
Ellaine bangkit dari kursinya mengikuti Edgar. Beckett mengekor di belakang Ellaine. Mereka menuju istana selir sampai ke ruang tamu. Julliane duduk sambil memegangi lututnya yang terluka. Kulitnya terkoyak mengeluarkan warna merah.
"Bagaimana Kak Juli bisa begini?" tanya Ellaine penuh kekhawatiran.
"Aku terjatuh lalu Ed menemukanku. Dia menuntunku ke sini," ucap Julliane sambil meringis kesakitan.
Ellaine tidak akan meninggalkan kakaknya yang kesakitan seperti ini. Teringat bahwa ia sedang ada tamu, tidak perlu bingung Ellaine sudah membulatkan keputusannya. Ia berbalik menghadap Beckett.
"Maafkan saya, Pangeran Beckett. Saya tidak bisa menemani Anda lagi. Hari ini kita sudahi saja sampai di sini saja."
Beckett tersenyum ke arah Ellaine. "Baiklah, saya undur diri dulu, Putri Ellaine."
Setelah memberi salam kepada keluarga kerajaan Yuvinere yang lain, Beckett meninggalkan ketiga saudara itu sendirian.
"Ed, cepat panggilkan dokter," perintah Ellaine terlihat panik.
Edgar mengangguk. Ketika hampir sampai di depan pintu langkahnya terhenti. "Tunggu tidak perlu," teriak Julliane.
"Bagaimana kalau luka ini membekas Kak Juli?" tanya Elliane meringis melihat luka kakaknya. Ia tidak sanggup menatapnya lama-lama karena terasa menyakitkan.
Julliane bangkit berdiri, berjalan seperti tidak terjadi apa pun pada kakinya. Ia meraih peralatan kecantikan meletakkannya pada meja di depan tempat duduknya lagi. Tangannya menarik lukanya hingga terlepas. Lantas membersihkan kulitnya. Tak ada satu pun luka yang tergores di kulit Julliane.
Ellaine yang berada di dekatnya tertegun. Sedangkan Edgar menghampiri Julliane dan mencerna apa yang sedang terjadi.
"Tunggu dulu Kak Juli tidak terluka?" tanya Edgar yang kebingungan.
Julliane menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Kenapa Kak Juli melakukan ini?" Ellaine tidak mau kalah melontarkan pertanyaan pada kakaknya.
"Aku ingin menjauhkanmu dari Beckett, Elle."
__ADS_1
"Setidaknya Kak Juli seharusnya memberitahuku terlebih dahulu," protes Edgar.
"Aku harus menipu adikku sendiri agar bisa menipu orang lain." Julliane terkekeh pelan.
Edgar dan Ellaine bernapas lega.
"Bagaimana cara Kak Juli melakukannya?" tanya Ellaine penasaran.
Julliane menyodorkan peralatan kecantikannya pada adik-adiknya. Sebelumnya, ia menciptakan luka palsu dengan peralatan kecantikannya. Ia membubuhkan lateks cair pada lututnya. Lantas menyamarkan perbedaan warna lateks itu dengan kulitnya menggunakan alas bedak. Ia menaburkan dan meratakan bedak. Julliane menggunting lateks yang mulai mengeras, hingga menyerupai sayatan luka. Tak lupa, Julliane mewarnai luka palsunya itu dengan perona mata berwarna merah dari yang gelap hingga terang. Sebagai sentuhan terakhir, ia menambahkan perasan tomat sebagai pengganti darah palsu yang tidak bisa dibuat karena waktu yang sedikit.
"Hebat sekali rasanya seperti sihir," kata Edgar terkagum-kagum.
"Benar aku sama sekali tidak menduganya, Kak Juli belajar dari mana?" tanya Ellaine yang terheran-heran.
"Aku mempelajarinya dari buku lalu mempraktikannya sendiri," ucap Julliane menatap kedua adik-adiknya agar tidak ketahuan berbohong.
"Terima kasih, Kak Juli." Ellaine menggenggam erat tangan kakaknya.
Ellaine menutup mulutnya rapat-rapat. Percakapannya dengan ayahnya adalah sebuah rahasia. Keadaan Kerajaan yang memburuk tidak perlu diketahui oleh banyak orang. Memang kakak dan adiknya merupakan keluarga kerajaan juga, tetapi pastinya ayahnya tidak ingin membuat mereka berdua terbebani sehingga meminta bantuan Ellaine.
Terlebih, Ellaine tidak ingin kakaknya merasa bersalah karena menolak orang-orang berpengaruh seperti Pangeran Beckett, Duke Orsin dan Lionel Crowley. Ia akan memendamnya sendirian.
"Aku hanya tidak tega untuk menolak kedatangan tamu, Kak Juli." Ellaine menunduk tidak berani menatap kakaknya.
"Jangan menjadi orang yang terlalu baik, Elle. Pikirkan perasaanmu sendiri juga." Julliane mengelus-elus tangan adiknya.
Ellaine mendongak berusaha tersenyum ke arah Julliane. "Baik, Kak Juli."
***
Julliane akhirnya mendapat kabar dari Ian. Ian telah menjadi Putra Mahkota, ia sangat sibuk hingga baru mengirim surat pada Julliane. Ian berharap Julliane dapat datang ke kerajaannya dan menunjukkan keindahan alam di sana.
__ADS_1
Julliane tersenyum membalas surat Ian. Ia akan menyakinkan orang tuanya terlebih dahulu. Akan sulit mendapat persetujuan mereka karena hubungan kedua Kerajaan yang buruk. Namun, Julliane akan berusaha. Ian pun sudah berkunjung ke Kerajaan Yuvinere meski tahu akan ditentang oleh kedua orang tuanya.
Julliane menuju ke istana utama meminta salah satu pelayan mengirimkan suratnya. Ia menerima sesuatu dari pelayan itu. Kemudian ia segera menuju taman istana utama untuk melihat lelaki yang bertemu dengan adik perempuannya tercinta. Julliane mengamati dari semak-semak. Ia mengenali tamu itu. Kyler Orsin.
Kenapa begitu kutolak semuanya mendekati Ellaine? Rasanya novel ini mulai kembali ke jalurnya.
Kyler terus mengeraskan mukanya selama berada di istana. Pelayan-pelayan di istana saling berbisik melihat sosok penakut berjalan melewati mereka. Kyler dapat mendengar bisikan mereka melotot untuk menakut-nakuti. Tetapi pelayan-pelayan itu malah tertawa semakin keras. Kyler yang merasa malu segera duduk di kursi taman menunggu Ellaine. Citra yang dibangunnya telah hancur, tetapi ia masih memiliki kesempatan untuk mendekati putri kedua kerajaan. Gelarnya sebagai Duke menguntungkan dirinya.
Ellaine telah datang menempatkan diri. Tangannya gemetar karena harus bersama orang yang pernah hendak melukainya. Namun, ia terus menguatkan diri dalam hati untuk bertahan.
Carlos mengepalkan tangan erat di punggunggnya. Ia ingin membawa tuannya keluar dari situasi yang pelik ini. Tidak mungkin Ellaine mau menemui Kyler bila tidak terpaksa. Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Bila menentang seorang Duke ia akan terkena akibatnya. Parahnya pekerjaan sebagai pengawal akan dicabut.
Yang ditakutkan Carlos bukanlah tentang pekerjaannya, tetapi karena tidak lagi berada di sisi Ellaine lagi. Kemarin pun, ia menahan kecemburuannya pada Beckett. Ia tidak ingin melihat kemesraan Ellaine dengan orang lain sehingga memalingkan wajahnya.
Julliane memutar otak untuk mengeluarkan adiknya dari pertemuannya dengan Kyler. Memalsukan lukanya tidak akan berhasil lagi. Kyler bukanlah orang bersimpati pada kemalangan orang lain. Ia akan bersikeras menghabiskan waktu dengan Ellaine.
Julliane pun melepas genggaman tangannya. Di telapak tangannya terdapat serbuk putih. Lebih tepatnya obat pencahar. Kemarin ia meminta pelayan membeli obat ini untuk mengerjai orang yang menemui adiknya.
Sekarang ia akan melancarkan aksinya. Julliane keluar dari persembunyiannya, menghampiri Ellaine dan Kyler. Ia memberi salam kepada Kyler. Duke satu ini tidak menanggapi Julliane.
Habis manis sepah dibuang. Setelah tidak membutuhkanku dia mencari orang lain. Orang ini sama sekali tidak tulus pada Ellaine.
Julliane menyunggingkan senyum palsu. "Sepertinya Anda mengalami hari yang berat, Duke. Pelayan-pelayan membicarakan Anda tadi," ucap Jullaine dengan nada mengejek.
Kyler segera berdiri menatap Julliane dengan tajam. Ellaine pun ikut berdiri menghampiri kakaknya, takut Kyler akan berbuat macam-macam.
Tangan Julliane segera menaburkan obat pencahar pada minuman Kyler. Tidak ada yang menyadari perbuatannya. Pandangan orang-orang yang berada di sana tertuju pada Kyler dan dirinya.
"Berhentilah menghinaku, Putri Julliane," ucap Kyler dengan geram.
Julliane menepuk-nepuk bahu Kyler. "Saya tidak menghina Anda. Saya hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Sebaiknya Anda minum terlebih dahulu untuk menenangkan diri, Duke."
__ADS_1
Kyler duduk meminum tehnya tanpa tahu apa yang ada di dalamnya. Julliane menyeringai menunggu obat itu bereaksi.