Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 50 Selamat Tinggal Ellaine


__ADS_3

Carlos menelan ludah dan menggenggam tangan Ellaine lebih erat, tak ingin kekasihnya direbut. Meski terlihat kuat, tangannya gemetaran.


Orang yang digenggam, Ellaine, menyadarinya. Carlos telah mempertaruhkan segalanya dan Ellaine hanya terus menerima tanpa membalasnya. Kali ini ialah yang akan berjuang demi dirinya sendiri dan Carlos.


Julliane yang menyadari langkah kaki yang berhenti, menengok keluar. Ayah dan Ibunya berhasil luput dari pengawasannya, mungkin saat ia ke kamar Ellaine, Leroy dan Ophelia keluar gara-gara merasa ada yang tidak beres. Dari kamar mereka terlihat pengawal yang terkapar di tanah. 


Seharusnya aku berdiam di sini saja tadi.


Leroy melirik ke arah pegangan tangan Carlos dan Elllaine. Hal yang tak pantas di depan matanya berusaha disingkirkan. Dengan cepat ia melerai kedua tangan yang bertaut itu.


"Kelancangan macam apa ini?!" teriak Leroy ditujukan pada Carlos.


"Saya hanya ingin membawa Putri Ellaine dari sini," aku Carlos mengumpulkan keberanian.


"Apa hakmu membawa Ellaine dari sini?!" Leroy menunjuk wajah Carlos dengan murka.


Ophelia merangkul dan mengelus-elus Ellaine. Ia menganggap Carlos berusaha menculik putrinya dengan bersikap baik. "Tidak apa-apa, Ellaine. Sekarang kamu aman, kembalilah ke kamarmu."


Ellaine menggeleng pelan, ibunya telah salah paham. Ia sudah memantapkan hati untuk keluar dari istana dan pertunangannya dengan Beckett. "Tidak Ibu, aku akan pergi bersama Carlos," ucap Ellaine sambil melepas rangkulan ibunya.


Leroy menatap Ellaine tak percaya, lalu kembali menatap Carlos. "Orang ini pasti sudah mencuci otakmu!"


"Tidak ada yang dicuci otaknya, Ayah. Ini adalah keputusan Ellaine sendiri," bela Julliane.


"Kenapa kamu malah mendukung perbuatan mereka, Julliane? Kalian berdua tidak tahu betapa kejamnya hidup tanpa kemewahan!" seru Leroy pada kedua anaknya.


Leroy terus memberikan segala kebutuhan dan memenuhi keinginan anak-anaknya walupun terkadang mereka tidak banyak menuntut. Ia beranggapan bahwa uang dapat menyelesaikan segalanya. Kebahagiaan sama dengan uang, itulah yang selalu ditekankan oleh ayahnya.


"Aku lebih baik hidup sederhana, daripada menikahi Pangeran Beckett, Ayah," aku Ellaine.


"Jadi itu permasalahannya. Kamu tidak ingin menikah. Aku memang berniat membatalkan pertunangan kalian setelah seluruh uang Pangeran Beckett membantu keuangan Kerajaan, Ellaine. Kumohon bertahanlah sebentar lagi." Leroy putus asa menggengam kedua tangan Ellaine. Ia benar-benar tidak ingin Ellaine pergi.


Julliane berdecak kesal melihat ayahnya yang sangat menyedihkan dan egois. "Ayah mengorbankan anak sendiri hanya demi uang? Aku juga mempunyai penghasilan walau tidak banyak, jika berhemat pasti keuangan kerajaan akan membaik."


"Kalian tidak tahu apa-apa, bangsawan-bangsawan itu bisa mengendus kondisi kerajaan yang buruk lalu melakukan pemberontakan! Kalian juga akan kena akibatnya!"


"Itu hanyalah alasan ayah sendiri karena ingin hidup mewah!" sindir Julliane.

__ADS_1


"Hentikan!" teriak Ellaine.


Seluruh mata tertuju kepadanya. Ellaine menatap Ayah dan kakaknya bergantian.


"Berhentilah bertengkar. Aku sudah memutuskan akan keluar dari istana. Ini bukan karena aku membenci kalian. Aku menyanyangi ayah, ibu, Kak Juli, dan Ed. Hanya ini satu-satunya cara agar Pangeran Beckett tidak menikahiku."


Ellaine menatap Carlos dengan lembut. "Dan aku ingin hidup bersama dengan orang yang kucintai. Oleh karena itu, aku akan membuang gelar putriku," tegas Ellaine.


Leroy mundur perlahan sambil menggeleng-geleng. Ia tidak menyangka keputusan untuk menunangkan putrinya akan berakhir seperti ini. 


Ophelia menitikkan air mata harus berpisah dengan putrinya. Putri yang dikasihinya dan dibesarkannya dari kecil sekarang meninggalkannya.


Ellaine memeluk ibunya. "Aku akan mampir ke istana, jika ada waktu. Aku akan merindukan Ibu."


Ophelia menangis tersedu-sedu. Ia merasa menjadi ibu yang gagal. 


Ellaine berganti memeluk ayahnya. "Perbuatan ayah mementingkan kerajaan memang baik, hanya saja caranya yang salah. Aku tidak membenci Ayah karena berusaha mengorbankanku."


Leroy menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya. Ia tidak rela melepas putrinya, tetapi meskipun melarang, Ellaine tetap akan pergi.


Ellaine melepas pelukannya, menghampiri Julliane. Ia tersenyum pada kakak yang selalu membelanya ini. "Terima kasih karena selalu mendukungku Kak Juli. Aku akan bercerita tentang kehidupan baruku nanti. Kuharap Kak Juli mau mendengar ceritaku. Sampaikan permintaan maafku pada Ed, karena pergi tanpa bilang-bilang."


Ellaine menggandeng tangan Carlos,  mengedarkan pandangan pada keluarganya yang bersedih karena kepergiannya. "Terima kasih, Ayahanda, Ibunda dan Kakak. Aku akan hidup bahagia mulai sekarang."


Ellaine dan Carlos keluar dari istana. Julliane terpaku pada punggung adiknya yang semakin mengecil, tak sadar bahwa ayah dan ibunya sudah kembali ke kamar.


Ending bahagia dari Ellaine. Kali ini tinggal kisahku, apakah akan berakhir bahagia atau tidak?


Pipi Julliane mulai basah. Ia segera kembali ke kamarnya sebelum ada yang melihat riasannya luntur.


Kepalanya terasa pening sedikit, mungkin karena terlalu kelelahan. Ia membawakan minum semua pengawal yang telah dicampurkan obat tidur. Ditambah ia bertengkar dengan Leroy. Tetapi itu semua sebanding dengan hasilnya.


Julliane menghapus riasannya lalu tertidur pulas. Namun, tato di wajahnya merambat hampir mencapai bibirnya.


***


Julliane Yuvinere

__ADS_1


Terima kasih karena telah membantuku. Sebenarnya, aku ingin mengunjungimu tetapi Ayah dan Ibuku melarang. Akan kuyakinkan mereka bahwa kesalahpahaman yang terjadi telah berakhir, para pelaku pun sudah menerima ganjarannya. Setelah itu aku akan menemuimu menuntaskan kata-kataku waktu itu, Juli. 


Ngomong-ngomong apa terjadi sesuatu di sana? Bawahanku tidak lagi mengawasimu, jadi aku tidak tahu keadaanmu. Lalu apa kamu sudah memaafkanku? Kuharap iya.


^^^Ian Constain^^^


Ini surat terpanjang yang pernah Ian buat. Julliane membalas surat Ian dengan bercerita tentang Ellaine yang melepas gelar Putrinya dan hidup bahagia sekarang. Lalu, menambahkan bahwa ia masih belum memaafkan Ian. 


Suara ketukan pintu terdengar. Seorang pelayan masuk sambil menunduk. Julliane segera menerbangkan merpati pembawa suratnya. Ia menoleh ke arah pelayan itu.


"Maaf, Tuan Putri. Anda ada tamu."


"Siapa?" Julliane merasa tidak punya janji hari ini.


"Pangeran Beckett."


Julliane mendengus kesal. "Baiklah, antar aku ke tempatnya."


Ia akan memberi perhitungan kepada Beckett hingga tidak mau ke Kerajaan Yuvinere lagi. Semua ancaman yang ia lancarkan selama ini dirasa hanyalah ancaman kosong. Kini ia akan bersungguh-sungguh mengusir pangeran itu sendiri.


Beckett menunggu di taman istana selir, tersenyum penuh tipu muslihat melihat Julliane yang menghampirinya. 


"Mau apa, kamu kemari?" tanya Julliane tanpa basa-basi.


"Tentu saja untuk menemuimu, Putri Julliane."


"Kita tidak punya hubungan apa-apa dan adikku sudah membatalkan pertunangannya denganmu. Keperluanmu di sini sudah selesai, kembalilah ke kerajaanmu, Pangeran Beckett."


"Bagaimana kalau aku tidak mau?" tantang Beckett, menyeringai miring.


"Haruskah aku benar-benar mengutukmu?" ancam Julliane.


"Kamu tidak punya pilihan lain selain bertunangan dan menikahiku, Putri Julliane."


Tak mampu lagi berduaan dengan Beckett, Julliane memanggil Letta. Roh satu ini kebingungan karena sepertinya tidak ada masalah penting di sini. Ia menatap tajam orang yang memanggilnya. Julliane menghiraukannya, karena ingin terlihat serius menghadapi Beckett.


"Letta, kutuk-"

__ADS_1


Beckett memotong perkataan Julliane, tanpa rasa takut. "Kalau kamu mengutukku, Kerajaan Lortamort akan menyerang Kerajan Yuvinere, Putri Julliane. Meskipun, kamu tidak mengutukku kami akan tetap menyerang. Kalian telah melanggar membatalkan pertunangan tanpa alasan yang jelas. Akan kuberi cara agar Kerajaan Lortamort memaafkan kalian. Menikahlah denganku Putri Julliane."


__ADS_2