Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 54 Gara-Gara Alergi


__ADS_3

Ian membawa sebuket bunga yang disembunyikan di punggungnya. Langkah terus dilanjutkan walau dihalangi oleh Edgar. Hari ini adalah hari yang pas untuk mengatakan semua perasaan yang memuncak di hatinya. Suasana tenang dan bahagia di pernikahan Ellaine, Julliane yang gembira, ditambah tidak ada kedua orang tua Julliane meningkatkan kepercayaan diri Ian. 


Ian menghampiri Julliane lalu menyerahkan buket bunga itu padanya. Sorakan dari para tamu undangan pernikahan Ellaine, terdengar memenuhi gereja. 


"Cepat terima!"


"Hari ini akan ada dua pasang pengantin baru!"


Carlos dan Ellaine menenangkan dan mengantar para tamu untuk menyantap makanan. Mereka memberikan Ian dan Julliane waktu bermesraan. Ellaine terkekeh melirik sebentar ke arah kakaknya sebelum keluar.


Tatapan Julliane tertuju ke Ian lalu terarah ke buket bunga. 


"Julliane, maukah kamu-" kata-kata Ian terpotong. Ia melupakan Edgar yang masih berdiri di belakangnya.


"Jawabannya adalah tidak, pulanglah Pangeran Ian." Edgar menarik Ian menjauhi kakak pertamanya.


Sikap permusuhan Edgar ini bukan hanya karena takut ditinggalkan kakak pertamanya, tetapi juga diakibatkan sikap Ian saat di kerajaan Constain terhadap Julliane. Memang Ian berusaha meminta maaf dengan membantu melawan monster, hanya saja Edgar masih belum menerimanya.


"Ini bukan urusanmu, Edgar," ketus Ian.


"Ini urusanku, kamu tidak diundang di pernikahan Kak Elle. Jadi sebagai keluarganya aku bisa mengusirmu." Edgar terus menarik Ian agar keluar dari gereja. Ian meronta-ronta supaya dibebaskan.


Julliane bergeming akibat lamaran Ian yang tiba-tiba walaupun gagal. Pasti Ian kesulitan mencari-cari informasi ke sana kemari tentang pernikahan Ellaine, karena Julliane tidak memberitahu tempatnya. 


Dia sampai sebegitunya...


Ian dan Edgar terus bergumul hingga Julliane memecah suasana.


"Cukup!"


Pertikaian mereka berhenti. Buket bunga Ian sudah tidak berbentuk lagi, beberapa bunga berserakan di lantai. 


"Aku tahu apa yang ingin kamu katakan, tetapi tunggulah sebentar. Biar aku menuntaskan pertunanganku dengan Beckett terlebih dahulu. Setelah itu, kamu bebas mengatakan semuanya," lanjut Julliane.

__ADS_1


Julliane tak ingin bila ia tiba-tiba kembali ke dunianya, Julliane yang asli kebingungan harus berhadapan dengan Beckett. Di samping itu ia mengulur waktu karena masih ingin berlama-lama di dunia ini. Hatinya belum siap untuk meninggalkan orang yang memenuhi kepalanya itu.


Ian mempersempit jaraknya dengan Julliane. Matanya menatap mata hijau itu lekat. "Baiklah, Juli."


Edgar menghalangi keduanya terus bertatapan dengan berada di tengah-tengah mereka. "Aku tidak setuju, dia egois tidak memikirkan perasaan Kak Juli sewaktu Kak Elle sedang kesulitan." 


"Mau kamu berkata tidak, yang terpenting adalah perasaan Juli." Ian tersenyum penuh kemenangan terhadap Edgar.


Julliane mendorong mereka berdua ke tempat perjamuan di luar gereja. "Sudahlah, ayo kita makan."


Julliane ingin membuat kenangan indah bersama orang-orang yang dikasihinya karena tahu waktunya tidak lama.


***


Raja dan Ratu kerajaan Constain melihat putra mereka yang sedang latihan. Mata mereka terus mengawasi gerak gerik Putra Mahkota yang semakin hari terasa semakin berbeda. Dari luar memang seperti putra mereka tetapi di dalamnya seolah-olah orang lain.


Mereka ke ruang makan, diikuti oleh Mikael yang telah membersihkan diri. Mata Mikael terbelalak melihat hewan laut tersaji lagi di meja makan.


Dengan lahap, Raja dan Ratu menyantap makanan mereka. Tak tahu Mikael bersungut-sungut memakan makanannya lalu meludahkannya kembali saat menyeka mulutnya.


"Sepertinya rasa kerang ini berbeda seperti biasanya?" tanya Raja kepada Ratu dan putranya.


Ratu pun menyetujui suaminya. Mikael hanya bisa mengiyakan karena baginya semua rasa hewan laut sama saja.


"Kepala juru masak tiba-tiba sakit, Yang Mulia. Juru masak lain yang menggantikannya. Akan saya sampaikan kalau Keluarga Kerajaan tidak menyukai makanan kali ini," kata kepala pelayan yang berdiri di pinggir ruang makan.


"Tidak perlu, aku menyukainya." Raja melahap makananannya lagi.


Mikael melanjutkan memasukkan ikan itu ke mulutnya. 'Seharusnya dia mengatakannya pada juru masak yang menggantikannya,' gerutu Mikael.


"Rasanya kamu seperti orang berbeda, Ian," tanya Ratu sambil menatap tajam orang yang dianggap putranya itu.


Mikael tersedak tak siap menerima pertanyaan dari ratu. Tangannya meraih segelas air untuk melegakan tenggorokannya.

__ADS_1


"Ibu bisa saja," balas Mikael.


Mikael menatap gelas yang kosong ditangannya. Lidahnya menggeliat di langit-langit mulutnya yang kosong. Ia menelan ikan itu. 


'Gawat, gawat, gawat,' batin Mikael.


Bila alerginya menyerang ruam-ruam merah akan terlihat di kulitnya. Gatalnya tidak tertahankan. Ditambah ia akan mual dan sesak napas. Mikael segera menyudahi makanannya meninggalkan Raja dan Ratu. 


"Tunggu, Ian!" teriak Ratu kebingungan


Buru-buru, Mikael mencari dokter istana. Hanya dialah penyelamatnya sekarang. 


Bunyi bantingan pintu terdengar keras. Dokter istana menaikkan kacamatanya yang miring akibat terkejut sembari melontarkan tatapan bertanya pada orang dengan wajah Putra Mahkota itu.


"Aku minta obat alergi," perintah Mikael.


Dokter istana memberikan obat alergi sambil bertanya-tanya karena setahunya Ian tidak memiliki alergi apapun. 


Mikael menelan obat itu cepat-cepat sebelum alerginya menyerang. Ia menunggu beberapa detik, tidak ada rasa gatal di kulitnya. Napas lega keluar dari mulut Mikael. Otaknya segera merangkai kebohongan pada Raja dan Ratu yang tertinggal di meja makan.


Betapa terkejutnya Mikael begitu melihat dua orang yang dibicarakan malah berdiri di ruangan dokter istana dari tadi. Ia tidak menyadari mereka yang mengikutinya diam-diam.


"Siapa kamu?" tanya Raja dengan nada mengancam.


"Ian tidak punya alergi apa pun," timpal Ratu dengan curiga.


Mulut Mikael terkunci rapat karena kesetiaannya pada Ian, meski keringat dingin mulai bercucuran.


Pedang Raja terhunus di depan leher Mikael. "Cepat jawab! Atau kutebas kepalamu!"


Mikael segera bersujud ketakutan. Nyawanya lebih penting, ia akan menerima hukuman apa pun asalkan bisa hidup. "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya akan menjelaskan semuanya."


Mikael membeberkan rencana Ian seraya terus meminta maaf dalam hati pada Tuannya yang sedang mengejar cinta. 

__ADS_1


__ADS_2