Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 29 Danau


__ADS_3

Keluarga Kerajaan mencari-cari Ellaine yang menghilang dari istana. Orang yang pertama kali melaporkan hilangnya Ellaine adalah tamu yang ingin bertemu dengan putri kedua ini, yaitu Beckett. Telah menunggu lama dan orang yang ingin ditemuinya tidak kunjung datang, ia melapor pada Raja. Beckett berniat membantu tetapi ia mempunyai urusan lain, jadi hanya Leroy dan istrinya yang mencari putri keduanya di seluruh istana.


Julliane yang tadi menyaksikan Beckett sendiran di taman, mulai panik. Awalnya ia mengira Ellaine bersembunyi di suatu tempat karena tidak ingin bertemu dengan Beckett, tetapi dugaannya salah. Adiknya tidak ditemukan di mana pun. Edgar pun takut terjadi sesuatu pada kakaknya.


Orang yang mengetahui sosok Ellaine terakhir kali adalah penjaga gerbang istana. Mereka memberitahu Keluarga Kerajaan tentang kepergian Putri Kedua ke hutan. Raja dan Ratu terlihat ketakutan melihat arah yang ditunjuk penjaga hutan. Mereka bergegas ke hutan mencari Ellaine. Jullaine dan Edgar mengikuti Raja dan Ratu.


Di tempat lain.


Carlos dan Ellaine tiba di sebuah danau dekat istana. Danau ini berwarna hijau kebiruan, terlihat beberapa tumbuhan menghiasi tepi danau. Dengan adanya cahaya matahari kilauan danau semakin menawan.


Ellaine terkagum-kagum melihat keindahan ini. Ia tidak tahu di sekitar istana ada danau. Masih menikmati pemandangan di depannya, Ellaine tidak menyadari Carlos mencari-cari sesuatu.


Terdapat perahu di sisi danau. Perahu itu terlihat kotor tetapi masih bisa dipakai. Carlos membersihkannya terlebih dahulu lantas menggiring perahu itu ke permukaan danau untuk memastikan perahu itu tidak berlubang. Tidak ada air yang menggenangi sisi dalam perahu. Perahu ini bisa digunakan hingga ke tengah danau.


"Apa Tuan Putri mau naik perahu? Saya sudah memastikan semuanya aman," ucap Carlos sambil mengulurkan tangan.


Ellaine berjengit menyadari Carlos berada di depan matanya. Ia melihat tangan Carlos dan perahu secara bergantian. Ia tersenyum sambil meraih tangan pengawalnya. "Aku mau, Carlos."


Ellaine naik ke perahu dibantu Carlos. Ia sedikit ketakutan karena keseimbangan perahu yang tidak stabil. Carlos berusaha menenangkan tuannya sambil melangkahkan kaki ke perahu. Tangan Carlos yang masih bebas dengan lembut menyentuh punggung Ellaine membantunya duduk. Jantung Ellaine berdegup kencang. Tubuh mereka sangat dekat. Ia tidak berani menatap Carlos karena takut perasaannya terlukis jelas di wajahnya. Ellaine terus menunduk sampai Carlos mulai mendayung. Kepala terangkat perlahan-lahan. Kini mereka sudah sampai di tengah danau.


"Menurut Tuan Putri bagaimana pemandangan danau ini?" tanya Carlos masih mendayung.


"Sangat indah dan menentramkan. Dari mana kamu tahu tempat ini Carlos?" Ellaine mengedarkan pandangan ke sekitar danau. Pemandangan seindah ini tidak akan ia lupakan seumur hidup apalagi bersama Carlos.


"Saat pertama kali datang ke istana Tuan Putri, saya tersesat lalu menemukan danau ini, Tuan Putri."


Tangan Ellaine membelai permukaan danau. Tangannya menyentuh hehijauan yang mengambang di danau. Senyumnya terus melebar. Semua kepenatan yang ia rasakan sepenuhnya hilang.


'Rasanya sejuk dan menyenangkan,' batin Ellaine.

__ADS_1


Carlos terus mengamati Ellaine sambil tersenyum. Bila tuannya merasa senang, ia pun merasa senang. Keheningan terjadi di antara mereka berdua. Tetapi keheningan ini sama sekali tidak terasa canggung. Mereka sama-sama menikmati momen yang menenangkan hati ini.


"Ellaine! Ellaine! Ellaine!"


Teriakan yang memanggil nama Ellaine memecah kebersamaan mereka berdua. Sudah waktunya mereka untuk kembali. Meski sebenarnya tak ada satu pun dari mereka yang ingin kembali ke istana. Carlos segera mendayung menuju tepi danau.


Sosok Raja muncul dari hutan disusul oleh Ratu dan anak-anaknya. Julliane dan Edgar menghembuskan napas lega karena saudari mereka ketemu. Kekhawatiran terpancarkan dari mata Ratu. Sedangkan Raja terlihat berang.


'Entah mengapa danau ini tidak asing,' batin Julliane.


Sesaat setelah Ellaine dan Carlos turun, Raja langsung melayangkan tangannya pada pengawal pribadi putrinya. Hentakannya menyebabkan Carlos mundur beberapa langkah.


"Lancang sekali kau membawa putriku ke sini!" teriak Leroy.


"Maafkan, saya Yang Mulia." Carlos menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa memedulikan rasa sakit di pipinya.


Ketika Leroy hendak menampar Carlos lagi, Ellaine menghalanginya. "Hentikan, Ayah ini salahku. Akulah yang meminta Carlos membawaku ke sini." Ini pertama kalinya Ellaine melihat ayahnya semarah ini.


Leroy melepas tangan putrinya. Ia mencengkeram tengkuknya untuk menenangkan diri. "Apa kamu sudah gila Ellaine? Jika kamu tahu kebenaran dari danau ini, kamu tidak akan berani ke tempat terkutuk ini. Pernah ditemukan orang mati di sini."


Orang mati? Jangan-jangan danau ini tempat meninggalnya teman Raja Roh.


Sengatan menyerang kepala Julliane. Ia menekan pelipisnya untuk menahan rasa sakit.


"Maafkan aku, Ayah." Ellaine tertunduk. Air mata mulai menggenangi matanya.


"Kak Juli, apa kamu baik-baik saja?" tanya Edgar.


Seluruh pandangan tertuju pada Jullaine. Wajahnya memucat. Julliane berusaha terlihat kuat dengan tersenyum. "Aku baik-baik saja, Ed. Mungkin karena kepanasan kepalaku terasa pusing."

__ADS_1


"Kamu lihat bukan, tindakan cerobohmu ini menyebabkan kakakmu sakit. Kami semua mengkhawatirkan dan mencari-carimu ke mana-mana, tetapi kamu malah bersenang-senang di sini tanpa tahu bahaya apa pun," omel Leroy.


Air mata yang berusaha ditahan Ellaine dari tadi ditahan Ellaine mulai membasahi pipinya. Rasa bersalah menggerogoti hatinya.


Carlos ingin menyela, ia tidak tega melihat Ellaine terus dimarahi. Ide untuk datang ke danau ini tanpa tahu desas desus di dalamnya adalah dari Carlos. Orang yang membawa Ellaine kabur adalah Carlos. Tidak sepantasnya tuannya melindungi dirinya. Ketika Carlos hendak mengucapkan sepatah kata, Julliane bersuara terlebih dahulu.


"Ini bukan salah Elle, Ayah. Tubuhku yang lemah. Jangan memarahinya di depan orang banyak." Jullaine melangkah di antara adik dan ayahnya. Kepalanya sudah tidak sakit lagi.


Raja memanfaatkan keadaanku untuk memperparah rasa bersalah Ellaine. Ini tidak benar.


Leroy mengatur napasnya. Ia kemudian berbalik. "Sudahlah, kita kembali saja. Lagipula Ellaine sudah ketemu."


Leroy melangkahkan kaki menuju istana, disusul oleh Edgar. Ratu menggandeng Julliane menuntunnya ke istana. Meski wajah Julliane segar kembali tetap saja ia merasa khawatir. Sebelum berjalan, Jullaine memalingkan kepala ke Ellaine. "Jangan menyalahkan dirimu, Elle. Ini bukan salah siapa pun."


"Terima kasih, Kak Juli." Ellaine masih menunduk, tangannya terus mengusap air mata.


Ratu dan Julliane mulai melangkah. Ellaine tak beranjak dari sana. Carlos menepuk-nepuk punggung tuannya untuk menenangkannya. Ellaine membenamkan wajahnya ke dada pengawalnya untuk mencari rasa tenang yang lebih dalam. Carlos terkesiap. Lengannya mempererat pelukan ke tubuh Ellaine.


"Maafkan, saya Tuan Putri, seharusnya saya tidak membawa Anda ke sini."


"Tidak, seperti kata Kak Juli ini bukan salah siapa pun Carlos. Aku senang bisa melihat keindahan di sini walau hanya sebentar."


Ellaine mendongak menatap Carlos. Carlos menyeka air mata di pipi Ellaine. Ellaine tersenyum, perhatian Carlos mengikis kesedihannya.


Ellaine melepas pelukan Carlos lantas berbalik. "Mari kita kembali ke istana Carlos."


"Baik, Tuan Putri."


Carlos berjalan di belakang Ellaine. Ia ingin membawa Ellaine kabur. Bukan cuma hari ini saja, tetapi untuk hari-hari berikutnya. Ia ingin mengeluarkan Ellaine dari istana lalu hidup bersamanya. Namun, itu hanyalah harapannya saja.

__ADS_1


Carlos takut Ellaine tidak bahagia apabila hidup bersamanya. Kemewahan yang selalu dirasakan Ellaine sejak lahir akan berubah menjadi kesederhanaan. Tak ada lagi pelayan atau pun gaun yang cantik. Rumah kumuh akan meggantikan istana yang penuh dengan dekorasi indah.


Carlos akan berbahagia melihat Ellaine bahagia. Walau mungkin kebahagiaan Ellaine bukan bersama dirinya.


__ADS_2