
"Kamu suka yang mana, Juli?"
Julliane berjengit mendengar pertanyaan Ian. Dari tadi pikirannya melayang-layang ke tempat lain. Meski penyebabnya ada di depan matanya. Ian.
"Yang mana saja boleh," ucap Julliane sambil mengedarkan pandangannya.
"Apa tidak ada yang kamu sukai?"
Permata yang berkilauan dengan bentuk menarik, tentunya sangat disukai oleh penikmat seni seperti Julliane. Perhiasan yang dijual di sini sederhana tetapi punya nilai tersendiri membuat Julliane kagum. Hanya saja tidak ada yang menarik minatnya. Ini adalah hari yang tidak tepat untuk berbelanja.
"Apa pun yang kamu pilihkan aku akan menerimanya, Ian." Julliane tersenyum simpul.
Ia pun menyadari bros Ian tidak ada. "Ke mana brosmu?"
"Aku sudah membuangnya," jawab Ian berbohong.
Ian tidak ingin Julliane tahu kalau ia kemarin ke kediaman Crowley untuk memberi peringatan pada Lionel yang telah mengganggu Julliane, dan menghancurkan hadiahnya. Untuk mengalihkan perhatian, Ian segera memakaikan kalung baru dengan warna permata hijau sama seperti sebelumnya di leher Julliane.
Julliane terkejut akibat sikap Ian tiba-tiba. Wajah Ian mendekat hingga berada di samping kepalanya. Ia bisa merasakan napas Ian di leher. Ini pertama kalinya Julliane sedekat ini dengan seorang lelaki. Meski sebenarnya mereka berdua pernah sedekat ini sebelumnya di pantai, saat itu hanya berlangsung beberapa detik saja. Sekarang waktu terasa berjalan lambat sekali. Begitu Ian menjauh, mata Julliane segera terarah pada tangan Ian yang dibalut perban.
"Tanganmu kenapa?" Julliane memegang tangan kanan Ian sambil melihat Ian penuh kekhawatiran.
"Tidak apa-apa. Kemarin aku melakukan pekerjaan keras tanpa sadar melukai tanganku." Ian segera menyembunyikan tangannya. Tangannya terluka karena bros yang dihancurkan kemarin.
Julliane meraih tangan Ian kembali. Noda darah mulai terlihat di telapak tangannya.
"Apa sudah kamu obati dengan benar? Lukanya masih terbuka." Jari Julliane menyentuh perban Ian.
Ian mengangguk. Ia suka ketika Julliane peduli kepadanya. Ia ingin semua perhatian Julliane hanya tertuju pada dirinya.
__ADS_1
"Lebih baik kamu ke dokter. Bagaimana kalau timbul bekas luka?" Julliane mulai cemas warna merah semakin melebar di perban yang putih.
"Tidak masalah, bekas luka di tangan tidak akan mempengaruhi kehidupanku." Ian melepas tangan Julliane perlahan. Lalu membayar kalung Julliane. Ketika hendak mengepal tangannya, Julliane segera menghentikannya.
"Jangan digenggam darah yang akan keluar semakin banyak," omel Julliane.
Pada akhirnya Julliane menyeret Ian menuju dokter. Tangan Ian diobati dengan cepat. Ia mendapat obat penghilang rasa sakit untuk menghilangkan rasa nyeri. Meski sebenarnya Ian tidak terlalu terganggu dengan rasa sakit tangannya, ia tetap menerima seluruh pengobatan yang didanai oleh Julliane ini. Ia ingin menghabiskam waktunya yang sedikit dengan Julliane.
Mereka menuju kereta kuda. Tangan Ian tanpa sadar menarik lengan Julliane dengan tersendirinya.
"Ada apa, Ian?" Julliane berbalik menatap Ian.
Ian sedikit menyesali tindakannya. Namun, ia tidak ingin hari terakhirnya dengan Julliane segera berakhir, apalagi belum mengatakan perpisahan.
"Aku ingin menghabiskan waktu denganmu," ucap Ian penuh kelembutan.
Julliane menimbang-nimbang. Jika pulang yang menunggunya di kamar hanyalah kebosanan. Ia hanya menghabiskan waktu dengan tidur atau berbincang-bincang dengan Ellaine dan Edgar. Bila ada ponsel mungkin ia sudah menjelahi internet dan membuat konsep baru untuk diposting pada media sosialnya.
"Baiklah boleh saja."
Ian membawa Julliane menuju menara paling tinggi di ibu kota. Di menara ini terdapat lonceng yang dibunyikan pada jam 06.00 dan 18.00 sebagai pergantian hari terang ke gelap dan gelap ke terang. Ia ingin menunjukkan Julliane pemandangan dari atas.
Mereka telah tiba di atas menara. Julliane terpana dengan keindahan ibu kota dari atas. Ini seperti melihat perkotaan dari apartemennya. Perbedaannya nuansa ibu kota di dunia ini belum tercemar polusi dan bangunan yang bergaya eropa kuno mempunyai nilai lebih bagi Julliane.
Seandainya saja aku bisa melukis, pasti sudah kuabadikan dalam bentuk lukisan.
Ian terus menatap Julliane yang menikmati pemandangan ibu kota. Ia merasa senang karena bisa membahagaikan temannya. Kata-kata yang terus dipendamnya dari tadi mulai terucap.
"Aku harus kembali ke kerajaanku besok Juli."
__ADS_1
Julliane menatap Ian berusaha mencari kebohongan di dalamnya. Yang ada hanyalah kesungguhan. Tanpa sadar ia berharap Ian terus tinggal di sini.
Karena tak ada jawaban dari Julliane, Ian melanjutkan, "Maaf, aku tahu ini sangat mendadak. Aku lupa mengatakannya padamu bahwa sebenarnya ayah dan ibuku hanya mengizinkan aku berkunjung di sini hanya sebulan."
"Tidak apa-apa. Apa kamu akan ke sini lagi?"
Julliane berharap jawaban dari Ian adalah "ya". Ia ingin melihat wajah, senyum, dan raut muka marah Ian lagi.
"Tentu saja. Atau kamu boleh mampir ke kerajaanku. Aku akan menyambutmu dengan baik."
"Akan kuusahakan. Aku harus menyakinkan kedua orang tuaku terlebih dahulu."
"Kita akan bertukar kabar dengan surat. Kalau orang tuamu tidak menginzinkan berkunjung ke kerajaanku, aku akan datang ke sini lagi. Ada yang ingin kusampaikan padamu saat itu."
"Kenapa tidak sekarang saja?"
Jantung Julliane berdegup kencang. Perutnya mulai melilit. Ia tahu apa yang ingin Ian katakan. Ini seperti novel-novel romansa yang biasa ia baca, kedua karakter utama berjanji untuk bertemu sekali lagi lalu menyatakan cinta. Padahal saat ketiga kandidat karakter utama melamarnya ia merasa biasa. Tetapi kenapa Julliane bersemangat karena ucapan cinta akan diucapkan dari mulut Ian?
"Aku perlu waktu untuk menguatkan diri. Jadi tunggu saat kita bertemu lagi." Ian menggenggam kedua tangan Julliane dengan erat.
"Jangan digenggam terlalu erat, nanti lukamu berdarah lagi," ujar Julliane sambil melepas genggaman tangan Ian.
Ian menutupi senyumnya dengan satu tangan. "Baiklah, jadi apa jawabanmu, Juli?"
Di lubuk hati Julliane paling dalam ia ingin mendengar pernyataan Ian sekarang. Namun, ia belum siap. Belum siap kehilangan teman dan kekasihnya di dunia ini.
"Aku akan menunggumu Ian."
Ian yang sangat senang hampir memeluk Julliane. "Terima kasih Juli. Jaga dirimu baik-baik." Ia pun memperlihatkan giginya yang berjajar rapi.
__ADS_1
"Kamu juga jaga dirimu baik-baik, Ian."Julliane membalasnya dengan senyuman paling cerah dan penuh kesedihan.
Sepertinya aku akan mulai merindukannya besok.