur hidupnya. Keduanya akan menikah. Wanita berambut biru turut berbahagia atas kebahagiaan temannya ini. Wanita berambut biru meminta janji kekasih wanita berambut cokelat menjaga temannya dengan baik. Kekasih wanita berambut cokelat menyanggupinya.
Pasangan kekasih itu yang semula sering mengunjungi hutan perlahan mulai melupakannya. Wanita berambut biru itu mulai kesepian lagi, tetapi teman lamanya kembali lagi. Alasan dari temannya kembali adalah teman baru dari teman lamanya mempunyai sikap yang buruk, yaitu menjatuhkan orang lain demi dirinya sendiri. Mereka menghabiskan waktu bersama kembali
Entah berapa lama, datanglah orang bertudung hitam. Orang itu menangis sesegukan sendirian di hutan. Wanita berambut biru yang iba menghiburnya. Ketika melihat wajah orang bertudung itu, wanita berambut biru terkejut. Wajah orang bertudung itu rusak karena luka bakar, tetapi keterkejutannya bukan karena itu saja. Orang bertudung itu adalah temannya, wanita berambut cokelat.
Wanita berambut cokelat menceritakan alasannya tidak pernah datang ke hutan lagi. Sebulan setelah pernikahannya, ia diculik. Tempat ia disekap dibakar. Untungnya ia bisa selamat meski harus menderita luka bakar diseluruh tubuh. Ia malu harus bertemu dengan orang lain.
Kekasihnya awalnya mencari cara agar wajah dan tubuh wanita itu kembali seperti sedia kala, tetapi itu hanya berlangsung singkat. Kekasihnya mencari wanita lain dan menikah kembali. Hati wanita berambut cokelat hancur hingga ia tak tahu lagi harus bercerita ke mana. Semua teman-temannya menjauhinya. Hanya ada satu teman yang belum ditemui yaitu wanita berambut biru. Jadi di sinilah ia.
Wanita berambut biru memeluk wanita berambut cokelat berusaha menenangkannya. Ia berjanji akan selalu mendukung wanita berambut cokelat apa pun yang terjadi. Wanita berambut cokelat tersenyum kembali ke rumahnya. Namun, itu adalah pertemuan terakhir mereka. Wanita berambut cokelat ditemukan mengambang di danau dalam hutan. Wanita berambut biru menangis penuh rasa bersalah karena tidak tahu kalau temannya berniat bunuh diri. Ia mendatangi kekasih wanita berambut cokelat untuk menanyakan janjinya.
Tak disangka di rumah temannya ia mendengar kebenaran yang mengerikan. Kematian dari temannya adalah perbuatan istri kedua kekasih temannya. Wanita berambut biru marah besar dan berniat menyakiti istri kedua kekasih temannya. Namun, kekasih temannya menghalangi. Sudah melanggar janji, kekasih temannya malah melindungi orang yang bersalah. Amarahnya semakin tidak terbendung.
__ADS_1
"Aku mengutuk kalian..."
***
Julliane terkesiap. Tubuhnya berkeringat deras. Napasnya memburu.
Mimpi apa tadi? Ada kutukan juga. Apa jangan-jangan tadi mimpi asal mula kutukan?
Ia berbaring mengelap keringatnya. Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.
"Letta," panggil Julliane sambil menutup dahinya dengan lengan.
"Ada apa?" Letta mengusap-usap matanya.
Wajah Letta mengeras. Rasa kantuknya hilang seketika. "Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal ini?"
"Kurasa aku bermimpi tentang asal mula terjadinya kutukan ini." Tunjuk Julliane pada tato kutukannya.
Letta terdiam. Julliane menyadari gelagat Letta yang aneh. "Apa kamu tahu sesuatu?"
Letta sudah tersadar dari lamunannya segera menjawab Julliane. "Benar Raja Roh bisa berubah wujud menjadi manusia. Kalau tentang kutukan aku hanya mengetahui cara untuk mematahkannya. Asal mula kutukan terjadi di keluarga kerajaan aku tidak tahu."
Julliane memicingkan mata mengamati Letta. Ia mencari kebohongan di dalam perkatannya. Sikap Letta yang tidak pernah menatap matanya selama ini, membuat Julliane sulit untuk menebak. Letta hanya sekali menatap Julliane lurus-lurus saat pertama kali datang ke dunia ini.
__ADS_1
"Apa kamu anak Raja Roh?" celetuk Julliane.
Mereka punya warna rambut yang sama. Biasanya ada twist seperti ini di novel, kalau ternyata orang terdekat kita ternyata mempunyai hubungan dengan musuh.
Tatapan terkejut ditujukan pada Julliane. Letta menghela napas panjang. "Imajinasimu tinggi sekali. Terserah kamu mau bilang apa."
Ternyata benar.
"Apa Raja Roh mulai memaafkan keluarga kerajaan sehingga kamu bisa dipanggil oleh Julliane?"
"Salah, tidak ada hubungannya." Letta menggeleng.
Alasannya sederhana karena Julliane mempunyai hati yang bersih. Ketika Julliane hendak menanyakan sesuatu lagi, Letta menyela, "Aku tidak akan berbicara apa pun tentang kutukan lagi."
"Baiklah aku mengerti. Terima kasih atas informasinya." Julliane mengangguk-angguk sambil tersenyum ke arah Letta.
Letta melirik Julliane sekilas, lantas kembali ke dunianya. Julliane segera merias diri, bersiap menjalani harinya. Ia menanyakan surat baru kepada pelayan tiap hari. Bukan surat lamaran atau undangan minum teh yang ditunggu-tunggunya, melainkan surat Ian.
Sudah seminggu Ian kembali ke kerajaannya. Namun, masih belum ada kabar dari Ian. Julliane menebak-nebak alasan Ian tidak segera mengirim surat. Entah karena sibuk atau punya masalah atau malah lupa. Apa pun alasannya Julliane yakin Ian tidak akan terbunuh di tengah perjalanan. Lalu ia yakin kalau Ian akan mengirimkan surat. Mungkin lebih tepatnya itu harapan Julliane.
Para lelaki bangsawan masih mendekati Julliane, hingga membuatnya bosan. Tak ada yang mampu meluluhkan hati Julliane. Itu karena kriteria kekasihnya terlalu tinggi.
Begitu sampai di gerbang istana, Julliane menghentikan langkahnya. Sorot mata muak terlontar pada salah satu orang di sana.
__ADS_1
Untuk apa Beckett datang ke sini lagi?