Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 55 Terpaksa Kembali


__ADS_3

"Jadi, itu yang kamu dapatkan Ian?" tanya Julliane memastikan.


Ian membenarkan. "Seperti itulah kata informanku, Juli."


Julliane mendesah pelan. Pasukan siap tempur, pemasokan senjata dan baju zirah, prajurit bayaran yang direkrut dan banyaknya uang yang dikeluarkan demi perang, bukanlah kabar yang ingin Julliane dengar.


"Sudah kubilang, Pangeran satu ini tidak bisa diandalkan Kak Juli," celetuk Edgar yang berada di samping Julliane.


Sejak pernikahan Ellaine, Edgar terus mendampingi kakak pertamanya itu bila bertemu dengan Ian. Ia tidak ingin membiarkan Julliane berduaan dengan Ian, karena bisa saja Putra Mahkota Kerajaan Constain itu membawa pergi kakak pertamanya tanpa bilang-bilang.


"Memangnya kamu punya apa?" tanya Ian kesal.


"Putra Mahkota Kerajaan Lortamort sekarang sakit-sakitan. Sebentar lagi akan diadakan pemilihan Putra Mahkota lagi. Pangeran Beckett pasti akan kembali ke Kerajaannya," balas Edgar dengan bangga.


"Itu tidak membantu apa pun," kata Ian dengan ketus.


Edgar dan Ian bertatapan sengit. Di sisi lain, Julliane mengolah informasi yang di dapatkannya. Pasukan, Putra Mahkota yang sakit-sakitan, pemilihan Putra Mahkota, pertunangan.


Jangan-jangan...


"Kak Juli, ayo kita pulang saja, jangan dekat-dekat dengannya lagi." Edgar menarik lengan kanan Julliane.


"Jangan dengarkan dia, Juli," rengek Ian menarik tangan kiri Julliane.


"Kak Juli."


"Juli."


"Diam kalian berdua! Aku sedang berpikir!" teriak Julliane.


Kedua tangan yang mencengkeram tangan Julliane turun dengan cepat. Tatapan tajam Julliane tertuju pada Edgar.


"Kenapa kamu memusuhi Ian padahal dengan Carlos kamu biasa saja!" omel Julliane.


Edgar tertunduk pelan, tawa kecil keluar dari mulut Ian. 


Kekesalan Julliane belum berakhir, ia berpaling ke arah Ian. "Dan kamu, berhentilah bersikap seperti anak kecil, Ian! Umurmu lebih tua dari Ed, tetapi sifat kalian hampir sama!"


Tawa Ian pupus seketika berubah menjadi kekecewaan. Kedua lelaki itu terdiam menerima kemarahan Julliane. 


Julliane terengah-engah menenangkan diri. Kepalanya terasa pusing. Beberapa hari ini sakit kepalanya hilang timbul, hilang timbul tanpa alasan yang jelas. Ia tidak melewatkan jam makan, meski masih tertekan akibat pernikahannya yang semakin dekat.


"Kamu tidak apa-apa, Juli?" tanya Ian khawatir melihat raut muka Julliane berubah menahan sakit. Edgar pun ikut cemas mendadak kakaknya menekan pelipisnya.


"Tidak apa-apa, aku harus pulang menulis surat pada Beckett. Besok akan kuakhiri pertunanganku," jawab Julliane berusaha terlihat kuat.

__ADS_1


"Baiklah, istirahat saja di istana," pinta Ian. Edgar mengangguk berpikiran sama. 


Ian menuntun Julliane ke kereta kuda, menggenggam tangan putri pertama itu dengan erat. Matanya memancarkan sorot tidak ingin berpisah dengan pujaan hatinya itu. Namun, ia mampu memendam keegoisannya sementara waktu demi Julliane.


"Aku akan menunggumu kabar baikmu besok di sini, Juli," tegas Ian menatap lekat-lekat Julliane.


Julliane menyunggingkan senyum lelahnya. "Tenang saja, akan kupastikan pangeran satu itu tak berani ke sini lagi."


Tanpa peringatan ssebelumnya, sesuatu yang lembut mendarat di kening Julliane. Mata Julliane terbelalak, Ian mengecup dahinya. Rasa sakit kepalanya mulai menghilang digantikan dengan kekosongan.


"Besok akan kupastikan menempel di tempat lain," goda Ian.


Telinga Julliane memerah. Ia segera menaiki kereta kuda tanpa berkata apa pun. Edgar mengikuti Julliane seraya memperingatkan Ian dengan bahasa tubuh. 


Kereta kuda Julliane semakin menjauh. Ian terus memandanginya sembari terus tersenyum, tak sabar menanti hari esok. Ia berbalik, senyumnya berubah menjadi ketakutan. 


"Ayah, Ibu?" 


Raja yang semula berdiri di samping istrinya menghampiri Ian dengan penuh kemurkaan.


"Tindakanmu kali ini tidak mencerminkan perilaku Putra Mahkota, Ian!"


"Aku tahu kamu dimabuk cinta, tetapi tidak kusangka kamu berani-beraninya menipu Ayah dan Ibu, Ian," timpal Ratu.


"Tetapi itu sama sekali tidak membenarkan semua perbuatanmu!" Raja meninggikan suaranya. Ini pertama kalinya ia kecewa pada putranya itu.


"Tenangkan dirimu, Sayang. Kita pulang saja, termasuk dirimu, Ian," perintah Ratu.


"Tapi-" 


Raja menyela Ian penuh kekesalan. "Apalagi!"


"Sebelum pulang aku ingin bertemu Julliane terakhir kalinya. Aku janji tidak akan lari, Ayah dan Ibu boleh mengawasiku dari kejauhan," tegas Ian.


Raja dan Ratu saling berpandangan, lantas mengangguk bersamaan. 


"Baiklah," balas Ratu dingin.


Ian menghela napas lega walau hanya separuh. Di istana Kerajaan Constain ia akan dihujani ceramah selama beberapa hari. 


'Maaf Juli, aku tidak bisa menemuimu besok.'


***


Ian telah berada di gerbang istana menunggu Julliane datang. Ia memakai tudung agar tidak dikenali meski terlihat mencurigakan. Namun, yang datang malah seorang laki-laki berambut pirang, bermata hijau.

__ADS_1


Edgar menatap Ian penuh curiga. Begitu mendengar teman kakak pertamanya ingin bertemu dari penjaga gerbang istana, kekesalan Edgar timbul. Sudah tahu Julliane kelelahan malah ingin merusak waktu istirahat kakaknya. Edgar menemui Ian menggantikan kakaknya.


"Mau apa kamu kemari, Pangeran Ian?"


"Di mana Juli?"


"Dia sedang tidur. Urusanmu sudah selesai bukan? Sekarang pergilah." 


Ian berbalik ke arah kereta kuda ayah dan ibunya yang menunggu penuh kekesalan. Tak ingin menambah amarah mereka lagi karena terlalu lama, Ian segera menyampaikan keperluannya dan sepucuk surat diserahkan pada Edgar.


"Sampaikan pada Juli, besok tidak usah datang. Ayah dan ibuku kemari membawaku pulang. Sisanya ada di surat ini. Lalu jagalah Juli, selama aku tidak ada."


Edgar menyadari kesungguhan Ian. Pesan Ian diterima dengan baik dan akan tersampaikan pada Julliane.


"Baiklah, kali ini saja, ini demi Kak Juli bukan untukmu."


"Terima kasih, Edgar."


Ian menerawang ke istana Yuvinere, berharap bisa bertemu dengan Julliane lagi.


***


Julliane Yuvinere


Maaf aku harus pergi mendadak. Ayah dan Ibuku datang. Sepertinya kita harus menunggu lagi. Tetapi, kali ini rasanya akan sangat sulit. Kerinduanku semakin bertambah tiap kali kita berpisah, Juli.


Jadi daripada hatiku terus ingin berteriak. Akan kukatakan saja sekarang. Banyak sekali yang ingin kukatakan tetapi ayah dan ibuku menungguiku saat menulis surat ini. Satu kalimat saja cukup. Aku akan mengatakannya lagi saat bertemu denganmu. Bukan cuma saat itu saja, tetapi tiap hari. 


Aku mencintaimu Julliane.


^^^Orang yang mencintaimu.^^^


^^^Ian Constain.^^^


Sebulir air mata mengalir di pipi Julliane. 


Kenapa aku menangis? Seharusnya aku merasa senang bukan?


Tidak bisa melihat Ian dan dirinya akan digantikan oleh Julliane yang asli membuat hatinya tercabik-cabik. Orang yang akan mendengar ucapan cinta Ian tiap hari adalah Julliane yang asli. Orang yang akan hidup bersama Ian selamanya adalah Julliane yang asli. Tidak ada tempat untuk dirinya.


Pipi Julliane semakin basah, ia sesegukan. Ia terus memukul-mukul dadanya untuk membelenggu perasaannya yang meluap-lupa.


Denyutan di kepalanya tidak tertahankan. Dengan bersusah payah, Julliane menulis surat baru yang akan disampaikan bersama surat perpisahannya. Ia memeluk surat-surat itu dengan erat.


Maafkan aku Ian. Maafkan aku...

__ADS_1


__ADS_2