Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 58 Putus Asa


__ADS_3

Suara langkah kaki berderap-derap terdengar istana. Gadis berambut pirang dengan pakaian rakyat jelata memasuki istana tanpa dicegah oleh penjaga. Ia khawatir mendengar kabar kutukan kakaknya belum hilang dari adiknya.


Suara langkah kaki terhenti di perbatasan antara istana utama dan selir. Banyak kesatria yang menjaga tempat itu padahal sudah tertutup batu bata. 


"Cepat buka!" teriak Ellaine menitikkan air mata, tak habis pikir warga istana bisa sekejam itu pada kakaknya, hanya gara-gara sebuah kutukan.


"Maaf tidak bisa, Putri Ellaine," balas penjaga sambil menggeleng. Meski sudah membuang nama putrinya, Ellaine masih dipanggil putri karena sebagai penghormatan.


Tak mau menunggu lama, Ellaine segera menerobos, tetapi apalah daya kekuatannya tidak bisa mengalahkan penjaga-penjaga itu, tubuhnya terdorong mundur. 


Carlos dengan sigap, menopang tubuh istrinya. Ia siap bertarung melawan penjaga-penjaga itu demi Ellaine. 


Edgar yang melihat kedatangan kakak keduanya, segera menyusul. Ia mengeluarkan pedang dihunuskan pada penjaga-penjaga itu.


"Cepat minggir!" teriak Edgar.


"Maaf, ini perintah Raja, Pangeran."


Para penjaga dengan terpaksa melawan dua pemuda itu. Edgar dan Carlos kewalahan mengalahkan penjaga-penjaga itu, meski kemampuan mereka lebih unggul. Jumlah mereka timpang sebelah. Di sisi penjaga terdapat 10 orang sedangkan di sisi Ellaine hanya ada 2 orang. 


Edgar dan Carlos semakin terpojok. Ellaine berdoa mengharapkan bantuan segera datang. Dan permintaannya terkabul.


Ian bergegas menghampiri Ellaine yang tersingkirkan dari pertarungan. "Di mana Julliane?" 


"Kak Juli dikurung di istana selir, Pangeran Ian. Tolong selamatkan Kak Juli," pinta Ellaine, air matanya tidak terbendung.


"Aku akan menyelamatkannya," balas Ian berusaha menenangkan Ellaine walau hatinya hatinya juga gundah. 


Ian membantu Edgar dan Carlos mengalahkan para penjaga. Bantuan Ian dapat membalikkan keadaan dengan cepat. Penjaga-penjaga tersungkur di tanah menyisakan penghalang terakhir yaitu batu bata.

__ADS_1


Ian mengumpulkan kekuatannya meruntuhkan batu bata itu. Jalan terbuka lebar, ia bisa menemui Julliane.


"Mau apa kalian?!" teriak Leroy yang datang bersama dengan Ophelia.


Raja dan Ratu Yuvinere itu menatap keempat orang yang di depannya.


Sebelum ayahnya mengganggu, Edgar berseru pada Ian, "Cepat pergi!" 


Ian mengangguk bergegas mengejar cintanya. Urusan keluarga Kerajaan Yuvinere akan ia serahkan pada Edgar dan Ellaine.


"Apa kalian tahu, akibat dari perbuatan kalian?" tanya Leroy geram melihat anak-anaknya.


"Kenapa Ayah terus mengucilkan Kak Juli padahal dia tak salah apa-apa?" tanya Ellaine penuh kemarahan.


"Ini semua demi melindungi kalian dan Kerajan! Aku tidak ingin orang lain tertimpa atau kutukan!" Leroy memegang kedua lengan Ellaine dengan erat. Ellaine meringis, tetapi tangan yang menyakitinya itu segera ditepis Edgar.


"Kalian tidak mengerti, aku membuat pilihan sulit antara putri pertamaku atau kerajaan!" Leroy menitikkan air mata.


Ia lelah harus memilih antara anak-anaknya atau kepentingan kerajaan. Hatinya ingin memilih anaknya tetapi sebelum menjadi ayah, ia adalah Raja. Kewajiban Raja adalah mementingkan rakyatnya. Ia tahu, ia adalah ayah yang buruk tidak pernah menyayangi anak-anaknya sepenuh hati. 


Ophelia memeluk suaminya sembari menangis. "Sayang, kamu sudah berjuang keras. Sekali-kali turuti hatimu."


Leroy menangis tersedu-sedu. Ellaine dan Edgar terkejut melihat kerapuhan dari ayah mereka. Mereka menghampiri Leroy menambah pelukan untuk menenangkan sang Ayah. Tak ada yang ditutup-tutupi lagi, Keluarga itu mengeluarkan semua kesedihan masing-masing agar merasa lega.


***


Letta terkesiap mendengar bantingan pintu. Ian terengah-engah mendekati Julliane di kasur. 


"Bagaimana keadaan Juli?" tanya Ian. Ia menatap wajah pujaan hatinya yang dipenuhi oleh tato kutukan. Tangannya terkepal erat untuk menahan tangis.

__ADS_1


"Dia tidak sadarkan diri, tetapi masih bernapas." Letta menyeka air matanya. Ia merasa lebih tenang dengan adanya Ian, kutukan Julliane akan hilang.


"Bagaimana cara melepas kutukannya?"


"Pernyataan cinta dari cinta sejatinya. Hanya kamulah yang bisa menyelamatkannya, Ian."


Tangan Ian menyusuri tiap centi wajah Julliane. Ia mengelus-elus pipinya lantas menyentuhkan kedua dahi mereka. 


"Seharusnya kamu mengatakannya dari awal Juli. Aku akan menyatakan cintaku lebih cepat."


Napas Julliane semakin lemah. Tak mau lama-lama karena nyawa Julliane di ujung tanduk, Ian mengecup bibir Julliane. 


"Aku mencintaimu Julliane," aku Ian lirih.


'Dengan ini semuanya akan kembali seperti semula,' batin Ian


Ian menunggu reaksi dari Julliane. Tidak terjadi apa pun. Ia membuka mata, tato kutukan masih terpampang di wajah Julliane.


Ian menoleh ke ara Letta penuh kemarahan. "Kenapa tidak terjadi apa pun?!"


"Aku tidak tahu. Seharusnya kutukannya akan hilang setelah mendengar pernyataan cinta sejati," jawab Letta penuh kepanikan.


Ian mengecup bibir Julliane sekali lagi, ia terus menyatakan cintanya, tetapi kutukan Julliane masih terlihat. 


"Bangunlah, Juli! Bangun! Kumohon!" 


Letta menggeleng-gelengkan kepala tak percaya dengan apa yang terjadi. "Kenapa begini? Apa sudah terlambat?"


Keputusasaan di kamar Julliane semakin besar. Suara tangisan tidak berdaya terdengar nyaring.

__ADS_1


__ADS_2