
Carlos tidak bisa tidur. Cerita Ellaine tentang ketiga bangsawan yang merencanakan penyerangan monster membuatnya ngeri. Tak disangka, bangsawan yang terpandang malah melakukan hal keji demi kepentingan mereka sendiri.
Kekhawatiran Carlos menyelimuti dirinya karena keselamatan tuannya tidak terjamin terutama pada malam hari. Kesempatan untuk menculik tuannya akan semakin besar tanpa penjagaan yang ketat. Penyebabnya prajurit istana banyak yang dipecat karena terlalu penakut tidak mencerminkan sikap seorang kesatria.
Carlos ingin memastikan keadaan tuannya untuk menenangkan diri. Ia sudah sampai di depan kamar Ellaine. Tak ingin mengganggu Tuannya sedang tidur, ia tidak mengetuk pintu.
Betapa tekerjutnya Carlos mendapati Beckett dan Ellaine di balkon. Salah satu orang yang berniat mencelakai tuannya. Carlos berteriak. Tangannya mengepal erat, pangeran satu itu berani melukai tuannya lagi. Tetapi, kenapa Ellaine hanya diam saja?
"Aku tidak perlu alasan untuk bertemu dengan tunanganku. Bagaimana denganmu, kenapa kamu ke sini pengawal?" jawab Beckett tenang.
Carlos tak menjawab pertanyaan Beckett, matanya terpaku pada Ellaine yang menunduk. Tak ada penyangkalan, ucapan Beckett tentang pertunangan mereka benar adanya.
"Kenapa Tuan Putri mau bertunangan dengan orang sepertinya?!" teriak Carlos.
"Kamu tidak menjawab pertanyaanku, malah berteriak pada tuanmu. Sampai mana kelancanganmu?" Beckett menghampiri Carlos yang geram.
"Aku tidak punya urusan denganmu!" Carlos menyingkirkan Beckett, lalu mendekati Tuannya.
"Katakan kalau Tuan Putri sedang dipaksa, diancam olehnya! Aku akan mengusir orang ini! Tak masalah bila aku dipecat sekali pun! Tuan Putri tidak usah pedulikan aku!" lanjut Carlos penuh penyangkalan.
Ellaine masih tidak mau menatap Carlos. Ia menggigit bibirnya dan memejamkan mata. Ia ingin berteriak minta tolong, tetapi bagaimana dengan nasib kerajaan?
"Aku bertunangan dengan Pangeran Beckett atas keinginanku sendiri, Carlos. Kembalilah ke kamarmu," ucap Ellaine penuh keberatan hati.
Carlos mengertakkan gigi, ia berbalik ke arah Beckett. "Jangan bercanda Tuan Putri! Dia berniat mencelakai Tuan Putri dengan penyerangan monster! Tidak mungkin Tuan Putri mau bertunangan dengan orang sepertinya!"
Beckett menggeleng-gelengkan kepala sambil menyeringai. "Memang benar aku menutupi siapa dalang dari penyerangan itu, tetapi aku tidak pernah berniat melukai tunanganku."
Carlos membelalak mata. Ia menoleh ke arah Ellaine dengan tatapan tidak percaya. "Tuan Putri sudah bertunangannya sebelum penyerangan itu?"
Ellaine mengangguk pelan. "Benar."
"Kalau begitu kenapa tidak diumumkan?"
"Kami baru akan mengumumkannya saat ulang tahun Putri Ellaine," jawab Beckett.
Carlos masih merasa ada yang tidak beres. Semuanya tertutup oleh kebungkaman Ellaine.
__ADS_1
"Aku tahu ada yang disembunyikan Tuan Putri. Aku pasti akan menyelamatkan Tuan Putri."
"Menyelamatkan dari apa? Tindakanmu mencurigakan sekali, datang malam-malam ke kamar tuanmu. Jangan-jangan kamu ingin melakukan sesuatu yang buruk?" kata Beckett sinis.
Tak mampu lagi menahan amarah, Carlos memukul Beckett. Merasa tidak terima, Beckett mengembalikan pukulan Carlos. Mereka berdua beradu tinju, tetapi Beckett lebih unggul. Tak ingin pertarungan ini memberatkan Carlos, Ellaine menengahi mereka.
"Cukup! Carlos kembalilah ke kamarmu!"
Gertakan gigi Carlos terdengar keras, tuannya lebih memilih tunangan jahat. Carlos berbalik, membanting pintu keras. Tangisan Ellaine tertahan, bukan maksudnya untuk melukai hati Carlos.
Pelukan diberikan tunangannya. Ellaine membujur kaku, ia tidak merasakan apa pun. Ia mati rasa.
***
Julliane menyentuh tato yang hampir sampai ke bibirnya. Tiap hari ia selalu bangun lebih pagi. Waktu untuk berias semakin lama, tetapi apa gunanya mengeluh. Ini salahnya sendiri karena meski tahu tidak seharusnya membenci, ia malah melakukannya. Helaan napas panjang terdengar dari mulut Julliane.
Ingat, ingat, jangan membenci orang, Olivia.
Julliane menunggu merpati datang. Tanpa sadar ia menunggu kabar dari Ian. Julliane kadang ragu, kadang juga yakin bahwa Ian adalah cinta sejatinya.
Sudah lama menunggu, tetapi merpati tak kunjung mengetuk jendela. Julliane menuju kamar Ellaine untuk menghabiskan waktu. Mata Julliane merasa ada sesuatu yang kurang. Ia mengedarkan pandangan ke kamar Ellaine mencari-cari kekurangan itu. Bukan perabot, bukan pula alat kecantikan.
"Kenapa Kak Juli?" tanya Ellaine yang penasaran tingkah kakaknya yang aneh.
Julliane menyadarinya. "Di mana pengawalmu, Elle?"
Wajah Ellaine mengeras, ia pun tertunduk. "Dia dipecat, keuangan kerajaan memburuk akibat penyerangan monster. Kesatria-kesatria yang berperilaku buruk dipulangkan."
Tetapi, bukannya Carlos adalah pengawal terbaik di antara kesatria kerajaan? Dan di novel Bunga Istana sampai akhir dia tetap menjadi pengawal Ellaine. Apa gara-gara aku banyak mengubah jalan ceritanya?
***
"Bagaimana keadaanmu, Mikael?" tanya Ian pada bawahannya.
"Sudah baikan Yang Mulia, terima kasih," jawab Mikael.
Luka Mikael cukup serius, jika tidak bawa dengan cepat ke dokter di ibu kota Yuvinere mungkin dirinya sudah mati. Setelah keadaannya membaik, Ian membawa Mikael ke kerajaan Constain untuk pemulihan. Kecepatan memulihkan diri di kampung halaman pasti lebih cepat dibandingkan di negeri asing.
__ADS_1
Mikael sangat beruntung, pertarungannya dengan monster-monster sangat berat sebelah. Ia hanya bisa mengulur waktu dengan memasang jebakan. Ketika jebakan tak mampu mengalahkan mereka, ia maju sendirian dengan harapan tuannya segera datang.
Jerih payahnya terbayarkan, tidak ada korban jiwa dalam penyerangan monster. Putri Julliane pun selamat dan Ian tidak terlambat. Walau pertemuan keduanya singkat, tetapi perkembangan hubungan mereka membaik.
"Lain kali katakan seluruh perbuatanmu padaku. Aku dicurigai sebagai dalang penyerangan monster karena kamu sangat mencurigakan," keluh Ian atas tindakan Mikael yang melukai bangsawan lain.
"Itu semua demi hubungan Yang Mulia dan Putri Julliane," bantah Mikael.
"Kali ini kumaafkan."
"Kapan saya bisa bertugas lagi?"
"Kamu ini tidak pernah jera. Kurasa tidak perlu, kamu sudah ketahuan."
"Apa saya dipecat?"
"Tidak kamu bisa melakukan tugasmu sebagai pasukan khusus seperti biasa. Masalah Julliane aku bisa mengurusnya." Ian menepuk-nepuk bahu Mikael sambil tersenyum.
Mikael pun tertunduk, sebenarnya dirinya masih ingin tahu perkembangan hubungan Ian dan Julliane, tetapi ia sudah dibebas tugaskan. Mau tidak mau, ia mematuhinya karena tidak ingin membebani Ian.
Ian kembali ke kamarnya menuliskan surat untuk Julliane sambil tersenyum. Ia tidak sabar menerima balasan. Masalah surat telah selesai kini menyelesaikan masalah kesalahpahaman antar dua kerajaan.
Ian menemui ayah dan ibunya. Mereka tampak geram karena dicurigai. Dengan percaya diri Ian menawarkan diri menyelesaikan masalah ini.
"Aku akan ke kerajaan Yuvinere untuk membuktikan bahwa dugaan mereka salah Ayah, Ibu."
Meski alasan sebenarnya adalah bertemu dengan Julliane.
"Percuma, tidak usah ke sana. Mereka tidak akan mempercayaimu, Ian," jawab Raja.
"Benar, kita tidak bisa akur dengan Kerajaan Yuvinere. Jadi lupakan saja Julliane, Ian," tambah Ratu.
"Tapi-"
"Ian, kali ini dengarkan kami. Semua ini demi kebaikanmu," sela Raja.
Kata-kata yang hendak terucap dari mulut Ian terus dibantah oleh orang tuanya. Ia tidak bisa berbuat apa pun sekarang. Satu-satunya cara adalah membujuk mereka saat sudah tenang.
__ADS_1