Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 62 Hidup Berbahagia (End)


__ADS_3

Acara minum teh dihadiri oleh bangsawan-bangsawa kerajaan Constain. Ratu duduk di samping Julliane dengan terpaksa. Ia tidak ingin terlihat memusuhi Putri Mahkota dihadapan bangsawan lain. Dikarenakan untuk menghalangi desas-desus yang tidak mengenakkan tentang hubungan keluarga kerajaan.


Pembicaraan mengenai pergaulan kelas atas berjalan dengan lancar. Julliane mempelajari kondisi dan budaya Kerajaan Constain yang sedikit berbeda dengan Kerajaan Yuvinere. Di Kerajaan Constain perbedaan status tidak terlalu kentara, Ratu dan bangsawan lain bisa berbicara dengan santai tanpa memikirkan siapa yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi.


Aku lebih senang tinggal di sini, tetapi masalahnya adalah orang di sampingku.


Julliane melirik Ratu yang tertawa pelan mendengar lelucon dari salah satu bangsawan. Tidak pernah sekali pun Julliane melihat Ratu tersenyum ketika berduaan dengannya. Bahkan saat mengajari tata krama kerajaan, Ratu selalu bersikap tegas pada Julliane. Ini adalah pemandangan baru baginya.


"Ngomong-ngomong wajahmu terlihat lebih gendutan, Yang Mulia," celoteh salah satu bangsawan.


"Benarkah, kurasa aku harus diet lagi," balas Ratu seraya menutupi wajahnya dengan kipas.


Bangsawan-bangsawan itu lanjut membicarakan hal lain tanpa tahu perubahan raut muka Ratu yang berubah murung. Julliane yang duduk di samping Ratu tentu menyadarinya.


Memang kalau terlalu dekat, lelucon dan ucapan bisa menyakiti orang lain tanpa sadar. Tetapi dengan ini, aku tahu cara mendekatkan diri dengan Ibu Ian.


***


Sudah berbagai macam cara Ratu menerapkan program diet, tetapi wajah tembamnya masih terlihat. Lemak yang ada di tubuhnya mengumpul di pipi.


Ratu berusaha menahan diri tidak menghabiskan makanannya, walau perutnya masih lapar. Ia iri pada orang-orang yang ada di meja makan bisa menyantap makanan tanpa khawatir akan penampilan mereka.


Pelayan mengantar tambahan sajian di meja makan. Mata Ratu tertuju pada pelayan itu.


"Tunggu Ann, bagaimana caranya wajahmu terlihat tirus? Diet apa yang kamu lakukan?" tanya Ratu pada pelayan itu 


Pelayan itu menunduk. "Maaf saya tidak diet, Yang Mulia Ratu. Putri Mahkota Julliane yang merias saya."


Julliane yang membusungkan dada bangga. Ia melakukan hal ini agar diminta merias Ratu. 


Sayangnya, Ratu sudah menduganya, ia tidak mudah terbujuk dengan akal-akalan Julliane. "Begitu ya, kalau begitu aku akan berjuang agar dietku berhasil. Tak perlu mengandalkan riasan." Ratu memandang Julliane dengan sengit.


Sayangnya usaha diet Ratu gagal, malah ia jatuh sakit. Suami, putra dan calon menantunya menjenguknya setiap hari. Kali ini adalah giliran Julliane dan Ian. Biasanya Ratu diam saja saat dikunjungi Julliane, tetapi kini ia bersuara karena terus diceramahi anaknya.


"Sudah, sudah, Ian, Ibu tahu. Ibu tidak akan diet lagi," kata Ratu dengan tak bertenaga.


"Ibu selalu bilang begitu, tetapi nyatanya selalu diet. Padahal tahu sendiri kalau lambung Ibu tidak kuat kalau diet," omel Ian.


"Baiklah, kali ini sungguhan." Ratu benar-benar tidak bisa dari anaknya.

__ADS_1


"Baik, kupegang janji Ibu." Ian melirik ke arah Julliane.


Menyadari tanda Ian, Julliane bersuara. "Kalau Anda ingin terlihat kurus tanpa diet saya bisa membantu Anda, Yang Mulia Ratu."


Meski sebenarnya ingin menolak, tetapi menimbang berjuang diet dengan hasil membawa penyakit, pada akhirnya Ratu mengaku kalah.


"Besok datanglah ke kamarku. Akan kulihat hasil riasanmu."


Julliane menunduk sembari menahan senyumnya. "Baik, Yang Mulia Ratu." 


Ian ikut senang karena ibunya mulai membuka hatinya untuk Julliane. Tanpa dilihat pun, ia yakin ibunya akan menyukai hasil riasan Julliane. Masalah restu dapat teratasi.


"Baiklah, kami undur diri Ibu," pamit Ian. Julliane membungkuk memberi salam. Lantas cepat-cepat ia digandeng Ian keluar dari kamar Ratu, tak sabar menikmati waktu berduaan mereka. 


Mereka sampai di kamar Julliane, Ian segera memberikan sebuah batu pada Julliane. Putri Mahkota itu menelengkan kepala. "Batu apa ini?"


"Bayangkan wajah aslimu di duniamu, lalu tekan tombol di bawah batu ini," pinta Ian tanpa menjawab pertanyaan Julliane.


Gadis itu menurutinya. Ia membayangkan wajahnya sebagai Olivia. Rambut hitam, wajah oriental berkisar 30 tahunan dengan bibir mungil. Setelah selesai, Julliane menekan tombol di batu itu.


"Sudah, terus apa kegunaan batu ini?"


Ian terdiam, hanya menelusuri wajah Julliane. Senyumnya terus merekah, membuat Julliane semakin bertanya-bertanya.


"Jadi seperti ini wajah penyelamatku dan orang yang kucintai," gumam Ian masih mengangumi wajah Julliane.


Julliane menoleh ke arah cermin. Bayangan yang ditampilkan bukanlah wajah Julliane melainkan wajah Olivia. Ia berpaling ke Ian. Kini Putra Mahkota itu bersujud di depannya sembari membuka kotak berisi cincin. 


"Maukah kamu hidup bersamanya denganku, Olivia?"


Julliane mengangguk senang. "Tentu saja, Ian"


Ian menyematkan cincin itu ke jari kelingking Putri Mahkotanya. Sebuah kecupan segera mendarat ke bibir Julliane. Putri Mahkota satu itu membalasnya. Mereka saling mengucapkan kata ini di sela-sela ciuman mereka.


"Aku mencintaimu."


***


Satu bulan kemudian.

__ADS_1


Jantung Julliane bergemuruh, tangannya gemetaran. Ia tidak tahu kalau menjadi pengantin akan segugup ini. 


Sepertinya ini karma karena sering mengejek teman-temanku yang gugup.


Ia terperanjat, melihat Letta yang muncul tiba-tiba. Tangannya memegangi dadanya yang berdegup kencang akibat kegugupan dan kekagetan. 


Kini, Letta terkadang mengunjungi dunia manusia, walau kutukan Julliane berhasil dipatahkan. Ia berbincang-bincang dengan Julliane tentang hal remeh dan mendengar keluh kesah temannya satu itu dengan senang hati.


"Jangan segugup itu, ini hari bahagiamu," ujar Letta menyemangati Julliane.


"Mudah saja bilang begitu." 


Julliane mengalihkan pandangannya ke pintu yang terbuka pelan. Ellaine dan Carlos menghampirinya untuk mengucapkan selamat.


"Kak Juli cantik sekali," puji Ellaine.


Carlos pun membenarkan, tetapi semua pujian dari keduanya tidak mampu menghilangkan kegugupan Julliane. Adik perempuan Julliane itu sering mengirim surat. Ia bercerita sesekali mengunjungi istana untuk bertemu dengan keluarganya.


Leroy dan Ophelia terus membujuk Ellaine agar kembali ke istana dan mulai menerima Carlos sebagai menantunya. Namun, Ellaine bersikeras ingin tinggal di desa. Memang tinggal di istana sangat menyenangkan, tetapi kehidupan di desa yang damai membuatnya nyaman. Ia bisa mempelajari hal baru yang tidak pernah dipelajarinya di istana. Terlebih ia mendapat teman-teman baru yang menyayanginya.


Edgar, Leroy dan Ophelia memasuki ruang rias Julliane. Mereka melepas rindu sambil berpelukan. Edgar membantu Leroy untuk membangun Kerajaan. Keluarga Kerajaan Yuvinere mulai hidup sederhana dan Edgar memulai bisnis baru. Walau masih tahap awal, ia yakin bisnisnya akan berjalan lancar.


Utang Kerajaan Yuvinere sudah dibayar Julliane selama membuka jasa rias di Kerajaan Constain. Berkat Ratu yang membeberkan calon menantunya mempunyai bakat merias orang menjadi cantik, Julliane dibanjiri banyak pesanan atas jasanya. Mereka semakin dekat, sikap curiga Ratu telah hilang digantikan dengan dorongan meminta Julliane segera menikahi putranya.


"Selamat atas pernikahanmu, Julliane," ucap Ophelia.


Julliane mengangguk, meski pernikahan dan janji sucinya belum berlangsung. Leroy merangkul tangan Putrinya untuk bersiap-siap.


Mereka menempatkan diri di tempat masing-masing. Julliane merangkul lengan Leroy memasuki gereja. Semua mata tertuju kepadanya karena terlihat sangat cantik. Tak ada lagi yang namanya Putri terkutuk.


Langkahnya terhenti di depan calon suaminya. Julliane mendongak melihat wajah calon suaminya. Ian terus tersenyum menatap wajah Julliane yang terhalang kerudung putih terbuat dari kain tipis. 


Semua kegugupan yang dirasakan Julliane luntur seketika. Ia tidak memikirkan apa pun, hanya orang yang ada di depannya. Harapannya terwujud, untuk hidup bersama jodohnya.


Janji suci ditutup dengan ciuman dengan kedua mempelai. Suara tepuk tangan memenuhi gereja. Tangis bahagia dari keluarga kedua mempelai menghiasi ruangan.


Julliane dan Ian bertatapan sambil menyentuhkan dahi mereka. Senyuman tak luput dari bibir mereka. 


"Sampai maut memisahkan, Pangeranku."

__ADS_1


"Sampai maut memisahkan, Putriku."


Kehidupan bahagia yang tak luput dari masalah akan menanti mereka, tetapi keduanya yakin bisa melalui semuanya.


__ADS_2