Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 28 Calon Putri Mahkota


__ADS_3

Kyler merasa ada yang salah dengan perutnya. Perutnya terus bergemuruh hingga ada sesuatu yang ingin keluar. Keringat dingin bercucuran. Ia berusaha menahannya tetapi tidak sanggup lagi. Menanyakan kamar kecil akan membuatnya dibilang aneh, tetapi bila harus menunggu sampai ke kediamannya pasti perutnya sudah mengeluarkan sesuatu yang ditahannya.


"Maaf apa saya bisa ke kamar kecil, Putri Ellaine?" tanyanya.


Ellaine mempersilakan Kyler sambil meminta pelayan mengantar tamunya. Begitu sampai di depan kamar kecil, Kyler bergegas masuk. Pelayan yang mengantarnya kebingungan dengan sikap Kyler.


Kyler membuka pintu menandakan urusannya sudah selesai tetapi perutnya terasa sakit lagi. Ia kembali ke dalam. Berulang kali ia keluar masuk ke kamar kecil. Pelayan yang mengantarnya sampai bosan. Ia akan berbincang-bincang tentang ini pada teman-temannya. Akan beredar desas-desus baru tentang Kyler. Duke Orsin mempunyai pencernaan yang buruk.


Julliane dan Ellaine pun sampai melupakan keberadaan Kyler. Mereka mengobrol sambil menghabiskan camilan. Julliane akan melindungi adiknya apa pun caranya. Pergi ke Kerajaan Constain urusan belakangan. Bisa-bisa adiknya direbut oleh salah satu ketiga kandidat tokoh utama.


***


Orang tua Ian mengharapkannya segera memilih Putri Mahkota. Namun, Ian tidak ingin menjadikan salah satu gadis-gadis di kerajaannya menjadi pasangannya. Hanya satu yang pantas bersanding dengan dirinya yaitu Julliane.


Surat Julliane yang Ian tunggu-tunggu telah datang. Ada dua surat. Ia membuka surat yang pertama. Isinya adalah Julliane akan mengusahakan datang ke kerajaan Constain. Ian tersenyum, tetapi senyumnya memudar begitu melihat surat kedua.


Ian Constain


Aku minta maaf tidak bisa datang ke Kerajaanmu secepatnya. Ada urusan yang harus kuselesaikan terlebih dahulu di kerajaanku. Banyak lelaki yang mendekati adikku. Aku akan menyingkirkan mereka semua terlebih dahulu, kemudian akan kukunjungi kerajaan Constain. Tunggulah aku.


^^^Temanmu^^^


^^^Julliane Yuvinere^^^


Ian mendesah pelan. Setidaknya, Julliane bersedia menemuinya meski tidak tahu kapan. Ia ingin membantu Julliane tetapi jarak yang memisahkan mereka berdua terlalu jauh.


Salah satu tangan Ian terangkat. Datanglah seseorang dengan pakaian serba hitam bersujud di hadapannya. Orang itu merupakan salah satu anggota pasukan rahasia kerajaan Constain yang biasanya dikerahkan untuk mematai-matai Kerajaan lain.


"Aku ingin kamu mengamati Putri Pertama Kerajaan Yuvinere, Julliane. Jika terjadi sesuatu padanya cepat laporkan padaku. Satu lagi jangan sampai ketahuan, Mikael" perintah Ian.


"Baik Yang Mulia." Mikael segera melaksanakan tugasnya.

__ADS_1


Ian merasa bersalah meminta anggota pasukan khusus memata-matai Julliane. Rasanya pekerjaan remeh seperti masalah cinta tidak sepantasnya dilakukan oleh pasukan khusus. Tetapi, pada masa-masa damai seperti ini pasukan khusus mengganggur. Berkat perintah Ian, orang tadi mempunyai pekerjaan.


Ian menuju ruang makan. Raja dan Ratu memandang putra mereka. Semenjak kembali dari Kerajaan Yuvinere, wajah putra mereka semakin cerah. Mereka bersyukur Ian berhasil membalas orang-orang yang menghinanya.


Namun, ada satu masalah lain yang menghampiri mereka. Para bangsawan mulai mendesak Putra Mahkota memiliki kekasih. Setelah memojokkan keluarga kerajaan untuk memilih Putra Mahkota, kini mereka mencari masalah lain. Ini membuat kepala Raja dan Ratu semakin pusing apalagi putra mereka tidak tertarik pada satu pun gadis bangsawan.


"Ian, bagaimana kalau kamu berkenalan terlebih dahulu dengan putri Duke X? Putrinya sangat cantik dan pintar. Kamu pasti menyukainya," ujar Ratu berusaha menyakinkan putranya.


Ian menggeleng pelan sambil menyantap makanannya. "Tidak perlu Ibu, aku tidak akan menyukainya."


"Ian, pikirkanlah terlebih dahulu. Sudah waktunya kamu memilih calon Putri Mahkota," ucap Raja menatap putranya lurus-lurus.


"Aku sudah punya calon, Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir." Ian meletakkan garpu dan pisaunya, menatap kedua orang tuanya.


"Siapa dia, Ian?" Ratu tersenyum gembira sekaligus penasaran.


"Julliane Yuvinere," ucap Ian dengan mantap.


Raja berusaha terlihat tenang. "Apa tidak ada calon lain, Ian?"


"Hanya dia satu-satunya orang yang pantas bersamaku, Ayah," tegas Ian.


"Ibu tahu kalau Julliane membantumu untuk membalas perbuatan orang-orang yang mempermalukan dirimu. Tetapi dia juga memiliki keuntungan dari membantumu. Bagaimana jika dia hanya memanfaatkanmu?" Ratu menatap Ian penuh kekhawatiran. Kata-katanya dipilih sedemian rupa agar Ian tidak sakit hati. Ia tahu kalau putranya mulai menyukai Julliane.


"Ayah dan Ibu masih tidak mempercayai Julliane. Jika kalian bertemu dengan Julliane secara langsung pasti tahu kalau dia sudah berubah." Ian terus menyakinkan orang tuanya.


"Baiklah, seandainya dia benar-benar berubah, bagaimana dengan keluarganya? Ayah masih tidak bisa menerima kelakuan mereka terhadapmu," protes Raja. Sakit hati yang ia terima saat Leroy memberikan uang, masih membekas. Apalagi putranya juga diusir dari pesta debutante.


"Ayah tidak perlu khawatir, keluarga Kerajaan Yuvinere akan menerimaku. Aku akan menyakinkan mereka."


"Kami akan memikirkannya setelah bertemu dengan Julliane, Ian," putus Raja.

__ADS_1


"Terima kasih, Ayah, Ibu."


Setidaknya kedua orang tuanya memberi Julliane kesempatan. Satu langkah awal yang bagus. Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara mendapat hati Julliane. Julliane terus menganggapnya sebagai teman. Ian tidak ingin menjadi sekadar teman, ia ingin menjadi kekasihnya.


***


Carlos mengayunkan pedangnya ke kayu latihan. Suara tabrakan kayu terdengar di lapangan latihan yang sepi. Kesatria yang lain masih tertidur, bukan karena malas. Carlos bangun lebih pagi untuk berlatih.


Tanpa Carlos sadari ada orang yang memperhatikannya dari tadi. Ellaine berada di kejauhan mengagumi kekerenan pengawalnya. Kejenuhannya karena bertemu dengan lelaki bangsawan luntur seketika.


Tak lama, Carlos merasa terganggu karena ada mata yang mengamatinya dari tadi. Ia menoleh untuk menangkap basah orang itu. Ellaine yang terpergok segera berbalik menuju kamarnya. Carlos bergegas mengejarnya. Tangannya berhasil meraih tangan Ellaine.


"Ada keperluan apa, Tuan Putri? Kenapa Anda kabur?" tanya Carlos.


Wajah Ellaine memerah, ia tidak berani menatap Carlos. Kepalanya menunduk sehingga Carlos tidak dapat melihat rasa malunya. Ia menyesali tindakan bodohnya tadi. Seharusnya ia dapat menunggu, lagipula mereka akan bertemu nanti. Hanya saja ia merindukan Carlos meski tiap hari menghabiskan waktu bersama.


"Aku hanya berkeliling saja. Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu di kamarku, jadi aku berbalik," ucap Ellaine berbohong. Ia terus menahan senyumnya agar tidak merekah. Tangan Carlos yang kasar dan hangat membuatnya nyaman.


Carlos sadar tangannya masih memegang Ellaine, ia segera melepasnya. "Maaf saya sudah lancang, Tuan Putri."


Sebenarnya ia tidak ingin melepasnya. Bersentuhan dengan tuannya adalah kejadian langka. Ia bisa menghitung berapa kali mereka bersentuhan dengan jari tangannya.


"Tidak apa-apa, Carlos." Ellaine kecewa Carlos dengan cepat melepas tangannya.


"Apa hari ini Anda akan bertemu dengan bangsawan lain, Tuan Putri?" Carlos memberanikan diri bertanya. Bukan cuma bertanya ia juga mempersiapkan diri agar tidak kecewa dengan jawaban yang akan didengarnya.


"Benar, tetapi aku bosan dan ingin kabur saja."


"Kalau begitu saya akan membawa kabur, Tuan Putri."


Ellaine mendongak. Ia mengangguk penuh semangat. Ia akan membuat kenangan indah dengan Carlos. Akan terus ia simpan dalam hati. Walau mungkin mereka tidak dapat bersatu.

__ADS_1


Mereka pun pergi tanpa seorang pun tahu. Tak tahu kecemasan Keluarga Kerajaan yang mencari hilangnya Ellaine.


__ADS_2