
Novel Bunga Istana Part Ulang Tahun Ellaine
Semua mata tertuju pada gadis dengan gaun hitam dan topeng yang menutupi seluruh wajahnya kecuali mata dan mulut. Tamu dalam pesta ulang tahun Ellaine segera menyingkir ketakutan pada Putri Terkutuk. Bisikan mereka terdengar hingga ke telinga Julliane.
"Mau apa dia kemari?"
"Kukira Putri Julliane tidak diundang."
"Dia pasti ingin mencari perhatian."
"Apa-apaan gaun hitam itu? Apa dia mau ke pemakaman?"
Ellaine mencengkeram lengan Beckett semakin erat. Tak ingin Ellaine merasa khawatir Beckett membalas mengelus-elus tangan Ellaine sambil tersenyum menenangkannya. Senyum Beckett pun hilang digantikan dengan kemarahan begitu melihat Julliane. Seorang pengganggu yang tidak diterima dan dibutuhkan seharusnya tidak perlu datang.
Langkah kaki Julliane terhenti, dihalangi oleh Kyler dan Lionel. Tak memedulikan kedua orang itu, Ia menunduk memberi salam pada adiknya dan Beckett.
"Selamat ulang tahun, adikku. Selamat atas pertunanganmu dengan Pangeran Beckett. Aku turut berbahagia."
Bisikan semakin terdengar keras hingga seperti gunjingan. Ellaine memejamkan mata tak sanggup mendengar ucapan-ucapan buruk tentang kakaknya. Ia ingin menutup telinga tetapi itu sama sekali tidak sopan.
"Terima kasih, Kak Julliane. Ada apa kakak datang ke sini?" tanya Ellaine membuka mata perlahan. Ucapannya sangat lembut tidak terlihat kebencian pada kakaknya.
Julliane berdecak kesal bahkan adiknya tidak menginginkan kehadirannya. "Apa aku tidak boleh datang? Mereka saja boleh," ketus Julliane.
Itu kesalahpahaman, Ellaine ingin kakaknya datang tetapi dia hanya akan dijadikan bualan oleh orang-orang. "Bukan-"
Beckett menyela dengan sinis, "Ellaine hanya ingin yang terbaik bagi pesta ulang tahunnya. Kamu tahu sendiri bahwa keberadaanmu akan mengundang kekacauan, Putri Julliane."
"Benar!" teriak semua orang.
Julliane mengedarkan pandangan penuh amarah. Sorot mata penuh kejijikan masih dilontarkan kepadanya, tanpa rasa belas kasih. "Kenapa aku selalu dikucilkan?"
"Apa aku salah untuk melihat adikku?" Suaranya semakin meninggi dan gemetar.
"Aku adalah manusia sama seperti kalian! Kenapa selalu diperlakukan berbeda?! Tak pernah sekalipun aku ingin dilahirkan seperti ini!" Teriakan Julliane memenuhi ruangan. Keheningan terjadi. Hanya terdengar hembusan dan helaan napas Julliane yang bersusah payah menenangkan diri. Ellaine berusaha menenangkan kakaknya tetapi Beckett menariknya.
Datanglah Raja dan Ratu yang semula berbincang-bincang dengan tamu di ruangan lain. Betapa terkejutnya mereka mendapati Julliane di tengah-tengah pesta. Amarah Raja memuncak karena putri pertamanya semakin sulit diatur.
"Kembalilah ke istana selir, Julliane!" teriak Raja mendekati Julliane.
__ADS_1
"Bahkan Ayah tidak menginginkan aku di sini," balas Julliane sinis.
Putri pertamanya semakin membangkang. Tangan Raja lebih cepat melayang dibandingkan kata-katanya. Topeng Julliane terlepas, menampakkan tato kutukan hampir memenuhi seluruh wajahnya. Teriakan terkesiap tertahan di mulut orang-orang. Ellaine menutup mulutnya yang terbuka lebar. Tak sanggup melihat wajah Julliane, Raja dan Ratu menoleh ke arah yang lain.
Mata tamu menusuk hati Julliane. Rasanya sangat sesak, ia tidak bisa bernapas di sini. Ia pun mengambil topengnya dan pergi meninggalkan pesta.
Raja menenangkan seluruh tamu undangan seolah-olah tadi hanyalah kekacauan biasa. Bintang dari pesta ini terlihat murung memikirkan kakaknya. Beckett mengalihkan pikiran Ellaine dari kekacauan yang dibuat Julliane. Pada akhirnya, semua orang bersenang-senang melupakan Sang Putri Terkutuk.
***
Masa kini
Julliane mengamati hiasan di aula pesta. Pesta ulang tahun Ellaine lebih megah dibandingkan pesta debutante. Padahal keuangan kerajaan memburuk tetapi malah mengeluarkan uang untuk hal tidak penting. Rasanya sia-sia saja Julliane bekerja keras tetapi uangnya dibuang dengan mudahnya.
"Kenapa Kak Elle lama sekali?" tanya Edgar sambil menyesap jus jeruknya. Baru tiga tahun lagi ia boleh meminum wine.
Ellaine belum hadir. Bintang utama hari ini datang terakhir untuk menambah rasa penasaran seluruh tamu. Julliane sudah datang tadi bersama dengan Edgar dan orang tuanya.
"Ini pesta ulang tahunnya, jadi dia harus ditunggu-tunggu," balas Julliane sedikit terkekeh.
Orang yang dibicarakan telah tiba. Ellaine bagaikan matahari bersinar cerah di siang hari, walau pun ini sebenarnya sudah malam. Tak ada yang mampu mengalihkan pandangan dari kecantikan putri kedua Kerajaan. Julliane bertepuk tangan penuh dengan bangga atas hasil kerja kerasnya dan kecantikan adiknya yang tak tertandingi. Tamu-tamu lain pun mengikutinya menyebabkan suasana pesta semakin meriah.
Mungkin gara-gara Carlos tidak ada di sini.
"Malam ini kami akan mengumumkan sesuatu."
Hati Julliane mencelus. Kata-kata ayahnya sama seperti di novel.
Tidak mungkin Raja bilang bahwa Ellaine akan bertunangan bukan? Ini hanya perasaan burukku saja. Lagipula Raja sudah berjanji tidak akan menikahkan Ellaine.
Namun, firasat Julliane benar.
"Putriku Ellaine akan bertunangan dengan Pangeran Beckett dari Kerajaan Lortamort," tegas Leroy diiringi tepuk tangan bangsawan yang hadir.
Kata-kata Leroy terngiang-ngiang di kepala Julliane. Ia berpandangan dengan Edgar yang sama kebingungan dengan dirinya.
Beckett melangkah di karpet merah penuh percaya diri. Ia menghampiri Ellaine dan mencium tangannya. Senyum Ellaine terus disunggingkan tanpa kebahagiaan di dalamnya. Beckett melirik ke arah Julliane menyeringai.
Julliane mengepalkan tangan ingin meneriaki ayahnya.
__ADS_1
Memangnya seberapa buruk keuangan kerajaan hingga dia mengorbankan putrinya, padahal aku sudah mengumpulkan uang, apa itu belum cukup? Kurasa tidak akan cukup jika keluarga kerajaan terus berfoya-foya seperti ini.
Ia pun teringat dengan pertanyaan Ellaine. Ellaine lebih memilih mengorbankan perasaannya seperti di novel untuk keluarganya. Kalau tahu seperti ini, ia akan menjawab lebih baik memikirkan kebahagiaan diri sendiri.
"Ed, sampai kapan pun jangan seperti Ayah," ucap Julliane.
Edgar ingin mengucapkan sesuatu tetapi kakaknya keburu pergi. Pandangan Edgar dialihkan pada kakak keduanya yang tersenyum paksa. Ulang tahun yang seharusnya penuh kebahagiaan malah menjadi hari terburuk yang pernah ada.
Julliane menuju istana selir dengan kaki berderap-derap. Ia berteriak sekencang-kencangnya di ruang tengah.
"RAJA BODOH!"
Jullaine mengatur napas, menyakinkan diri untuk tidak membenci ayahnya. Suara langkah kaki terdengar semakin mendekatinya. Kecemasan mulai merasuki Julliane.
Bagaimana kalau ada yang mendengar aku menghujat Raja? Padahal sudah kupastikan tidak ada yang mengikutiku.
Julliane berbalik, di depannya berdiri orang bertudung hitam. Ia mundur perlahan, bersikap waspada.
"Siapa kamu?" tanya Julliane bersiap-siap memanggil Letta.
Orang itu menyikap tudungnya. "Ini saya, Putri Julliane."
"Carlos?" Julliane menelengkan kepalanya kebingungan.
Penjagaan di istana diperketat pada daerah aula pesta. Jumlah pengawal hanya mencukupi menjaga gerbang istana dan aula pesta. Telah lama menunggu, baru kali ini ia berhasil masuk istana. Ia menyusup di salah satu bawah kereta kuda. Setelahnya ia mengendap-endap ke istana selir.
"Maafkan saya, mengejutkan Anda, Putri Julliane." Carlos menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu ke sini?"
"Saya mohon batalkan pertunangan antara Putri Ellaine dan Pangeran Beckett. Putri Ellaine tidak akan bahagia bersamanya." Tundukkan Carlos semakin dalam. Ia tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa lagi.
Julliane pun sudah tahu tentang itu. Ia pun ingin membatalkan pertunangan adiknya dan Beckett. Tetapi....
"Aku tidak bisa melakukannya, Carlos."
Carlos bersujud. Kepalanya ditundukkan menyentuh lantai. "Saya mohon, saya akan melakukan apa pun."
Julliane membantu Carlos untuk berdiri. Ia menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
"Hanya Ellaine dan Rajalah yang bisa membatalkannya," tegas Julliane.