
Ian Constain
Aku baik-baik saja.
^^^Julliane Yuvinere^^^
Ian sudah menatap surat itu selama satu jam, kepalanya tersandar di meja. Ia pun sudah mencoba memanaskan kertas itu berharap Julliane menuliskan lanjutannya dengan tinta tak terlihat. Namun, tetap saja hanya satu kalimat yang tertulis di surat itu. "Aku baik-baik saja."
Awalnya Ian mengirim surat dengan semangat. Lama kelamaan perasaan khawatir terus menghujani dirinya, hingga membuatnya terus bertanya pada pelayan tentang kedatangan surat dari Julliane. Hari ini surat itu datang, tetapi jawaban Julliane tidak sesuai harapan. Penantian Ian terasa sia-sia. Ia ingin menyerah.
"Apa Anda mendapatkan balasan, Yang Mulia?" tanya Mikael yang datang tiap pagi menantikan perkembangan hubungan tuannya.
Ian tidak menjawab hanya menyodorkan surat di tangannya. Mikael meraihnya dan membacanya. Ia pun mengangguk sambil tersenyum.
"Ini awal yang bagus."
"Apa yang bagus? Dia belum memaafkanku. Jawabannya singkat sekali padahal aku perlu menunggu berhari-hari."
"Itu lebih baik dari pada Putri Julliane mengatakan sumpah serapah dan kebencian pada Anda. Dan lebih baik dari pada Putri Julliane tidak membalas surat Yang Mulia."
Ian terdiam meresapi perkataan Mikael. Perkataan bawahannya ada benarnya juga. Kepalanya terangkat. Tekadnya kembali lagi. Ia pun menulis surat.
Surat itu diberikannya pada Mikael dan secarik kertas lain. "Mikael amati Julliane lagi, kali ini jangan pulang kalau tidak ada sesuatu yang penting. Sesampainya di sana lakukanlah perintahku di kertas ini."
Mikael melirik kertas kecil itu, ia pun tersenyum simpul. Dengan ini tuannya bisa mendapatkan hati Putri Julliane.
***
"Agar hidung terlihat mancung, pertama oleskan dasar terlebih dahulu. Pengkoreksi wajah dengan warna yang lebih cerah dioleskan pada tengah hidung. Selanjutnya gambar garis dari alis hingga ujung hidung dengan kontur yang lebih gelap. Ratakan terlebih dahulu agar terlihat alami. Terakhir beri highlighter pada ujung hidung. Hasilnya seperti ini."
Julliane meminta Violet membuka mata. Begitu melihat wajahnya di cermin, matanya berbinar-binar. Jarinya menyentuh hidungnya yang pesek terlihat menjadi mancung.
"Anda hebat sekali, Putri Julliane."
"Terima kasih, Violet. Sekarang praktikkan hal yang kulakukan tadi pelayan," perintah Julliane menoleh ke arah pelayan yang bengong melihat kelihaian dari putri pertama kerajaan.
__ADS_1
Pelayan-pelayan pun mendekati majikannya sambil memegang peralatan-peralatan kecantikan. Julliane menghapus riasan Violet. Lantas pelayan mulai melakukan tugasnya. Mereka dibimbing oleh Julliane saat merias Violet. Apabila ada kesalahan, Julliane membenarkannya. Riasan Violet yang dibuat oleh pelayan sudah jadi. Julliane meminta mereka mengulangi riasan tanpa bantuannya.
"Bagus, untuk warna bibir jangan terlalu merah. Alis Violet yang tipis perlu ditebalkan dengan pensil alis. Semuanya sudah baik."
Julliane menghela napas panjang. Pekerjaan hari ini sudah selesai. Hari ini giliran pelayan Violet yang mendapatkan bimbingan darinya. Tentu saja, Violet merupakan salah satu teman Ellaine yang datang ke istana, yaitu gadis berambut merah.
Berkat desas-desus yang disebarkan oleh Claire, banyak gadis-gadis bangsawan yang tertarik melihat kemampuan Julliane. Mereka pun meminta Julliane mengajari pelayan-pelayan. Hasilnya memang tidak sempurna tetapi mendekati riasan yang dibuat Julliane. Gadis-gadis bangsawan itu pun juga sudah puas jadi tidak masalah.
"Terima kasih, Putri Julliane." Violet memberikan sejumlah uang pada Julliane.
"Tidak, akulah yang harus berterima kasih." Julliane menerima kantong itu sambil tersenyum.
"Untuk apa Anda membutuhkan uang, Putri? Bukankah Raja akan memberikan apa pun yang Anda minta?" tanya Violet penasaran.
Seperti biasa rasa ingin tahu gadis-gadis bangsawan tentang kehidupan orang lain sangat tinggi. Rumor yang tersebar dengan cepat dari mulut ke mulut pasti gara-gara mulut mereka yang ringan dan ingin tahu rahasia dari orang lain.
"Aku hanya ingin membeli sesuatu dari uangku sendiri," jawab Julliane asal-asalan.
Violet menepuk tangannya sekali sambil menyunggingkan senyum. "Wah, hebat sekali."
Pujian demi pujian dilontarkan Violet. Entah mengapa pujian itu terasa tidak tulus, hanya berusaha menjunjung Julliane. Merasa bosan, Julliane pun berpamitan.
Salah satu teman Ellaine lagi. Ini kesempatan bagus.
"Sepertinya aku akan datang," jawab Julliane.
"Rebecca akan senang mendengar ini. Dia khawatir kalau pestanya akan kacau karena wajahnya tidak terlalu cantik, tetapi Putri Julliane pasti bisa menenangkan dirinya dengan baik."
Julliane mengangguk pelan, melanjutkan langkahnya. Target berikutnya telah ditentukan. Tentunya ia akan meriasnya dengan bayaran yang lebih besar dari pada saat mengajari pelayan.
***
Julliane sampai di istana selir. Salah satu pelayan membawa buket bunga tulip putih kepada Julliane.
"Dari siapa?" tanya Julliane kebingungan.
__ADS_1
"Saya tidak tahu, Putri. Pengantar bunga mengantarkan ini dan sepucuk surat untuk Putri Julliane," kata pelayan itu sambil mengeluarkan sebuah surat.
Dari Ian.
"Baiklah terima kasih." Julliane pun menerima semuanya lantas segera ke kamarnya.
Buket itu pun diletakkan di meja sementara Julliane membaca suratnya. Permintaan maaf dari Ian lagi.
Seperti kataku aku tidak akan memaafkanmu sebelum bersujud di hadapanku, Ian. Tetapi...
Mata Julliane tertuju pada bunga itu. Merasa sayang kalau bunga itu di buang, ia pun mengambil vas dan mengisinya dengan air. Lili putih itu pun kini berada di vas yang diletakkan pada meja kosong. Julliane terus memandanginya.
Mikael yang mengintip dari pepohonan, terkekeh pelan.
Di tempat lain
Ellaine menghabiskan waktu dengan teman-temannya, selain Violet. Ia merasa seperti tersisihkan dari percakapan mereka. Entah sejak kapan mulai seperti ini. Mungkin sejak kakaknya mengajari pelayan-pelayan mereka, atau saat mereka bertemu dengan kakaknya di istana, atau malah jauh sebelum itu.
Dari awal Ellaine memang tidak cocok dengan mereka, hanya saja ia memaksakan diri berbaur dengan gadis-gadis bangsawan dalam pergaulan kelas atas. Mencari koneksi untuk Kerajaannya adalah salah satu didikan ayahnya sejak kecil walaupun harus mengobarkan diri sekali pun. Ia sudah terbiasa melakukan ini jadi diteruskan pun tidak masalah.
"Tuan Putri, Anda dipanggil Raja." Carlos membuyarkan lamunan Ellaine.
Ellaine segera berpamitan untuk menemui ayahnya. Teman-temannya baru menyadari keberadaan Ellaine setelah ada panggilan dari Raja. Merasa tidak ada keperluan lagi, mereka pun berhamburan pulang. Ellaine lega perasaan sesak ini tidak perlu dirasakannya lagi.
Ellaine telah sampai di ruang kerja ayahnya. Di ruangan itu bukan cuma ada dia dan ayahnya. Beckett duduk di kursi tamu.
"Duduk terlebih dahulu, Ellaine," ujar Leroy melihat anaknya dari tadi mematung.
Ellaine pun segera duduk. Ia menatap Beckett penuh pertanyaan. Semenjak ancaman kakaknya kepada ketiga lelaki yang mendekatinya, mereka tidak pernah datang. Ellaine pun menerka-nerka alasan Beckett datang ke sini.
"Mulai sekarang kamu bertunanganlah dengan Pangeran Beckett, Ellaine."
Ellaine hanya mengangguk pelan. Ia pun menunduk menahan tangis.
"Jangan pernah mengatakan hal ini pada Julliane, Edgar atau pengawalmu. Kamu dan Pangeran Beckett dapat mengenal satu sama lain dengan bertemu di malam hari. Jangan sampai ketahuan," tekan Leroy.
__ADS_1
"Baik, Ayah," jawab Ellaine lirih.
Pada akhirnya, Leroy ingkar janji pada Julliane. Kesejahteraan kerajaan lebih penting daripada hati putrinya sendiri.