Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 60 Menjalani Hidup


__ADS_3

"Caranya adalah membaca buku yang dibuat Raja Roh berdasarkan ingatan di kehidupanku yang pertama. Buku itu tersebar ke alam lain untuk mencari orang yang iba padaku. Sebenarnya aku ingin semua ingatanku tertulis di buku itu tetapi Raja Roh perlu menghemat kekuatan sihirnya. Memindahkan jiwa memerlukan kekuatan sihir yang besar," lanjut Julliane.


"Kenapa tokoh utamanya Ellaine, bukan kamu Julliane?" tanya Olivia. Ia bingung seharusnya Julliane yang menjadi tokoh utama dalam Novel Bunga Istana karena orang-orang akan lebih bersimpati pada tokoh utama.


"Aku hanya ingin tahu apakah ada orang asing yang tulus peduli padaku di alam lain meski tahu aku hanyalah antagonis. Ditambah, aku merasa bersalah karena terus menyalahkan Ellaine atas penderitaanku. Aku hanya tenggelam dalam duniaku sendiri tanpa tahu penderitaan dan pengorbanan adikku.  Masalah keuangan Kerajan Yuvinere pun baru kuketahui di kehidupan keduaku."


Olivia mencerna semua informasi itu di kepalanya. Ia mulai mengerti alasan perbedaan sifat ketiga kandidat karakter utama di novel dan di kenyataan. Semuanya dalam sudut pandangan Julliane sendiri. Julliane mendengarnya dari orang lain tentang betapa baik dan hebatnya mereka, tak tahu sifat buruk yang dimiliki ketiga kandidat karakter utama. Ia baru mengetahuinya di kehidupan selanjutnya. 


"Sekarang sudah saatnya berpisah. Aku akan kembali ke tubuhku, Olivia," lanjut Julliane tersenyum sedih.


"Aku belum melepas kutukanmu," balas Olivia takut Julliane salah paham karena keberadaannya di sini diartikan kutukan Julliane berhasil dipatahkan.


"Aku tahu, perjuanganmu sudah kulihat selama aku di sini tadi. Ajalku sudah dekat, aku tidak bisa membiarkanmu menggantikanku. Akan kuterima nasibku dengan lapang dada, aku sudah menyerah. Kamu bisa menjalani kehidupanmu tanpa mengingat apa pun."


Olivia menundukkan kepala. Ia menyeka air matanya yang terus mengalir tanpa henti. Perasaan bersalah menjalari hatinya  "Maafkan aku, seharusnya aku lebih berguna. Tak seharusnya aku menunda-nunda mencari cinta sejati."


"Ini bukan salahmu, Olivia." Julliane menepuk-nepuk bahu Olivia.


Pandangan Olivia teralihkan pada ruangan alam semesta yang mulai runtuh. Ia mengira waktunya berpisah dengan Julliane semakin dekat.


"Apa kamu tidak ingin mencoba sekali lagi?" tanya Olivia meminta Julliane agar tidak menyerah pada takdir tragisnya.


Julliane tidak menjawab. Ia terpaku pada runtuhnya alam semesta yang digantikan oleh cahaya putih. Senyumnya merekah. Senyum bahagia untuk pertama kali selama hidupnya.


"Tidak perlu. Kamu berhasil mematahkan kutukanku Olivia."


"Tunggu bagaimana bisa?" tanya Olivia yang kebingungan.


"Ada lelaki yang tulus mencintaimu. Terima kasih, Olivia." Julliane memeluk Olivia dengan gembira. Ia menitikkan air mata bahagia.


Olivia pun membalasnya dengan tersenyum. Namun, senyumnya memudar seketika. "Apa aku harus kembali ke tubuhku yang asli sekarang?"


"Kamu tidak mau kembali?"

__ADS_1


"Aku betah tinggal di duniamu."


"Aku juga sama. Selama kamu berada di tubuhku, aku menjadi dirimu di duniamu. Rasanya sangat bebas tidak ada yang mengekangku. Kalau kamu ingin tinggal di tubuhku untuk selamanya akan kuminta pada Raja Roh. Semuanya terserah padamu Olivia, kamulah yang menyelamatkan hidupku."


Olivia pun mengangguk penuh semangat. Harapannya untuk tinggal selamanya di dunia Julliane akan terwujud. Ia tidak perlu berpisah dengan orang yang dicintainya lagi. Sekarang, tinggal menunggu Raja Roh. 


Begitu Raja Roh muncul, ia memeluk Julliane dengan erat seolah-olah lama tak berjumpa dengannya. Betapa terkejutnya Olivia melihat rupa Raja Roh. Tubuh mungil dengan rambut biru, sangat tidak asing.


"Tunggu, Raja Roh adalah dirimu Letta? Bukannya kamu anaknya?" tanya Olivia kebingungan.


"Aku tidak pernah membenarkannya. Itu hanyalah khayalanmu sendiri, Olivia. Roh tidak bisa mempunyai anak. Roh tercipta dari alam seperti tumbuhan atau pun benda mati yang mempunyai sihir." Letta merubah wujudnya menjadi manusia. Wanita dengan rambut biru panjang berdiri di samping Julliane.


Olivia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Letta buru-buru menjelaskan semuanya.


"Melihat orang lain menderita sama sekali tidak membuatku senang. Aku ingin kutukan yang kuberikan segera berakhir. Namun, yang bisa mematahkannya adalah anak terkutuk sendiri. Jadi aku berjanji padaku sendiri bila suatu hari ada anak terkutuk yang bisa memanggil roh, dengan senang dia akan kubantu. Tetapi tidak kusangka Juli bisa memanggilku, kukira dia hanya bisa memanggil roh biasa."


"Jadi kamu bisa membuatku tinggal di dunia Julliane selamanya? Kenapa tidak bilang dari awal?" gerutu Olivia. Ia merasa dibodohi selama ini.


"Di antara kalian berdua, aku terikat pada Juli, jadi sudah pasti aku ingin Juli tinggal bersamaku," balas Letta dengan nada mengejek.


"Kamu temanku, tetapi kamu berada di urutan ketiga. Urutan pertama dan kedua kamu bisa menebaknya."


Olivia mendengus kesal, tetapi tidak sepenuhnya menyalahkan Letta atas keputusannya. Mungkin ia akan merengek pada Letta agar dirinya bisa tinggal lebih lama dan malah akan membuat Raja Roh satu itu semakin bingung.


"Sudah, kalian bisa meneruskannya saat Olivia bangun di tubuhku nanti. Jangan membuat orang yang dicintai Olivia menunggu terlalu lama." Julliane terkekeh pelan, melihat kedua orang yang peduli padanya sangat dekat. 


Walau tidak ingin berpisah dengan temannya lagi, Letta terpaksa merelakannya. Ia ingin temannya bahagia setelah melihat kisah hidup menyedihkan Julliane selama ini. Ingatan-ingatan Letta di kehidupan-kehidupan sebelumnya membanjiri kepalanya saat menghilang di depan Ian. Raja Roh di kehidupan Julliane yang lalu mengerahkan sisa kekuatan sihirnya untuk memindahkan ingatannya ke dirinya di kehidupan Julliane selanjutnya. Ia ingin memastikan dirinya sendiri akan membantu Julliane saat ajal Julliane di depan mata, entah dengan mengulang waktu atau memindahkan jiwa Julliane ke alam lain.


"Jaga dirimu baik-baik Julliane." Letta menyeka air matanya.


"Tentu, terima kasih atas semua bantuanmu, Letta."


Letta mulai menggunakan sihirnya. Tubuh Julliane dan Olivia memudar. Mereka kembali ke tubuh yang diinginkan masing-masing. Keduanya saling tersenyum untuk menjalani kehidupan yang diimpi-impikan.

__ADS_1


"Terima kasih, Olivia. Aku akan hidup dengan baik," pamit Julliane.


"Jangan lupa jaga Ayah dan Ibuku dengan baik Julliane," balas Olivia.


"Tentu, mereka sangat baik padaku. Kamu juga baik-baiklah dengan keluargaku."


Tubuh mereka memudar sepenuhnya. Ruangan putih itu pun kosong ditinggalkan Letta yang kembali ke alam roh.


***


Olivia dalam tubuh Julliane membuka matanya perlahan. Kedepannya ia tetap dipanggil Julliane. Pemandangan kamar yang tidak asing, rasa sakit yang sudah hilang dan tubuhnya terasa ringan. Kutukannya benar-benar dipatahkan. 


Julliane bangkit, melihat Ian tertunduk di sampingnya sambil menangkup tangannya dengan erat. Matanya menangkap surat perpisahannya yang tergeletak di lantai. Tangannya pun mengelus-elus kepala Ian.


"Jadi kamu sudah membaca suratku, Ian," ucap Julliane lembut.


Ian mendongak ke arah Julliane. Wajah Julliane putih bersih tanpa ada tato kutukan. Satu kalimat itu bisa menjelaskan bahwa yang ada di depan matanya adalah orang yang dicintainya. Ia memeluk Julliane, tak mau melepasnya lagi.


"Jangan pernah tinggalkan aku lagi Olivia." Tangis bahagia Ian pecah.


Julliane pun berlinang air mata. "Iya, aku janji."


Ian melepas pelukannya perlahan. Ia menatap Julliane lekat-lekat seraya tersenyum. Napas Julliane bisa ia rasakan. Tak mampu menahannya lagi, Ian mencium Julliane dengan menggebu-gebu. Julliane menerimanya dengan kikuk karena pengetahuannya hanya sebatas melihat dari film romantis.


Ian terkekeh pelan seraya menyentuhkan dahi mereka. Lantas menatap Julliane dengan serius seraya menyeka air mata orang yang dicintainya.


"Tinggal-lah bersamaku di kerajaanku, Olivia. Aku ingin kamu menjadi Putri Mahkotaku. Di tempat ini kamu selalu dipandang sebelah mata, aku tidak mau kamu terus menderita."


"Baiklah, lagipula aku sudah berjanji akan bertemu dengan kedua orang tuamu," balas Julliane sambil mengelus pipi Ian yang basah. Jarinya menelusuri bekas luka Ian yang mulai terlihat. Ia tak peduli orang-orang menyebut Ian buruk rupa, baginya yang terpenting ia mencintai Ian.


Ian menggandeng Julliane keluar dari kamarnya. Langkah mereka terhenti karena bertemu dengan keluarga Kerajaan Yuvinere ditambah Carlos di luar istana selir.


Leroy tak mampu berkata-kata melihat putri pertamanya terbebas dari kutukan. Di sampingnya Ophelia menangis penuh kebahagiaan bersama Ellaine. Putranya ikut terbawa suasana walau menahan tangis.

__ADS_1


"Aku akan pergi ke Kerajaan Constain, Ayah, Ibu," ujar Julliane.


"Tidak! Aku tidak setuju!" teriak Leroy tak sanggup kehilangan putrinya lagi.


__ADS_2