
Jika begitu aku sama saja dengan orang-orang egois di dunia ini. Lagipula jodoh bisa datang kapan saja. Mungkin saja aku akan menemukannya selama perjodohan.
Julliane membuka matanya menatap orang yang dianggap ayahnya ini. "Tidak perlu, aku akan menikah, Ayah. Dengan syarat Ellaine tidak perlu menikah. Hanya saja aku perlu waktu mengenal pasanganku."
"Baiklah, perbaiki sikapmu Julliane. Jangan bertindak gegabah lagi, seperti menolak dan mempermalukan lelaki yang mendekatimu lagi." Leroy menepuk kedua bahu Julliane lalu melangkah keluar.
Suara pintu ditutup membuat Jullaine mengernyitkan dahi. Ia mengedarkan pandangan pada kamarnya. Kamar dan bangunan yang terlihat mewah ini hanyalah kepalsuan belaka.
Suara ketukan pintu terdengar untuk kedua kalinya. Ia bangkit dengan tidak semangat menuju pintu. Mata Julliane melebar melihat orang itu. Seorang kesatria memakai baju lengkap berdiri di depannya.
Ada keperluan apa pengawal Ellaine ke sini?
"Terima kasih karena telah menyelamatkan Tuan Putri Ellaine, Putri Julliane," ucap Carlos sambil menunduk.
"Bukan apa-apa. Lebih baik kamu kembali mengawal Ellaine. Apa ada keperluan lain?"
"Terima kasih karena mempercayai surat saya."
"Surat apa?" tanya Julliane kebingungan.
Perkiraan Carlos tentang kedatangan Julliane yang cepat karena suratnya adalah salah besar. Ia cepat-cepat meminta maaf. "Mungkin surat itu belum sampai kepada Anda, Putri Julliane. Surat itu tidak penting lagi Anda sudah berada di sini."
"Memangnya apa isi surat itu?"
Carlos menjelaskan rahasia dari ketiga kandidat tokoh utama. Sifat buruk mereka tidak pernah diceritakan di novel Bunga Istana. Hanya perhatian manis yang ditujukan pada Ellaine yang diceritakan.
Julliane tidak menyangka Kyler Orsin sampai menculik Ellaine demi mendapatkan hatinya. Demi dikira sebagai penyelamat ia melakukan hal semacam itu.
__ADS_1
Julliane mengamati Carlos. Di Novel pun Carlos hanya diceritakan sebagai pengawal baru Ellaine yang tidak mempunyai pengaruh besar dalam cerita. Tugasnya hanya melindungi Ellaine tidak lebih. Begitu pandangan Julliane mendarat di matanya, ia bisa merasakan kepedulian Carlos pada adiknya.
"Terima kasih, karena telah perhatian pada Ellaine. Aku tidak akan membiarkan mereka mengganggu Ellaine lagi." Julliane tersenyum ke arah Carlos.
"Terima kasih, Putri Julliane." Carlos menunduk lebih dalam lagi. Ia kembali melindungi tuannya.
Sudah jelas jodoh Ellaine bukanlah salah satu dari kandidat tokoh utama. Ngomong-ngomong soal jodoh.
Julliane kembali ke kamarnya. Laci dibuka daftar cinta sejatinya berada paling atas. Nama Ian Constain menarik perhatian matanya. Sebenarnya kata-kata yang dilontarkannya pada Ian tidak sepenuhnya benar. Ia berharap Ian menemuinya lagi untuk meminta maaf. Ia baru akan memaafkannya bila Ian memohon-mohon dan bersujud. Kata-kata Ian yang tidak pernah menganggapnya sebagai teman telah menorehkan luka di hatinya.
Namun, ia tidak yakin Ian akan datang ke Kerajaan Yuvinere lagi. Julliane pun tidak akan berkunjung ke Kerajaan Constain sebelum menerima permintaan maaf dari Ian. Hubungan mereka telah berakhir. Kertas itu dibuang ke perapiannya. Julliane menatap kertas yang perlahan menjadi abu itu, dengan tatapan sedih.
***
Julliane terus menyesap tehnya tanpa memandang lelaki yang ada di depannya. Ia terus menerus menghela napas panjang mendengar ocehan lelaki di depannya.
Bagaimana caranya aku bisa tertarik pada orang seperti ini? Kutarik lagi kata-kataku bahwa jodohku bisa kutemukan dengan perjodohan.
Aku harus melupakan lelaki yang tidak pernah menganggapku teman itu.
Julliane menyudahi pertemuannya dengan tamunya. Bersama lelaki lain malah mengingatkannya pada Ian.
Ia akan menyibukkan diri dengan melakukan hobinya. Merias diri sendiri sudah dilakukannya tiap hari, ia akan merias orang lain. Ada beberapa orang yang bisa dijadikan Julliane telah sampai di kamar Ellaine.
"Kenapa Kak Juli ke sini?" tanya Ellaine mengalihkan pandangan dari bukunya.
"Apa kamu mau dirias Elle?"
__ADS_1
"Aku sudah dirias Kak Juli."
"Kali bukan dengan pelayan, akulah yang akan meriasmu."
Ellaine tersenyum gembira. "Boleh saja."
Julliane segera membersihkan wajah Ellaine. Tangannya dengan terampil menabur bedak, menggambar alis, memberi perona pipi dan terakhir memoles lipstik di bibir adiknya.
Setelah selesai Julliane memperlihatkan hasil karyanya pada Ellaine. Ellaine membuka matanya takjub dengan riasan kakaknya.
"Kak Juli hebat. Aku terlihat lebih cantik dibandingkan dirias oleh pelayan. Jika pelayan-pelayan bisa merias seperti ini pasti akan hebat."
Julliane terpikirkan sesuatu setelah mendengar kalimat terakhir Ellaine.
Tidak ada salahnya mengajari orang lain merias. Akan kudapatkan uang untuk memulihkan keuangan kerajaan, jadi kami tidak perlu menikah.
***
Mikael dari tadi mengamati Julliane dari kejauhan. Gelagat Julliane yang tidak tertarik pada tamunya membuktikan bahwa Ian lebih hebat. Dukungan untuk hubungan antara tuannya dan Julliane sudah dilabuhkan sejak Mikael datang ke sini pertama kali. Hanya orang hebat yang bisa bersanding dengan tuannya.
Tamu itu berpamitan pada Julliane. Mikael bergegas menaiki kudanya yang diparkirkan di luar gerbang istana. Ia sudah tahu jalan yang akan dilalui tamu itu dan bergegas bersembunyi di pepohonan.
Kereta kuda tamu itu terlihat. Mikael memanah kereta kuda itu. Kusir menghentikan keretanya. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar mencari penyerang.
Pengawal lelaki yang berada di kereta kuda keluar menghunuskan pedangnya. Mikael menutupi wajahnya. Ia keluar dari persembunyian langsung memukul tengkuk pengawal itu hingga pingsan. Tak lupa juga kusir itu. Ia mendatangi tamu Julliane tadi. Lelaki itu gemetar ketakutan.
Mikael memperhatikan lelaki itu. Sama sekali tidak sebanding dengan tuannya. Ia menyeringai lebar. "Jangan pernah pergi ke istana lagi, kalau ingin nyawamu selamat."
__ADS_1
Lelaki itu mengangguk cepat. Nyawanya lebih penting daripada kekayaan yang akan didapatkannya apabila berpasangan dengan putri kerajaan.
Mikael meninggalkan lelaki itu kembali ke kudanya. Ada laporan yang harus didengar tuannya. Kekasih tuannya akan direbut orang lain, apabila tuannya tidak segera bergerak.