
Lionel melangkah penuh kepercayaan diri ke istana. Ia terus-terusan mendapat undangan dari Putri Julliane mengharapkan kedatangannya. Kebanggaannya semakin tinggi karena sebelumnya tidak ada lelaki yang diundang Putri Julliane seperti dirinya. Apalagi hadiah yang ia diberikan kepala Julliane yang semula dikembalikan, sekarang diterima dan telah dibuka. Tidak ada lelaki yang dapat menaklukan hati Julliane sampai seperti ini.
Pangeran Beckett dan Duke Orsin terlalu tergesa-gesa mendekati seorang gadis. Seorang lelaki haruslah yang dikejar-kejar perempuan dengan menarik ulur sambil membuat kesan misterius.
Lionel kini duduk di hadapan Julliane mengedarkan pandangan ke taman istana selir. Taman indah yang dapat memperkuat keromantisan dalam melamar Julliane nanti. Lionel sudah mempersiapkan cincin permata paling mahal yang dirancang oleh pembuat perhiasan ternama. Julliane pasti terkesan pada lamaran ini dan akan menerimanya.
"Terima kasih sudah mengundang saya, Tuan Putri. Maaf bila beberapa hari ini saya sibuk. Apakah Anda menyukai hadiah saya?"
"Aku menyukai hadiah-hadiahmu," jawab Julliane singkat.
"Begitu saya juga membawa hadiah lagi untuk Tuan Putri, tetapi lebih baik kita menikmati kebersamaan ini terlebih dahulu."
Lionel akan memberikannya pada saat momen yang pas. Keromantisan belum terbangun pada awal pertemuan. Seiring berjalannya waktu keromantisan akan semakin meningkat. Lamaran akan diberikan saat keromantisan ini pada puncaknya.
Julliane terus menyesap tehnya tanpa memperhatikan Lionel yang mulai berceloteh panjang lebar. Lionel sesekali tertawa membanggakan dirinya yang mempunyai banyak harta. Julliane menanggapinya dengan senyum penuh keterpaksaan.
Lionel yang tidak menyadari hal ini malah menganggap senyuman Julliane sebagai kesempatan. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru menyerahkannya pada Julliane. Putri Pertama ini menatap hadiah baru dan Lionel secara bergantian. Bukan tatapan terkejut atau senang tetapi kejenuhan.
"Bukalah Tuan Putri. Saya harap Anda akan senang dengan hadiah ini." Lionel tersenyum penuh harap. Rencananya akan berhasil.
Tangan Julliane sama sekali tidak menyentuh hadiah itu. Ia mengabaikan Lionel dan malah meminta pelayan untuk membawakan teh baru.
Perubahan rencana dilakukan, karena tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Waktunya sudah sangat pas. Lionel mengambil kotak lalu membukanya di depan mata Julliane. Kini ia bersujud menyodorkan kotak berisi cincin pada Putri Pertama.
"Apakah Anda mau menikah dengan saya, Putri Julliane?"
Julliane mendesah berat. Ia mengambil cincin itu mengamati bentuknya di udara. Sangat tidak cocok dengan seleranya. Ia meletakkan cincin itu kembali pada kotak beludru.
__ADS_1
"Sebelum itu apa kamu mencintaiku?"
"Tentu saja saya mencintai Anda, Tuan Putri. Kita akan menjadi pasangan yang serasi."
Tak ada perasaan cinta di dalam perkataan Lionel. Dia mengucapkannya sekadar untuk formalitas dalam lamaran. Kemuakan Julliane pada Lionel semakin tidak terbendung.
"Tunjukkan kalau kamu mencintaiku tetapi bukan dengan hadiah."
Lionel mencium tangan Julliane untuk menunjukkan rasa cintanya. Ia mengelus-elus tangan Julliane dengan ibu jarinya.
"Apa begini sudah cukup, Tuan Putri?"
******* berat dikeluarkan dari mulut Julliane. "Aku tidak mau menikah denganmu, Lionel."
Kegembiraan yang semula mendiami hati Lionel saat Julliane mengangkat cincinnya langsung hilang seketika mendengar ucapan Putri ini. Kata-kata di tenggorokannya tersekat melihat tangan pelayan yang membawakan teko teh. Di pergelangan tangan pelayan itu terlingkar gelang pemberian dirinya. Lionel mengedarkan pandangan ke pelayan-pelayan lain. Anting, kalung, dan cincin darinya dipakai oleh pelayan-pelayan yang berdiri di sekitar sana.
Lionel menjatuhkan kotak berisi cincinnya karena tergesa-gesa mencengkeram tangan pelayan sambil menunjuk gelang permata merah dengan tangan lain. "Apa maksud semua ini Tuan Putri?"
Pelayan itu segera menunduk, menjauh menuju teman-temannya. Ia memegangi tangannya yang kesakitan.
"Bukannya Anda mengatakan bahwa hadiah saya diterima dengan baik?" suara Lionel mulai meninggi.
"Memang diterima dengan baik bukan? Buktinya dipakai oleh pelayan-pelayanku," ucap Julliane penuh sarkarsme.
Amarah Lionel semakin tidak terbendung. Hadiah yang dipersiapkannya dengan matang malah dikenakan oleh orang lain. Ia sudah mengeluarkan uang yang besar untuk membeli perhiasan-perhiasan agar membuat Julliane terkesan. Usahanya sia-sia.
"Kalau begitu kenapa diberikan pada pelayan-pelayan rendahan itu?"
__ADS_1
"Hadiah-hadiah itu kepemilikannya berpindah padaku, setelah kamu menyerahkannya. Apa yang kulakan pada barang-barangku tentu terserah padaku," ucap Julliane sambil mengarahkan pandangan pada pemberiannya yang dikenakan pelayan-pelayan. Pandangannya berakhir pada Lionel sambil tersenyum kecut.
Rahang Lionel mengeras. "Apa Anda tidak menyukai hadiah-hadiah pemberian saya?"
"Bisa dibilang begitu," ucap Julliane acuh tak acuh sambil menyesap tehnya.
Mata Lionel tertuju pada kalung di leher Julliane. Saat pertama kali bertemu, Julliane tidak memakai kalung. Amarahnya memuncak melihat Julliane lebih memilih barang murahan dari pada pemberiannya. Ia segera mengambil kalung itu lalu membantingnya ke lantai.
Mata Julliane terbelalak menyaksikan kalungnya direbut paksa. "Apa yang kamu lakukan?" teriaknya.
"Barang murahan ini tidak bisa disandingkan dengan pemberianku, Tuan Putri." Lionel menginjak-injak kalung Julliane. Timbul retakan di permata hijau kalung itu.
"Begitu ya..." senyum setengah penuh kekesalan tersungging di bibir Julliane.
Tangannya meraih kotak berisi cincin terjatuh di lantai. Ia melangkah menjauhi taman.
"Tunggu dulu, apa yang ingin Anda lakukan Tuan Putri?" Lionel menghentikan tindakannya segera menyusul Julliane.
Langkah Julliane terhenti pada tungku pembakaran di luar dapur. Ia berbalik pada Lionel. Tangannya sudah siap menjatuhkan kotak itu pada tungku dengan api yang menyala-nyala.
"Jangan, Tuan Putri."
Lionel berusaha meraih kotak itu tetapi naas kotak berisi cincin itu terlepas dari tangan Julliane, masuk ke dalam tungku terlalap api.
Belum puas pada tindakannya Julliane mengeluarkan hadiah-hadiah Lionel yang ia simpan lantas memasukkan semuanya pada tungku. Lionel hanya bisa meratapi pemberiannya yang hancur. Matanya mulai berkaca-kaca sambil meraih-raih udara.
"Pergilah! Jangan pernah datang ke sini lagi, jika tidak mau melihat hadiahmu yang kubakar lagi. Aku tidak sudi menikah dengan orang yang hanya mementingkan harta." usir Julliane sambil meninggalkan Lionel yang malang.
__ADS_1
Ia mendatangi tempat di mana kalungnya dihancurkan. Tangannya meraih kalung yang tak berbentuk itu.
Bagaimana caranya aku menghadapi Ian setelah ini?