Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 37 Proses Baik


__ADS_3

Mata Ian menerawang ke depan. Padahal di depannya ada gadis cantik tetapi ia tidak tertarik. Semua ucapan gadis itu tak ada yang masuk ke otaknya. Ia terpaksa menemui gadis itu karena permintaan ibunya. Mencari calon Putri Mahkota sudah dilakukannya sejak kepergian Julliane. 


Wajah gadis itu berubah jadi Julliane. Tiap melihat seorang gadis ia masih memikirkan Julliane. Ian bangkit meninggalkan restoran. Gadis yang berbicara tadi ikut berdiri mengikuti Ian.


"Anda mau ke mana, Yang Mulia?"


"Maaf aku tidak bisa menemuimu lagi. Kamu bukanlah Calon tepat," ucap Ian dengan dingin.


Gadis itu menitikkan air mata. Ian sama sekali tidak terpengaruh dengan kesedihan gadis itu. Gadis yang cengeng bukanlah tipenya.


Ian kembali ke istana. Ibunya menanyainya macam-macam. Tentu saja begitu mendengar seorang gadis ditolak, ibunya mulai mengomel.


"Berapa gadis yang harus kamu temui lagi agar membuatmu melupakan Julliane, Ian?"


"Aku tidak tahu, Ibu. Biarkanlah aku sendiri," ucap Ian letih.


Ian pergi ke kamarnya, menatap langit-langit kamarnya. Otaknya tidak bisa melupakan Julliane. Seseorang memasuki kamarnya melalui jendela. 


"Kenapa kamu kemari, Mikael?"


"Saya mendapat kabar bahwa Putri Julliane mulai didekati oleh lelaki lagi, Yang Mulia."


"Apa?" teriak Ian.


Ian bangkit mengambil mantel untuk segera pergi. Begitu tersadar, mantel itu diletakkannya kembali ke lemari. Ia memalingkan wajah ke Mikael.


"Kenapa kamu masih mengawasinya, Mikael?"


"Saya tidak punya tugas jadi saya mencari tugas sendiri. Mengawasi Putri Julliane sangat menyenangkan," jawab Mikael jujur.


Ian mengangkat kedua tangan lalau mengayunkannya. "Maksudku kenapa kamu melanggar perintahku? Dan apa kenapa kamu sangat senang mengawasinya?"


"Saya tahu Yang Mulia merindukannya. Anda masih mencintainya, buktinya Anda cemburu. Saya mendukung hubungan Anda dan Putri Julliane. Jadi jangan menyerah mendapatkannya, Yang Mulia." Mikael tersenyum sambil menepuk kedua bahu tuannya.


"Dia tidak mau menemuiku lagi, Mikael." Ian merajuk. Wajahnya dipalingkan melihat ke jendela.


"Itu karena Yang Mulia sendiri yang mengatakan hal itu pertama kali."


"Sebenarnya siapa tuanmu?" Ian merasa kesal karena bawahannya membela Julliane.


"Anda adalah Tuan saya, tetapi pertengkaran Anda dengan Putri Julliane bukan salahnya."

__ADS_1


"Kamu menyalahkanku?"


Mikael mengangguk. "Yang Mulia terlalu keras kepala dan mudah tersulut. Mencintai seseorang bukan berarti memilikinya sepenuhnya. Terkadang kita harus melepasnya."


"Kamu seolah-olah pernah merasakan cinta saja."


"Tentu saja pernah bahkan berulang kali. Saya juga punya kekasih."


Ian bersendekap sambil mengetuk-ngetukkan jarinya. Ia menatap Mikael lekat-lekat.


"Apa aku masih punya kesempatan mendapatkan hati Julliane?"


"Tentu saja ada, Putri Julliane masih memikirkan Yang Mulia."


Mikael tersenyum puas sambil menceritakan rencana untuk membantu Tuannya untuk membuat Putri Julliane jatuh cinta.


***


Julliane berada di kamarnya memikirkan langkah selanjutnya. Sasaran yang cocok dalam bisnis agar mendapatkan keuntungan yang besar adalah orang kaya, dalam dunia ini adalah bangsawan. Seorang bangsawan pasti tidak terlalu ambil pusing untuk mengeluarkan uang banyak. Hanya saja masalahnya mereka tidak mau ambil pusing untuk merias diri sendiri. Mereka lebih memilih pelayan untuk merias.


Mengajari pelayan tentang merias memang bisa dilakukan hanya saja, mereka tidak mau mengeluarkan uang yang bisa membebani biaya hidup dengan belajar. Rakyat biasa pun sama, mereka tidak terlalu ambil pusing tentang kecantikan, tetapi ini bisa menjadikan mereka memiliki kemampuan agar dilirik oleh bangsawan menjadi pelayan yang bertugas sebagai perias. Dengan membuat sekolah Julliane bisa menjangkau orang lebih banyak tetapi menimbang keuntungan yang didapat tidak banyak, ia mengurungkan niatnya.


Ada satu cara yaitu meminta bangsawan membayar atas jasa Julliane untuk mengajari pelayannya. Ini cara paling menguntungkan.


Ia juga akan membuka jasanya pada hari-hari penting, seperti ulang tahun, pesta, dan pernikahan, sama seperti di kehidupannya di bumi sebagai Olivia. 


Langkah pertama mencari target. Ia sudah mendapatkan targetnya yaitu teman-teman Ellaine. Padahal ia sudah memperingatkan Ellaine untuk tidak berteman dengan mereka. Meski ia tidak menyukai mereka, tetapi gadis-gadis itu bisa menjadi sumber penghasilannya. Hubungan pribadi dan pekerjaan harus dibedakan.


Hari ini Julliane tiba di kediaman Mortis. Ia menemui Claire, gadis berambut cokelat yang datang ke istana saat pesta minum teh Ellaine. Julliane baru tahu namanya beberapa hari yang lalu dari Ellaine. Tentunya ia harus mengetahui nama targetnya terlebih dahulu.


Julliane disambut dengan ramah oleh Claire di taman kediamannya.


"Selamat datang, Putri Julliane. Mari diminum, teh ini berasal dari daerah kami. Teh ini sangat nikmat," ujar Claire basa-basi.


Julliane tersenyum sambil menyesap tehnya. Ia pun mengamati riasan dari Claire. Alisnya terlalu tebal, perona pipinya terlalu mencolok, warna bibirnya terlalu merah, Julliane menilai riasan ini 5 dari 10 poin.


"Terima kasih atas jamuannya, Claire. Kedatanganku kali ini ingin menawarkan bantuan atas riasan yang kamu kenakan," balas Julliane.


"Riasanku kenapa, Putri?"


Julliane menjelaskannya panjang lebar dan sehalus mungkin agar Claire tidak tersinggung. Namun, Claire bukanlah orang yang suka di kritik. Ia mengira bahwa Julliane mengejeknya. Claire berusaha tersenyum untuk menutupi kekesalannya. Di dalam hati ia ingin marah, tetapi ditahan karena Jullaine merupakan putri kerajaan. 

__ADS_1


"Baiklah apa yang Anda tawarkan, putri Julliane?"


"Aku akan mengajari pelayanmu untuk merias. Akan kucontohkan riasan yang bagus untukmu. Mereka bisa menirunya."


"Kurasa itu tidak perlu, Putri. Aku bisa memanggil pelayan baru."


Julliane sudah menduga kalau gadis bangsawan ini akan menolak maka rencana B dijalankan. Ia menoleh ke salah satu pelayan dan memanggilnya mendekat. Peralatan make up ia keluarkan dari kantong.


"Tutup matamu," perintah Julliane.


Pelayan itu menurutinya. Julliane pun meriasnya.


"Kenapa Putri Julliane merias pelayanku?" tanya Claire.


"Lihat saja hasilnya nanti kuharap kamu berubah pikiran," jawab Julliane penuh percaya diri.


Dengan lihai tangan Julliane meraih bermacam-macam peralatan kecantikan lalu membubuhkannya pada pelayan itu. Claire hanya berdiam diri menyaksikan putri satu ini merias. Setelah selesai, Julliane memperlihatkan hasil karyanya. Wajah pelayan itu terlihat cantik bahkan melebihi tuannya. Claire ternganga melihatnya.


"Bagaimana cara Putri melakukannya?"


"Kamu sudah melihatnya. Jadi apa kamu mau menerima tawaranku? Tentunya tidak gratis."


"Berapa pun bayarannya akan kuberikan, Putri Julliane."


Julliane menyeringai rencananya berhasil. Uang pertama yang dari jerih payahnya sendiri di dunia ini telah didapatkan.


***


Julliane kembali ke kamarnya. Matanya tertuju pada surat di mejanya. Dari logo tetesan lilin yang tertera, surat itu berasal dari Ian. Tangan Jullaine sudah bersiap untuk membuang surat itu perapian. Satu persatu jarinya ia lepas dari genggaman surat itu. Hanya tersisa jari telunjuk dan jari ibunya. Sebentar lagi surat itu akan dilalap api. Tangan Julliane gemetaran ragu-ragu.


Ia menjauhkan surat itu dari perapian lantas membukanya.


Julliane Yuvinere


Bagaimana kabarmu, Juli? Kuharap baik-baik saja. Aku pun baik-baik saja. Lupakan saja percakapan kita terakhir kali. Itu semua salahku. Aku minta maaf. Kuharap kamu memaafkanku.


^^^Ian Constain.^^^


Julliane berdecak kesal. Ia pun menyobek kertas itu menjadi serpihan kecil. Riasan wajah dihapusnya. Ia pun berbaring di kasurnya. Matanya terpejam tetapi ia tidak bisa tidur. 


Tubuhnya bangkit kembali ke meja. Ia meraih kertas dan pena. Lalu mencap suratnya dengan lelehan lilin.

__ADS_1


Ini bukan berarti aku memaafkanmu Ian Constain. Kata-kata saja tidak cukup.


__ADS_2