
Ian mengepalkan tangannya dengan erat. Baru ini saja Leroy memedulikan Julliane, lebih tepatnya Raja itu peduli saat putrinya tidak terkena kutukan. Orang tua yang mementingkan dirinya sendiri seperti Leroy tidak pantas disebut sebagai orang tua. Ian tidak mau Julliane hidup bersama orang tua seperti itu.
Ian hendak maju untuk melawan Leroy, tetapi dihadang oleh tangan Julliane. Julliane mengangguk memberi tanda menyerahkan masalah ini padanya. Menghargai keputusan kekasihnya, Ian pun mundur.
Julliane tersenyum tanpa rasa marah sedikit pun pada Leroy. "Aku tahu Ayah dan Ibu menyayangiku, buktinya aku masih diberi makan atau pun keperluan saat dikurung. Mungkin cara mengungkapkan kasih sayang Ayah dan Ibu berbeda dari orang tua lain, seperti membelikan barang-barang mewah, gaun mahal dan makanan enak. Bagi kalian itu semua cukup, tetapi kalian melupakan sesuatu yaitu rasa peduli."
"Kami juga peduli padamu, Julliane. Kami akan menyayangimu lebih dari sebelumnya, jadi jangan tinggalkan kami." Air mata Ophelia semakin mengalir deras.
Julliane menggeleng pelan. "Aku, Elle, dan Ed ditempatkan pada prioritas kedua setelah Kerajaan, itu tidak salah tetapi aku lebih memilih orang yang menempatkanku pada prioritas pertamanya. Maafkan aku, terima kasih untuk selama ini, Ayah, Ibu."
Pupus sudah harapan Leroy. Ia berniat membuka lembaran baru dengan lebih menyayangi anak-anaknya tetapi terlambat sudah. Tangannya merangkul Ophelia yang sama hancurnya dengannya.
"Aku akan mengunjungi Kerajaan Yuvinere sekali-sekali. Aku tidak akan pergi untuk selamanya." Julliane memeluk kedua orang tuanya untuk menenangkan mereka.
Ia mengedarkan pandangan ke arah Ellaine dan Edgar yang berlinang air mata. Dengan cepat ia merangkul keduanya.
"Aku akan merindukan kalian adik-adikku."
"Jaga diri baik-baik Kak Juli," ujar Ellaine membenamkan wajahnya ke bahu kakaknya.
Edgar membalas pelukan Julliane. "Aku juga akan merindukan Kak Juli."
"Kalian bisa mampir ke Kerajaan Constain kalau mau, tidak apa-apa bukan Ian?" Julliane menolehkan wajahnya ke arah Ian.
"Apa yang tidak untuk Putri Mahkotaku," balas Ian seraya tersenyum.
Edgar melepas pelukan Julliane lantas mendatangi Ian dengan menunjuk dadanya. "Jangan pernah sakiti Kak Juli lagi, kalau tidak kamu akan berurusan denganku."
Ian menepisnya menatap tajam Edgar. "Memangnya kamu sekuat apa berani menantangku seperti ini?"
Keduanya bertatapan sengit, tetapi segera dilerai Julliane sebelum terjadi keributan lebih lanjut. Julliane mengandeng Ian lantas berpamitan kepada semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
"Aku pergi dulu."
Sepasang kekasih ini melangkahkan kaki bersama menuju masa depan mereka. Leroy menatap punggung putrinya yang kini sudah dewasa dan berani menjalani kehidupan tanpa campur tangannya. Ia akan mendukung semua anak-anaknya, mulai dari hal kecil terlebih dahulu.
"Kalian naik apa ke Kerajaan Constain?" tanya Leroy.
Julliane dan Ian berbalik.
Ian membuka mulutnya. "Kami naik kuda, akan kupastikan putri Anda beristirahat selama di perjalanan, Yang Mulia."
Leroy mendekati mereka berdua menyentuh kedua bahu mereka. "Tidak perlu, akan kusiapkan kereta kuda untuk kalian. Julliane bawalah barang-barangmu ke sana."
Ian berpaling ke arah Julliane yang tersenyum ke arahnya. Hubungan mereka diterima Raja dan Ratu Yuvinere. Sekarang tinggal mencari restu dari kedua orang tua Ian.
***
Seminggu berlalu di Kerajaan Constain. Kedatangan Julliane dan Ian disambut dengan ramah oleh Raja dan Raty. Namun, itu hanya sebatas formalitas belaka. Tatapan menilai dari kedua orang tua Ian bisa dirasakan Julliane.
Di kamarnya, Julliane menekan kepalanya dengan kedua tangan. Kutukannya sudah terlepas tetapi masalah baru menimpanya. Ia tidak menyangka sikap Ibu Ian sangat memusuhinya. Meski Ratu menerima Julliane sebagai Putri Mahkota tetapi tidak sebagai calon menantu.
"Jalan yang benar!"
"Kalau makan harus tegak!"
"Beri salam tiap kali bertemu!"
Setiap teguran Ratu diterima dengan lapang dada, walau sebenarnya Ibu Ian satu itu hanya mencari-cari kesalahan Julliane.
Jadi ini yang dirasakan orang-orang yang tinggal bersama mertua.
Pandangan Julliane teralihkan karena suara bantingan pintu. Ian masuk penuh keceriaan seperti anak kecil. Ia duduk di samping Julliane seraya terus tersenyum kepadanya. Tangannya menunjuk ke bekas lukanya.
__ADS_1
Helaan napas panjang keluar dari mulut Julliane. "Pagi ini kamu sudah memintaku untuk meriasmu, sekarang lagi? Bukannya kamu bisa menutupinya sendiri, Ian?"
"Tanganku terluka karena berlatih pedang kemarin. Bila kulakukan sendiri hasilnya tidak memuaskan. Aku perlu bantuanmu, Olivia," pinta Ian dengan mata berkaca-kaca.
Itu semua bohong. Julliane pun tahu Ian hanya berpura-pura. Tetapi, tidak ada salahnya menghabiskan waktu dengan Ian.
"Baiklah, tutup matamu."
Ian menutup matanya. Julliane meraih penyamar lantas mengoleskannya pada bekas luka Ian.
"Apa yang kamu pikirkan, Olivia?" tanya Ian disela-sela dirinya masih dirias.
"Ibumu masih belum menerimaku." Julliane meratakan penyamar itu.
"Jangan khawatir, Ibu pasti akan menerimamu cepat atau lambat."
Bedak tabur disebarkan pada wajah Ian. Riasannya sudah selesai. Ian membuka matanya perlahan.
Wajahnya hanya berjarak beberapa centi dari wajah Julliane. Jantung Julliane berdegup kencang, meski hampir tiap hari bersama Ian, ia masih belum terbiasa.
Bibir Ian semakin mendekati bibir Julliane. Julliane menutup matanya seraya melingkarkan kedua lengannya di leher Ian. Mereka bisa merasakan kedua napas masing-masing dan...
"Kalian belum menikah! Tidak boleh berciuman!" seru Ibu Ian.
Sontak Ian dan Julliane menjauh. Ian menggerutu pada ibunya. "Ibu jangan menggangguku dengan Julliane terus."
"Ibu tidak ingin kamu tergoda pada gadis licik ini."
"Padahal Ibu mendukungku saat membawa Julliane ke sini."
"Itu karena nyawanya terancam, ibu masih belum merestui hubungan kalian," balas Ratu sambil berlalu.
__ADS_1
Ian dan Julliane saling berpandangan sambil mendesah berat. Mendapat restu dari orang tua yang pernah dikecewakan tidaklah mudah.