Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 30 Gencatan Senjata


__ADS_3

Raja mondar mandir di ruang kerjanya untuk menenangkan diri. Leroy menyesali keputusannya karena tidak menceritakan asal usul kutukan pada anak-anaknya. Kesalahan leluhur bukanlah salah anak-anak yang tidak tahu apa-apa ini. Ia hanya ingin anak-anaknya merasa bangga karena telah lahir sebagai keluarga kerajaan.


Pandangannya teralihkan oleh Ratu yang masuk setelah memastikan putri pertamanya baik-baik saja.


"Kamu tidak perlu sekeras itu pada Ellaine, Sayang." Ratu segera menghampiri suaminya.


Leroy menatap istrinya penuh ketakutan. "Aku takut kalau kutukan itu malah berpindah pada Ellaine, Sayang."


Ratu mengelus-elus punggung suaminya. "Raja Roh sudah memaafkan keluarga kerajaan, Sayang. Buktinya kutukan Julliane menghilang dan dia bisa memanggil roh."


Leroy duduk sambil terus memegangi kepalanya. "Memang benar, tetapi bagaimana jika amarah Raja Roh tersulut kembali karena Ellaine datang ke tempat terbunuhnya Ratu pertama dari Kerjaan Yuvinere. Kemungkinan terburuk kutukan akan terus berlanjut di garis keturunan kerajaan."


Ratu memeluk leher Raja terus menenangkannya. Ia tahu perbuatan suaminya karena peduli kepada anak mereka. Namun, jauh di dalam hatinya, Ratu juga ketakutan bila kutukan terus berlanjut. Salah satu anak mereka akan mengalami penderitaan karena melahirkan anak terkutuk. Ketakutan karena tidak bisa menyayangi anak sepenuhnya dan takut karena tertular kutukan. Ini yang selalu menyelimuti hati Ratu.


"Aku tidak ingin kejadian seperti saudaraku terulang lagi. Ayahku menelantarkannya, beliau tidak pernah mengganggp saudaraku sebagai anaknya. Kebencian saudaraku semakin membesar hingga berusaha membunuh saudara-saudarinya yang lain. Dan ayahku tanpa belas kasih membunuhnya. Kengerian kutukan bukan hanya mempengaruhi orang yang terkena kutukan tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Sebenarnya aku takut kewarasanku akan habis jika terus melihat putri kita terkena kutukan. Ditambah lagi keuangan kerajaan yang menurun membuatku semakin gila. Aku takut menjadi seperti ayahku." Raja memeluk punggung Ratu.


"Aku tidak akan membiarkanmu menjadi seperti itu, Sayang." Ratu mengelus-elus kepala suaminya.


Mereka berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada putri mereka. Untuk mempertahankan kewarasan mereka yang semakin tipis.


***


Ellaine tidak memerhatikan Lionel yang mengoceh panjang lebar tentang kekayaannya. Kemarahan ayahnya terus terngiang-ngiang di kepalanya. Ia akan menebusnya dengan menuruti ayahnya. Ia tidak ingin keluarganya kecewa.

__ADS_1


Julliane mengamati Ellaine dan Lionel dari kejauhan sambil menunggu waktu yang tepat untuk mendatangi mereka. Lionel merogoh sakunya, mengambil kotak yang dihias dengan mewah. Ia menyodorkannya pada Ellaine.


"Ini untuk Anda. Bukalah, Tuan Putri."


Masih saja memberi hadiah. Apa tidak ada cara lain untuk menunjukkan cinta?


Julliane melangkahkan kaki untuk melindungi adiknya. Ellaine membuka kotak itu. Matanya terbelalak mendapati kalung yang berhiaskan permata termahal di kerajaan. Ia ingin mengembalikannya tetapi menolak pemberian orang lain adalah perbuatan tidak sopan. Jadi, Ellaine berusaha tersenyum sambil berterima kasih.


"Bolehkah saya memakaikannya?" tanya Lionel.


Jullaine telah tiba di antara mereka berdua. Bulu kuduk Lionel merinding teringat ancaman Ian dan perbuatan Julliane pada hadiah-hadiahnya. Seringai Julliane menakuti dirinya.


"Dari mana kamu mendapat kalung jelek itu, Elle?" tanya Julliane berpura-pura tidak tahu.


Jullianne berpaling ke Lionel. "Ah, ternyata Anda di sini, Tuan Muda Crowley. Saya tidak melihat Anda. Jadi ini dari Anda, sebaiknya bawa kembali hadiah Anda. Adik saya tidak cocok dengan kalung ini." Julliane menyerahkan kalung pemberian Lionel.


Ketika hendak melawan, Julliane menatapnya tajam. Mulut Julliane mengucap tanpa suara untuk memperingatkan Lionel.


"Jangan ganggu adikku atau hadiahmu akan kubakar."


Lionel memahami ucapan Julliane. Ia tidak ingin uangnya melayang dengan sia-sia jadi hadiahnya diterima kembali dengan berat hati. "Maafkan saya karena tidak mengerti selera Anda, Tuan Putri. Saya undur diri."


Lionel segera meninggalkan istana. Ellaine bernapas lega. "Terima kasih, Kak Juli." Julliane tersenyum ke arah adiknya. Ia akan menendang setiap orang mengganggu adiknya sampai mereka bosan. Hanya orang yang benar-benar mencintai Ellaine yang boleh mendekatinya.

__ADS_1


Sementara, di depan gerbang istana Lionel bertemu dengan Beckett dan Kyler. Kepalamya menunduk memberi salam pada mereka. Bangsawan dengan gelar yang lebih rendah harus memberi hormat pada orang yang berkedudukan lebih tinggi. Beckett meminta Lionel mengangkat kepalanya.


"Apa kamu ingin mendekati Putri Ellaine?" tanya Beckett.


Lionel menatap Beckett dengan was-was. Ia takut akan disingkirkan karena menghalangi Pangeran yang berusaha mendapatkan hati Putri.


"Aku tidak berniat melukaimu. Aku ingin kita bekerja sama untuk mendekati Putri Ellaine," jelas Beckett.


"Dengan cara apa?" Lionel menaikkan salah satu alisnya.


Ini akan menguntungkan mereka bertiga. Meski mereka bertiga adalah musuh, gencatan senjata harus dilakukan untuk mengalahkan tembok pertahanan Ellaine yang kuat. Dengan bersatunya mereka bertiga tembok pertahanan Ellaine yaitu Julliane akan berhasil dikalahkan.


"Caranya dengan tidak mendekati Putri Ellaine," saran Beckett dengan mengangguk-angguk.


Lionel dan Kyler bertanya-tanya mendengar Beckett.


"Apa bagaimana bisa tidak mendekati Putri Ellaine bisa disebut rencana?" tanya Lionel.


"Apa kamu bisa dipercaya?" tanya Kyler.


"Kita akan membuat Putri Julliane lengah dengan berpura-pura menyerah. Putri Ellaine akan kita dekati secara diam-diam tanpa sepengetahuan Putri Julliane."


Lionel dan Kyler saling bertatapan. Mereka pun tersenyum ke arah Beckett. "Ide bagus."

__ADS_1


'Kerja sama ini hanya sementara. Akulah yang akan mendapatkan Putri Ellaine,' batin mereka bertiga.


__ADS_2