
"Kami tidak tahu apa-apa, Yang Mulia," jawab Ian yang sedikit kesal karena dituduh sembarangan.
"Buktinya ada di depan mata. Orang ini adalah anak buahmu. Dia ditemukan tergeletak di daerah monster-monster itu muncul," balas Leroy dengan nada yang meninggi sambil menunjuk Mikael yang terkapar tak sadarkan diri.
"Itu tidak membuktikan apa pun, Yang Mulia. Bisa saja dia bertarung dengan monster itu lalu terluka." Ian terus membela anak buahnya. Mikael telah mengulur waktu selama mungkin tetapi malah dianggap penyebab monster muncul.
"Tetapi bisa saja itu rencana kalian. Kamu mengorbankan anak buahmu demi tidak dicurigai. Atau mungkin saja dia memang menggiring monster itu ke istana Yuvinere tetapi tidak bisa melarikan diri dengan benar," tambah Beckett.
"Kalau begitu untuk apa aku datang ke sini untuk membantu Kerajaan Yuvinere?"
"Tentu saja supaya dianggap sebagai pahlawan yang menyelamatkan orang-orang. Kerajaan Constain ingin Kerajaan Yuvinere berutang budi, padahal sebenarnya kalian mempunyai rencana lain." Kyler tak mau kalah menyampaikan pendapatnya.
"Jangan sembarang menuduh." Ian mengepalkan tangannya menahan amarah. Orang-orang di depannya ini mengkambing hitamkan dirinya.
"Temanku diserang oleh orang ini saat pulang dari istana. Bukan cuma temanku saja, tetapi bangsawan lain juga diserang. Apa Anda bisa menjelaskannya Pangeran?" Lionel ikut memojokkan Ian. Ia ingin membalas perbuatan Ian pada dirinya.
"Itu..." Ian tidak bisa menjawab. Mikael tidak menceritakan bantuan menyingkirkan lelaki yang mendekati Julliane.
"Aku pernah melihat orang ini mengendap-endap di istana selir. Saat kudekati, dia kabur." Edgar pun ikut mencurigai Ian.
"Jangan-jangan kamu ingin melukai Putri Julliane karena bekas lukamu itu?" ujar Beckett memprovokasi semua orang di sana.
Julliane yang dari tadi diam, menatap Ian. Ian menggeleng pelan sambil berusaha menggenggam tangan Julliane. "Itu tidak benar, Juli. Percayalah padaku."
Leroy menepis tangan Ian penuh amarah. "Pulanglah ke kerajaanmu! Aku berbaik hati tidak menyatakan perang pada Kerajaan Constain!"
Ian tersentak. Ia terus memandangi Julliane meminta kepercayaan. "Juli..." panggil Ian lirih.
Julliane berpaling ke arah Ayahnya. "Biar aku saja yang mengusirnya Ayah, banyak yang perlu dia jelaskan padaku." Lalu menatap Ian tajam.
Ian memejamkan matanya penuh kekecewaan. Harapannya berbaikan dengan Julliane berujung kacau. Malah hubungan mereka semakin buruk.
Meski enggan pergi, Ian tetap membawa Mikael menuju kuda yang diparkirkan di luar gerbang istana. Julliane mengikutinya dari belakang. Setelah menaikkan Mikael ke kudanya, Ian berbalik ke arah Julliane.
"Akan kujelaskan semuanya, Juli."
"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan Ian aku sudah tahu kebenarannya."
Dalam suara Julliane tidak menunjukkan kemarahan. Kebenaran yang ia ketahui bukanlah kebenaran semu yang dikatakan oleh ketiga kandidat tokoh utama, ayah dan adiknya.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Juli?"
"Letta yang memberitahuku kalau ada orang yang mengamatiku dari kejauhan. Dia menanyai orang itu macam-macam. Ternyata dia bawahanmu dan tidak berniat buruk. Bawahanmu tidak ingat apa pun karena ingatannya dihapus Letta."
Ian menghela napas lega. Setidaknya Julliane tidak salah paham padanya. "Jadi aku tetap diusir?"
"Aku masih marah padamu. Lagipula aku tidak dianggap sebagai teman, jadi buat apa repot-repot membantumu," jawab Julliane ketus.
"Aku tidak menganggapmu sebagai teman, karena kamu lebih dari itu, Juli." Ian menatap Julliane lekat-lekat sambil tersenyum.
Jantung Julliane berdegup kencang. Ia memunggungi Ian karena tahu apa yang dimaksud pangeran itu.
Ian melangkah hingga jarak di antara keduanya tersisa satu langkah. "Apa kamu sudah memaafkanku?"
Julliane menggeleng. "Masih belum."
Ian mendekatkan dirinya sekali lagi. Dadanya bersentuhan dengan punggung Julliane. Tangannya dilingkarkan pada perut Julliane. Napas Julliane tersekat. Kepalanya terasa kosong. Ia terus meyakinkan diri bahwa masih memusuhi Ian meski tubuh dan hatinya berkata lain.
Dengan lembut Ian berbisik di telinga Julliane. "Julliane, aku-"
"Kak Juli!" teriak Edgar.
Ian terkekeh. "Aku lebih kuat daripada adikmu."
"Kamu terluka, pasti mudah dikalahkan. Sudahlah, cepat pergi." Julliane terus mendorong Ian.
Ian menaiki kudanya tersenyum terakhir kali pada Julliane. "Kuharap kita bisa bertukar surat lagi, Juli. Kali ini lewat merpati."
"Terserahmu saja." Julliane berbalik mendekat suara adiknya.
Ian pun memacu kudanya. Ia semakin percaya diri akan hubungannya dengan Julliane, meski mungkin akan ditentang oleh kedua orang tua mereka.
***
Edgar terus meneriakkan nama Julliane. Firasar buruk menghampirinya. Kakak pertamanya tak kunjung kembali. Ia khawatir kalau Ian mencelakai kakaknya dan menyesal tidak mendampingi Julliane.
Saat keluar dari istana setelah bertemu dengan kakak keduanya, langkahnya terhenti karena melihat ayahnya dengan pangeran kerajaan lain dan dua bangsawan. Edgar menghampiri mereka dan menerima penjelasan bahwa kerajaan Constain berniat buruk dengan Kerajaan Yuvinere. Awalnya ia tidak percaya karena kakak pertamanya dekat dengan pangeran kerajaan Constain, tetapi begitu melihat wajah orang yang terluka tak sadarkan diri merupakan bawahan Ian, Edgar mulai mencurigai niat Ian.
Julliane berlarian menghampiri adiknya. Helaan napas lega terhembus dari mulut Edgar. "Kak Juli kenapa lama sekali?"
__ADS_1
"Banyak yang harus dia jelaskan, Ed," jawab Julliane berbohong.
"Kak Juli tidak mempercayai semua ucapannya bukan?" Edgar berkacak pinggang.
Kepala Julliane terasa pening. Tubuhnya hampir limbung jika Edgar tidak menopangnya.
"Kak Juli sudah bekerja keras, istirahat saja dulu," ucap Edgar khawatir.
"Baiklah Ed." Julliane dibantu Edgar berjalan ke kamarnya.
Istana Selir masih berdiri kokoh. Letta menunggu di istana selir dari tadi. Ia melindungi istana ini dari serangan-serangan monster setelah menghabisi monster di istana utama.
Letta mengambil alih tugas Edgar dari sini. Edgar pun membantu Ayahnya dalam mengatur kekacauan yang terjadi di istana.
"Kembalilah ke alammu, Letta. Kamu pasti lelah," kata Julliane yang merebahkan diri di kasur.
"Panggil aku lagi, kalau butuh bantuanku Jullaine," ujar Letta.
"Baiklah, terima kasih Letta."
Tubuh Letta melebur bersama udara. Julliane menatap langit-langit dengan banyak pikiran yang memenuhi kepalanya.
Dari mana mereka tahu istana diserang? Kenapa mereka tidak membantu jika sudah tahu? Ataukah semua itu rencana mereka?
***
Beckett menggeleng-gelengkan kepalanya yang pusing. Ada yang memukulnya tadi. Pandangannya gelap. Kepalanya tertutup kain. Tangan dan kakinya terikat. Ia berusaha melepaskan diri.
"Siapa kau? Apa maumu?" geram Beckett.
Tak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah suara langkah kaki mendekatinya. Kain penutup kepalanya dibuka. Beckett mengerjap-erjap karena cahaya memasuki matanya tiba-tiba. Ia menatap orang yang menculiknya. Putri Pertama Kerajaan Yuvinere.
Julliane menjauhinya, duduk dihadapan Beckett. Di belakangnya, keluarga kerajaan Yuvinere ikut menyaksikan hal ini.
"Apa maksud semua ini, Putri Julliane?" Beckett menatap Julliane tajam.
"Kurasa kalian tahu alasanku melakukan ini," jawab Julliane.
Beckett menengok ke kanan dan ke kiri. Kyler dan Lionel pun diikat di kursi sama seperti dirinya. Beckett menggertakkan giginya.
__ADS_1
"Nah, mari kita mulai pertunjukkannya," ujar Julliane sambil menyeringai.