
Undangan Julliane tersampaikan dengan baik. Dengan kepercayaan diri penuh, Beckett datang ke istana tanpa tahu bahwa dirinya akan ditolak. Ia akan meminta Julliane mengumumkan pernikahan mereka yang berlangsung sehari lagi. Memang terlalu dekat dan kemungkinan besar sedikit yang datang, tetapi yang terpenting bagi Beckett adalah dia bisa menikahi Julliane.
Beckett duduk di taman istana selir sembari menyunggingkan senyum penuh kemenangan. "Jadi apa yang ingin kamu sampaikan Putri Julliane?"
"Kita batalkan saja pertunangan ini, Pangeran Beckett," jawab Julliane tanpa basa-basi.
Tawa jahat keluar dari mulut Beckett, Julliane menatapnya tanpa ekspresi. "Hahaha, kamu egois sekali Putri. Kamu mengobarkan kerajaanmu demi kepentinganmu sendiri."
"Tidak ada yang perlu kukorbankan. Aku punya cara untuk mengusirmu dari sini."
"Kamu hanya menggertak."
"Kenapa kamu mempunyai ratusan pasukan, senjata dan baju zirah, bahkan merekrut prajurit bayaran untuk berperang?"
"Semua itu untuk menyerang Kerajaan Yuvinere."
"Benarkah? Atau untuk pemberontakan?"
Beckett bergeming. Ia berusaha terlihat tenang walau hatinya mulai gusar. Tak menyangka Julliane menebak hingga sejauh itu.
"Untuk apa aku memberontak Julliane?"
"Tentu saja menjadi Raja. Kerajaan Lortamort sekarang memilih Putra Mahkota yang baru. Namun, diantara pangeran-pangeran yang lain kamu kandidat yang paling terburuk. Karena itulah kamu bertunangan dengan putri kerajaan lain untuk meningkatkan kualitasmu di mata Raja.
Tetapi, itu masih belum cukup. Yang dibutuhkan oleh Raja Lortamort adalah Putra Mahkota yang kuat bukanlah pengecut sepertimu. Karena itulah ibumu dan dirimu ingin memulai pemberontakan untuk menjadikanmu Raja.
Tentu saja kamu akan meminta bantuan Kerajaan Yuvinere. Ditambah Kyler dan Lionel, perbuatan mereka sengaja kamu ditutupi dengan balasan membantumu memberontak."
Ketakutan terpancarkan dari mata Beckett. Namun, ia bersikeras tidak mengakui perbautannya.
Beckett bangkit mengeluarkan amarahnya. "Kamu tidak punya bukti!"
"Bukti? Haruskah aku membuatmu berkata jujur di depan Raja Lortamort? Ayahmu pasti tidak akan tinggal diam. Kalau perlu, Kyler dan Lionel juga bisa bersaksi," tantang Julliane.
Becket terduduk lemas. Putri di depannya itu mengacaukan semua rencananya. Ia menggertakkan gigi dengan keras. Meraih pedangnya menghunuskannya di depan leher Julliane.
"Semuanya gara-gara kau! Kenapa kau selalu menggangguku?! Aku hanya ingin menjadi Raja untuk membuktikan kemampuanku!"
Tanpa takut Julliane menyingkirkan pedang itu. Ia menatap Beckett tajam. "Caramu salah, Beckett. Dan tidak akan ada yang mengikuti Raja penuh kelicikan sepertimu."
Beckett mengayunkan pedangnya, tetapi tubuhnya malah terlontar. Air yang menyentakkan Beckett kini mengitari tubuh Julliane. Ia sudah bersiap-siap sebelumnya karena tahu Pangeran satu itu tidak mudah menyerah. Putri Pertama Kerajaan Yuvinere itu mencengkeram baju Beckett dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
"Pulanglah atau kusebarkan pemberontakanmu ini ke seluruh Kerajaan Lortamort."
Beckett didorong hingga tubuhnya penuh dengan tanah. Pangeran Lortamort ini menggeram kesal sembari meninggalkan Kerajaan Yuvinere untuk selamanya.
Julliane berjalan lunglai menuju kamarnya. Denyutan kepalanya tidak terkendali, selama berbicara dengan Beckett tadi, ia terus mengepalkan tangan untuk menahan rasa sakit, berpura-pura kuat agar tidak diremehkan.
Aku tidak membencinya tetapi kenapa sakit sekali.
Julliane menyandarkan salah satu tangannya ke tembok di ruang tengah membantunya berjalan. Langkah Julliane semakin memelan hingga terhenti seraya memegangi kepalanya. Keringatnya bercucuran deras. Kakinya melemas. Napasnya semakin pendek-pendek. Dan pandangannya mulai kabur.
Aku harus kuat. Aku...
Julliane tak mampu mempertahankan keseimbangannya, terjatuh.
***
Edgar menunggu kabar baik dari Julliane di kamarnya. Namun, orang yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Ia mulai khawatir bila rencana kakak pertamanya tidak berjalan lancar.
Cepat-cepat, Edgar menuju istana selir. Tak terlihat batang hidung Beckett atau pun Julliane di taman. Lantas, ia melangkahkan kaki masuk ke bangunan istana selir. Betapa terkejutnya Edgar mendapati Julliane yang tersungkur di lantai.
"Kak Juli, Kak Juli kenapa?" Edgar menghampiri kakak pertamanya sambil menggoyang-goyang tubuh Julliane.
Edgar pun semakin panik, menggendong Julliane menuju istana utama berlarian tanpa memikirkan citranya. Edgar membaringkan kakaknya di kasur kamarnya. Ia lantas memberi perintah pada pelayan.
"Siapa pun panggilkan Ayah, Ibu dan Dokter!"
Pelayan-pelayan pun berhamburan keluar. Edgar memegang tangan kakaknya yang mengernyit kesakitan.
Tak lama Leroy dan Ophelia datang disusul oleh dokter. Dokter segera memeriksa keadaan Julliane mencari tahu penyebab putri itu pingsan.
"Kenapa Julliane, Edgar?" tanya Ophelia khawatir.
"Aku tidak tahu Ibu," balas Edgar lirih.
Keluarga Kerajaan menunggu kabar dari dokter. Dokter istana selesai memeriksa Julliane menatap sendu ketiga orang di depannya.
"Denyut nadi Putri Julliane melemah, mungkin karena syok. Akan saya racik obatnya."
Leroy mencengkeram kerah dokter itu. "Cepat sembuhkan Julliane atau kupecat kau!"
"B-baik, Yang Mulia." Dokter istana lari ketakutan melaksanakan tugasnya.
__ADS_1
Ophelia menghampiri Julliane, memandang wajah putri pertamanya yang bersimbah keringat. Ia membersihkan wajah Julliane dengan sapu tangan.
Sontak ia mundur menutupi mulutnya yang ternganga. Edgar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Leroy tak mengerti atas perilaku istri dan putranya karena pandangannya tertutupi oleh tubuh Edgar. Ia bergegas mendekati Julliane. Matanya terbelalak melihat tato kutukan putrinya.
***
Mata Julliane terbuka perlahan. Ia bangkit perlahan mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia berada di kamarnya.
"Letta," panggil Julliane.
Letta muncul dengan mata melebar. "Kenapa tatomu terlihat Julliane?"
"Apa maksudmu, bukan kamu yang membawaku ke sini?" Julliane panik segera mendatangi cermin. Ia tidak mendengar Letta yang mengatakan bukan.
Ia menatap bayangan wajahnya. Riasannya terhapus, tatonya terlihat jelas. Tangan Julliane menelusuri tatonya. Bertanya-tanya orang yang membawanya kemari.
Buru-buru Julliane merias wajahnya lagi. Ia berlarian keluar menyipitkan mata karena cahaya matahari menyilaukan diikuti oleh Letta.
Julliane terhenti di lorong menuju istana utama. Pintu istana utama tertutup oleh papan kayu. Letta mendobrak papan kayu itu dengan sihir airnya.
Julliane disambut oleh penjaga yang menghunuskan pedangnya dengan gemetaran. Pelayan yang mengintip dari balik pintu langsung menjauh. Sikap semua orang yang menjauhinya membuat Putri Pertama ini kebingungan.
"Kenapa kalian seperti ini?"
"Menjauhlah Putri," balas penjaga dengan suara gemetar.
Edgar melintas di sekitar sana, berlarian menemui Julliane. Namun, langkahnya terhalang oleh ayahnya.
"Jangan Edgar," pinta Leroy.
"Jangan larang aku, Ayah. Aku ingin menemui Kak Juli." Edgar melewati ayahnya.
Leroy memukul tengkuk Edgar. Putranya ini tak sadarkan diri seketika. "Maaf, ini semua demi dirimu."
Leroy memalingkan wajah ke arah Julliane. Ia membuang muka sambil memejamkan mata.
"Perketat keamanan di sini, jangan sampai Putri Julliane melintas ke istana utama. Dan tutuplah pintu menuju istana selir dengan batu bata," perintah Leroy pada penjaga.
Para penjaga pun pergi dari sana, mematuhi perintah tuannya sekaligus lari dari Julliane. Julliane menyadari apa yang terjadi. Semuanya kembali seperti awal kembali. Orang-orang menjauhi Sang Putri Terkutuk.
__ADS_1