Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 47 Keraguan


__ADS_3

Merpati mengetuk jendela kamar Julliane. Cepat-cepat Julliane membuka jendela dan membiarkan merpati itu bertengger di tangannya. Suara senandungan mengiringi surat yang dibuka dan dibaca.


Isinya tentang Ian yang akan datang ke Kerajaan Yuvinere untuk meluruskan kesalahpahaman tentang penyerangan monster. Keadaan bawahannya juga membaik dan ia minta maaf karena telah mengawasi Julliane diam-diam. 


Julliane senyum-senyum sendiri membaca surat itu.


"Sudahlah, jika menyukainya, minta saja dia menikahimu," celetuk Letta yang duduk di bahu Julliane.


Julliane berjengit. Mendapati temannya yang salah tingkah, Letta tersenyum penuh arti. 


"Tidak, aku masih belum memaafkannya," sangkal Julliane dengan wajah yang memerah. Meski mulutnya berkata tidak, hati dan tubuhnya berkata lain. 


"Jangan mengulur-ulur terus, atau jangan-jangan kamu tidak ingin kembali ke duniamu?" tanya Letta asal-asalan.


Pertanyaan Letta, menyentuh ketakutan hati Julliane. Bukan karena kehilangan teman atau pun kekasihnya lagi, melainkan tidak bisa bertemu dengan Ian untuk selamanya. 


"Apa aku tidak bisa tinggal di sini saja?" jawab Julliane lirih.


"Olivia..." Letta menatap nanar Julliane. Ia pun tidak ingin berpisah dengan teman barunya ini. Ia mendapat pelajaran bahwa tidak semua manusia bersifat buruk.


"Aku bercanda. Kamu pasti merindukan Julliane. Aku hanyalah penggantinya." Senyuman paksa tersungging di bibir Julliane, tak ingin roh satu itu sedih.


"Kalian berdua adalah temanku. Kamu pasti akan kurindukan. Aku tidak bisa memilih siapa yang lebih baik tinggal. Hanya ada satu yang pasti, patahkanlah kutukan agar kalian bisa hidup," tegas Letta sambil memeluk wajah Julliane.


Julliane memejamkan mata, merasakan kehangatan yang menjalari wajahnya.  Jarinya mengelus-elus rambut Letta. Ia akan merindukan keketusan dari roh satu itu. Ucapan Letta benar, ia harus hidup meski harus mengorbankan perasaannya sendiri. 


Merpati yang dilupakan mulai kesal, mengetuk tangan Julliane. Tersadar dari kesedihannya, Julliane membalas surat dari Ian bahwa semuanya sudah terkendali. Dalang dari penyerangan monster sudah ditangkap, menyisakan satu orang. Tak perlu khawatir, Julliane akan membalas orang itu menggantikan Ian.


Merasa belum cukup menulis, Julliane meraih kertas lain. Kali ini bukan untuk dikirimkan tetapi disimpan. Surat ini hanya boleh dibuka saat dirinya sudah kembali ke dunianya.

__ADS_1


***


"Siapa saja yang diundang ke ulang tahunmu, Elle?" tanya Julliane sambil memasukkan camilan ke mulutnya.


Julliane berada di kamar Ellaine, berbincang-bincang mengenai ulang tahun adiknya. Ia sudah tidak sabar menyaksikan pesta kali ini.


Di novel, ulang tahun Ellaine menjadi puncak acara sayembara. Pengumuman lelaki yang memenangkan hati putri ini menjadi hal yang ditunggu-tunggu pembaca. Banyak yang mengira bahwa Kyler akan menjadi pemenang karena penyelamat Ellaine. Namun, Beckettlah yang menjadi pemenang. Sikap lembut dan penuh perhatian dari Beckett meluluhkan hati Ellaine. Namun, kali ini akan berbeda.


Ellaine mengangkat bahu. "Aku tidak tahu, Kak Juli. Teman-temanku tidak membalas."


Julliane mengancam mereka supaya tidak datang. Ia tidak sudi adiknya berteman dengan orang-orang penuh tipu muslihat dan licik. Masalah Ellaine yang tidak diundang ke pesta Rebecca tidak pernah diceritakam Julliane. Ia tak tega melihat adiknya merasa sedih karena dikucilkan.


"Baguslah, lagipula mereka bukanlah teman baik," balas Julliane sinis.


"Ngomong-ngomong, Kak Juli akan meriasku bukan?"


Ellaine tersenyum, menutupi rasa bersalah karena menutupi sesuatu dari kakaknya. Apalah daya Leroy melarangnya memberitahukan pertunangan dengan Beckett sebelum ulang tahunnya berlangsung.


"Apakah Kak Juli masih merias gadis bangsawan lain?"


Mendengar keadaan keuangan kerajaan yang memburuk, Julliane melanjutkan jasa meriasnya. Banyak orang yang meminta jasanya, tetapi waktunya sangat berdekatan, jadi hanya beberapa saja yang disanggupi oleh Julliane. Uang mulai terkumpul kembali tetapi tidak secepat sebelumnya. Julliane baru akan menyerahkan uangnya pada Leroy setelah cukup banyak.


"Masih, tetapi orang tertentu saja, Elle. Jangan khawatir, aku tidak akan merias orang lain, saat ulang tahunmu."


"Terima kasih, Kak Juli."


Keheningan mulai menyergap ke percakapan mereka. Ellaine termenung memikirkan keadaan Carlos. Leroy mengetahui pertengkaran Carlos dan Beckett, hingga mengusir Carlos. Mungkin Beckett-lah yang mengadu. Semakin lama Ellaine semakin ragu akan tindakannya.


"Menurut Kak Juli, mana yang lebih penting kebahagiaan diri sendiri atau orang banyak?" tanya Ellaine.

__ADS_1


"Pertanyaan yang sulit. Bila mementingkan kebahagiaan diri sendiri, kadang kita dianggap egois. Di sisi lain, kita tidak bisa membuat semua orang bahagia. Terkadang kita sampai mengorbankan perasaan sendiri hingga menyiksa diri. Yang terpenting adalah ikuti kata hati, Elle. Semua pilihan ada risikonya. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?"


Julliane memicingkan mata. Gelagat adiknya sedikit aneh, sering terlihat sedih. Julliane menduga ketiadaan Carlos ambil bagian pada kesedihan adiknya. Hubungan mereka lebih dekat daripada di novel Bunga Istana. Carlos peduli pada Ellaine, dan Ellaine pun merasa kehilangan ketika Carlos tidak ada.


Jangan-jangan mereka....


"Hanya ingin tahu saja. Terima kasih Kak Juli."


Ellaine tahu kata hatinya dari awal, tetapi pikirannya terus menentang. Manakah akan ia pilih?


***


Carlos berada di rumahnya mempersiapkan diri untuk menyusup ke istana. Beberapa hari yang lalu, Leroy mendatangi Carlos langsung di kamarnya. Tujuannya adalah memecat pengawal Ellaine. Bukan karena kerja yang buruk atau kekurangan uang, ia hanya tidak ingin rencananya diganggu.


"Pulanglah ke kampung halamanmu." Leroy memberi sekantong uang pada Carlos.


Kecurigaan Carlos kepada Raja semakin besar. Perilaku Ellaine berubah semenjak Leroy datang. Keceriaan dan ketenangan yang selalu dirasakan Carlos ketika melihat Elliane berubah menjadi kesuraman. 


'Yang memaksa Tuan Putri bukanlah Pangeran Beckett, tetapi Ayahnya sendiri. Tidak mungkin Tuan Putri bersikeras membela orang jahat tanpa alasan jelas,' geram Carlos dalam hati.


Tak mampu menentang perintah Raja, Carlos pun mengemasi barang-barangnya terus diawasi hingga sampai di gerbang istana.


Carlos menatap istana yang megah, tetapi di dalamnya seperti sangkar yang mengurung burung cantik. Burung-burung itu harus berkicau sesuai perintah tuannya, jika tidak ia akan disakiti karena berani menentang orang yang memberinya makan. Carlos berjanji akan kembali untuk mengeluarkan Ellaine dari sangkar itu.


Sekarang, Carlos sudah berada di area istana. Bukan menemui Ellaine, tetapi Julliane. Ia membutuhkan bantuan dari putri pertama ini untuk menyakinkan Ellaine. Namun, seperti tahu akan kedatangan Carlos, Leroy menempatkan banyak penjaga di istana selir. Menerobos pun pernah dicobanya, tetapi begitu tertangkap penjaga-penjaga itu memukulinya hingga babak belur. 


Mengirim surat sudah dilakukan, tetapi tidak ada balasan. Bukan karena Julliane menolaknya, tetapi surat itu tidak pernah dibaca oleh kakak Elliane, bahkan tidak pernah disentuh atau tersampaikan. Pelayan-pelayan membuang surat dari Carlos atas perintah Raja.


Tak tahu harus bagaimana lagi, Carlos hanya bisa menunggu Julliane keluar istana agar mereka bisa bicara berdua. Sayangnya, hari itu tak kunjung datang hingga ulang tahun Ellaine makin dekat.

__ADS_1


__ADS_2